Kidung Petaka

Kidung Petaka
103. Lakukan Saja !


__ADS_3

Meski pun telah menyatakan perasaannya melalui Rex, namun Gama belum mendapat kepastian dari Lilian. Gadis itu nampaknya masih meragukan ketulusan cinta Gama dan tetap menjaga jarak.


Lilian menganggap jika Gama salah mengartikan rasa kagum yang ia miliki sebagai rasa cinta.


Kali ini cinta Gama kembali diuji. Saat berada di sebuah kafe ia melihat Lilian sedang duduk bersama seorang pria. Mereka terlihat bahagia dan sesekali tertawa. Jujur Gama merasa cemburu, namun ia sadar tak mungkin melarang Lilian berteman dengan pria manapun karena ia merasa tak punya hak untuk itu.


Gama berniat keluar dari kafe karena tak sanggup melihat kebahagiaan Lilian dan pria itu. Namun langkah Gama terhenti saat melihat dua orang wanita yang ia yakini sebagai anak dan istri pria yang bersama Lilian itu datang menghampiri meja Lilian.


" Oh disini rupanya...!" kata wanita bernama Magda sambil menggebrak meja.


" Apa-apaan ini Magda. Untuk apa Kamu datang ke sini...?" tanya pria bernama Bram itu dengan mimik wajah tak suka.


" Tentu saja menjemput Suamiku yang sedang bersama dengan selingkuhannya. Dasar perempuan matre ga tau diri...!" kata Magda sinis.


" Aku ga selngkuh Magda. Hubungan Kita udah selesai. Biarkan Aku mencari kebahagiaanku sendiri...!" sahut Bram ketus.


" Kenapa Papa ngomong kaya gitu Pa...?" sela remaja yang merupakan anak Bram dan Magda bernama Melani.


" Melan, mengerti lah. Papa dan Mama Kamu ga mungkin bersama lagi. Kami ga cocok Sayang...," kata Bram.


" Tapi Aku ga mau Papa sama Mama bercerai. Ayo Pa, Kita pulang ke rumah dan hidup rukun lagi kaya dulu. Bisa kan Pa...," rengek Melani sambil menarik tangan Bram.


" Ga bisa Melan. Mama Kamu udah selingkuh dan tidur sama Om Dani. Papa udah pernah maafin tapi Mama Kamu mengulangi kesalahannya lagi. Jadi kali ini Papa ga bisa maafin dia. Maaf Melan...," kata Bram sambil menggelengkan kepala.


" Apa maksudmu ngomong kaya gitu Bram. Aku melakukan itu juga karena Kamu yang ga peka sama perasaanku. Aku ga hanya butuh uang tapi Aku juga butuh kasih sayang Bram...!" kata Magda marah.


" Aku juga melakukannya untuk kebahagiaan Kamu dan Melan...!" sahut Bram lantang sambil merengkuh bahu anaknya.


Melani menepis tangan sang ayah lalu menghadap kearah Lilian dengan tatapan penuh kebencian. Kemudian Melani meraih gelas berisi air dan menyiramkannya ke pakaian Lilian hingga mengejutkan semua orang.


" Pasti Kamu yang udah bikin Papaku berubah. Kamu kan yang udah merayu Papaku supaya meninggalkan Mama. Dasar perempuan jahat...!" kata Melani lantang.


Magda nampak tersenyum puas karena aksi Melani telah mewakili perasaannya.


" Melan, apa yang Kamu lakukan...?!" tanya Bram sambil menarik remaja itu agar menjauhi Lilian.


" Kenapa Papa membelanya...?" tanya Melani sambil meronta berusaha melepaskan diri.


Setelah berhasil melepaskan diri, Melani kembali menghampiri Lilian dan bersiap menyerang lagi. Lilian tak tinggal diam. Ia bangkit lalu menepis tangan Melani dengan kasar hingga tangan remaja itu membentur kursi. Melani meringis kesakitan hingga membuat Magda marah dan bersiap memukul Lilian.


Dengan cepat Lilian meraih gelas kosong yang isinya telah disiramkan ke tubuhnya tadi. Kemudian Lilian memecahkan gelas itu dan mengarahkan pecahan gelas itu ke wajah Magda. Wanita itu mematung di tempat dengan kedua tangan menggantung di udara dalam posisi siap menyerang Lilian.


