
Sesuai dugaan Rex, kedua orangtuanya terkejut melihat kepulangannya. Bahkan Lanni mencubit tubuh Rex saking gemasnya.
" Kamu keterlaluan banget sih. Kenapa ga ngasih kabar kalo mau pulang ?. Kami juga pengen kaya orang lain yang datang menjemput Kamu Rex...!" kata Lanni kesal.
" Ampun Bu. Iya iya, Aku minta maaf ya. Lain kali pasti Aku kabarin deh...," sahut Rex sambil meringis kesakitan.
" Ga ada lain kali !. Emangnya Kamu mau pergi kemana lagi setelah ini ?. Misi Kamu baru aja selesai tapi Kamu udah punya rencana berangkat lagi entah kemana. Kayanya Kamu emang ga sayang sama Ibu ya Rex...!" kata Lanni dengan mata berkaca-kaca.
Rex tertegun sejenak lalu meraih sang Ibu ke dalam pelukannya. Melihat hal itu membuat Ramon hanya bisa menggelengkan kepala.
" Maaf ya Ibuku Sayang. Aku janji ga bakal bikin Ibu sedih lagi. Aku juga janji bakal bilang lebih awal kemana pun Aku ditugaskan nanti...," kata Rex sungguh-sungguh.
" Bener ya, awas kalo bohong...!" kata Lanni.
" Iya Bu...," sahut Rex cepat hingga membuat sang ibu tersenyum.
Setelah berhasil menenangkan sang ibu, Rex beralih memeluk ayahnya. Ramon menepuk punggung Rex dengan lembut sambil tersenyum.
" Selamat datang Nak. Alhamdulillah..., Kami bersyukur melihat Kamu pulang dengan selamat...," kata Ramon dengan mata berkaca-kaca.
" Aamiin. Ini juga berkat doa Ayah sama Ibu kan...," sahut Rex sambil tersenyum.
" Sekarang Kamu bersih-bersih dulu gih. Ibu mau masak mie kuah buat Kita. Gimana, Kamu mau kan...?" tanya Lanni.
" Mau banget Bu. Kebetulan Aku juga lapar dan udah kangen sama masakan Ibu...," sahut Rex antusias hingga membuat Lanni terharu.
Kemudian Rex bergegas masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Tak lama kemudian Rex keluar dengan wajah fresh Ialu melangkah cepat menuju ruang makan dimana kedua orangtuanya menunggu.
Melihat Rex makan dengan lahap membuat Ramon dan Lanni tertawa.
" Apa Kamu ga pernah makan enak di sana Nak ?. Melihatmu makan kayanya Ayah yakin kalo Kamu jarang makan enak di sana...," gurau Ramon.
" Ayah salah. Aku dan semua relawan makan enak kok tiap hari. Tapi kalo masakan mie kuah kaya gini emang cuma Ibu juaranya...," sahut Rex sambil mengacungkan jempolnya.
" Ga usah terlalu memuji Rex. Itu cuma mie instan biasa yang bisa Kamu temui dimana pun. Semua orang pasti bisa masak mie kaya yang Ibu bikin tadi...," kata Lanni sambil berdecak sebal.
" Tapi Aku jujur Bu. Rasa mie buatan Ibu tuh emang ga ada yang ngalahin. Ga tau kenapa...!" kata Rex dengan mulut penuh.
__ADS_1
" Itu pasti karena Ibu bikinnya pake hati dan cinta, makanya rasanya beda di lidah Kamu Nak...," kata Ramon sambil melirik sang istri dengan mesra.
" So sweet banget sih Ayah. Makasih yaa...," kata Lanni sambil tersenyum lalu mengecup pipi sang suami dengan cepat.
" Sama-sama Bu...," sahut Ramon sambil mengusap punggung Lanni dengan lembut.
Melihat sikap mesra kedua orangtuanya membuat Rex tersenyum. Kemudian ia melanjutkan makan malamnya hingga semua mie habis tanpa sisa.
" Alhamdulillah..., " kata Rex setelah bersendawa.
" Sekarang sebaiknya Kamu siap-siap Nak. Udah mau masuk Subuh nih...," kata Ramon mengingatkan.
" Masya Allah, ga terasa ya Yah. Ok, Aku ganti baju dulu Yah, nanti Kita bareng pergi ke masjid...," kata Rex sambil bergegas masuk ke dalam kamar.
Ramon dan Lanni menatap Rex dengan tatapan bahagia. Rasa rindu lenyap seketika saat melihat sang buah hati pulang dengan selamat.
\=\=\=\=\=
Rex sedang berbaring di sofa sambil menonton televisi saat sebuah berita tentang kecelakaan pesawat ditayangkan. Rex tahu lokasi kecelakaan itu letaknya tak jauh dari tempatnya berada saat mendengar senandung aneh dini hari tadi.
