Kidung Petaka

Kidung Petaka
243. Permintaan Ga Masuk Akal


__ADS_3

Saat pintu terbuka Itje pun menoleh dan tersenyum. Namun senyum Itje memudar saat melihat Rex kembali sambil menggandeng tangan seorang wanita cantik.


" Maaf Tante. Saya ngajak Istri Saya juga buat jenguk Aksara...," kata Rex sambil menoleh kearah Shezi di sampingnya.


" Oh gapapa Rex...," sahut Itje gugup.


" Kenalin dulu Tante, ini Shezi. Sayang, kenalin ini Mamanya dokter Aksara...," kata Rex memperkenalkan Itje dan Shezi.


" Salam kenal Tante...," kata Shezi sambil mencium punggung tangan Itje dengan takzim.


" Salam kenal juga. Akhirnya Tante bisa kenalan juga sama Istrimu Rex. Ternyata Istrimu cantik banget, walau ga secantik Anak Tante tentunya...," kata Itje sambil mengamati Shezi dari atas kepala hingga ujung kaki.


Shezi dan Rex saling menatap sejenak kemudian tertawa seolah tak mempermasalahkan ucapan Itje yang 'nyelekit' itu.


" Jadi dokter Aksara sakit apa Tante...?" tanya Shezi.


Kemudian Itje mulai menceritakan kronologi kecelakaan yang dialami Aksara. Dari cerita Itje diperoleh kesimpulan jika dokter Aksara tak pernah siuman sejak kecelakaan hingga detik ini.


" Kasian sekali dokter Aksara. Yang sabar ya Tante...," kata Shezi sambil mengusap punggung tangan Itje dengan lembut.


" Iya, makasih Zi...," sahut Itje sambil tersenyum kecut.


" Bukannya dokter Aksara juga punya klinik ya Tante. Terus gimana kliniknya sekarang...?" tanya Shezi.


" Itu dia Zi. Sejak diresmikan sampe sekarang, klinik itu belum beroperasi sama sekali. Makanya Tante bingung. Kalo itu rumah mungkin bisa Tante kontrakin atau jual sekalian. Tapi itu kan klinik. Siapa yang mau tinggal di sana...," sahut Itje gusar.


" Apa ga dilakukan upaya pengobatan lain biar dokter Aksara cepet sembuh Tante...?" tanya Shezi.


" Harusnya sih gitu. Tapi biayanya kan ga sedikit Zi. Ini aja udah abis banyak...," sahut Itje dengan mimik wajah sedih.


Jawaban Itje membuat Shezi kesal. Bagaimana tidak. Itje seolah merasa keberatan untuk membiayai pengobatan Aksara. Padahal saat itu ia mengenakan satu set perhiasan berlian yang jika ditaksir harganya mencapai ratusan juta. Dan Shezi yakin jika Itje masih menyimpan perhiasan sejenis di rumahnya.


Melihat wajah istrinya yang kesal, Rex pun tersenyum. Ia mengusap punggung Shezi dengan lembut untuk menenangkannya. Shezi pun menoleh kearah suaminya lalu tersenyum pertanda ia baik-baik saja.


" Sebenernya ada satu pengobatan yang Tante yakin ga hanya bisa bikin Aksara siuman tapi sembuh lebih cepat...," kata Itje tiba-tiba.


" Oh ya, pengobatan apa Tante. Kenapa ga dicoba...?" tanya Shezi antusias.


" Mmm..., soalnya pengobatan ini melibatkan Rex. Tante khawatir Kamu keberatan melakukannya...," sahut Itje ragu.


Jawaban Itje mengejutkan Shezi dan Rex. Keduanya saling menatap sejenak lalu menoleh kearah Itje bersamaan.


" Maksudnya gimana ya Tante...?" tanya Shezi pura-pura tak mengerti.

__ADS_1


" Dulu Rex dan Aksara kan pernah pacaran dan hampir menikah. Tante yakin memori Aksara tentang kebersamaannya dengan Rex dulu masih ada di kepalanya. Tante ingin Rex membantu memulihkan ingatannya itu. Mungkin kalo Rex bersedia menemani Aksara selama dirawat di sini, siapa tau bisa membuat Aksara siuman dan sembuh lebih cepat...," sahut Itje.


Suasana di dalam ruangan itu pun menjadi hening sejenak. Itje nampak menatap Aksara dengan tatapan sedih, sedangkan Shezi dan Rex saling mengeratkan genggaman tangan mereka.


" Tapi Saya keberatan melakukannya Tante...," kata Rex tiba-tiba.


Ucapan Rex mengejutkan Itje namun membuat hati Shezi menghangat. Ia tersenyum diam-diam sambil mengucap syukur dalam hati.


" Kenapa Rex, Kamu ga mau menolong Aksara ?. Kok Kamu tega banget sih Rex...," keluh Itje.


" Maaf Tante. Permintaan Tante itu ga masuk akal...," kata Rex.


" Ga masuk akal gimana maksud Kamu Rex...?" tanya Itje.


" Pengobatan medis selama enam bulan aja ga mampu menyembuhkan Aksara, apalagi Saya Tante. Saya kan bukan dokter...," sahut Rex tegas.


" Tapi Kamu bisa membantu Aksara memulihkan ingatannya Rex...," kata Itje setengah memaksa.


" Tentang ingatan Aksara itu hanya bisa dilakukan saat Aksara siuman Tante. Sekarang yang penting membuat Aksara siuman dulu baru memperbaiki ingatannya...," sahut Rex.


