Kidung Petaka

Kidung Petaka
188. Pertengkaran


__ADS_3

Rex pun bergegas menghampiri Lilian. Kemudian Rex menggamit tangan sang kakak lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


" Ada apa sih Rex, kok buru-buru banget. Bukannya menyapa malah diseret-seret kaya gini...," protes Lilian sambil menepis tangan Rex.


" Ngapain Kakak turun di luar sana ?. Kakak kan bisa turun pas mobil masuk ke halaman rumah nanti...?" tanya Rex gusar.


" Emang kenapa sih. Biasanya juga gapapa kok. Perut Aku tuh kram karena kelamaan duduk Rex. Makanya Aku turun biar enakan...," sahut Lilian.


" Tapi jangan turun di luar rumah juga dong, itu tengah jalan lho Kak. Kakak ga tau kan ada apa di sana. Oh iya, Aku lupa. Meski pun lagi hamil tapi Kakak emang ga peduli sama bayi Kakak...!" kata Rex kesal.


" Apa maksud Kamu ngomong begitu Rex ?. Darimana Kamu tau kalo Aku ga sayang sama Anakku...?!" tanya Lilian marah.


" Ini buktinya. Mana ada Ibu yang hamil tapi bersikap sembrono kaya Kakak...!" sahut Rex cepat.


Suara lantang Rex membuat Gama terkejut. Ia bergegas menutup pintu mobil lalu menghampiri dua bersaudara yang tengah bersitegang itu.


" Lo bisa kan ngomong baik-baik, ga usah ngegas gitu lah Rex...!" tegur Gama tak kalah lantang sambil menarik Lilian ke dalam pelukannya.


" Kalo ga tau apa-apa lebih baik Lo diem deh Gam...!" kata Rex.


" Gue ga bakal diem kalo Lo udah mulai songong sama Istri Gue. Dia ini kan Kakak Lo, lagi hamil juga. Kok bisa-bisanya Lo marahin kaya gitu...?!" kata Gama tak mau kalah.


" Itu karena dia salah. Lo tau kan kalo Gue ga bakal marah tanpa sebab Gam...!" sahut Rex.


" Tapi pake kalimat yang baik kan bisa...?!" kata Gama mulai kesal.


Pertengkaran Rex, Lilian dan Gama terdengar oleh Ramon dan Lanni. Keduanya terkejut lalu bergegas membuka pintu rumah yang memang sudah terkunci itu.


" Kalian kenapa sih ?!. Ribut di depan rumah kaya ga punya adab. Masuk...!" kata Ramon dengan suara menggelegar.


Saat itu Ramon langsung menggebrak pintu yang telah terbuka lebar itu sambil menatap marah kearah Rex, Lilian dan Gama.


Rex, Lilian dan Gama saling menatap lalu bergegas masuk ke dalam rumah diikuti Ramon. Lanni hanya menggelengkan kepala melihat anak menantunya ribut lagi entah untuk yang ke berapa kalinya.


" Sekarang duduk...! " kata Ramon lantang.


" Tapi Aku kebelet pipis Yah...," sahut Lilian sambil meringis.


Ucapan Lilian membuat Rex dan Gama menoleh. Mereka khawatir sang ayah bertambah murka karena alasan Lilian yang terdengar mengada-ada itu.

__ADS_1


Sedangkan Ramon nampak membeku di tempat. Melihat tingkah Lilian yang meringis menahan pipis membuat kemarahan Ramon mereda. Apalagi saat itu Lilian juga memegangi perut buncitnya hingga membuat Ramon sadar jika Lilian tengah hamil.


" Ok, Kamu boleh pipis dulu. Hati-hati, ga usah lari...," kata Ramon.


" Iya Yah...," sahut Lilian sambil bergegas masuk ke dalam rumah diikuti Lanni.


Kini tinggal Rex, Gama dan Ramon di ruang tamu. Ramon menatap kesal kearah Rex dan Gama tanpa bicara hingga membuat keduanya salah tingkah.


Tak lama kemudian Lilian kembali sambil membawa toples berisi makanan ringan. Di belakangnya Lanni tampak membawa nampan dengan gelas berisi kopi dan susu.


" Minum dulu supaya urat yang tegang bisa lebih relaks...," sindir Lanni sambil meletakkan nampan di atas meja.


" Betul kata Ibu. Minum dan makan cemilannya biar ga darah tinggi...," kata Lilian menambahkan.


Ramon, Rex dan Gama saling menatap sejenak kemudian menghela nafas panjang. Setelahnya Ramon mengulurkan tangannya untuk meraih gelas berisi kopi diikuti Rex dan Gama.