Dalam berita disebutkan jika pesawat private jet itu terpaksa balik arah karena terjadi kerusakan pada mesin pesawat.
Pesawat mendarat darurat hingga keluar dari area landasan. Bunga api nampak memercik dari perut pesawat yang bergesekan langsung dengan landasan beraspal itu. Kemudian pesawat berhenti setelah menabrak pagar pembatas lalu meledak seketika.
Meski pun pesawat private jet itu dalam keadaan tak berpenumpang, tapi diawaki seorang pilot, teknisi dan pramugari. Ketiganya tewas di lokasi kecelakaan dengan kondisi jasad hangus terbakar.
" Keliatannya kecelakaan itu terjadi saat Aku dan Elvira udah ga ada di sana...," gumam Rex sambil menggelengkan kepalanya.
Di layar televisi diperlihatkan kobaran api yang melahap badan pesawat. Mobil pemadam kebakaran nampak mendekat. Dan beberapa polisi berdatangan mengamankan lokasi. Sedangkan orang-orang yang berada dekat dengan lokasi ledakan pesawat nampak berlarian menjauh. Mereka berusaha menyelamatkan diri karena tak ingin terkena imbas dari pesawat terbakar itu yang bisa meledak kapan pun.
Di sela kobaran api yang melalap badan pesawat, Rex melihat siluet wanita berdiri seolah sedang menatap kearahnya.
" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun. Ya Allah, apalagi ini. Siapa perempuan itu sebenernya. Kenapa setiap senandung perempuan itu terdengar selalu disusul musibah setelahnya...," gumam Rex gusar sambil mengacak rambutnya.
Tiba-tiba terdengar suara bel pintu depan berbunyi. Rex ingat jika saat itu tak ada orang lain selain di rumah. Karenanya dengan enggan Rex bangkit lalu berjalan menuju pintu.
" Assalamualaikum Reeexxx...!" sapa Lilian dari balik pintu sambil merentangkan kedua tangannya.
Melihat sang kakak membuat Rex tersenyum. Ia pun memeluk sang kakak dengan erat.
__ADS_1
" Wa alaikumsalam Kak, apa kabar...?" tanya Rex.
" Alhamdulillah baik. Kamu sendiri gimana kabarnya ?, kok iteman sih...?" tanya Lilian sambil mengurai pelukan lalu mengamati Rex dari atas kepala hingga ujung kaki.
" Apaan sih Kakak, biasa aja kali. Aku kan emang item dari dulu...," sahut Rex cepat.
" Oh iya, lupa...," kata Lilian dengan mimik wajah lucu.
" Sendirian aja Kak...?" tanya Rex sambil mengedarkan pandangan mencari keberadaan Gama.
" Berdua...," sahut Lilian sambil menerobos masuk ke dalam rumah.
" Sama siapa ?. Gama...?" tanya Rex ragu.
" Bukan Gama, dia lagi di bengkel. Katanya nyusul ke sini ntar. Tapi Aku datang ke sini sama calon keponakan Kamu nih...," sahut Lilian sambil mengusap perutnya yang terlihat mulai sedikit membuncit.
Rex terkejut lalu mendekat kearah Lilian yang sedang mengusap perutnya itu.
" Kakak hamil...?" tanya Rex.
" Iya...," sahut Lilian mantap sambil tersenyum.
" Alhamdulillah..., selamat ya Kak. Tapi kok bisa hamil secepat ini sih Kak...?" tanya Rex sambil kembali memeluk Lilian.
" Ya bisa dong Rex. Kan Gue sengaja gempur Istri Gue tiap hari biar cepet hamil. Ga ada jeda sama sekali. Apalagi Kami menikah pas Lian lagi masa subur, jadi jangan heran kalo cepet isi. Gimana, hebat kan Gue...?! tanya Gama dari ambang pintu hingga membuat Rex dan Lilian menoleh.
Rex tertawa mendengar celoteh Gama. Kemudian keduanya saling memeluk sebagai ungkapan rasa rindu. Lilian ikut tersenyum bahagia menyaksikan pertemuan dua sahabat yang kini menjadi saudara ipar itu.
" Apa kabar anak Ayah...?" tanya Gama setelah mengurai pelukannya.
" Alhamdulillah baik...," sahut Lilian sambil tersenyum.
" Anak pintar...," puji Gama sambil berjongkok di depan Lilian lalu mengecup perutnya.
" Ibunya ga ditanyain...?" protes Lilian sambil cemberut.
" Ga usah. Ibunya langsung dikiss aja...," sahut Gama sambil mendaratkan ciuman di bibir sang istri.
Rex melengos sebal menyaksikan adegan mesra Gama dan Lilian yang nampaknya memang sengaja dilakukan Gama untuk menyindirnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=