Kidung Petaka

Kidung Petaka
200. Beda Dimensi


__ADS_3

Ramon dan Rex terpaksa menunda kepulangan mereka karena harus membantu ustadz Akbar mengurus jenasah Elvira.


Warga pun berdatangan melayat ke rumah duka. Ustadz Akbar nampak berusaha tegar melepas kepergian Elvira. Meski pun begitu sesekali ia nampak mengusap matanya yang basah dengan ujung sorbannya.


Ustadz Akbar juga telah menghubungi kedua orangtua Elvira. Dan kini ia tengah menunggu kedatangan mereka.


Hingga lewat Dzuhur ternyata orangtua Elvira tak kunjung datang. Sudah pasti itu membuat ustadz Akbar kecewa.


" Jadi kapan mau disholatkan Ustadz...?" tanya Ramon.


" Sekarang aja Pak Ramon. Setelah itu langsung Kita bawa ke pemakaman. Saya hanya ingin agar jenasah Elvira diurus secepatnya..., " sahut ustadz Akbar.


" Bagaimana dengan orangtua almarhumah Elvira Ustadz, apa Kita ga menunggu kedatangan mereka..?" tanya Ramon.


" Ga perlu Pak. Keliatannya mereka benar-benar ga peduli sama Elvira. Daripada menunggu sesuatu yang ga pasti, lebih baik Kita segera mengubur jasadnya supaya Elvira bisa tenang...," sahut ustadz Akbar dengan suara parau.


" Baik lah, Saya akan bicarakan ini dengan warga...," kata Ramon.


" Makasih ya Pak. Kalo ga ada Pak Ramon dan Mas Rex di sini mungkin Saya ga bakal setegar ini..., " kata ustadz Akbar sambil tersenyum.


" Sama-sama Ustadz. Kami hanya membantu ala kadarnya kok. Selebihnya warga yang paling banyak ambil bagian...," sahut Ramon.


Setelahnya jenasah Elvira dibawa ke masjid untuk disholati. Saat sholat jenasah berakhir, datang lah sosok wanita berambut pendek sambil menangis histeris. Wanita itu tampak berlari masuk ke dalam masjid lalu memeluk jenasah Elvira yang baru saja selesai disholati. Melihat hal itu membuat warga terkejut lalu bergegas menjauhkan wanita itu dari jenasah Elvira.


Kasak kusuk warga pun terdengar membicarakan wanita itu dan hubungannya dengan Elvira.


" Siapa sih dia...?" tanya salah seorang warga.


" Itu ibu kandungnya Elvira...," sahut warga lain sambil berbisik.


" Oh itu. Kenapa baru datang ya...?" tanya seorang warga.


" Mungkin rumahnya jauh, makanya baru sampe sekarang...," sahut yang lain.


Melihat wanita itu masih menangis histeris membuat ustadz Akbar tergerak untuk menghampiri sekaligus bicara dengan wanita itu.


" Harusnya Kamu mendoakan Vira, bukannya malah nangis ga kejuntrungan kaya gini...," kata ustadz Akbar datar.


" Saya sedih Mas. Saya menyesal udah ga perhatian sama Vira...," sahut wanita itu di sela tangisnya.


" Menangis pun ga ada gunanya sekarang karena Elvira juga ga akan kembali...," kata ustadz Akbar.

__ADS_1


" Kenapa Vira mendadak meninggal Mas ?, apa dia sakit...?" tanya ibu Elvira.


" Kenapa Kamu baru tanya sekarang ?. Saya udah ngasih tau Kamu dan Ashar apa yang menimpa Vira. Tapi Kalian cuek aja. Terus saat Vira meninggal, Kamu mau nyalahin Saya...?" tanya ustadz Akbar tak suka.


" Bukan gitu Mas. Saya...," ucapan ibu Elvira terputus karena ustadz Akbar memotong cepat.


" Kita bahas itu nanti. Sekarang yang penting memakamkan jasad Elvira dulu sebelum Maghrib. Kasian kalo kelamaan...," kata ustadz Akbar sambil berlalu.


" Apa Saya boleh ikut Mas...?" tanya ibu Elvira.


" Terserah...!" sahut ustadz Akbar.


Jawaban ustadz Akbar membuat wajah ibu Elvira membesi. Ia marah sekaligus malu karena merasa kehadirannya tak diinginkan sama sekali. Namun sesaat kemudian ibu Elvira pun terpaksa tersenyum dan menebalkan muka karena tak ingin melewatkan pemakaman Elvira.


\=\=\=\=\=


Langit sore terlihat mendung saat proses pemakaman Elvira berlangsung. Angin pun berhembus lumayan kencang hingga menerbangkan daun-daun kering yang berserakan di tanah.


