Kidung Petaka

Kidung Petaka
208. Oh Gitu...


__ADS_3

Lalu tanpa basa basi ayah Luna menyeret anak perempuannya itu keluar dari kamar. Ia mendorong Luna hingga jatuh tersungkur di lantai tepat di hadapan sang dukun.


" Ini orangnya Kek...," kata ayah Luna.


" Bagus. Ikat di sana dan jangan dilepas sampe Aku kembali...," sahut sang dukun sambil berdiri lalu bergegas keluar rumah.


" Baik Kek...," sahut ayah Luna lalu mulai mengikat sang anak dengan tambang plastik yang biasa digunakan istrinya untuk menjemur pakaian di samping rumah.


" Lepasin Pak, kenapa Aku diikat...?!" kata Luna sambil meronta.


" Berisik !. Sekarang turuti Aku jika Kau ga mau dibilang anak durhaka...!" kata ayah Luna.


Luna pun berhenti meronta dan pasrah saja saat sang ayah mengikatnya dengan erat. Tali tambang plastik itu dililitkan mulai dari dada hingga ke betis Luna hingga membuat gadis itu tak bisa bergerak sama sekali.


Air mata membasahi wajah Luna. Ia sadar jika malam itu hidupnya akan segera berakhir.


Tak lama kemudian sang dukun kembali sambil membawa tas besar. Ia tersenyum saat melihat kondisi Luna yang tergeletak dalam kondisi terikat.


" Anakmu ini masih peraw*n kan...?" tanya sang dukun sambil mengeluarkan sebuah kain panjang dari dalam tas.


" Masih Kek, Saya jamin anak Saya ini masih suci karena dia ga pernah bergaul dengan laki-laki mana pun...," sahut ayah Luna cepat sambil melirik sinis kearah Luna.


" Bagus. Ini persembahan sempurna...," kata sang dukun dengan mata berbinar.


Kemudian sang dukun membentangkan kain panjang besar itu di lantai. Setelahnya kain sepanjang tiga meter itu ditaburi bunga dan disemprotkan minyak wangi.


" Sekarang bantu Aku menggotong anakmu ke atas kain...," kata sang dukun yang diangguki ayah Luna.


Kemudian tubuh Luna di letakkan di ujung kain. Luna hanya pasrah mendapat perlakuan tak manusiawi dari sang ayah. Dan Luna hanya bisa menangis saat tubuhnya dililit kain dengan cara digulingkan di lantai.


" Biadab !. Hentikaaannn...!" kata Rex lantang saat menyaksikan tubuh Lanni terlilit kain hingga ke kepala.


Dan jeritan Rex tadi mengakhiri penglihatannya. Dengan nafas tersengal-sengal dan air mata mengambang di kedua matanya, Rex menggumam prihatin.


Ia membayangkan bagaimana tersiksanya Luna sebelum ajal datang menjemput.


" Subhanallah, laa Haula walaa quwwata ilaa billahil aliyyil adziim. Ya Allah, tolong ampuni Luna dan terima dia di sisi Mu. Al Fatihah...," gumam Rex lalu membaca surah Al Fatihah.


Setelah mengusap wajahnya pertanda selesai dengan doa tulusnya, Rex pun menatap ke sekelilingnya. Rex tak menjumpai apa pun lagi di sana bahkan kain hitam yang tadi digenggamnya pun raib.


Rex menghela nafas panjang lalu melangkah ke rumah. Setelah menutup pintu pagar, ia bergegas menemui kedua orangtuanya.

__ADS_1


" Ayah Ibu...!" panggil Rex lantang dari ambang pintu.


" Ya Allah, ngagetin aja sih. Ada apa Rex...?" tanya Lanni sambil meletakkan gelas berisi kopi di atas meja.


" Maaf Bu. Aku mau tanya sesuatu boleh kan...?" tanya Rex.


" Boleh, tapi ceritain dulu apa yang Kamu temuin di depan rumah tadi...," sahut Lanni.


" Justru yang Aku temuin tadi bakal berhubungan sama pertanyaanku nanti. Ayah sama Ibu harus jujur ya...," pinta Rex hingga membuat Ramon dan Lanni saling menatap sejenak.


" Ok, emangnya apa yang Kamu temuin di depan tadi Rex...?" tanya Ramon.


" Ayah Ibu kenal sama Luna...?" tanya Rex.


" Luna mana, anaknya siapa...?" tanya Lanni.


" Luna kerabat jauh Ibu. Inget ga...?" tanya Rex cepat.


" Oh, kalo yang Kamu maksud Luna kembaran Ibu itu sih Ibu inget. Emang kenapa Kamu nanyain dia...?" tanya Lanni.


" Gimana kondisinya sekarang, Ibu tau ga...?" tanya Rex.


" Mmm..., Ibu kehilangan dia Rex. Waktu Kami menikah aja dia ga datang. Kata orang dia hilang tapi kalo Ibu sih lebih percaya dia kabur. Soalnya Bapaknya galak banget. Kalo Ibu jadi dia, Ibu juga bakal ngambil jalan kaya dia. Kabur ke tempat lain asal jauh dari Bapak yang bengis itu. Sampe sekarang Ibu ga pernah denger kabarnya. Tapi Ibu harap dia hidup bahagia di suatu tempat bersama anak dan suaminya mungkin...," sahut Lanni sambil tersenyum kecut.


