
Gama tiba di Rumah Sakit Polri saat jam menunjukkan pukul setengah empat pagi. Ia bergegas menuju Unit Gawat Darurat karena kabarnya Rex berada di sana.
Di depan Unit Gawat Darurat Gama melihat beberapa rekan Rex tengah duduk sambil berbincang. Rupanya mereka sengaja datang untuk menunggui Rex.
" Assalamualaikum...!" sapa Gama dengan ramah.
" Wa alaikumsalam..., " sahut semua rekan Rex lalu berdiri dan menjabat tangan Gama.
" Gimana keadaan Rex sekarang Mas...?" tanya Gama cemas.
Semua rekan Rex membisu. Mereka saling menatap bingung hingga membuat Gama makin cemas. Sersan Andi menghela nafas panjang lalu mengajak Gama masuk ke dalam UGD.
" Ayo Saya antar...," kata Andi menawarkan diri.
Gama mengangguk lalu mengekori Andi yang menerobos masuk ke Unit Gawat Darurat dengan santai.
Saat melihat kondisi Rex yang terbaring lemah di atas tempat tidur membuat Gama menitikkan air mata. Berbagai selang terpasang di tubuh Rex yang saat itu juga dibalut seperti mummi.
" Jadi apa yang terjadi Mas...?" tanya Gama sambil mengusap ujung matanya yang basah.
Sersan Andi pun menceritakan apa yang terjadi sesuai yang disampaikan salah seorang polisi yang mengantar Rex ke Rumah Sakit tadi. Mendengar cerita Andk membuat Gama terpukul dan tak bisa lagi menyembunyikan tangisnya.
" Ya Allah..., kasian banget sih Lo Rex...," kata Gama.
" Saat dibawa ke sini Kapten Rex masih sadar. Bisa dibayangin kan gimana rasanya harus menahan sakit sepanjang perjalanan Mas...," kata sersan Andi dengan suara tercekat hingga membuat Gama makin terisak.
" Gimana nasib penumpang lainnya Mas...?" tanya Gama setelah tangisnya mereda.
" Beberapa meninggal dunia di tempat dan lainnya luka-luka. Sebagian dibawa ke Rumah Sakit ini sisanya ke Rumah Sakit Daerah di sana Mas...," sahut sersan Andi.
Tiba-tiba seorang dokter dan dua perawat masuk ke dalam ruangan. Gama dan Sersan Andi pun menyingkir untuk memberi kesempatan pada team medis mengecek kondisi Rex.
Tak lama kemudian Rex dipindahkan ke ruang isolasi sesuai perintah sang dokter. Gama dan Sersan Andi nampak bicara dengan dokter yang menangani Rex.
" Pasien Kami pindahkan ke ruang isolasi ya Pak. Luka bakarnya sangat parah dan perlu penanganan khusus...," kata sang dokter.
" Apa perlu dilakukan tindakan operasi dok...?" tanya Gama.
__ADS_1
" Kami masih melakukan observasi Pak. Kami harap luka bakarnya hanya ada di permukaan kulit aja dan ga menembus ke organ dalam. Jadi Kita bisa menunggu pasien siuman dan meminta kesediaannya melakukan operasi plastik untuk memperbaiki kulitnya yang rusak...," sahut sang dokter.
" Kira-kira berapa lama lagi Adik Saya bisa siuman dok...?" tanya Gama.
" Melihat kondisi pasien, insya Allah dua atau tiga jam lagi pasien siuman. Dan saat diletakkan di ruang isolasi pasien hanya bisa dijenguk dari luar ya Pak...," sahut sang dokter.
" Baik, makasih dokter...," sahut Gama dan Sersan Andi bersamaan.
" Sama-sama...," sahut sang dokter sambil tersenyum.
\=\=\=\=\=
Pada akhirnya semua keluarga mengetahui berita kecelakaan yang dialami oleh Rex. Bisa ditebak bagaimana reaksi mereka. Bahkan Lanni pingsan saat mendengar berita itu langsung dari suaminya yang pulang ke rumah Rusminah untuk menemuinya.
Lanni masih menangis saat Ramon masuk ke dalam kamar. Rusminah pun tak kuasa membujuk sang menantu karena berita itu juga membuatnya panik sekaligus sedih.
" Mamak istirahat aja ya. Biar Lanni Aku yang urus...," kata Ramon sambil memapah sang ibu keluar dari kamar.
" Iya Nak. Apa udah ada kabar dari Jakarta...?" tanya Rusminah.
" Udah Mak. Gama bilang kondisi Rex membaik dan udah dipindah ke ruang rawat inap...," sahut Ramon berbohong.
" Daud Mak...," sahut Ramon cepat.
Perawat yang merawat Rusminah nampak menyambut Rusminah dan membantunya duduk di atas sofa. Ramon pun meninggalkan Rusminah bersama sang perawat lalu kembali ke kamar.
" Mamak makan dulu ya, abis itu minum obat...," kata sang perawat bernama Emi itu dengan lembut.
