Kidung Petaka

Kidung Petaka
75. Bubuk Apa ?


__ADS_3

Sebelum jenasah Reni dibawa ke kamar jenasah, polisi meminta pihak Rumah Sakit mengadakan otopsi pada jenasah Reni.


Taufan memerintahkan beberapa orang anak buahnya berjaga di Rumah Sakit untuk mengawal jalannya otopsi. Sedangkan dia membuka rekaman suara almarhumah Reni bersama Rex, Gama, Lilian dan beberapa anggota polisi di ruangan kerjanya.


Lilian sengaja dihadirkan sebagai saksi kematian Reni sekaligus untuk membantu membaca catatan yang ditulisnya dengan terburu-buru tadi. Sedangkan Rex dan Gama dengan senang hati mengawal Lilian karena mereka juga ingin tahu apa yang akan polisi lakukan selanjutnya.


" Jadi bisa ceritakan kenapa Suster Lilian bisa berada di kamar rawat inap almarhumah Reni...?" tanya salah satu polisi.


" Saat pasien Reni dibawa ke Rumah Sakit, kondisinya memang sudah sangat lemah. Dokter piket langsung memberikan pertolongan pertama dan Alhamdulillah kondisinya perlahan membaik...," sahut Lilian.


" Setelah membaik pasti langsung dipindah ke ruang rawat inap. Bukan begitu Suster Lilian...?" tanya polisi.


" Betul Pak. Pasien Reni dipindahkan ke ruang rawat inap. Saya dan dua teman Saya ditugaskan mengawasi perkembangan kesehatan pasien Reni secara bergantian. Saya kebagian shift terakhir yaitu menjelang Subuh. Saat Saya datang pasien Reni keliatan kesulitan bernafas. Saya langsung menghubungi dokter dan pasien Reni pun cepat ditangani. Karena pagi itu Rumah Sakit sedang sibuk, maka Saya berinisiatif menemani pasien Reni hingga perawat lain datang. Itu pun atas persetujuan dokter yang menangani pasien Reni...," sahut Lilian.


" Dengan kata lain pasien Reni sempat kritis dua kali. Begitu kan Suster...?" tanya polisi lain yang diangguki Lilian.


" Sekitar jam delapan pagi pasien Reni siuman. Saya menyuapi dia makan sambil mendengarkan dia bicara banyak hal. Makanan belum habis tapi pasien Reni terlihat melemah. Saya ingat jika pasien Reni adalah pasien titipan kepolisian. Makanya Saya buru-buru mencatat kalimat yang dia ucapkan. Saya yakin itu berkaitan dengan kasus yang menyeret namanya...," kata Lilian sambil mengusap ujung matanya yang basah.


" Terus...?" tanya Taufan.


" Suaranya makin melemah dan nyaris ga terdengar. Selain itu dia kesulitan bernafas. Selanjutnya Saya merekam suara pasien Reni dengan ponsel Saya dan berharap bisa membantu Polisi menangkap orang yang melukai Reni. Setelah mengatakan kalimat yang panjang, pasien Reni tersenyum. Saya membimbingnya membaca kalimat tahlil karena tau dia akan pergi. Setelah mengucapkan terima kasih dan tahlil, pasien Reni pun meninggal dunia. Bertepatan dengan meninggalnya pasien Reni, Pak Taufan dan Pak Rex datang berkunjung...," kata Lilian mengakhiri ceritanya.


" Baik, terima kasih Suster Lilian...," kata polisi yang juga anak buah Taufan itu sambil tersenyum.


" Sama-sama Pak...," sahut Lilian.


" Sekarang Kita liat catatan Kamu ya Li...," kata Taufan sambil mulai membaca tulisan tangan Lilian.


Saat itu Taufan tampak kesulitan karena tulisan tangan Lilian memang terlihat seperti benang kusut.


" Bisa ga...?" ledek Rex sambil tertawa.

__ADS_1


" Aduh, nyerah Gue. Tulisan Kakak Lo ini ajaib banget...," sahut Taufan sambil meletakkan buku tersebut di atas meja.


Ucapan Taufan membuat Rex, Gama dan Lilian tertawa.


" Coba Gue liat...," sela Gama sambil meraih buku Lilian dengan cepat.


" Sok tau !. Ga usah Lo yang baca Gam, di sini ada Lilian yang bakal bacain...," kata Taufan sambil mendelik kesal.


Gama tak peduli. Dengan santai ia mulai membaca tulisan Lilian. Taufan tampak melengos karena yakin Gama hanya asal membaca. Tapi Rex dan Lilian nampak membulatkan mata karena terkejut mengetahui Gama mampu membaca tulisan Lilian dengan baik.


" Yang Gama bilang bener Mas...!" kata Lilian hingga membuat Taufan menoleh.