" Kamu tau darimana dia ga kabur ?. Emangnya Kamu pernah ketemu sama dia...?" tanya Lanni.


" Harusnya Kamu manggil Tante dong jangan nyebut namanya gitu aja. Dia itu seumuran Ibumu lho Rex...," sela Ramon.


" Iya Yah, maaf...," sahut Rex sambil nyengir.


" Kamu belum jawab pertanyaan Ibu Rex. Kamu tau darimana Luna ga kabur...?" tanya Lanni penasaran.


" Karena Aku ngeliat arwah Tante Luna di depan rumah tadi...," sahut Rex hati-hati.


" A... apa ?!. Arwah Tante Luna. Maksud Kamu Luna udah meninggal Rex ?, kapan...?!" tanya Lanni dengan mata berkaca-kaca.


" Udah lama banget Bu. Jauh sebelum Ayah sama Ibu menikah. Tepat di hari Ayah sama Ibu berkunjung ke rumahnya, hari itu juga jadi hari terakhir Tante Luna hidup. Karena malam harinya Tante Luna meninggal dibunuh sama Bapaknya...," sahut Rex.


" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun...," kata Lanni dan Ramon bersamaan.


" Ibu ga nyangka Paman sekejam itu...," gumam Lanni sambil menangis.

__ADS_1


Ramon pun memeluk sang istri untuk menenangkannya. Kesedihan juga nampak membayang di wajahnya dan itu membuat Rex curiga.


" Ayah juga sedih, apa Ayah...," ucapan Rex terputus karena Ramon memotong cepat.


" Jangan sembarangan nebak Rex. Ayah cuma inget sama ucapannya hari itu. Luna bilang supaya Ayah hati-hati. Dia juga pesen supaya Ayah menjaga Ibu dengan baik. Walau Ayah ga paham sama maksudnya tapi Ayah ngerasa ada sesuatu yang dia sembunyikan...," kata Ramon sendu.


" Tante Luna itu Sayang sama Ibu. Makanya dia bilang begitu sama Ayah. Tante Luna tau ada seseorang yang mencoba menghancurkan hubungan Ayah sama Ibu...," kata Rex hingga membuat Lanni dan Ramon terkejut.


" Siapa yang mau menghancurkan hubungan Kami...?" tanya Lanni.


" Bapaknya Tante Luna...," sahut Rex cepat.


" Masa dia sih...?" tanya Lanni tak percaya.


" Pantesan. Ayah emang sempet curiga sama sikap Bapaknya Luna. Beberapa kali Ayah mergokin dia lagi menatap kearah Ayah dengan tatapan yang sulit dilukiskan...," kata Ramon yang diangguki Rex.


" Terus gimana cara Paman membunuh Luna, Rex...?" tanya Lanni.


" Tante Luna dibungkus dengan cara dililit kain panjang sampe kehabisan nafas Bu. Tante Luna dibunuh untuk dijadiin tumbal. Rupanya Bapaknya Tante Luna itu ikut pesugihan supaya bisa kaya. Awalnya dia bermaksud memutuskan hubungan Ayah sama Ibu karena mau menjadikan Ibu tumbal dan menjebak Ayah untuk menikahi anaknya. Makanya dia memasukkan sejenis ramuan ke dalam minuman supaya Ibu dan Ayah pingsan. Tapi karena usahanya gagal, dia marah dan menjadikan Tante Luna sebagai tumbal...," sahut Rex.


" Subhanallah. Dia sejahat itu...?!" kata Lanni sambil menggelengkan kepalanya.


" Terus apa hubungannya sama hantu pengusung keranda jenasah itu Rex...?" tanya Ramon tak sabar.


" Aku masih harus mencari benang merahnya Yah. Karena ternyata hantu pengusung keranda itu mengejar arwah Tante Luna. Tapi ngeliat arwah Tante Luna ada di sekitar rumah Kita, Aku khawatir itu membahayakan Ayah dan Ibu...," sahut Rex gusar.


" Kok gitu Rex...?" tanya Lanni tak mengerti.


" Karena cuma Kita yang kenal Luna Bu...," kata Ramon menengahi.


" Kalo hantu pengusung keranda itu mengejar Luna, jangan-jangan juga ngejar Kita Yah...," kata Lanni panik.


" Mungkin juga...," sahut Ramon lirih.


" Ya Allah, gimana nih...?!" tanya Lanni bingung.


" Ayah sama Ibu tenang aja. Seperti biasa, jangan lepas dzikir dan jaga amalan aja ya. Insya Allah Aku bakal bantuin sampe tuntas nanti, sampe arwah Tante Luna pergi ke tempat seharusnya...," kata Rex menenangkan sang ibu.


" Iya Nak. Tapi Kamu juga harus hati-hati ya. Jangan sampe karena fokus membantu orang lain justru Kamu mengabaikan keselamatan dirimu sendiri...," kata Lanni sambil memeluk Rex dengan erat.


" Iya Bu...," sahut Rex sambil balas memeluk sang ibu.

__ADS_1


Ramon pun tersenyum melihat anak istrinya saling memeluk. Meski pun gundah, namun Ramon berusaha tenang karena yakin sang anak akan bisa menemukan solusi yang terbaik nanti.


bersambung


__ADS_2