Lanni dan Lilian pun tersenyum melihat tiga pria dengan karakter keras di hadapan mereka sedang meneguk kopi dari gelas masing-masing. Ketiganya terlihat lebih santai dan nampak menikmati kopi buatan sang ibu.


" Nah sekarang kan udah tenang, jadi semuanya bisa diomongin baik-baik. Iya ga...?" tanya Lanni sambil tersenyum penuh makna.


" Ibu betul. Jadi siapa yang mau jelasin semuanya...?" tanya Ramon sambil menatap Rex dan Gama bergantian.


" Ok...," kata Ramon sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


" Tadi Aku sama Lilian baru aja sampe. Tau-tau Rex narik tangan Lian sambil marah-marah. Waktu Aku tegur, eh dia malah balik marahin Aku. Jelas aja Aku ga terima Yah...," kata Gama kesal.


" Mana mungkin terima, kan Gue juga ga ngasih apa-apa tadi...," gumam Rex namun cukup terdengar jelas di telinga Lanni dan Lilian.


" Reexxx...!" panggil Lanni dan Lilian bersamaan.


" Apaan sih ?, Aku kan emang ngomong yang sebenernya..., " sahut Rex cepat.


" Tapi bukan itu yang mau Ibu dengar...!" kata Lanni sambil mencubiti Rex dengan gemas.


Karena tak sanggup menahan sakit akibat cubitan sang ibu, Rex pun bangkit lalu berjalan cepat menuju kamar.


" Mau kemana Kamu Rex ?, Kita belum selesai...!" kata Lilian sambil berkacak pinggang.


" Aku mandi dulu, gerah...!" sahut Rex sambil menutup pintu kamar.

__ADS_1


Jawaban Rex membuat Lilian kesal. Ia nampak menyingsingkan lengan bajunya lalu bersiap melangkah. Beruntung Gama berhasil menahan Lilian lalu membawanya ke kamar.


" Jangan halangin Aku dong Sayang. Kan Rex yang salah...," protes Lilian.


" Iya tau. Tapi Kamu juga harus sabar dong. Jangan biasain merespon sesuatu pake marah. Liat kan hasilnya ?. Gara-gara Kamu marah ga jelas tadi, semuanya jadi terpancing dan ikutan marah-marah juga...," kata Gama dengan sabar.


Lilian tersentak kaget mendengar ucapan suaminya. Kemudian Lilian mencoba menyusun kepingan kejadian pertengkaran mereka tadi. Ia nampak menghela nafas panjang karena menyadari sesuatu.


" Yang Kamu bilang emang bener Sayang. Andai Aku bisa sedikit sabar merespon Rex tadi, mungkin Kamu juga ga bakal marah dan ribut sama Rex. Ayah juga ga harus marahin Kita kaya tadi. Padahal Ayah udah lama ga marah kaya gitu lho Sayang...," kata Lilian.


" Kapan terakhir Ayah marah kaya gitu...?" tanya Gama.


" Kayanya pas Kita remaja deh...," sahut Lilian cepat.


" Itu artinya kejadian tadi tuh udah di luar kebiasaan karena bikin singa dalam diri Ayah yang udah lama tertidur jadi bangun...," kata Gama sambil mengusap rambut istrinya dengan lembut.


" Jadi Kita udah keterlaluan banget tadi...?" tanya Lilian.


" Iya...," sahut Gama sambil mengangguk.


" Ya Allah. Terus gimana dong caranya biar Ayah ga marah lagi...?" tanya Lilian.


" Mau ga mau ya pake Anak Kita deh...," sahut Gama ragu.


" Anak Kita...?" tanya Lilian tak mengerti.


" Iya. Kamu liat kan reaksi Ayah waktu Kamu bilang kebelet pipis tadi ?. Ayah langsung berhenti marah. Bahkan sempet ngingetin Kamu supaya ga lari juga tadi. Iya kan...?" tanya Gama yang diangguki Lilian.


" Aku paham. Jadi Aku pura-pura bilang kalo Cucu Ayah yang di dalam sini takut liat Opanya marah. Gitu kan maksud Kamu...?" tanya Lilian.


" Betul, pinter banget sih Istriku ini...," sahut Gama sambil menciumi sang istri hingga membuat Lilian tertawa lepas.


Gama menghentikan aksinya saat melihat Rex melintas di depan kamar.


" Ayo Kita keluar sekarang. Rex juga udah selesai mandi tuh...," kata Gama.


" Ok...," sahut Lilian sambil teraenyum.


Kemudian Gama membantu Lilian untuk berdiri. Keduanya berharap agar pertengkaran yang sempat terjadi tadi tak berlarut-larut dan segera menemukan penyelesaian.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2