
Setelah menjenguk Elvira sebentar, Rex pun pamit undur diri.
" Saya keluar dulu ya, ada perlu sama dokter Aksara...," kata Rex sambil bangkit dari duduknya.
" Silakan Mas Rex...," sahut ustadz Akbar sambil tersenyum.
" Makasih udah jenguk Saya Kapten...," kata Elvira lirih.
" Sama-sama Bu Elvira. Sebenernya masih banyak yang ingin Saya bicarakan. Tapi karena dokter Aksara bilang Bu Elvira masih harus istirahat, jadi terpaksa Saya tunda dulu...," kata Rex hingga membuat Elvira mengerutkan keningnya.
" Bicara soal apa Kapten...?" tanya Elvira.
" Nanti saja Nak. Yang mau diomongin sama Mas Rex itu hal penting. Pasti butuh waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Sedangkan dokter bilang Kamu harus istirahat. Jadi sebaiknya turuti kata dokter supaya Kamu cepat pulih...," sela ustadz Akbar.
" Tuh, denger kan apa kata Ustadz. Sebaiknya Bu Elvira istirahat sekarang ya. Saya keluar dulu...," kata Rex sambil bergegas keluar dari kamar rawat inap Elvira.
Ustadz Akbar tersenyum melihat tingkah Rex yang berusaha menghindar dari pembicaraan panjang dengan Elvira karena gadis itu memang perlu istirahat.
" Sekarang istirahat ya...," kata usatadz Akbar setelah Rex menutup pintu.
" Aku kan baru aja siuman Pakde. Pingsan dalam waktu lama bukannya itu termasuk istirahat ya...," sahut Elvira lirih.
Ucapan Elvira membuat ustadz Akbar tertawa. Ia mengacak rambut Elvira dengan gemas karena senang mengetahui Elvira telah 'kembali' padanya.
\=\=\=\=\=
Rex melangkah cepat menuju kantin Rumah Sakit. Saat tiba di pintu kantin, di saat yang sama dokter Aksara pun baru saja tiba.
" Saya pikir Saya terlambat...," kata Rex.
" Justru Saya yang berpikir begitu...," sahut dokter Aksara.
Rex tersenyum lalu menarik kursi untuk dokter Aksara. Setelahnya ia duduk di kursi lain tepat di hadapan sang dokter.
" Jadi apa yang mau Kapten omongin...?" tanya dokter Aksara sambil menatap Rex lekat.
" Keliatannya dokter Aksara lagi nantangin Saya ya...," sahut Rex sambil tersenyum.
" Nantangin gimana sih maksud Kamu...?" tanya dokter Aksara sambil mengerutkan keningnya.
" Emangnya dokter yakin mau dengerin apa yang mau Saya sampaikan...?" tanya Rex.
" Iya, buruan deh...," sahut dokter Aksara tak sabar.
" Saya cuma mau ngomong kalo Saya kangen sama dokter Aksara. Udah itu aja...," kata Rex sambil menatap dokter Aksara lekat hingga membuat wajah sang dokter merona.
" Kenapa Kamu jadi pinter ngegombal gini sih Kapten...," sahut dokter Aksara sambil membuang pandangannya kearah lain.
__ADS_1
" Masa sih ?. Padahal Saya ga lagi ngegombal lho...," kata Rex cepat.
Pembicaraan mereka terjeda saat pelayan kantin datang dan meletakkan pesanan mereka di atas meja. Setelah mengucapkan terima kasih, Rex melanjutkan kalimatnya.
" Jadi gimana dok...?" tanya Rex.
" Apanya...?" tanya dokter Aksara bingung.
" Saya udah ngungkapin perasaan Saya, terus gimana tanggapan dokter...?" tanya Rex.
" Mmm..., Saya seneng dengernya...," sahut dokter Aksara sambil mulai meneguk kopi di hadapannya.
" Cuma itu...?" tanya Rex tak suka.
" Terus Kamu maunya apa...?" tanya dokter Aksara sambil menahan tawa.
" Maunya apa ?. Kalo ditanya gitu Saya juga bingung...," sahut Rex sambil menggaruk kepalanya.
Sikap Rex membuat dokter Aksara tersenyum. Kemudian dia mengatakan sesuatu yang mengejutkan sekaligus menyenangkan buat Rex.
" Iya, Saya juga kangen sama Kapten...," kata dokter Aksara lirih namun terdengar jelas di telinga Rex.
Rex tersenyum lalu meraih jemari dokter Rex dan menggenggamnya erat.
" Apa itu artinya Kita bisa mulai hubungan yang berbeda dari sebelumnya...?" tanya Rex sungguh-sungguh.
" Berbeda dari sebelumnya, maksud Kamu...," ucapan dokter Aksara terputus karena Rex memotong cepat.