" Jika anak itu yang menyakitiku Aku masih bisa maklum karena dia tak tau apa-apa. Tapi Kau, jangan berani menyentuh kulitku atau pecahan gelas ini akan merobek wajahmu Magda...," ancam Lilian sambil menatap tajam kearah Magda.


" Apa Kau diam saja melihat wanita murah*n ini mengancamku Bram...?!" jerit Magda tak sabar.


" Diam !. Giliranku yang bicara !. Aku bukan selingkuhan Bram karena Aku dan Bram tak punya hubungan apa pun selain berteman. Dan Kau Bram, Aku sudah berkali-kali menolakmu tapi Kau selalu datang menemuiku. Bahkan kali ini Kau berbohong dan sengaja mengundang mereka untuk menyudutkan Aku. Sekarang selesaikan urusanmu dengan wanita ini dan jangan coba menyeretku dalam kesalahan yang Kalian buat sendiri...!" kata Lilian marah.

__ADS_1


" Maafkan Aku Lilian. Aku dan Magda sedang dalam proses bercerai. Kami akan segera berpisah. Tolong jangan tinggalkan Aku Lilian, kumohon...," kata Bram menghiba.


Semua orang membisu menyaksikan Bram memohon kepada Lilian. Tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan dan membuat semua orang menoleh kearahnya.


" Rupanya Kamu di sini Sayang...," kata Gama sambil mendekat kearah Lilian lalu memeluk pinggang gadis itu dengan lembut.


Aksi Gama mengejutkan semua orang termasuk Lilian. Gadis itu membeku di tempat saat merasa Gama memeluknya dengan posessif. Jantung Lilian juga berdesir saat mendengar Gama mengakuinya sebagai tunangan.


" Kau liat kan Bram. Wanita murah*n ini juga punya laki-laki lain...," kata Magda sambil tersenyum sinis.


" Dia tunanganku. Suamimu yang terus mengejarnya meski pun sudah ditolak ribuan kali. Jadi jelas kan siapa yang murah*n di sini...?" tanya Gama sambil menatap lekat kearah Magda hingga membuat nyali wanita itu menciut dan tubuhnya bergetar.


Tiba-tiba Magda menjerit saat pecahan gelas di tangan Lilian melukai kulitnya.


" Kau melukai wajahku sia*an...!" maki Magda sambil memegangi pipinya yang berdarah.


" Kau yang bergerak sendiri Magda. Atau mungkin justru wajahmu sendiri yang tak sabar ingin membuka kedoknya sendiri...," sahut Lilian sambil tersenyum sinis.


" Kau...!" ucapan Magda terputus saat Melani memotong cepat.


" Cukup Ma. Jangan membuat ulah lagi. Tante itu ga salah, Papa dan Mama yang salah. Mama juga telah membohongi Aku. Aku malu punya orangtua seperti Kalian. Aku benci Mama, Aku benci Papa...!" kata Melani sambil menangis lalu berlari keluar.


" Melan...!" panggil Magda lantang tanpa berusaha mengejar anak perempuannya itu.


" Tinggalkan mereka dan Kita pergi sekarang Sayang...," ajak Gama yang diangguki Lilian.


" Tunggu !. Aku tak percaya jika Kalian...," ucapan Bram terputus saat Gama melayangkan tinjunya ke perut Bram.


" Berhenti mengganggu Lilian dan jangan jadi pengecut yang berlindung di belakang perempuan. Jadi lah laki-laki yang bertanggung jawab. Bukan justru menyebar aib keluargamu dan membiarkannya menjadi tontonan gratis...!" kata Gama kesal.


Ucapan Gama membuat Bram malu. Ia hanya membisu dan melepas kepergian Lilian sambil memegangi perutnya yang sakit akibat pukulan Gama tadi.


Kasak kusuk terdengar mengiringi langkah Gama dan Lilian saat mereka berjalan keluar kafe. Semua orang kagum dengan sikap protektif Gama juga upaya Lilian yang berusaha membuktikan dirinya tak bersalah. Kemudian semua pengunjung kafe berbalik menatap Bram dan Magda dengan tatapan kesal.


\=\=\=\=\=


Gama masih merengkuh Lilian dan melepaskan rengkuhannya saat Lilian sudah duduk di dalam mobil. Kemudian Gama melajukan mobilnya meninggalkan kafe itu dengan kecepatan tinggi. Selama di perjalanan tak ada pembicaraan diantara Gama dan Lilian.


