
Di saat bersamaan Lanni terbangun dari tidurnya. Seluruh tubuh dan wajahnya berkeringat. Lanni juga mendapati tangan dan kakinya bergetar hebat tanpa sebab.
" Ya Allah, ada apa ini...," gumam Lanni sambil meraba dadanya untuk menetralisir jantungnya yang berdetak cepat.
Lanni meraih ponselnya lalu menghubungi sang suami.
" Assalamualaikum Ayah...," panggil Lanni dengan suara bergetar.
" Wa alaikumsalam. Ada apa Bu, kok belum tidur...? " tanya Ramon.
" A... Aku gapapa...," sahut Lanni gugup namun justru membuat Ramon khawatir.
" Gapapa gimana. Kamu dimana sekarang...?!" tanya Ramon cemas.
" Aku di kamar. Tolong jangan tutup teleponnya ya Yah. Aku mau liat Mamak di kamarnya...," kata Lanni.
" Ga perlu Bu, Kamu istirahat aja. Kan udah ada perawat yang nemenin Mamak...," kata Ramon.
" Sebentar aja kok...," sahut Lanni keukeuh.
" Ok, terserah Kamu aja deh. Video call ya Bu, Aku juga pengen liat Mamak...," kata Ramon akhirnya.
Lanni tersenyum lalu keluar dari kamarnya. Ia melangkah ke kamar sang mertua lalu membuka pintu kamar perlahan.
Lanni menghela nafas lega saat melihat Rusminah tidur dengan nyenyak. Di tempat tidur lain tampak sang perawat tengah duduk sambil mengaji. Lanni bahagia karena mendapatkan perawat yang baik untuk mertuanya.
" Gimana Bu...?" tanya Ramon dari seberang telephon.
" Alhamdulillah Mamak baik-baik aja Yah. Liat deh, Mamak lagi tidur sekarang. Nyenyak banget lho Yah...," sahut Lanni sambil memperlihatkan kondisi Rusminah pada Ramon.
Ramon mengangguk senang melihat kondisi sang ibu yang membaik. Kemudian Lanni kembali melangkah menuju ke kamarnya.
" Aku suka sama perawat yang ngejagain Mamak Yah. Sekarang dia lagi ngaji, padahal ini udah malam lho...," sahut Lanni sambil menutup pintu kamarnya.
" Oh ya ?. Wah, Kita beruntung dapat perawat kaya gitu ya Bu. Kita ga perlu khawatir Mamak lalai dari ibadahnya karena perawatnya bakal ngingetin Mamak nanti...," kata Ramon sambil tersenyum bahagia.
Untuk sesaat keheningan melingkupi Lanni dan Ramon. Keduanya seperti terperangkap dalam sebuah situasi yang membingungkan.
__ADS_1
" Yah...," panggil Lanni.
" Iya Bu...," sahut Ramon.
" Apa Kamu ngerasa ada sesuatu yang aneh malam ini...?" tanya Lanni ragu.
" Aku ga ngerasa apa-apa Bu...," sahut Ramon berbohong.
Sesungguhnya Ramon juga merasa gelisah malam itu. Pikirannya melayang entah kemana. Sebelumnya Ramon juga sudah berusaha memejamkan mata dan tidur di sofa yang tersedia di kamar rawat inap Ramzi, tapi gagal. Dan Ramon sedang duduk di depan kamar rawat inap Ramzi saat sang istri menelpon tadi.
" Aku ngerasa ada sesuatu yang buruk bakal terjadi Yah. Aku ga tau apa...," kata Lanni gusar.
" Sesuatu yang buruk gimana sih maksud Ibu...?" tanya Ramon sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
" Aku kebangun dalam keadaan kedua tangan dan kaki bergetar hebat Yah. Jantungku juga berdebar kenceng banget. Jujur sekarang Aku ngerasa takut...," sahut Lanni sambil mencengkram sprei dengan kuat.
Ucapan Lanni mengejutkan Ramon. Ia juga sama gelisahnya dengan sang istri. Bagaimana tidak. Saat ini Adik dan ibunya dalam keadaan sakit. Sesuatu yang buruk bisa saja terjadi mengingat penyakit Ramzi yang terbilang parah dan usia sang ibu yang sepuh.
" Sebaiknya Kita sholat ya Bu. Setelah itu dzikir atau ngaji biar lebih tenang...," saran Ramon.
" Iya Yah. Kalo gitu Aku tutup dulu ya, Aku mau sholat sekarang...," kata Lanni.
" Wa alaikumsalam..., " sahut Lanni tersenyum sambil menatap layar ponselnya.
Setelah meletakkan ponselnya di atas nakas, Lanni pun bergegas keluar kamar untuk berwudhu. Tak lama kemudian ia kembali lalu menggelar sajadah.