Dokter Aksara yang juga tengah menatap Rex terpaku sesaat mendengar ucapan Rex. Namun sesaat kemudian gadis itu mengangguk sambil tersenyum.
" Iya, tentu saja...," sahut dokter Aksara dengan wajah berbinar.
" Makasih ya...," kata Rex sambil mengeratkan genggaman tangannya.
" Sama-sama..., " sahut dokter Aksara sambil balas menggenggam jemari Rex.
Kini dua hati yang saling mendamba itu pun bertemu di titik yang sama. Kebahagiaan jelas terpancar di wajah keduanya di sepanjang perbincangan mereka. Sesekali tawa terdengar dan itu menandakan mereka memang tengah bahagia.
" Udah waktunya balik kerja nih..., " kata dokter Aksara sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
" Ck, cepet banget sih...," gumam Rex sambil berdecak sebal.
" Tumben protes. Bukannya tentara juga punya waktu yang ketat ya...?" tanya dokter Aksara sambil menahan tawa.
" Iya juga. Ya udah Kamu balik kerja sekarang, tapi pulang Aku antar ya...," kata Rex.
" Emang gapapa nunggu, Aku masih lama lho. Jam sembilan baru selesai. Kalo ada operasi dadakan malah bisa lebih malam lagi...," kata dokter Aksara.
__ADS_1
" Gapapa. Aku mau belajar jadi pacar yang baik biar pacarku nyaman dan ga lari kemana-mana..., " sahut Rex sambil tersenyum.
" Apa sih Kamu. Mana mungkin lari kemana-mana kalo punya pendamping kaya gini...," kata dokter Aksara hingga membuat Rex tertawa lepas.
" Ternyata dokter Aksara yang galak ini bisa ngegombal juga rupanya...," kata Rex sambil mencubit pipi sang dokter dengan gemas hingga dokter Aksara tertawa.
" Aku lanjut kerja dulu ya. Kamu mau nunggu dimana...?" tanya dokter Aksara sambil bangkit dari duduknya.
" Aku mau ngobrol aja sama Ustadz Akbar...," sahut Rex cepat.
" Di kamarnya Bu Elvira...?" tanya dokter Aksara.
" Iya, emangnya ga boleh...?" tanya Rex sambil mengerutkan keningnya.
" Kalo ngobrol sama Ustadz Akbar sih boleh. Aku cuma ga nyaman aja ngeliat Kamu deket-deket sama Bu Elvira...," sahut dokter Aksara namun membuat Rex tersenyum.
" Apa Kamu cemburu sama Bu Elvira...?" tanya Rex.
" Emang boleh...?" tanya dokter Aksara.
" Boleh dong...," sahut Rex cepat.
" Aku ga tau kenapa. Tapi Aku ngerasa ga nyaman aja pas tau Kamu nganterin Bu Elvira kemarin...," kata dokter Aksara malu-malu.
" Kalo gitu Aku bakal jaga jarak sama Bu Elvira...," kata Rex.
" Ga gitu juga. Kamu ga perlu jaga jarak sama dia. Kamu cuma perlu jaga hati Kamu aja supaya tetep buat Aku...," kata dokter Aksara sambil menepuk pelan dada Rex dengan telapak tangannya.
Rex meraih telapak tangan dokter Aksara lalu kembali menggenggamnya dengan erat.
" Siap Sayang...," bisik Rex hingga membuat wajah sang dokter kembali merona.
" Ga sampe setengah jam tapi Kamu udah bikin Aku kenyang sama gombalanmu...," kata dokter Aksara sambil menepuk lengan Rex.
" Bagus dong, asal jangan kenyang karena kesal sama Aku ya...," kata Rex.
" Iya lah...," sahut dokter Aksara cepat.
" Tapi Aku seneng karena ga sampe setengah jam status Kita udah berubah dari teman jadi...," ucapan Rex terputus karena dokter Aksara menutup mulut sang kapten dengan telapak tangannya.
" Ga usah diterusin, ntar Aku malah ga jadi kerja nih...," kata dokter Aksara hingga membuat Rex tertawa.
Tak lama kemudian Rex dan dokter Aksara melangkah keluar dari kantin. Rex mengantar sang dokter yang kini telah menjadi kekasihnya itu hingga ke depan ruangannya. Setelahnya Rex berjalan menuju kamar rawat inap Elvira untuk menemui ustadz Akbar.
" Wah, Kamu tepat waktu sekali Mas Rex. Kamu benar-benar balik lagi setelah setengah jam lho...," kata ustadz Akbar sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
" Bisa aja Ustadz. Tentara kaya Kami kan memang terbiasa tepat waktu. Tapi setengah jam yang Saya punya tadi sudah mampu membuat Saya bahagia lho Ustadz...," kata Rex sambil tersenyum penuh makna.
__ADS_1
Ustadz Akbar pun ikut tersenyum karena sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan sang Kapten.
bersambung