Kidung Petaka

Kidung Petaka
29. Pasien Bernama Aura


__ADS_3

Suasana di Rumah Sakit Sentosa terasa mencekam. Semua tenaga medis dibuat tegang akibat adanya pelecehan se**al yang kembali menimpa salah seorang pasien wanita di sana.


Pasien wanita bernama Aura itu pun menangis histeris hingga membuat orangtuanya panik dan memaksa keluar dari Rumah Sakit Sentosa malam itu juga. Pihak Rumah Sakit mencoba menahan pasien tersebut namun gagal.


" Tapi pasien sedang dalam masa perawatan dan masih harus mengonsumsi obat Pak...," kata dokter Siska.


" Kami tau, tapi keselamatan dan kenyamanan Aura lebih penting. Kami ga bisa menyerahkan pengobatan Aura pada Rumah Sakit ini lagi. Apalagi Aura sudah mengalami pelecehan di toilet Rumah Sakit ini...!" kata papa Aura dengan lantang.


" Mohon sabar Pak. Polisi juga sedang mengusut kasus ini. Jadi tolong kerja samanya supaya kasus ini segera terungkap dan penjahat sebenarnya segera tertangkap...," kata dokter Siska.


" Saya ga peduli. Sudah seharusnya Kalian minta bantuan Polisi. Andai Saya tau di Rumah Sakit ini sedang marak kasus pasien yang mengalami pelecehan se**al, Saya ga akan percayakan Rumah Sakit ini merawat anak Saya. Sekarang Saya minta supaya anak Saya dibantu keluar dari Rumah Sakit ini. Tak usah mempersulit !. Saya juga ga perlu surat rujukan karena Saya sendiri yang akan membawa anak Saya berobat keluar negeri...!" kata papa Aura murka.


Dokter Siska nampak menghela nafas panjang. Ia tak kuasa menahan pasien agar melanjutkan pengobatan di Rumah Sakit itu.


" Baik kalo itu keputusan Bapak. Tapi ijinkan Saya mengecek pasien sebelum dia keluar dari Rumah Sakit ini. Saya hanya ingin menggenapi kewajiban Saya sebagai dokter yang menangani pengobatan Aura...," pinta dokter Siska.


" Silakan, Saya bakal tunggu di luar. Tapi setelahnya tolong urus kepulangan anak Saya...!" kata papa Aura sambil membanting pintu kamar hingga membuat semua orang terkejut.


Lilian adalah perawat yang mendampingi dokter Siska saat itu. Ia nampak iba melihat dokter Siska yang 'dilabrak' oleh orangtua pasien tadi.


Perlahan Lilian mendekat kearah Aura yang nampak terlelap setelah disuntik obat penenang tadi.


" Saya sudah pasang jarum infusnya dok...," kata Lilian sambil menoleh kearah dokter Siska.


" Makasih Suster. Sekarang bantu Saya ngambil sample cairan dari organ int*m Aura untuk dicek di lab...," kata dokter Siska.


" Emang Gapapa dok...?" tanya Lilian yang merasa jika itu berlebihan.


" Insya Allah Gapapa Sus. Ini juga demi semua perempuan yang ada di Rumah Sakit ini. Aura adalah korban ketiga. Dua korban sebelumnya menolak divisum. Kita terpaksa melakukan ini untuk membantu Polisi menangkap penjahatnya. Karena dari cairan itu Kita bisa tau golongan darah si pelaku...," kata dokter Siska.


" Kalo dia bangun dan marah gimana dok...?" tanya Lilian cemas.

__ADS_1


" Kita lakukan pelan-pelan dong Sus. Kamu bertingkah begini bukan karena sedang meragukan kemampuan Saya kan Suster Lilian...?" tanya dokter Siska dengan tatapan menyelidik.


" Eh, ga dok. Bukan gitu maksud Saya. Maaf kalo bikin dokter tersinggung...," sahut Lilian cepat.


" Saya cuma bercanda Suster. Lagipula yang Kita kerjakan ini kan masih berhubungan sama penyakit pasien. Kamu inget kan kalo Aura itu pasien dengan keluhan kista di rahimnya. Jadi tindakan yang Kita lakukan masih berkaitan sama penyakit Aura. Kita harus memastikan kalo pelecehan se**al yang dialami Aura ga membuat kista di rahimnya makin besar atau justru malah melukai rahim Aura. Gimana Sus, Kamu siap kan...?" tanya dokter Siska.


" Siap dok...," sahut Lilian mantap.