Usai menunaikan sholat malam, Lanni pun berdzikir sambil duduk bersandar ke dinding. Ia juga meluruskan kakinya. Lanni terus berdzikir hingga tertidur di atas sajadah.
Dalam tidurnya, Lanni bermimpi. Saat itu ia tengah bermain dengan Rex dan Lilian. Anehnya saat itu kedua anaknya masih kecil, Lilian berusia delapan tahun dan Rex berusia lima tahun.
Dalam mimpi itu Lanni, Lilian dan Rex tengah bermain petak umpet. Saat itu Lanni mengejar Lilian yang sembunyi berpindah-pindah, sedangkan Rex sembunyi di tempat lain.
Lanni berhasil menemukan Lilian dan mereka pun tampak tertawa bahagia.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan Rex yang mengejutkan Lanni dan Lilian. Keduanya menoleh dan melihat Rex tengah dililit akar pohon menyerupai ular besar yang entah darimana asalnya.
" Ibuuuu...!" panggil Rex sambil terus meronta.
__ADS_1
" Reeexxx...!" panggil Lanni sambil melepaskan pelukannya pada Lilian lalu bergegas menghampiri Rex.
Saat itu Lilian nampak menangis karena tak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Lanni berhasil sampai di dekat Rex. Lanni mengulurkan tangannya untuk membantu melepaskan ikatan akar pohon berukuran besar itu. Namun saat ujung jemari Lanni hampir menyentuh akar pohon itu, akar pohon itu bergerak mundur dan membawa Rex ikut serta.
" Ibuuuuu...!" panggil Rex lagi.
Saat itu kedua tangan Rex terus bergerak bebas. Satu tangan terulur kearah ibunya, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk memukuli akar pohon yang melilit di perut hingga kedua kakinya.
" Reeexxx !. Jangan ambil Anakku, lepaskan dia!. Lepaskan Anakku...!" jerit Lanni sambil mulai menangis.
Semakin keras Lanni berlari mengejar, semakin keras akar pohon itu bergerak menjauh. Di sisi lain Lilian pun ikut menjerit memanggil ibu dan adiknya. Saat itu kedua kaki Lilian seperti terpaku ke dalam tanah dan tak bisa bergerak.
Sadar jika ia meninggalkan anak perempuannya seorang diri di tempat itu, Lanni pun berbalik lalu menggamit tangan Lilian. Setelahnya ia kembali mengejar Rex. Tapi terlambat, akar pohon itu telah membawa Rex pergi entah kemana.
Lanni menjerit sekencang-kencangnya sambil memanggil anaknya berulang kali.
" Reeeexxxx...!" panggil Lanni sambil membuka matanya.
Lanni menatap nanar ke seluruh penjuru kamar dengan nafas tersengal-sengal. Kedua matanya basah dengan air mata dan tubuhnya berkeringat.
" Ya Allah ada apa ini. Rex, kenapa Kamu Nak...," gumam Lanni panik lalu bergegas meraih ponselnya.
Dengan tangan gemetar Lanni mencoba menghubungi Rex. Namun sayang tak tersambung sama sekali. Lanni menoleh kearah jam dinding dan melihat jam menunjukkan pukul dua dini hari.
Setelah gagal menghubungi Rex, Lanni pun menghubungi suaminya. Berbeda dengan sebelumnya, jika tadi Ramon langsung menjawab panggilannya, kali ini Ramon justru tak merespon telephonnya dan itu membuat Lanni gelisah.
" Angkat dong Yah. Kenapa susah banget sih...," gerutu Lanni sambil mencoba terus, lagi dan lagi.
Hingga entah di panggilan ke berapa, akhirnya Ramon merespon panggilan sang istri. Saat itu kondisi Ramon sedang tak baik-baik saja karena baru saja mendapat kabar duka.
" Iya Bu...," kata Ramon dengan suara serak.
Mendengar suara suaminya yang serak layaknya orang bangun tidur membuat emosi Lanni memuncak.
" Ayah darimana aja sih, tidur ya ?. Segitu nyenyaknya sampe ga denger suara ponsel. Padahal kan tadi Ayah yang nyuruh Aku sholat, kok sekarang malah enak-enak tidur. Gimana sih ?. Ayah tau ga kalo Aku nelephon tuh karena ada hal penting yang mau diomongin...?!" omel Lanni kesal.
Ramon hanya membisu sambil berusaha menenangkan diri. Ia tak ingin membuat istrinya panik saat mendengar kabar yang baru saja didengarnya.
__ADS_1
Rupanya kegelisahan yang ia dan Lanni rasakan tadi adalah sebuah firasat buruk yang akan membuat mereka menangis.
\=\=\=\=\=