Kidung Petaka

Kidung Petaka
230. Ngeliat Juga...?!


__ADS_3

Karena terus menangis kedua pandangan Shezi pun menjadi kabur. Khawatir terjadi kecelakaan, Shezi pun menepikan motornya di pinggir jalan yang ramai. Setelahnya Shezi menangis untuk mengurai kesedihannya.


Sebuah tepukan halus di bahu mengejutkan Shezi. Ia mendongakkan wajahnya dan melihat Lanni berdiri di sampingnya sambil tersenyum.


" Kamu gapapa kan Zi, kenapa menangis...?" tanya Lanni dengan lembut.


Bukannya menjawab Shezi justru makin keras menangis. Lanni pun panik lalu menarik Shezi ke dalam pelukannya. Setelah puas menangis Shezi pun mengurai pelukan Lanni.


" Maaf Bu, Saya ga maksud bikin baju Ibu basah...," kata Shezi sambil menghapus air matanya.


" Gapapa. Kalo Kamu mau Kita bisa ngobrol di sana sambil makan malam. Kamu pasti belum makan kan...?" tanya Lanni.


" Belum Bu...," sahut Shezi malu-malu.


" Nah kebetulan. Ayo temenin Ibu makan soto Banjar di sana. Rasanya sih enak, tapi jadi ga enak karena makan sendiri. Kalo ada Kamu pasti rasanya doble enak dan tambah seru juga. Gimana, mau kan...?" tanya Lanni penuh harap.


Shezi mengangguk lalu memarkirkan motornya di parkiran depan kios soto. Kemudian Lanni menggamit tangan Shezi dan membawanya duduk di bawah tenda tepat di depan kios. Ada satu meja dengan empat kursi yang saling berhadapan di sana. Lanni sengaja memilih tempat itu untuk kenyamanan Shezi.


Setelah memesan dua porsi soto dan dua gelas es jeruk, Lanni pun mengajak Shezi bicara banyak hal. Lanni sengaja tak menyinggung penyebab Shezi menangis agar Shezi tak merasa terbebani.


" Maaf Ayah telat ya Bu...!" kata sebuah suara menyapa hingga membuat Lanni dan Shezi menoleh.


" Gapapa Yah, untung ada Shezi yang nemenin jadi Ibu ga iseng sendirian. Sini Yah, duduk di sini..., " kata Lanni sambil menepuk kursi di sampingnya.


Ramon mengangguk lalu menyapa Shezi.


" Apa kabar Shezi...?" sapa Ramon dengan ramah.


" Alhamdulillah baik Pak...," sahut Shezi sambil berdiri lalu mencium punggung tangan Ramon dengan takzim.


" Shezi bohong Yah. Dia lagi ga baik-baik aja. Buktinya Ibu nemuin dia lagi nangis di pinggir jalan tadi...," sela Lanni hingga membuat Ramon terkejut.


" Oh ya ?. Nangisin apa Zi...?" tanya Ramon sambil menatap Shezi lekat.


Mendengar pertanyaan Ramon membuat kedua mata Shezi kembali berkaca-kaca.


" Yaaahh..., nangis lagi deh. Ayah sih pake nanya segala. Padahal Ibu aja sengaja nahan ga nanya apa pun tadi biar Shezi ga sedih...," kata Lanni sambil menepuk lengan suaminya dengan lembut.


" Masa sih, maaf ya Zi...," kata Ramon tak enak hati.


" Gapapa Pak. Saya emang masih pengen nangis daritadi tapi malu. Sekarang Saya ga peduli lagi. Saya mau nangis sampe puas. Maaf kalo bikin Bapak sama Ibu malu nanti...," sahut Shezi sambil terisak.

__ADS_1


Ramon dan Lanni saling menatap sejenak kemudian tersenyum.


" Menangis lah, Kami gapapa kok...," kata Lanni sambil mengusap rambut Shezi dengan lembut.


Shezi pun mengangguk lalu mulai menangis terisak-isak. Dan perlahan ia mulai menceritakan apa yang terjadi. Ramon dan Lanni pun menyimak cerita Shezi dan sesekali menahan nafas karena kesal.


" Jadi Kamu merekam pembicaraan Kamu sama Bude Kamu tadi...?" tanya Lanni.


" Iya Bu. Waktu ngeliat Bude turun dari mobil, Saya buru-buru nyiapin HP buat ngerekam apa yang bakal Bude omongin nanti...," sahut Shezi.


" Itu bagus !. Kita bisa bawa itu ke kantor Polisi dan jadi bukti yang memberatkan untuk Nato...!" kata Rex tiba-tiba dari belakang Shezi.


Shezi menoleh dan terkejut melihat Rex berdiri di belakangnya. Rupanya Ramon memang datang bersama Rex tadi. Namun Rex sengaja menunda bergabung dengan Lanni dan Shezi karena harus pergi ke SPBU untuk mengisi bahan bakar.


" Mana bukti rekamannya...?" tanya Rex sambil menyodorkan telapak tangannya ke hadapan Shezi.