" Kita mulai sekarang ya Suster...," kata dokter Siska yang diangguki Lilian.


Lilian pun mengamati cara kerja dokter Siska. Dalam hati ia mengutuk kebodohannya sendiri karena meragukan kemampuan dokter Siska.


Setelah beberapa saat, dokter Siska dan Lilian pun selesai melakukan tugasnya. Saat hendak menyelimuti tubuh pasien, Lilian terkejut karena Aura mencekal tangannya. Rupanya Aura terbangun saat ia dan dokter Siska melakukan sesuatu pada tubuhnya tadi.


" Tolong penjarakan pelakunya...," kata Aura lirih.


" Iya Mbak. Kami janji akan membantu menghukum pelakunya...," sahut Lilian.


" Kamu tenang aja Aura. Saya dan Suster Lilian udah ngambil cairan dari organ int*m Kamu tadi. Ini bisa jadi salah satu bukti supaya Polisi bisa segera meringkus pelaku..., " kata dokter Siska sambil mengusap kepala Aura dengan lembut.


" Apa cuma itu dok...?" tanya Aura.


" Mmm..., sebenernya masih ada beberapa hal lain. Kami juga harus mengambil gambar dari luka Kamu Aura...," sahut dokter Siska ragu.


" Lakukan dok !. Saya rela asal jangan ada lagi perempuan yang mengalami nasib seperti Saya. Ini menyakitkan sekaligus memalukan dok...," kata Aura sambil terisak.


Lilian dan dokter Siska saling menatap sejenak kemudian keduanya mengangguk.


" Baik lah Aura. Saya akan lakukan semaksimal mungkin. Terima kasih atas kerja samanya...," kata dokter Siska antusias.


" Saya senang bisa membantu. Tapi tolong lakukan diam-diam karena Saya ga mau Papa Saya tau. Saya minta maaf karena Papa Saya marahin dokter tadi...," kata Aura sambil meringis.

__ADS_1


" Gapapa Aura. Saya maklum kok. Itu reaksi wajar orangtua yang sayang sama anaknya. Kalo gitu Saya akan lakukan cepat supaya Papa Kamu ga tambah ngamuk lagi nanti...," kata dokter Siska.


Aura mengangguk dan membiarkan dokter Siska melakukan apa pun pada tubuhnya. Itu semua karena Aura ingin segera menghukum pelaku dan menjebloskannya ke penjara.


\=\=\=\=\=


Setelah membantu mengurus kepulangan pasien bernama Aura, Lilian pun kembali ke ruangan khusus perawat dan bertemu dengan rekan-rekannya di sana.


Rupanya mereka juga tengah asyik membicarakan peristiwa pelecehan yang menimpa pasien Rumah Sakit tempat mereka bekerja. Lilian pun duduk di kursi setelah sebelumnya mencuci tangan di wastafel.


" Gimana Li...?" tanya Devi.


" Udah selesai. Orangtua pasien maksa minta pasien dipulangin malam ini. Gue baru aja nganterin sampe loby...," sahut Lilian.


" Wajar lah. Mungkin dia takut anaknya trauma kalo terus menerus dirawat di Rumah Sakit ini...," kata Fani yang diangguki Lilian.


" Kalo kaya gini terus bisa-bisa semua pasien kabur dan ga mau lagi berobat ke sini...," kata Devi sambil mengusap wajahnya.


" Betul. Padahal keamanan dan kenyamanan pasien adalah faktor penting yang bisa menarik minat orang untuk berobat ke Rumah Sakit ini. Kalo dua hal itu ga ada lagi, jangan harap Rumah Sakit bisa bertahan...," sahut Lilian.


" Jangan-jangan ini perbuatan salah satu pesaing Rumah Sakit ini Li. Mereka ga suka ngeliat Rumah Sakit ini maju dan mulai dikenal orang. Terus mereka sengaja bikin terror yang bisa membuat nama baik Rumah Sakit Sentosa tercemar supaya ditinggalin pasien...," kata Fani.


" Gue juga sempet mikir kaya gitu Fan...," sahut Lilian.


" Sssttt..., ga usah bahas itu lagi. Ada Polisi tuh...," bisik Devi sambil menyilangkan jari telunjuknya di depan bibir.


Lilian dan Fani pun terdiam lalu kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.


Beberapa polisi tampak melangkah kearah ruangan itu. Lilian dan rekannya tahu jika mereka akan kembali diberi pertanyaan yang berkaitan dengan peristiwa yang dialami Aura.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2