Kidung Petaka

Kidung Petaka
74. Merekam


__ADS_3

Hamidah dan Codot pun digelandang ke kantor polisi. Sebelumnya polisi juga membawa Codot ke Rumah Sakit untuk mengobati lututnya yang terluka akibat tembakan AKP Taufan.


Hamidah terus menjerit dan menangis di dalam perjalanan menuju kantor polisi. Ia marah karena gagal melakukan sesuatu yang menurutnya penting. Karenanya ia terus memukuli Codot yang duduk lemah di sampingnya. Codot hanya diam karena tak punya kekuatan untuk membalas perbuatan Hamidah saat itu. Bagi Codot luka di lututnya lebih nyeri daripada pukulan Hamidah.


Karena kesal mendengar ocehan Hamidah, seorang polisi pun mengacungkan senapan kearah Hamidah.


" Diam atau Kutembak...," kata polisi muda itu menakut-nakuti.


Ternyata ancaman polisi muda itu benar-benar ampuh. Hamidah langsung menutup mulutnya karena takut ditembak. Bagaimana pun Hamidah telah melihat aksi Taufan tadi. Dan kini ia tak ingin menganggap enteng ucapan aparat penegak hukum itu karena sudah menyaksikan sendiri bagaimana tindakan mereka saat ancamannya tak digubris.


Melihat Hamidah menutup mulut sambil terisak, para polisi yang mengawal Hamidah dan Codot pun tersenyum diam-diam.


Satu jam kemudian mereka tiba di kantor polisi. Hamidah dan Codot dimasukkan ke dalam sel tahanan yang berbeda. Keduanya menatap nanar penghuni sel yang balik menatap mereka dengan tatapan mengintimidasi.


Codot yang terbiasa keluar masuk sel penjara itu nampak pasrah. Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam sel dan bersiap menghadapi 'sambutan' dari penghuni sel tahanan pria itu.


Berbeda dengan Codot yang pasrah, Hamidah justru membalikkan tubuhnya dan berusaha menerobos pintu sel yang akan ditutup oleh polisi.


" Saya ga mau di sini. Lepasin Saya Pak Polisi, tolong jangan kurung Saya di sini...!" pinta Hamidah dengan suara serak.


" Berisik !. Diam atau Lo tau akibatnya...!" bentak salah seorang tahanan wanita dari sudut sel.


Ucapan penghuni sel tahanan wanita itu membuat Hamidah gentar. Ia memohon kepada polisi itu agar mau melepaskannya.


" Bapak denger kan, ada yang ngancam Saya Pak. Saya ga mau di sini, mereka semua jahat...," kata Hamidah mulai menangis.


Polisi yang mengantar Hamidah ke sel tahanan tampak tak peduli. Setelah mengunci pintu sel, ia pun berlalu meninggalkan Hamidah bersama para penghuni sel lainnya.


Hamidah terus berteriak meminta tolong agar dilepaskan. Dan itu membuat suasana dalam sel tahanan yang semula hening itu mendadak menjadi gaduh.


Para penghuni sel tahanan wanita itu merasa terganggu. Mereka menatap Hamidah yang terus mengguncang teralis besi sambil menangis itu dengan tatapan kesal. Tiga orang diantaranya langsung berdiri dan menghampiri Hamidah.


Salah seorang tahanan wanita itu menjambak rambut Hamidah lalu membenturkan kepalanya ke teralis besi hingga hidung dan mulut Hamidah mengeluarkan darah.

__ADS_1


" Lo bilang Kami jahat kan. Sekarang rasain kejahatan Kami...," kata wanita itu sambil menghempaskan wajah Hamidah ke teralis besi.


" Lo pikir cuma yang ada di sini yang jahat, Lo juga jahat !. Kalo Lo emang orang baik-baik, Lo ga bakal ada di sini anj**g...!" kata wanita lainnya sambil memukuli Hamidah.


Hamidah menjerit kesakitan namun tak seorang polisi pun datang membantu. Saat Hamidah masih merasakan sakit di bagian hidung, mulut dan tubuhnya, ia merasakan tangannya diputar ke belakang. Hamidah kembali menjerit kesakitan dan langsung bungkam saat merasakan sebuah benda runcing menempel di lehernya. Hamidah tak tahu benda apa yang melekat di lehernya, tapi Hamidah tahu jika benda itu bisa menembus tenggorokannya.


" Terus lah menjerit, maka pita suara Lo bakal sobek...," kata seorang wanita sambil menekan benda runcing itu di leher Hamidah.