" Emang harus Kapten...?" tanya Shezi ragu.


" Iya dong. Biar sepupu Kamu dan Bude Kamu itu jera. Jangan bilang Kamu masih mau ngasih mereka kesempatan buat mengacaukan hidup Kamu. Kalo Saya jadi Kamu sih...," ucapan Rex terputus saat Shezi meletakkan ponsel miliknya di atas telapak tangannya.


" Iya iya, ini buktinya...," kata Shezi lirih namun membuat Rex tersenyum.


" Ini serius. Kita lapor Polisi sekarang...," kata Rex setelah rekaman berakhir.


" Makan dulu lah Nak. Kamu bisa ke kantor Polisi setelah makan kan. Lagipula Kamu bakal butuh banyak energi untuk menjelaskan semuanya nanti...," kata Lanni mengingatkan.


" Ok Bu...," sahut Rex cepat.


Kemudian Rex memanggil pelayan lalu memesan dua porsi soto untuknya dan Ayahnya. Rex juga memesan es teh manis untuk menghilangkan dahaganya.


" Alhamdulillah kenyang. Ayo Zi, Kita ke kantor Polisi sekarang...," ajak Rex sambil bangkit dari duduknya.


" Besok aja Kapten...," sahut Shezi hingga membuat Rex bingung.


" Kenapa harus besok...?" tanya Rex tak mengerti.


" Saya capek mau istirahat...," sahut Shezi asal.


" Tapi bukti ini bisa aja hilang Zi. Entah ga sengaja atau justru karena dihancurkan oleh orang lain. Dan Kamu ga bakal punya bukti untuk menjerat Nato nanti...," kata Rex.


" Apa maksud Kapten...?" tanya Shezi tak mengerti.

__ADS_1


" Bude Kamu bisa aja nyuruh orang buat ngambil ponsel Kamu yang berisi rekaman ini. Kalo hanya ponsel yang diambil sih gapapa, tapi kalo mereka sampe ngelukain Kamu gimana. Emang Kamu sanggup ngelawan dua atau tiga orang sekaligus...?" tanya Rex sambil menatap Shezi dengan tatapan meremehkan.


" Saya bisa teriak minta tolong sama orang Kapten. Ga usah sok tau deh...," sahut Shezi ketus.


" Masa ?. Yakin bisa teriak kalo kondisinya udah kaya gitu...?" tanya Rex sambil tersenyum.


" Yakin...!" sahut Shezi lantang.


" Tapi yang Rex bilang ada benarnya Zi. Lebih baik Kamu serahin dulu bukti itu ke Polisi. Setidaknya Kamu udah punya persiapan kalo Bude Kamu bertindak nekad nanti...," kata Ramon menengahi hingga membuat Shezi terdiam.


" Ok deh, Saya setuju..., " sahut Shezi kemudian hingga membuat Ramon, Lanni dan Rex tersenyum.


Setelah sepakat, Rex pun mengantar Shezi ke kantor polisi menggunakan mobil milik Ramon. Sedangkan Ramon dan Lanni kembali ke rumah dengan motor milik Shezi.


Alasannya sederhana. Perjalanan dari kios soto Banjar ke kantor polisi jauh sedangkan Shezi hanya punya satu helm. Karena itu Ramon menyarankan Rex menggunakan mobil miliknya untuk mengantar Shezi.


" Ayah betul. Selain itu Ibu juga mau nostalgia sebentar. Pulang motoran sama Ayah kaya waktu pacaran dulu pasti seru...," kata Lanni sambil tersenyum hingga membuat Shezi tak kuasa menolak.


\=\=\=\=\=


Setelah menyerahkan bukti rekaman pembicaraan Shezi dengan sang Bude, Rex pun mengantar Shezi pulang ke kost-an.


Di perjalanan Shezi tampak gelisah dan itu membuat Rex bingung. Sambil berkendara Rex pun melirik kearah Shezi sambil bertanya.


" Kenapa Zi, Kamu khawatir hukum ga memihak sama Kamu ya...?" tanya Rex.


" Bukan itu Kapten...," sahut Shezi cepat.


" Terus apa...?" tanya Rex.


" Mmm..., Saya ga nyaman karena wanita yang duduk di belakang itu ngeliatin Saya terus Kapten...," sahut Shezi lirih.


Ucapan Shezi mengejutkan Rex. Refleks Rex menginjak pedal rem hingga membuat mobil berhenti secara tiba-tiba. Akibatnya kepala Shezi hampir membentur dash board dan membuatnya menjerit tertahan.


" Astaghfirullah, hati-hati Kapten...!" jerit Shezi.


" Kamu ngeliat dia juga Zi...?!" tanya Rex tak percaya.


Pertanyaan Rex justru membuat bulu kuduk Shezi meremang. Ia bertambah yakin jika wanita yang duduk di kursi belakang dan menatapnya sejak tadi bukanlah manusia tapi makhluk halus alias hantu.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2