Kidung Petaka

Kidung Petaka
37. Hanya Boneka


__ADS_3

Di saat Taufan bingung mengambil sikap, tiba-tiba Rex dan Gama datang berkunjung ke kantor polisi.


Kedatangan Rex dan Gama disambut dengan suka cita. Karena saat itu Taufan benar-benar membutuhkan teman bicara.


" Kebetulan Kalian datang. Saya sedang bingung karena pengacara keluarga Dipo menyerahkan bukti ini untuk membebaskan Dipo...," kata Taufan sambil menyodorkan map berisi laporan kesehatan Dipo.


Rex dan Gama nampak mengerutkan kening saat melihat logo Rumah Sakit Jiwa di bagian depan map. Lalu dengan sigap Rex dan Gama membaca lembaran kertas itu. Keduanya terkejut saat mengetahui Dipo memiliki riwayat penyakit mental.


" Kalo Dipo sakit, kenapa keluarganya membiarkan dia berkeliaran di tempat umum tanpa didampingi orang lain...?" tanya Rex.


" Itu juga yang Saya tanyakan tadi...," sahut Taufan lalu mulai menceritakan semua yang dikatakan Hendra padanya.


Untuk sejenak Rex dan Gama termenung. Mereka tak ingin Dipo bebas karena khawatir jika Dipo akan melakukan hal yang sama pada wanita lain nanti.


" Tapi ngeliat hasil lab dan rekaman CCTV membuktikan Dipo itu sehat dan normal. Iya ga sih Rex...?" tanya Gama sambil menoleh kearah Rex.


" Betul Gam. Dipo memang punya riwayat sakit mental dan butuh bantuan orang lain dalam beraktifitas. Jika selama ini dia selalu didampingi oleh orang yang digaji khusus untuk membantunya melakukan sesuatu. Itu artinya saat melakukan pelecehan se**al terhadap Aura ada orang lain yang membantu Dipo. Dengan kata lain pelecehan se**al yang Dipo lakukan sudah terencana dan diawasi oleh orang lain yang nampaknya telah berpengalaman melakukan itu. Atau jangan-jangan justru orang itu juga ikut andil melakukan pelecehan terhadap Aura...," kata Rex hingga mengejutkan Gama dan Taufan.


" Jadi Dipo adalah boneka dari pelaku untuk membantunya menuntaskan hasratnya...? " tanya Taufan.


" Betul. Seandainya dia ga ikut melakukan pelecehan terhadap Aura, tapi dia mendapat keuntungan karena bisa mencapai klim*ks hanya dengan melihat adegan pemerk*saan itu...," sahut Rex mantap.


" **** !, sakit jiwa tuh orang...!" kata Gama lantang sambil menggebrak meja.


" Jadi sekarang tugas Anda menangkap orang yang mendampingi Dipo saat pelecehan terjadi...," kata Rex sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


Taufan mengangguk lalu tersenyum. Kini ia punya alasan untuk menahan Dipo lebih lama di kantor polisi.


" Terima kasih. Saya sangat terbantu dengan ulasan Anda tadi. Ke depannya Saya yakin Kita bisa jadi team yang kompak. Gimana Pak Rex, Pak Gama...?" tanya Taufan sambil menatap Rex dan Gama bergantian.


" Tentu saja...," sahut Rex dan Gama bersamaan.


Kemudian Rex, Gama dan Taufan saling berjabat tangan sambil tertawa lepas. Sejak saat itu ketiganya memutuskan berteman. Mereka kerap bertemu untuk membahas banyak hal termasuk masalah hukum dan kriminal.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Setelah melalui proses yang rumit, dalang utama pelecehan se**al terhadap pasien Rumah Sakit Sentosa pun ditangkap. Pria itu adalah salah satu bodyguard keluarga Deri yang memang diperintahkan mengawasi Dipo.


Pria bernama Beni itu menggunakan Dipo sebagai alat untuk memenuhi hasratnya. Beni sengaja mencari pasien Rumah Sakit yang menempati kamar rawat inap kelas satu sebagai target sasaran. Alasannya karena ruangan mereka terpisah dengan pasien lain hingga Beni bisa dengan leluasa melancarkan aksinya.


Sebelum melakukan aksinya Beni mengawasi calon korbannya terlebih dulu. Hal itu bisa dengan mudah Beni lakukan sambil mengawal Dipo yang terus berkeliaran di seluruh penjuru Rumah Sakit.


Setelah mendapatkan targetnya, Beni mulai mengotak-atik kamera CCTV di kamar korban agar apa yang ia lakukan nanti tak terekam kamera. Tapi Beni lupa jika kamera CCTV tersebar di seluruh penjuru Rumah Sakit dan gerak-geriknya terpantau kamera lain yang berada di sekitar kamar korban.


Di persidangan juga terungkap jika selama ini Beni kerap mencekoki Dipo dengan tontonan dewasa. Karena seringnya menonton film p**no membuat Dipo penasaran dan ingin mencobanya.