Hamidah menggelengkan kepalanya sambil menangis. Setelah yakin Hamidah tak lagi membuat ulah, kedua wanita yang tadi menganiaya Hamidah kembali ke tempatnya masing-masing.


Tubuh Hamidah pun luruh ke lantai. Hamidah menangis karena merasakan sakit di sekujur tubuh dan wajahnya.


\=\=\=\=\=


Keesokan harinya Hamidah dan Codot diinterogasi di ruangan yang berbeda. Mereka menghadapi sejumlah pertanyaan yang membuat mereka terdesak.


Sedangkan Taufan nampak bergegas pergi usai menerima telephon dari Rumah Sakit. Rupanya Reni kritis dan ingin mengatakan sesuatu sebelum ia meninggal dunia.


Taufan meminta anak buahnya agar melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Ia tak ingin kehilangan saksi kunci ledakan kios mie ayam itu.


" Lo di sini Rex...?" tanya Taufan.


" Iya. Kak Lian bilang Reni kritis. Gue ga kenal Reni tapi Gue yakin dia punya kartu as yang bakal mengungkap kasus ledakan kios mie ayam itu Fan...," sahut Rex cepat.


" Lo bener, yuk Kita temuin Reni sekarang...," ajak Taufan.


" Ok...," sahut Rex.


Kemudian keduanya melangkah beriringan menuju kamar rawat inap Reni. Saat membuka pintu kamar, mereka melihat Reni sedang mengejang sekarat. Di sampingnya Lilian nampak mendekatkan ponselnya ke mulut Reni.


Tindakan Lilian membuat Rex dan Taufan saling menatap sejenak lalu mengangguk. Keduanya paham apa yang dilakukan Lilian. Gadis itu mencoba merekam kalimat terakhir Reni sebelum ia meninggal dunia.


Lilian nampak mengerjapkan matanya saat tubuh Reni mulai melemah.

__ADS_1


" Ikuti Saya ya Mbak Reni. Laa ilaha ilallah...," bisik Lilian di telinga Reni.


" Ma... ka... sih sus... terrr Li... lii. Laa... ila... ha ilallah...," kata Reni terbata-bata dengan nafas yang tersisa.


Setelahnya tubuh Reni terkulai lemah. Lilian pun mengangguk sambil membisikkan sesuatu.


" Sama-sama Mbak Reni. Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun. Pergi lah dengan tenang, karena Kamu udah ga perlu merasa sakit lagi...," bisik Lilian sambil mengusap wajah Reni dengan lembut.


Setelahnya Lilian memperbaiki posisi tubuh Reni. Sedikit kesulitan karena pandangannya terhalang oleh air mata yang turun membasahi wajahnya.


Rex dan Taufan pun maju untuk membantu. Lilian yang semula terkejut dengan kehadiran orang lain di ruangan itu pun tersenyum saat mengenali Rex dan Taufan.


" Kita terlambat Rex...," kata Taufan sambil menatap jenasah Reni dengan tatapan sendu.


" Iya Fan. Tapi mudah-mudahan Kak Lian dapat sesuatu..., " sahut Rex sambil menoleh kearah sang kakak yang sedang mencatat beberapa hal penting di buku.


" Aku sempet mencatat apa yang Mbak Reni bilang tadi. Karena suaranya terlalu lemah, makanya Aku memutuskan merekam pake ponsel aja. Ini catatannya dan di sini rekamannya...," kata Lilian sambil menyodorkan buku tempat ia menulis pesan almarhumah Reni tadi.


" Rekaman suaranya bisa tolong kirim ke ponsel Aku ya Li...," pinta Taufan.


" Ok Mas...," sahut Lilian cepat.


" Sekarang Li...," pinta Taufan saat melihat Lilian akan keluar dari kamar rawat inap itu.


" Aku harus melapor Mas. Rex, tolong Kamu bantu kirim rekaman suara Mbak Reni tadi ya...," kata Lilian sambil menyerahkan ponselnya kepada sang adik.


" Siap Kak...," sahut Rex.


Lilian tersenyum lalu bergegas keluar dari kamar untuk melanjutkan pekerjaannya. Ssmentara itu Rex dan Taufan memilih menunggu di luar kamar rawat inap Reni.


" Udah ya Fan...," kata Rex.


" Ok, thanks Bro...," sahut Taufan.

__ADS_1


Kemudian Taufan meminta beberapa anak buahnya merapat untuk mengurus jenasah Reni.


\=\=\=\=\=


__ADS_2