Kidung Petaka

Kidung Petaka
196. Jejak Bau


__ADS_3

Tiga hari setelah Elvira hampir melakukan bunuh diri, Rex datang berkunjung ke rumah ustadz Akbar. Saat itu Rex sengaja datang bersama Gama.


" Jadi dimana Bu Elvira sekarang Ustadz...?" tanya Rex sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.


" Lagi ke sekolah Mas. Vira memutuskan kembali mengajar karena merasa udah cukup istirahat. Selain itu murid-muridnya juga selalu nelephon minta dia segera masuk sekolah...," sahut ustadz Akbar.


" Masuk sekolah ?, apa kondisinya udah memungkinkan untuk mengajar di depan kelas Ustadz ?. Maaf kalo terdengar lancang...," kata Rex tak enak hati.


" Saya juga sempet mikir kaya gitu Mas. Tapi Vira justru bilang kalo dia harus sibuk atau melakukan sesuatu supaya suara-suara aneh di kepalanya itu hilang dan ga mengganggunya terus...," sahut ustadz Akbar.


" Oh gitu. Apa Halim juga masih mengajar di sekolah itu Ustadz...?" tanya Rex.


" Udah ga Mas. Sejak study tour waktu itu si Halim ga pernah balik ke sekolah. Denger-denger dia udah mengajar di sekolah lain yang katanya gajinya lebih besar daripada di sekolah tempat Elvira mengajar...," sahut ustadz Akbar.


" Syukur lah. Itu artinya Bu Elvira ga harus ketemu sama dia lagi...," kata Rex sambil tersenyum.


" Iya Mas...," sahut ustadz Akbar.


" Terus kalo Bu Elvira ga di rumah, Kita ngapain Rex...?" tanya Gama.


" Kalo boleh sih mau ngecek isi kamar Bu Elvira. Gimana Ustadz...?" tanya Rex penuh harap.


" Tentu Mas Rex. Ayo ikut Saya...," ajak ustadz Akbar sambil melangkah ke bagian dalam rumah.


Rex dan Gama pun bergegas bangkit lalu mengekori Ustadz Akbar. Tiba di depan kamar Elvira yang merupakan kamar anak perempuan ustadz Akbar dulu, Rex tiba-tiba berhenti melangkah.


" Kenapa Rex...?" tanya Gama.


" Jadi dia di sini...," sahut Rex lirih namun masih terdengar jelas di telinga ustadz Akbar dan Gama.


" Dia siapa Rex...?" tanya Gama.


" Siluman itu Gam. Keliatannya dia cinta mati sama Bu Elvira dan ga mau melepaskannya sama sekali...," sahut Rex cepat.


" Ya Allah, terus gimana dong Mas Rex...?" tanya ustadz Akbar cemas.


" Sabar Ustadz, kasih kesempatan Rex buat masuk ke dalam ya...," kata Gama menenangkan sang ustadz.


" Iya Mas Gama...," sahut ustadz Akbar sambil mengangguk.


Kemudian Rex mendekat ke pintu kamar. Sebelum membuka pintu kamar Rex nampak berdoa sejenak.

__ADS_1


Saat Rex membuka pintu kamar, sebuah bayangan hitam menerobos keluar dengan cepat. Rex refleks mundur untuk menghindar hingga membuatnya hampir terjengkang jatuh.


" Lo gapapa Rex...?!" tanya Gama.


" Gapapa Gam. Jangan deket ke sini ya, di situ aja...," kata Rex sambil mengibas sesuatu yang melekat di pakaiannya.


" Kalo Gue ga bermanfaat buat apa Lo ngajak Gue ke sini Rex...!" kata Gama kesal.


" Sorry Gam. Tapi kali ini Lo sama Ustadz Akbar sebaiknya minggir dulu. Bukan karena Gue sok jago. Tapi Gue ga mau saat Kak Lian butuh Lo, justru Lo ga bisa bantu karena energi Lo terkuras di sini. Dan untuk Ustadz Akbar, tenaganya lebih bermanfaat nanti dan bukan sekarang...," kata Rex menjelaskan.


Meski sedikit kesal akhirnya Gama pun mundur menjauh diikuti ustadz Akbar.


Setelah terdiam sejenak, Rex pun kembali mendekat ke pintu kamar yang telah terbuka itu. Dengan hati-hati Rex mendorong pintu kamar hingga terbuka lebar.


Rex membulatkan matanya saat melihat suasana di dalam kamar Elvira saat itu.


Jika dilihat dengan mata biasa kamar Elvira terlihat biasa saja layaknya kamar seorang perempuan. Pernak pernik di kamar itu didominasi 'warna cewek' yang harusnya terkesan manis.


Tapi dalam penglihatan Rex kamar itu lebih mirip dengan sebuah tempat asing yang gelap, lembab dan dingin.


" Jadi bener dugaanku. Dia memang masih mengincar Elvira...," gumam Rex sambil tersenyum kecut.


