
Saat yang ditunggu pun tiba. Banga dan seluruh warga berbondong-bondong pergi ke lahan tepi hutan untuk mengadakan ritual pengusiran popobawa. Warga yang menjadi korban popobawa juga ikut serta sambil terus diawasi.
Di saat yang sama Rex dan semua orang yang berada di kamp melakukan doa bersama. Mereka menggelar sholat Maghrib berjamaah di teras dan mereka tetap bertahan di sana hingga waktu Isya. Setelah menunaikan sholat Isya, Rex meminta beberapa orang membaca Al Qur'an dan yang lain tetap berdzikir.
Rex juga meminta mereka yang non muslim untuk berdoa dengan posisi yang tak terlalu jauh dari teras.
Suster Tami juga ada bersama mereka. Ia sengaja ditempatkan di tengah agar tetap terpantau oleh Rex dan rekan-rekannya itu.
" Tetap fokus dan jangan melamun. Terutama Kamu Suster Tami...," kata Rex mengingatkan.
" Iya Kapten...," sahut suster Tami lirih.
Rex tersenyum lalu kembali berdzikir sambil mengamati sekelilingnya.
\=\=\=\=\=
Lokasi tempat ritual telah diterangi cahaya yang berasal dari obor yang dinyalakan dan diletakkan mengelilingi lapangan. Selain itu warga sengaja membakar ranting kering dan diletakkan di keliling lapangan untuk mencegah gangguan hewan buas.
Banga duduk memimpin ritual. Korban popobawa yang bernama Ebes juga duduk bersamanya. Ada dua pria yang berdiri di samping kanan dan kiri Ebes yang bertugas menjaganya. Sedangkan warga lainnya duduk membentuk lingkaran mengelilingi Banga dan Ebes.
Di saat Banga dan warga tengah melakukan ritual, Ebes tiba-tiba menjerit. Rupanya ia melihat popobawa yang telah melecehkannya itu datang dan menyeringai kearahnya.
" Dia datang !. Di sana, dia mau membawa Aku pergi. Tolong Aku !. Siapa pun tolong Aku...!" jerit Ebes histeris sambil merayap di tanah saking takutnya.
Semua orang terkejut dan ikut menatap kearah yang ditunjuk Ebes. Dalam keremangan malam warga melihat sosok hitam menyerupai manusia bersayap tengah berdiri tegak menghadap kearah mereka.
Banga pun berdiri sambil memegang cawan yang berisi ramuan berbau menyengat yang telah dibuatnya tadi. Melihat Banga berdiri, warga yang mengelilinginya pun ikut berdiri dan mengeluarkan sesuatu dari balik pakaian mereka masing-masing.
Popobawa nampak menyeringai marah saat mengetahui undangan itu bertujuan untuk menyingkirkannya.
" Bangun Ebes !. Berdiri dan hadapi dia. Jangan takut, Kami bersamamu...!" kata Banga.
__ADS_1
Ebes yang ketakutan masih tertelungkup sambil memejamkan mata. Ia menolak menghadapi makhluk jadi-jadian itu. Dua pria yang bersamanya membantunya berdiri sambil membisikkan sesuatu.
" Lakukan sekarang Ebes. Ingat, dia juga mengancam keluargamu dan keponakanmu yang masih bayi itu. Bayangkan apa yang akan dia lakukan kepada mereka. Apa Kamu ga ingin menghentikan kejahatan makhluk itu sekarang...?" tanya seorang pria mencoba memprovokasi Ebes.
Mendengar ucapan pria itu Ebes membuka matanya. Rasa sayangnya kepada keluarganya mengalahkan rasa takut dan trauma yang ia alami akibat pelecehan yang dilakukan makhluk itu. Ebes pun bangkit berdiri lalu berjalan perlahan kearah makhluk itu.
Banga dan dua pria yang bersamanya mengikuti Ebes dari belakang. Tiba-tiba Ebes berhenti lalu membuka seluruh pakaiannya sambil menatap kosong kearah makhluk itu. Popobawa nampak tersenyum puas menyaksikan aurat korbannya terpampang nyata di depannya.
Dengan beringas popobawa mendekati Ebes yang dalam kondisi linglung itu dan berusaha memeluknya. Namun saat hampir berhasil memeluk Ebes, makhluk itu terpental ke belakang sambil menjerit marah karena tak suka dengan aroma menyengat dari tubuh Ebes. Rupanya tubuh Ebes telah dibaluri ramuan menyengat yang ada di tangan Banga.
Melihat popobawa terpental ke belakang, Banga pun menyiramkan ramuan yang dibawanya kearah makhluk itu sambil membaca mantra. Warga pun mengikuti aksi Banga dan melempari makhluk itu dengan sesuatu yang mereka pegang tadi.
Popobawa menjerit kesakitan lalu berlari keliling lapangan untuk mencari korban baru yang merupakan keluarga Ebes. Namun aksi warga yang bersorak-sorai sambil terus melemparinya dengan sesuatu membuat makhluk itu panik dan kesakitan. Ia menjerit sekali lagi lalu lenyap tanpa bekas dan hanya menyisakan gema jeritannya di tanah lapang itu.
Banga dan warga terdiam sambil saling menatap satu sama lain. Sementara itu Ebes berdiri dengan tubuh bergetar sambil menangis terisak-isak ditemani dua pria yang setia menjaganya.