" Jadi Gama beneran bisa baca tulisan Kamu Li. Kok bisa...?" tanya Taufan tak percaya.


" Kami tumbuh dan besar bersama, jadi Kami sudah saling mengenal karakter huruf atau tulisan masing-masing walau pun ditulis secara acak...," sahut Rex menjelaskan.


" Ok, kalo gitu tolong bacain ya Gam...," pinta Taufan yang diangguki Gama.


" Boleh Li. Kamu pasti capek abis shift malam. Makasih ya udah bantuin tugas polisi. Biar nanti diantar salah satu anak buahku ya, bahaya kalo naik Taxi dalam kondisi mengantuk Li. Khawatir terjadi tindakan asusila...," kata Taufan.


" Taufan bener Kak...," sela Rex cepat.


" Iya deh, terserah aja. Sekarang ya Mas...," pinta Lilian.


Taufan mengangguk lalu memanggil salah seorang anak buahnya dan memintanya mengantar Lilian. Setelahnya ia kembali fokus membuka catatan dan rekaman suara milik Reni itu.


Gama pun kembali membacakan catatan Lilian. Walau ditulis secara acak tapi Lilian menulis cerita dengan teratur dan mudah dipahami.


Semua berawal di hari dimana Hamidah meminta Reni meletakkan bubuk aneh di sekitar kios mie ayam langganan Lilian itu.


" Itu bubuk apaan dan kenapa harus disebar di sana Midah...?" tanya Reni.

__ADS_1


" Ini bubuk ajaib yang bakal bikin kios ini rame Ren. Udah buruan sana...!" paksa Hamidah.


" Bubuk ajaib, maksud Kamu bubuk ini udah dimantrai?. Disebar di sana supaya kios itu ditinggal pembeli. Gitu kan Midah ?. Kalo itu Aku ga mau, itu musyrik namanya Midah...!" tolak Reni.


" Jangan sok suci deh Ren. Kita sama-sama tau kalo penghasilan Kita ga pernah bisa meningkat karena omset penjualan kios baso ini ga ada kemajuan. Kita ga pernah dapat tip apalagi bonus dari Bos karena kios ini sepi pembeli. Kamu sih enak, gajimu lebih besar walau pun cuma pelayan...!" kata Hamidah kesal.


" Aku cuma mau kerja bener dan halal Midah. Bos udah baik hati menggaji Kita tepat waktu, itu aja Aku bersyukur banget...," sahut Reni.


" Iya iya, udah selesai kan ngomongnya. Sekarang jalan ke sana dan sebar bubuk ini. Jangan membantah kalo ga mau cowokku bertindak kasar sama Kamu...," ancam Hamidah sambil menunjuk ke bawah pohon dimana Codot berdiri sambil menatap tajam kearahnya.


Dengan berat hati Reni melangkah mendekati kios mie ayam yang saat itu ramai pengunjung. Reni nampak ragu karena melihat seorang ibu yang tengah menggendong balita masuk ke dalam kios mie ayam itu. Reni menoleh kearah Hamidah yang menatap garang kearahnya seolah minta agar Reni segera menyelesaikan tugasnya.


Reni pun berjalan memutar ke samping kios dimana dapur kios mie ayam itu berada. Diam-diam ia menaburkan bubuk ajaib itu lalu bergegas pergi dari sana.


Ternyata baru beberapa langkah Reni meninggalkan kios mie ayam, ledakan pun terjadi. Dalam sekejap terdengar jeritan minta tolong dari dalam kios mie ayam itu. Reni terkejut dan tak menyangka jika bubuk yang ia taburkan bisa mengakibatkan ledakan.


Reni berlari cepat kearah kios baso dan melihat Hamidah sedang tertawa. Hamidah menghentikan tawanya saat Reni mendekatinya.


" Katakan, bubuk apa itu Midah...?!" tanya Reni sambil menarik baju Hamidah.


" Bubuk pembuat petasan...," sahut Hamidah cepat.


Hamidah belum menyelesaikan kalimatnya saat ledakan kedua terjadi disertai kobaran api yang membakar kios mie ayam itu. Tak lama kemudian dinding kios itu pun runtuh bersama dengan lenyapnya suara jeritan para korban yang terperangkap di dalam kios.


Reni pun menjerit dan menangis saat mengingat dirinya lah pelaku utama ledakan yang menewaskan belasan orang itu. Dan itu menjadi penyesalan terbesar untuk Reni di sepanjang sisa hidupnya.


" Bubuk petasan itu ditaburkan di samping kios dimana ada kompor menyala. Jelas aja api kompor langsung menyambar dan menimbulkan ledakan...," kata Gama kesal.


Rex, Taufan dan beberapa polisi nampak terhenyak di tempat masing-masing usai mendengar Gama membaca catatan milik Lilian.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2