Gama menghentikan mobilnya di tepi lahan kosong saat Lilian memintanya.


Kemudian Lilian turun dari mobil dan berlari cepat meninggalkan Gama. Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu, Gama pun mengejar Lilian dan berhasil menghentikannya.


" Kenapa Kamu melakukan itu Gama...?" tanya Lilian.


" Malakukan apa...?" tanya Gama tak mengerti.


" Menolongku dari rasa malu dan mengakui Aku sebagai tunanganmu di depan mereka. Kenapa Gama...?" ulang Lilian dengan suara tercekat.

__ADS_1


" Karena Aku mencintaimu Lilian, sangat mencintaimu...," sahut Gama cepat sambil menatap Lilian dengan tatapan lembut.


Mendengar ucapan Gama membuat air mata yang sejak tadi tertahan dan menggenang di kedua mata Lilian luruh satu per satu. Lilian pun menangis terisak sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan hingga membuat Gama panik.


" Jangan menangis lagi Lilian. Benci lah Aku sesuka hatimu, tapi tolong berhentilah menangis...," kata Gama sambil memeluk Lilian erat untuk menenangkannya.


Namun sayang, tindakan Gama justru membuat tangis Lilian makin kencang. Gama tak kehilangan akal, terbersit ide di benaknya untuk mengerjai Lilian. Kemudian Gama membisikkan sesuatu ke telinga Lilian karena yakin gadis itu akan segera menghentikan tangisnya.


" Berhenti menangis atau Aku akan menciummu...," bisik Gama sambil tersenyum usil.


" Lakukan saja...," sahut Lilian di sela isak tangisnya.


" A... apa katamu...?" tanya Gama tak percaya.


" Aku bilang lakukan saja bod*h...!" sahut Lilian sambil mendongakkan wajahnya.


Kemudian Lilian menarik kerah baju Gama dengan kedua tangannya lalu berjinjit untuk menggapai bibir Gama dengan bibirnya. Gama terkejut sesaat namun detik berikutnya ia membalas ciuman Lilian sambil memeluk gadis itu dengan erat karena khawatir Lilian akan pergi meninggalkannya.


Untuk sejenak Gama dan Lilian terbuai dalam ciuman panjang itu. Mereka terpaksa mengakhiri ciuman mereka saat merasakan pasokan oksigen di sekitar mereka menipis.


Gama menatap wajah Lilian yang merona itu dan bertanya.


" Apa ini artinya Kamu menerima cintaku Lian...?" tanya Gama penuh harap.


" Iya...," sahut Lilian sambil mengangguk.


Jawaban Lilian membuat Gama tersenyum lebar. Ia kembali memeluk Lilian dengan erat sambil mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah gadis itu. Lilian pun balas memeluk Gama sambil tertawa lepas.


" Aku mencintaimu Lilian...," bisik Gama sambil mencium kepala Lilian dengan sayang.


" Aku juga mencintaimu Gama...," sahut Lilian malu-malu sambil membenamkan wajahnya ke pelukan Gama.


Langit malam yang berhiaskan bulan dan bintang menjadi saksi bersatunya cinta Gama dan Lilian. Mereka tampak saling menautkan jari sambil sesekali tertawa untuk beberapa saat.


" Sampai kapan Kita di sini Gam...?" tanya Lilian sambil menoleh kearah Gama yang sedang menatapnya dengan intens.


" Kenapa, Kamu ga suka di sini ?. Bukan kah cinta akan terasa indah dimana pun Kita berada...?" tanya Gama sambil menyentuh rambut Lilian.


" Aku bukan remaja labil yang gampang terlena dengan sebuah kata cinta Gama. Aku ini wanita dewasa yang realistis. Aku lebih memilih berada di tempat terang dan nyaman daripada di tempat remang-remang dan banyak nyamuk kaya gini...," sahut Lilian ketus hingga membuat Gama tertawa.


" Oh wanita dewasa ya. Apa itu artinya Kamu siap menikah denganku Lian...?" tanya Gama sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Lilian.


" Me... menikah...?" tanya Lilian gugup.


" Iya. Ayo Kita menikah...," ajak Gama sambil menatap Lilian dengan tatapan mendamba.


Hening tak ada suara. Lilian dan Gama berdiri mematung sambil saling menatap. Lilian mematung karena terkejut mendengar lamaran Gama sedangkan Gama berdiri mematung dengan jantung berdetak cepat sambil menanti jawaban Lilian.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2