" Suasananya kenapa kaya film horror sih...," bisik seorang pria.


" Maksudnya gimana Mas...?" tanya warga lainnya bertubuh tambun.


" Coba Bapak perhatiin suasana di sekitar Kita. Terasa aneh dan mencekam kan ?. Apalagi langit di atas sana mendung dan angin bertiup kencang. Ini bukannya mirip sama situasi di salah satu film horror yang ada di bioskop...," kata pria itu sambil bergidik.


" Mirip Pak...," sahut pria itu dengan cepat.


Pria tambun itu kembali tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Sementara itu Rex juga mengamati sekelilingnya dengan waspada.


Saat tubuh Elvira ditimbun tanah, saat itu lah Rex melihat banyak anak biawak sebesar cicak yang berkeliaran di sekitar makam Elvira. Warga yang melihat hewan itu pun mengusirnya.


" Hush... hush. Kenapa jadi banyak cicak kaya gini sih...," gerutu warga yang kebetulan berada di pinggir makam Elvira.


" Itu bukan cicak tapi tokek Mas...," sahut seorang warga.


" Iya betul...," kata beberapa warga saling bersahutan.


" Tumben ada banyak binatang ginian di sekitar makam...," kata warga yang berhasil mengusir biawak-biawak kecil itu.


Setelah biawak-biawak itu berhasil diusir pergi, ustadz Akbar pun memimpin doa. Warga mengaminkan doa tersebut termasuk Rex dan Ramon.


Dari tempatnya berdiri Rex melihat penampakan Elvira yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Kali ini Elvira nampak mengenakan kostum wanita bangsawan dari kerajaan antah berantah. Kostum yang didominasi warna keemasan itu terlihat mewah. Di kepalanya pun bertengger mahkota kecil berbentuk biawak.

__ADS_1


Meski pun mengenakan pakaian bagus namun kesedihan jelas membayang di wajah Elvira. Rex tahu jika Elvira mulai menyadari dirinya telah salah mengambil keputusan.


Kemudian terjadi lah dialog antara Rex dan arwah Elvira.


" Apa itu Aku...?" tanya arwah Elvira.


" Iya...," sahut Rex cepat.


" Kenapa dikubur, Aku kan masih hidup...," protes Elvira.


" Begitu lah yang terjadi. Di dunia fana ini orang-orang melihat Kamu telah meninggal dunia. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah Kamu berpindah dimensi. Hanya orang tertentu yang bisa melihatmu dan menyadari kehadiranmu...," sahut Rex.


" Aku...," ucapan arwah Elvira terputus karena kehadiran Halim di belakangnya.


" Ternyata Kamu di sini Sayang...," kata siluman biawak berwujud Halim itu sambil merengkuh bahu Elvira.


Elvira menoleh cepat kearah Halim lalu menundukkan kepalanya. Rex mengerutkan keningnya karena merasa ada keanehan pada sikap Elvira.


" Apa Kamu baik-baik aja...? " tanya Rex sambil menatap arwah Elvira dan Halim bergantian.


" Tentu saja. Elvira baik-baik saja, bukan begitu Sayang...?" tanya Halim sambil menekan jemarinya yang berada di bahu Elvira dengan sedikit lebih keras.


Elvira pun mengangguk gugup. Lalu membuang pandangannya kearah ustadz Akbar. Ia juga melihat sang ibu yang tengah menangisi makamnya dengan senyum sinis.


" Ternyata hanya Pakde yang tulus menyayangi Aku...," gumam arwah Elvira.


" Ibumu juga ada di sana. Dia keliatan sedih banget. Keliatannya dia shock berat atas kepergianmu. Apakah Kamu ga melihat air mata dan ketulusannya...?" tanya Rex.


Elvira tersenyum sinis lalu menggelengkan kepalanya.


" Hanya air mata penuh sandiwara. Aku tak butuh itu...," kata Elvira sambil melengos.


" Setelah ini apa yang mau Kamu lakukan...?" tanya Rex.


" Aku harus pergi dan mengabdikan diriku pada siluman itu. Tolong sampaikan salamku untuk Pakde. Aku janji akan berusaha bahagia meski pun Aku tau telah salah mengambil keputusan. Maafkan Aku karena tak bisa bersabar menghadapi ujian di hidupku...," kata arwah Elvira sedih.


" Insya Allah Aku sampaikan nanti. Sekarang pergi lah...," sahut Rex yang diangguki Elvira.


" Makasih Kapten...," kata Elvira.


Perlahan Halim memeluk tubuh Elvira dengan erat lalu lenyap tanpa bekas. Rex mengusap wajahnya lalu berbalik saat mendengar suara sang ayah memanggil namanya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2