Dengan dalih membantu Dipo menuntaskan hasratnya, Beni pun menyekap korban dan membiarkan Dipo memperk*sa korban di hadapannya. Sebelumnya Beni juga memadamkan lampu agar korban tak bisa mengenali Dipo. Saat Dipo mencapai titik klim**s, di saat yang sama Beni juga mendapat kepuasan.


Setelahnya Beni membawa Dipo keluar dari Rumah Sakit melalui pintu belakang.


Pengakuan Dipo membuat Beni tak berkutik. Ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di depan hukum.


Hakim dan jaksa memang harus bersabar menghadapi Dipo. Meski pun fisiknya berupa pria dewasa, tapi cara bicara dan berpikir Dipo sama dengan anak-anak.


" Ga Om Jaksa. Aku kan udah dua kali gituin cewek di Rumah Sakit Papa. Kakak Aura orang yang ketiga. Kalo ga percaya tanya aja sama Om Beni...," sahut Dipo sambil mengacungkan ketiga jari tangannya kearah jaksa.


Ruangan pun gaduh seketika usai mendengar pengakuan Dipo. Di kursinya Beni nampak menundukkan kepalanya karena malu.


Sentosa dan Deri yang ikut menyaksikan jalannya persidangan nampak geram. Mereka tak menyangka jika Beni telah 'meracuni' Dipo sejauh itu.


Di akhir sidang hakim memutuskan menjatuhkan hukuman dua belas tahun penjara ditambah denda tiga ratus juta rupiah kepada Beni karena telah melecehkan tiga wanita. Hukuman itu lebih ringan dari tuntutan jaksa. Keluarga Beni pun histeris mendengar keputusan hakim sedangkan Beni hanya bisa menunduk pasrah.


Meski pun Dipo juga korban dalam kasus pelecehan se**al itu, namun hukum harus ditegakkan. Dipo tetap mendapat sanksi hukum yaitu harus menjalani karantina di Rumah Sakit Jiwa dengan pengawasan khusus selama lima belas bulan. Dipo hanya boleh dijenguk sebulan sekali.


Keputusan itu membuat Sentosa dan Deri sedih, karena itu artinya mereka tak akan bisa bertemu Dipo sebebas biasanya. Namun mereka juga paham jika apa yang Dipo lakukan telah melukai banyak pihak. Mereka bersyukur karena Dipo tidak di hukum di lapas seperti pelaku kejahatan lainnya.


" Kenapa Om ini ga antar Aku pulang ke rumah Papa...?" tanya Dipo saat dua perawat Rumah Sakit Jiwa menggandeng tangannya menuju mobil.

__ADS_1


" Gapapa Dipo. Kamu ikut sama Om itu dulu ya. Mereka orang baik, mereka bakal ngajarin Dipo banyak hal baik nanti...," sahut Deri dengan suara bergetar.


" Aku sekolah lagi Papa...?" tanya Dipo.


" Iya Nak...," sahut Deri.


" Kalo gitu Aku mau belajar sampe pinter biar Papa sama Mama seneng liat raport Aku. Opa harus ikut kalo Papa mau ambil raport Aku nanti yaa...," kata Dipo sambil tersenyum.


" Iya Dipo. Sekarang Dipo masuk ke dalam mobil biar ga terlambat masuk kelas...," bujuk Sentosa.


Dipo mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Ia nampak melambaikan tangannya saat mobil Rumah Sakit Jiwa membawanya keluar dari halaman pengadilan.


Sentosa dan Deri nampak membalas lambaian tangan Dipo. Setelahnya Deri memapah sang ayah masuk ke dalam mobil.


Di kejauhan Rex, Gama dan Taufan tampak mengamati dalam diam. Mereka terharu menyaksikan kebesaran hati Sentosa dan Deri.


" Keliatannya Pak Sentosa dan Pak Deri bisa menerima hukuman yang dijatuhkan Hakim untuk Dipo...," kata Gama.


" Mereka sadar jika Dipo juga terlibat dalam kasus ini...," sahut Taufan.


" Orang seperti mereka patut dicontoh. Bukan kah biasanya orang kaya tak suka mentaati hukum. Mereka menganggap jika hukum bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan yang mereka miliki...," sindir Rex hingga membuat Gama dan Taufan tersenyum.


Sebelum meninggalkan pengadilan Taufan mengatakan sesuatu yang mengejutkan Rex dan Gama.


" Tolong sampaikan salam Gue untuk Lilian ya Rex...," kata Taufan dengan mimik wajah serius.


" Salam buat Kak Lian...?" tanya Rex tak percaya.


" Iya. Jujur Gue tertarik sama Lilian. Tolong jangan halangi Gue ya Rex...," pinta Taufan sambil berlalu.


Rex dan Gama saling menatap sejenak lalu menoleh kearah mobil Taufan yang melaju lebih dulu.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2