
Rex melajukan mobilnya sesuai arahan dokter Aksara. Setengah jam kemudian mereka tiba di depan rumah orangtua dokter Aksara.
" Ini rumah orangtua Saya dan Saya masih tinggal menumpang sama mereka...," kata dokter Aksara.
" Saya juga masih numpang kok sama orangtua...," sahut Rex cepat.
" Ok, Saya masuk dulu ya. Maaf ga ngajak mampir soalnya udah malam. Makasih untuk semuanya, Assalamualaikum...," pamit dokter Aksara.
" Sama-sama, wa alaikumsalam..., " sahut Rex sambil bersiap masuk ke dalam mobil.
Namun Rex mengurungkan niatnya saat suara seorang pria terdengar memanggil nama dokter Aksara dengan lantang.
" Kenapa jam segini baru pulang Sara. Kamu sengaja ya menghindar dari Saya...?!" sapa seorang pria.
Rex menoleh kearah sumber suara dan melihat seorang pria bertubuh gempal berdiri sambil berkacak pinggang di depan rumah. Rex juga menoleh kearah dokter Aksara dan melihat gadis itu nampak enggan menjawab panggilan pria itu.
" Udah malam Sal, ga usah berisik bisa kan...," kata dokter Aksara dengan santai namun membuat pria bernama Faisal itu meradang dan berjalan cepat kearah sang dokter.
" Saya ga peduli. Darimana Kamu jam segini baru pulang ?. Pake diantar cowok lagi, siapa dia...?!" tanya Faisal.
" Dia teman Saya Faisal. Kalo Kamu datang cuma mau marah-marah lebih baik Kamu pulang. Saya capek mau istirahat..., " sahut dokter Aksara sambil melintas di depan Faisal dan bersiap masuk ke dalam rumah.
Namun Faisal yang kesal berusaha menarik tangan dokter Aksara. Rex yang melihatnya bersiap membantu tapi urung karena mendengar suara erangan Faisal. Saat diamati ternyata punggung tangan Faisal terluka akibat pulpen dokter Aksara yang menancap di sana.
Rex pun tersenyum tipis melihatnya. Namun senyum Rex memudar saat melihat kehadiran pocong yang pernah mendatangi kamarnya juga ada di sana. Pocong itu berdiri di bawah pohon sambil mengamati Faisal dan dokter Aksara.
" Sara !. Kamu g*la yaa...?!" kata Faisal sambil meringis menahan sakit.
" Kamu yang ganggu Saya...!" sahut dokter Aksara tak kalah lantang.
Suara lantang Faisal dan dokter Aksara membuat kedua orangtua dokter Aksara keluar lalu melerai mereka. Bersamaan dengan itu pocong yang mengamati Faisal dan dokter Aksara sejak tadi pun lenyap entah kemana.
Menyadari kehadirannya tak dibutuhkan di sana, Rex pun masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan tempat itu.
\=\=\=\=\=
Rex baru saja usai membersihkan diri. Ia menuju ruang makan untuk makan malam sesuai permintaan ibunya.
__ADS_1
" Ibu tau Kamu udah makan. Tapi makan lah sedikit supaya Ibu merasa masakan Ibu ini ga sia-sia..., " kata Lanni saat Rex duduk di kursinya.
" Iya Ibuku Sayang. Masak apa hari ini Bu...?" tanya Rex sambil meraih sendok dan garpu.
" Cuma masak rawon, kerupuk udang sama sambal terasi Nak...," sahut Lanni.
" Alhamdulillah, ini enak banget Bu...," kata Rex usai memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya.
" Alhamdulillah, Ibu seneng dengernya...," sahut Lanni sambil tersenyum.
Kemudian perbincangan santai pun terjadi antara ibu dan anak itu. Tak lama kemudian Ramon memanggil sang istri hingga membuat Lanni menepuk dahinya karena teringat akan sesuatu.
" Astaghfirullah aladziim, Ibu lupa Rex. Ayah kan minta dikerokin gara-gara masuk angin. Kalo gitu Kamu lanjutin makannya ya, Ibu ke kamar dulu...," kata Lanni sambil mengusap kepala Rex dengan sayang.
" Iya Bu...," sahut Rex dengan mulut penuh.
Rex masih melanjutkan makan malamnya sambil mengingat pertengkaran dokter Aksara dengan Alex termasuk pocong misterius itu.
" Apa sih maunya pocong itu. Kenapa selalu terlihat dimana-mana...," gumam Rex sambil merapikan meja makan.
" Kak..., bangun. Kakak kenapa...?" tanya Rex sambil menepuk pipi Lilian dengan lembut hingga gadis itu terbangun.
" Ya Allah, untung cuma mimpi...," kata Lilian sambil mengusap wajahnya yang berkeringat dengan kedua telapak tangannya.