Perlahan Rex masuk ke dalam kamar. Dan saat kedua kakinya berhasil menjejak bagian tengah kamar, tiba-tiba pintu tertutup dengan sendirinya.


" Reeexx...!. Lo gapapa Rex...?!" panggil Gama sambil menggedor pintu.


" Gue gapapa Gam. Tolong bantu Gue kaya biasa ya...!" sahut Rex dari dalam kamar.


" Ok. Tapi Lo harus hati-hati ya Rex. Kalo ada apa-apa teriak aja biar Gue bisa bantu...!" kata Gama.


" Siaaapp...!" sahut Rex lantang.


Kemudian Gama dan ustadz Akbar mulai berdzikir dan membaca ayat Al Qur'an untuk membantu Rex.


Di dalam kamar Rex nampak berdzikir panjang sambil mulai mengamati keadaan sekelilingnya. Saat itu Rex seperti dibawa masuk ke dalam goa yang gelap. Sambil melangkah Rex meraba dinding di sampingnya agar tak terjatuh.


Rex terus masuk ke dalam goa yang seperti tak berujung itu. Ia berhenti saat tiba di sebuah tempat yang lebih luas. Di sana Rex melihat sebuah batu datar yang mirip altar persembahan.


Kemudian Rex mendekat dan melihat taburan aneka bunga segar yang nampaknya baru saja disebar oleh seseorang atau sesuatu.


" Siapa yang udah nyebar bunga di sini...," batin Rex dalam hati.

__ADS_1


Tiba-tiba Rex mendengar suara benda diseret di kejauhan. Suara itu makin lama makin mendekat kearah dimana Rex berada. Rex memutuskan sembunyi di balik altar batu untuk melihat siapa yang datang.


Dari tempat persembunyiannya Rex melihat sosok biawak besar nampak melangkah masuk. Tubuh biawak itu berwarna hitam dan dihiasi corak kekuningan di sekujur tubuh hingga ekornya. Rex yakin jika reptil itu memiliki jabatan penting di koloninya karena terdapat mahkota kecil di atas kepala sang biawak.


Setelah berada di tengah ruangan, wujud biawak itu perlahan berubah menjadi sosok pria dewasa. Rex membelalakkan matanya saat mengenali siapa pria yang ada di hadapannya itu.


" Halim. Ternyata dia masih hidup bahkan dia dan Elvira tinggal di tempat yang sama. Ini menjelaskan kenapa Elvira selalu ketakutan. Rupanya selain masuk ke dalam mimpi Elvira, Halim juga mengawasi dan tinggal bersama Elvira...," gumam Rex kesal sambil menggertakkan giginya.


Di depan sana Halim tampak tak menyadari kehadiran Rex. Ia nampak berkeliling goa sambil menggesekkan tubuhnya ke dinding goa seolah sedang menandai daerah itu dengan aroma tubuhnya.


Setelah selesai menggesekkan tubuhnya di beberapa bagian dinding goa, Halim pun keluar dari goa.


Rex pun keluar dari tempat persembunyiannya setelah memastikan Halim tak kembali dalam waktu lama. Kemudian Rex mengamati dinding goa dimana Halim menggesekkan tubuhnya tadi lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh jejak yang ditinggalkan Halim tadi.


Rex mengerutkan keningnya saat menyentuh dinding goa. Terasa basah berlendir dan sedikit berbau amis.


" Pantesan Elvira jadi ga berkutik. Rupanya dia pake cara ini untuk mengikat Elvira...," kata Rex sambil menggelengkan kepalanya.


Kemudian Rex memetik sehelai daun dari tumbuhan yang tumbuh di dinding goa. Dengan daun itu Rex mengambil lendir berbau itu lalu meletakkannya di telapak tangan.


" Sebenernya jijik, tapi terpaksa...," gumam Rex sambil meringis.


Setelahnya Rex memejamkan matanya sambil berdzikir. Sesaat kemudian Rex telah kembali ke alam nyata yaitu di kamar Elvira.


Rex mengucap hamdalah sambil menghela nafas panjang. Setelahnya ia membuka pintu kamar. Ia tersenyum saat melihat ustadz Akbar dan Gama tengah berdiri menanti di balik pintu kamar.


" Lo Gapapa kan Rex...?" tanya Gama.


" Alhamdulillah Gue gapapa...," sahut Rex sambil tersenyum.


" Alhamdulillah...," kata ustadz Akbar dan Gama bersamaan.


" Lo bawa apaan tuh...?" tanya Gama.


" Ini sesuatu yang mau Gue selidiki dulu Gam. Mudah-mudahan Kita bisa nemuin petunjuk dari sini...," sahut Rex.


" Jadi gimana sama Elvira Mas Rex...?" tanya ustadz Akbar.


" Tolong jaga dia sebentar sampe Saya menemukan cara melumpuhkan makhluk itu ya Ustadz...," kata Rex sungguh-sungguh.


" Insya Allah Mas, terima kasih...," sahut ustadz Akbar.

__ADS_1


Rex mengangguk sambil tersenyum kemudian mengajak Gama pulang.


bersambung


__ADS_2