" Dia pergi...!" kata seorang warga.
" Iya. Tapi Kita ga boleh lengah. Kita harus waspada dan siapkan amunisi lebih banyak. Saya khawatir dia bakal balik lagi dan menyakiti Kita nanti...," kata Banga.
Banga meraih pakaian Ebes yang berserakan di tanah, lalu meminta Ebes mengenakan kembali pakaiannya itu.
" Biar Aku saja yang jadi korbannya dan mati Banga. Aku rela asal keluargaku selamat...," kata Ebes dengan suara bergetar.
" Ga perlu Bes. Makhluk itu ga bakal bisa kemana-mana karena justru dia akan kembali untuk menyerahkan nyawanya nanti...," sahut Banga sambil tersenyum penuh makna.
Jawaban Banga membuat Ebes terkejut sekaligus senang. Dengan antusias Ebes mengenakan pakaiannya dan kembali duduk bersama Banga.
Sementara itu di kamp, terlihat Rex tengah berjibaku menghadapi popobawa seorang diri. Tak ada seorang pun yang menyadari jika di saat mereka tengah berdzikir dan membaca Al Qur'an, popobawa datang dan berniat menculik suster Tami.
Namun aksi popobawa berhasil dihalangi oleh Rex yang siaga menanti kedatangannya.
__ADS_1
Popobawa yang hadir dengan tubuh penuh luka itu berdiri mengamati dari bawah pohon. Rex yang melihat kehadirannya itu berdiri lalu berjalan mendekatinya dari arah yang lain. Rex sengaja mencari jalan memutar untuk mengecoh makhluk itu.
Popobawa tersenyum melihat suster Tami ada diantara mereka. Ia memang tak bisa mendekati mangsanya karena aura yang meliputi suster Tami terasa panas dan menyakitkan untuknya. Namun dengan mudah popobawa mempengaruhi pikiran suster Tami hingga membuat suster Tami bangkit dari duduknya dan memisahkan diri dari teman-temannya.
" Mau kemana Suster...? " tanya Elvira sambil mencekal pergelangan tangan suster Tami.
" Mau ke toilet Bu, kebelet pipis...," sahut suster Tami sambil nyengir.
" Saya temani ya...," kata Elvira sambil bangkit dari duduknya.
" Ga usah, Saya sendiri aja. Cuma sebentar kok...," sahut suster Tami cepat.
Elvira dan Lita saling menatap kemudian mengangguk. Mereka merasa lebih tenang karena letak toilet terlihat dari tempat mereka duduk.
Melihat suster Tami masuk ke dalam toilet, popobawa pun melesat cepat bermaksud menyusul wanita itu. Namun gerakannya terhenti saat ia merasakan sesuatu menahan sayapnya. Rupanya Rex telah menancapkan belatinya ke sayap popobawa dan Batang pohon hingga makhluk itu sulit bergerak.
Popobawa menjerit marah lalu menyerang Rex dengan beringas. Karena sayapnya terpaku di pohon, gerakan makhluk itu pun terbatas. Dan itu menguntungkan Rex. Dengan mudah ia melempar bubuk kamper yang disiapkannya ke wajah makhluk itu hingga melukai kedua mata dan wajahnya. Sesaat kemudian jerit kesakitan terdengar membahana di tempat itu.
Semua orang menghentikan aksinya lalu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara. Namun saat melihat Rex memberi kode agar mereka melanjutkan kegiatan dzikir dan mengaji, mereka pun mengerti.
Jerit popobawa perlahan mereda dan hanya menyisakan erang kesakitan. Ia menutupi wajahnya yang terluka itu dengan telapak tangannya. Saat mengetahui suster Tami keluar dari toilet, makhluk itu pun gusar. Ia nampak beringas dan berniat menjangkau wanita itu. Namun lagi-lagi niatnya terhalang karena belati Rex menahannya.
Melihat makhluk di hadapannya melemah, Rex pun menggunakan kesempatan itu untuk mengakhiri semuanya. Rex kembali meraih bubuk kamper dari saku bajunya lalu melemparkannya kearah organ int*m makhluk itu hingga jerit kesakitan kembali membahana di sana. Suaranya lebih menggelegar dari sebelumnya hingga membuat semua orang bergidik ngeri.
Setelah jeritan terakhir, makhluk itu pun menghilang, lenyap tanpa bekas. Rupanya makhluk itu kembali ke lahan tempat ritual berlangsung.
Banga dan semua warga terkejut melihat makhluk itu datang kembali namun dalam kondisi sekarat. Banyak luka di tubuhnya dan Banga tahu jika luka itu berasal dari Rex dan rekan-rekannya.
Di hadapan Banga dan warga, makhluk itu menggelepar kesakitan lalu terbakar hangus tanpa sebab.
Untuk beberapa saat suasana di lahan itu menjadi hening. Semua terdiam menyaksikan makhluk yang menerror mereka mati terbakar. Dan sesaat kemudian terdengar sorak sorai warga yang merayakan kematian makhluk itu.
__ADS_1
Banga menghela nafas lega sambil tersenyum puas melihat warga yang menari sambil tertawa bahagia menyaksikan kematian siluman kelelawar penikmat se* itu.
bersambung