" Bilang aja Kamu ga mau membantu karena Kamu takut sama Istri Kamu ini kan Rex...?!" kata Itje sambil menatap Shezi dengan tatapan penuh kebencian.


" Saya ga takut sama Istri Saya Tante !. Saya mencintainya dan Saya menghargai perasaannya. Saya ga mau hanya karena hal ini hubungan Kami kandas. Saya ga bisa kehilangan Shezi setelah Saya memperjuangkannya...!" sahut Rex tegas sambil merengkuh bahu Shezi dengan erat.


" Kenapa Tante tanyain itu sekarang ?. Kan Tante sendiri yang udah menghancurkannya. Tante ga lupa kan apa yang Tante ucapkan saat Saya mergokin Tante lagi bernegoisasi sama Pak Melvin dulu...?" tanya Rex dingin.


" Tapi Tante kan udah minta maaf Rex...," kata Itje sambil menitikkan air mata.


" Iya Tante. Saya juga udah maafin Tante. Tapi Saya ga akan biarkan Tante menghancurkan wanita yang Saya cintai seperti Tante menghancurkan Aksara dulu. Saya pamit Tante, ayo Sayang...," kata Rex sambil menggamit tangan Shezi dan membawanya keluar dari kamar rawat inap Aksara.


Itje pun menangis meraung melihat Rex pergi bersama Shezi. Ia tak menyangka jika harapannya yang sempat membuncah saat bertemu Rex tadi kini hancur lebur.


Sementara itu di atas tempat tidur terlihat air mata mengalir dari sudut mata Aksara. Rupanya gadis itu siuman dan mendengar semua ucapan Rex tadi. Namun sayang saat siuman ia harus kembali menerima kenyataan pahit bahwa cintanya memilih pergi tanpa menoleh lagi.


\=\=\=\=\=


Rex nampak membisu sambil terus menatap ke jalan raya di depannya. Saat itu ia dan Shezi sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan ke rumah dinas.


Shezi pun mengerti dan membiarkan Rex fokus berkendara. Tiba-tiba Rex memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Shezi terkejut dan ketakutan.


" Berhenti Kapten !. Aku ga mau mati konyol gara-gara Kamu. Sayang berhentiii...!" jerit Shezi sambil memejamkan mata dan berpegang erat di sandaran kursi.


Rex pun menghentikan mobilnya lalu menoleh kearah Shezi yang gemetar ketakutan di sampingnya.

__ADS_1


" Ya Allah. Maafin Aku Sayang...," kata Rex sambil menarik Shezi ke dalam pelukannya.


Untuk sesaat Rex dan Shezi saling memeluk erat tanpa bicara. Nafas keduanya yang memburu perlahan menjadi tenang. Shezi pun mengurai pelukannya lalu menyentuh wajah sang suami.


" Kamu baik-baik aja kan Kapten...?" tanya Shezi hati-hati.


" Iya...," sahut Rex sambil mengangguk cepat.


" Alhamdulillah. Apa Kamu udah tenang sekarang...?" tanya Shezi lagi.


" Karena bersama Kamu Aku bisa tenang. Tolong jangan pergi ya Zi. Jangan tinggalin Aku...," kata Rex sambil meraih jemari Shezi dan menggenggamnya erat.


" Aku kan di sini dan ga pergi kemana-mana Kapten. Kenapa Kamu jadi melow gini sih...?" gurau Shezi sambil tertawa.


" Aku khawatir Kamu terpengaruh sama omongannya Tante Itje terus ngambek dan ninggalin Aku...," sahut Rex lirih.


" Aku ga sepicik itu Kapten. Kenapa harus terpengaruh sama omongan ga bermutu kaya gitu. Walau Tante Itje sempet ngeremehin Aku dan mencoba menyingkirkan Aku, tapi Aku ga peduli. Kamu Suami Aku, jelas Aku udah menang jauh dari dia dan anaknya. Apalagi Kamu juga milih Aku dibanding membantu dokter Aksara tadi. Jadi kenapa harus ngambek gara-gara provokasinya tadi...," sahut Shezi santai.


Rex tersenyum mendengar jawaban sang istri. Kemudian Rex kembali memeluk Shezi erat sambil menciumi wajah sang istri dengan gemas. Shezi nampak tertawa dalam pelukan Rex.


Tiba-tiba Rex mengurai pelukannya hingga membuat Shezi bingung.


" Kenapa Kapten...?" tanya Shezi.


" Bisa kan Kamu panggil Aku pake panggilan yang tadi...?" tanya Rex dengan mimik wajah serius.


" Panggilan yang mana...?" tanya Shezi.


" Waktu Aku ngebut, Kamu panggil Aku Sayang. Makanya Aku kaget dan langsung ngerem tadi...," sahut Rex cepat.


" Masa sih, kok Aku ga inget ya...," kata Shezi.


" Ck, gimana sih. Masa gitu aja ga inget...?" kata Rex sambil berdecak sebal namun membuat Shezi tertawa.


" Iya iya. Aku inget Sayang...," kata Shezi hingga membuat Rex tertawa bahagia.


Kemudian Rex kembali memeluk Shezi dan mendaratkan ciuman di kepalanya sambil tertawa.


" Setelah enam bulan menikah akhirnya Aku bisa denger Istriku manggil Aku Sayang...," kata Rex di sela tawanya.


Shezi pun ikut tertawa bahagia karena bisa meredam kemarahan Rex yang sempat memuncak akibat ucapan Itje tadi.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2