" Kakak mimpi buruk ya, mimpi apa Kak...?" tanya Rex sambil menyodorkan gelas berisi air putih kearah Lilian yang langsung meneguk isinya hingga tersisa setengah gelas.
" Cowok lusuh itu datang lagi Rex. Dia ngikutin Kakak kemana pun. Tolong Kakak dong Rex, tolong jauhin cowok itu. Kakak takut...," pinta Lilian sungguh-sungguh sambil mengguncang lengan Rex.
Permintaan Lilian mengejutkan Rex karena biasanya gadis itu cukup tangguh menghadapi terror hantu. Namun Rex mencoba maklum mengingat pengalaman buruk Lilian yang pernah hampir dilecehkan pria. Apalagi cara pria itu 'mengejar' Lilian memang lumayan meresahkan, walau hanya dilakukan di dalam mimpi.
" Insya Allah Aku bantu Kak. Aku juga baru aja ngeliat poci yang sama di dekat rumah temanku. Keliatannya mimpi Kakak, poci itu dan temanku saling berkaitan deh...," kata Rex.
" Maksud Kamu poci yang berdiri di depan kamar Kamu itu Rex...?" tanya Lilian.
" Iya Kak. Setiap Kakak cerita tentang mimpi dikejar cowok lusuh itu, di waktu yang ga berselang lama Aku juga ngeliat poci itu. Nah kali ini terbalik. Aku ngeliat poci itu dulu baru setelahnya Kakak cerita mimpi aneh itu. Bukan kah ini terlalu kebetulan Kak...?" tanya Rex.
" Iya Rex. Duh, mudah-mudahan bukan pertanda buruk ya Rex...," kata Lilian gusar.
__ADS_1
" Aamiin. Sekarang lebih baik Kakak tidur, udah malam nih. Jangan lupa wudhu dan berdoa ya Kak. Eits..., jangan membantah karena ini salah satu usaha aja biar Kakak ga dimimpiin cowok aneh itu lagi...," kata Rex cepat saat melihat Lilian memasang wajah kesal.
" Iya tau...," sahut Lilian sambil melangkah ke kamar meninggalkan Rex di ruang tengah.
Setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci, Rex pun masuk ke kamar untuk istirahat. Kemudian Rex meraih ponselnya karena berniat menghubungi seseorang sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
" Kemalaman ga ya nelephon jam segini...," gumam Rex sambil menatap nama dokter Aksara di layar ponselnya.
Sesaat kemudian Rex nekad menelepon dokter Aksara karena penasaran dengan kondisi gadis itu setelah pertengkarannya dengan pria bernama Faisal itu.
" Assalamualaikum dokter Aksara. Ini Saya, Rex Aldan...," sapa Rex saat telephon tersambung.
" Wa alaikumsalam, ada apa Kapten...?" tanya dokter Aksara.
" Ga ada yang penting. Saya cuma mau nanyain gimana keadaan Kamu sekarang. Apa semuanya baik-baik aja ?. Maaf kalo terkesan kepo...," kata Rex cepat.
Dokter Aksara tersenyum mendengar ucapan Rex. Ia membayangkan bagaimana raut wajah Rex saat mengatakan itu. Entah mengapa, perasaannya menjadi jauh lebih baik setelah mendengar suara Rex.
" Dokter Aksara...," panggil Rex hati-hati.
" Iya Kapten. Alhamdulillah Saya baik-baik aja. Cuma salah paham kecil aja kok, kan udah dibantuin sama orangtua Saya tadi...," kata dokter Aksara.
" Syukur lah. Cowok itu...," ucapan Rex terputus saat dokter Aksara memotong cepat.
" Faisal, namanya Faisal. Dia tunangan Saya...," kata dokter Aksara dengan suara tercekat namun berhasil membuat Rex kecewa.
" Oh, Saya mengerti. Jadi ini masalah diantara pasangan ya. Maaf kalo Saya terkesan ikut campur. Saya ga berniat kaya gitu lho dok...," kata Rex tak enak hati.
" Gapapa Kapten, makasih atas perhatiannya..., " sahut dokter Aksara lirih.
" Sama-sama. Ok, selamat malam. Semoga mimpi indah ya dok, Assalamualaikum..., " kata Rex bergegas mengakhiri percakapan mereka.
Rex menghela nafas panjang lalu melangkah ke jendela kamarnya. Ia merasa dadanya berdenyut nyeri saat mengetahui dokter Aksara telah bertunangan dengan pria lain.
Rex menyibak gorden jendela untuk mengamati tanaman yang ditanam sang ibu di samping kamarnya itu. Namun lagi-lagi Rex harus menggeram kesal karena melihat penampakan pocong lusuh itu lagi di sana.
bersambung
__ADS_1