
Setelah membersihkan seragam dinasnya yang terkena semburan air dari mulut Gama, Taufan pun kembali bergabung dengan kedua sahabatnya itu.
" Sebenernya Kami mencurigai seseorang, kasir di kios baso dekat kios yang meledak itu tepatnya. Cuma Kami belum punya bukti kuat untuk menangkapnya...," kata Taufan mengawali percakapan mereka.
" Emangnya sementara ini bukti apa yang Kalian punya...?" tanya Rex penasaran.
" Dari beberapa saksi mata diketahui kalo hubungan Kasir yang bernama Hamidah dan pelayan wanita yang namanya Reni ini kurang baik...," sahut Taufan sambil memperlihatkan foto dua wanita yang disebutnya tadi.
Rex dan Gama mengamati kedua foto yang diletakkan di atas meja itu. Mereka mengangguk karena mengenali kedua wanita yang dimaksud Taufan.
" Bukan kurang baik lagi Fan, tapi emang ga baik sama sekali. Gue sama Rex juga ngeliat gimana sikap Hamidah sama si Reni. Keliatan banget kalo dia benci banget sama si Reni itu...," sahut Gama.
" Tapi orang benci kan harus ada alasannya Fan. Yah, walau ada sih orang yang ga butuh alasan buat membenci orang lain. Tapi mengingat mereka karyawan di kios baso yang sama, pasti ada sebab kenapa Hamidah benci mati sama si Reni...," kata Rex.
" Persis Rex. Gue sama Anak-anak udah dapat sedikit petunjuk mengenai sebab kebencian Hamidah itu. Alasannya apa lagi kalo ga soal uang. Hamidah kan karyawan baru di kios itu, sedangkan Reni karyawan lama atau senior. Otomatis gaji mereka juga berbeda, iya ga...?" tanya Taufan.
" Tapi Hamidah ga tau diri. Dia merasa kerjaannya yang menghitung uang itu derajatnya lebih tinggi daripada pekerjaan Reni yang cuma melayani pembeli dari meja ke meja...," kata Rex menganalisa.
" Tepat...!" sahut Taufan sambil menjentikkan jarinya.
" Terus hubungannya sama kios mie ayam yang meledak itu apaan...?" tanya Gama bingung.
" Ternyata sebelum kios mie ayam itu meledak, ada saksi mata yang ngeliat kalo Reni berada di sekitar kios mie ayam itu. Karena kondisi kios yang super rame bikin semua orang ga ngeh sama kehadirannya di sana...," sahut Taufan.
" Apa Reni melakukan sesuatu...?" tanya Gama tak sabar.
" Sebenernya sih bukan sesuatu yang membahayakan. Dia cuma menaburkan segenggam bubuk di sekeliling kios mie ayam itu dan seharusnya ga sampe makan korban belasan orang meninggal dunia. Makanya Polisi bingung dan sibuk mencari tau apa yang ditaburin dan motif Reni melakukan itu...," sahut Taufan.
" Bubuk apaan...?" tanya Rex.
" Saksi juga ga tau. Tapi Gue yakin itu bubuk yang mengandung ilmu hitam semacam guna-guna untuk membuat kios yang rame pengunjung itu ditinggalkan pelanggannya...," sahut Taufan mantap.
" Guna-guna...?!" ulang Rex dan Gama bersamaan.
" Iya. Kalian tau kan gimana ramenya kios mie ayam itu. Apalagi pas jam makan siang dan pulang kantor. Sampe sini paham kan maksud Gue...?" tanya Taufan hingga membuat Rex dan Gama saling menatap sejenak lalu mengangguk.
__ADS_1
Rex dan Gama mengerti jika ada persaingan bisnis terselubung antara pemilik usaha mie ayam dengan pengusaha baso. Dan persaingan itu hanya bisa diselesaikan melalui jalur mistis yang hingga kini masih kerap digunakan oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Tujuannya hanya satu yaitu menyingkirkan rival bisnis mereka secara halus.
" Maksud Lo, Reni naburin sesuatu karena ga suka ngeliat kios mie ayam itu lebih rame daripada kios baso tempat dia kerja...?" tanya Gama.
" Betul...," sahut Taufan.
" Harusnya Reni sadar diri. Rasa baso di kiosnya itu emang ga seenak mie ayam di kios yang meledak itu. Kita udah nyobain tadi, dan rasanya emang ga bisa dibilang enak Fan. Ngalor ngidul kemana tau. Gue sama Rex aja ga makan tuh baso karena rasa kuahnya aja bikin mual...," kata Gama sambil menggedikkan bahunya.
" Tapi kalo ngeliat raut wajahnya Reni yang tertekan itu, Gue rasa dia juga menaburkan bubuk itu karena terpaksa...," sela Rex.
" Maksud Lo dia dipaksa seseorang...?" tanya Taufan.
" Mungkin, siapa tau...," sahut Rex cepat.