" Iya Sus...," sahut Rusminah sambil tersenyum.
Di kamar Ramon nampak berusaha menenangkan Lanni yang masih menangis. Namun akhirnya ia pun ikut menangis karena khawatir dengan kondisi sang anak.
" Gimana kondisi Rex sekarang Yah ?. Tolong jangan bohong lagi, Aku perlu tau yang sebenarnya kan...," kata Lanni sambil menangis.
" Kata Gama kondisi Rex memburuk Bu. Dia dibawa ke ruang isolasi karena khawatir luka bakarnya mengalami infeksi. Dokter memprediksi Rex siuman jam tujuh, tapi sampe sekarang Rex belum siuman juga...," sahut Ramon sambil mengusap matanya yang basah.
" Ya Allah, kasian Rex. Dia pasti kesakitan Yah...," kata Lanni sedih.
__ADS_1
" Rex Anak yang kuat Bu, dia tahan sakit sejak kecil. Ibu ingat itu kan ?. Insya Allah Rex bakal baik-baik aja setelah ini...," sahut Ramon yakin sambil mengeratkan pelukannya.
" Aamiin. Kapan Kita pulang ke Jakarta Yah...?" tanya Lanni sambil menatap sang suami.
" Secepatnya Bu. Aku udah urus semuanya dan Kita bisa pulang sebentar lagi. Tapi Kita ke rumah dulu ya Bu. Kasian Lian sendirian di sana. Kayanya Gama belum ngasih tau Lian kalo Rex kecelakaan. Sebaiknya Ibu berkemas sekarang supaya pas mobil travelnya jemput Kita bisa langsung berangkat...," sahut Ramon.
Lanni mengangguk lalu bergegas bangkit. Ramon tersenyum tipis melihat bagaimana istrinya yang sangat sedih itu masih bisa berkemas meski pun sambil menangis.
\=\=\=\=\=
Kesedihan melingkupi Ramon dan keluarganya. Kali ini Ramon dan Lanni justru sibuk menenangkan Lilian yang sedang menangis. Kebetulan Lilian memang menginap di rumah orangtuanya sejak mereka berangkat ke Cirebon.
" Udah Kak, jangan nangis terus. Ingat sama bayimu. Kasian kan dia, kalo Ibunya nangis dia pasti ikut sedih. Itu ga baik lho Nak...," kata Lanni sambil mengusap punggung Lilian dengan lembut.
" Gimana Aku ga nangis Bu. Kenapa ga ada yang ngasih tau Aku kalo Rex kecelakaan dan dirawat di Rumah Sakit. Semua malah kerja sama buat bohongin Aku, Gama juga...," sahut Lilian di sela isak tangisnya.
" Kami ga mau Kamu shock dan bikin bayimu terluka Nak. Rex juga pasti sedih kalo tau keponakannya kenapa-kenapa. Sekarang sebaiknya Kita berdoa untuk kesembuhan Rex dan berhenti saling menyalahkan..., " kata Ramon lembut dan diangguki Lanni.
" Betul kata Ayah. Ibu juga minta maaf kalo sempet marah-marah sama Ayah tadi ya Yah...," kata Lanni sambil menatap sang suami dengan mata berkaca-kaca.
" Gapapa Bu, Ayah maklum kok...," sahut Ramon sambil tersenyum.
" Jadi kapan Kita berangkat jenguk Rex Yah...?" tanya Lanni tak sabar.
" Asal Lian ga nangis lagi Kita bisa pergi ke sana secepatnya...," sahut Ramon sambil melirik Lilian.
Mendengar ucapan sang ayah membuat Lilian segera menghentikan tangisnya. Kemudian Lian segera mengusap wajahnya yang basah dan sembab itu dengan tissu. Tingkah Lilian mau tak mau membuat Ramon dan Lanni tertawa kecil.
" Ayo Yah. Aku udah siap berangkat sekarang...!" ajak Lilian sambil bangkit dari duduknya.
" Cuci muka dan ganti baju dulu ya Kak, masa keluar rumah pake daster tipis kaya gitu. Yang ada Kamu malah ribut sama Gama nanti gara-gara Suamimu cemburu ngeliat penampilan Kamu yang sedikit se*i ini...," kata Lanni sambil menahan tawa.
Seolah tersadar dengan penampilannya yang memang sedikit terbuka, Lilian pun mengangguk.
" Iya Bu. Aku ganti baju dulu ya...," sahut Lilian malu-malu lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Lanni dan Ramon nampak saling menatap sambil tersenyum. Lilian memang sedikit bertingkah absurd sejak mengandung dan itu dimaklumi oleh kedua orangtuanya. Tapi berbeda dengan Gama yang selalu protes dengan cara berpakaian Lilian yang menurutnya terlalu vulgar. Hal sederhana seperti itu membuat pasangan muda itu sering berdebat hanya karena hobby baru sang istri mengenakan pakaian mini.
__ADS_1
bersambung