" Kayanya sih gitu. Mungkin karena diancam makanya Reni mau melakukan itu...," tebak Taufan.
" Jadi tugas Polisi sekarang ya nyari tau siapa orang yang udah memaksa si Reni, gitu...?" tanya Gama.
" Iya...," sahut Taufan.
" Pasti ada. Tapi kenapa Lo nanya gitu ?. Jangan bilang kalo Lo ngarepin imbalan dari info yang Lo bawa ini Gam...," kata Taufan sambil menatap Gama penuh selidik.
" Eh, dodol !. Gue bukan minta imbalan. Gue ngerasa ikut bertanggung jawab karena Lo dan anak buah Lo kan sempet menduga kalo Gue terlibat dalam kasus ini. Itu pasti karena Kalian ngeliat rekaman CCTV yang memperlihatkan Gue pergi dari sana dengan tergesa-gesa. Iya kan ?. Makanya Gue sama Rex rela luangin waktu buat bantu Lo...," kata Gama kesal.
" Oh itu. Semua orang yang mencurigakan emang layak diamati, termasuk Lo. Jadi wajar kan. Tapi Gue berterima kasih sama Lo Gam. Gara-gara kehadiran Lo di TKP, bikin Lo dan Rex mau sukarela membantu pekerjaan Polisi...," kata Taufan sambil tersenyum.
Rex dan Gama nampak melengos sebal mendengar ucapan Taufan tadi.
Sesaat kemudian mereka membahas Hamidah dan pasangan mesumnya itu.
" Sayangnya fotonya ga jelas ya Rex...," kata Gama.
" Gapapa Gam, Polisi kan punya seribu satu cara buat ngenalin orang itu...," sahut Rex santai sambil melirik Taufan.
" Ini mah namanya ngasih PR buat Gue...," kata Taufan sambil menghela nafas panjang lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
__ADS_1
Giliran Rex dan Gama yang tersenyum puas menyaksikan Taufan yang kembali harus putar otak untuk menemukan jati diri pasangan mesum Hamidah itu.
\=\=\=\=\=
Malam yang gelap dan dingin itu terusik dengan suara jeritan Reni yang meminta tolong. Reni nampak berlari cepat menghindari kejaran Hamidah dan kekasihnya itu.
Saat itu trotoar terlihat sepi karena hujan baru saja usai. Para pedagang kaki lima yang biasanya menjamur di tempat itu mendadak pergi entah kemana. Para pejalan kaki yang juga biasanya memadati jalan pun tak nampak seorang pun.
Reni mempercepat larinya sambil memeluk tas besar. Reni berkali-kali menoleh ke belakang untuk memastikan Hamidah dan kekasihnya tak berhasil mengejarnya. Namun naas, Reni terjatuh karena terjegal langkahnya sendiri.
Reni meringis saat merasakan sakit di lutut dan sekujur kakinya. Saat mencoba berdiri, Reni merasa sebuah benda dingin dan tajam menyapa lehernya. Reni tahu jika itu sejenis pisau atau golok tajam. Karena terkejut, Reni refleks menoleh untuk mengetahui siapa yang telah meletakkan senjata tajam itu di sana. Akibatnya leher Reni tergores, terasa perih karena luka goresan itu mengeluarkan darah segar.
" Jangan bergerak atau Lo mati...," kata sebuah suara berat dari belakang tubuh Reni.
Reni terdiam sambil memejamkan matanya. Ia menunggu apa yang akan dilakukan pria yang merupakan kekasih Hamidah itu padanya.
Tiba-tiba Hamidah datang dari belakang sang kekasih lalu memukul kepala Reni dengan keras hingga kepala Reni terlempar ke samping. Akibatnya pisau tajam yang ada di leher Reni melukai lehernya kian dalam.
" Brengs**k, bikin capek aja Lo...!" maki Hamidah kesal.
Kemudian Hamidah melangkah ke depan Reni dan mengamati wanita itu sejenak. Lalu Hamidah menarik tas dalam pelukan Reni dengan kasar hingga terjadi lah aksi tarik menarik antara Reni dan Hamidah.
" Lepasin atau Lo mati...!" ancam kekasih Hamidah sambil menekan pisau di leher Reni.
Rupanya sayatan pisau itu berhasil melukai Reni dan membuat wanita itu terkulai lemah. Darah mengalir deras dari luka sayatan di leher Reni.
" Dia mati Bang...!" jerit Hamidah panik.
" Kalo gitu Kita kabur sekarang...!" ajak pria itu sambil membiarkan tubuh Reni tersungkur di trotoar.
" Tapi rencananya kan ga kaya gini...?!" protes Hamidah.
" Ga usah bahas sekarang. Kita pergi dulu keburu ketauan orang...!" sahut pria itu sambil menarik tangan Hamidah.
Kemudian Hamidah dan kekasihnya berlari cepat meninggalkan tempat itu dan membiarkan Reni mengejang sekarat di atas trotoar.
__ADS_1
bersambung