
Setelah mendapat 'lampu hijau' dari Rex, Bobi pun makin giat mengejar cinta Lilian. Ia mulai sering menampakkan diri di sekitar Lilian hingga membuat gadis itu bingung.
Aksi nekad Bobi tentu saja membuat Lilian tersanjung. Namun saat Lilian teringat sikap keras Bobi pada Oki, Lilian ragu untuk membuka hatinya. Sikap ragu-ragu Lilian pun membuat rekan seprofesinya gemas.
" Ngapain masih di sini Li ?. Sana pulang...!" usir rekan Lilian bernama Devi.
" Ish, jahat banget sih Lo. Gue mau di sini sebentar lagi Dev...," kata Lilian.
" Ngapain di sini ?. Kan shift Lo udah selesai daritadi...," sahut Devi.
" Gue mau nemenin Lo Dev. Emangnya Lo ga mau Gue temenin...?" tanya Lilian.
" Ga perlu Li. Temen Gue udah banyak di sini...," sahut Devi cepat.
" Sombong banget sih Lo...," kata Lilian kesal sambil mencubit lengan Devi hingga membuat perawat bertubuh tambun itu menjerit.
" Sakit Lian...!" kata Devi.
" Rasain...," sahut Lilian cuek.
" Lo di sini tuh cuma bikin penuh ruangan aja tau ga. Lagian itu kan cuma alasan Lo aja buat menghindari cowok tinggi di depan sana itu...," kata Devi ketus.
Lilian nampak menghela nafas karena tak bisa menutupi niatnya. Kemudian Lilian pun menceritakan penyebab dari aksinya menghindari Bobi.
" Salah paham aja kali Lo...," sela Fina yang sejak tadi ikut mendengarkan cerita Lilian.
" Betul Fin. Gue pikir juga gitu...," kata Devi.
" Kan adik Lo juga bilang kalo dia lagi berusaha menjadi Kakak yang baik. Yah, mungkin selama ini dia lalai menjaga adiknya atau terlalu fokus sama dirinya sendiri. Jadi ga ada salahnya kan kalo Lo kasih dia kesempatan buat deketin Lo. Atau jangan-jangan Lo ga mau karena udah punya gebetan lain...?" tanya Fina.
" Ada sih, tapi ga senekad dia...," sahut Lilian malu-malu.
" Kalo Lo ga mau sama dia, gimana kalo Gue sama Fina yang maju. Lumayan kan Li punya cowok tentara, udah ganteng keren pula...," kata Devi sambil menarik turunkan alisnya.
" Jangan !. Awas aja kalo Lo berdua berani nelikung Gue...!" kata Lilian sambil memasang wajah super galaknya.
Fina dan Devi pun tertawa lalu mendorong tubuh Lilian agar segera keluar dari ruangan.
" Pake jaim segala. Udah sana, ntar keburu digebet cewek lain lho. Kalo udah kaya gitu nyesel pun ga ada gunanya tau ga...?!" kata Fina kesal.
" Iya iya. Gue balik duluan ya. Assalamualaikum...! " pamit Lilian lantang sambil melangkah cepat meninggalkan Devi dan Fina.
__ADS_1
" Wa alaikumsalam, semangat ya Lian...!" sahut Devi dan Fina bersamaan.
Lilian pun melambaikan tangannya sambil tertawa.
Sambil terus melangkah Lilian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Dia mencari Bobi di tiap sudut Rumah Sakit namun nihil. Ia tak melihat keberadaan Bobi di sana.
" Kok ga ada. Jangan-jangan udah pulang ya. Tapi biasanya kan dia nungguin Gue keluar baru ikutan pulang...," batin Lilian sedikit kecewa.
Lilian pun memperlambat langkahnya sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Lilian mengecek ponselnya karena mengira Bobi akan menghubunginya seperti biasa. Namun lagi-lagi Lilian tak mendapati nama Bobi di daftar panggilan. Lilian pun menghela nafas panjang lalu melangkah keluar Rumah Sakit.
Kemudian Lilian menghentikan Taxi yang kebetulan melintas. Ia duduk dengan nyaman di dalam Taxi setelah menyebutkan alamat rumahnya. Sambil memejamkan mata Lilian pun mengingat kembali awal dimana Bobi datang ke Rumah Sakit untuk menjemputnya.
" Li ada yang nyari tuh...!" kata suster Fina saat Lilian melintas di depan meja receptionist.
" Siapa...?" tanya Lilian.
" Cowok Li, masih muda plus ganteng...," sahut Fina sambil tersenyum.
" Cowok ?. Siapa yaa...?" tanya Lilian mencoba mengingat jika dirinya ada membuat janji dengan seseorang.
" Tentara Li, keren banget...," kata Fina lagi.
" Bukan Rex, Li. Kalo si Rex kan Gue kenal. Bajunya sama kaya yang biasa dipake Rex gitu. Apa sih namanya...," kata Fina.
" Bukan Rex, maksud Lo cowok tinggi yang kulitnya gelap dan bermata sipit...?" tanya Lilian.
" Cieee..., sampe detail gitu nyebutnya. Iya sih, emang dia orangnya. Emang siapa dia Li, cowok Lo ya...?" tanya Fina penasaran.
" Bukan !. Itu cuma orang iseng...," sahut Lilian.
" Mana mungkin iseng sih. Kan dia pake seragam tentara...," kata Fina tak percaya.
" Terserah kalo Lo ga percaya. Ntar kalo dia nanyain Gue lagi, bilang aja ga liat atau apa kek gitu...," sahut Lilian sambil melangkah cepat menjauhi Fina.
" Ck, paling males kalo suruh bohong kaya gini. Lilian...!" panggil Fina lantang namun diabaikan oleh Lilian.
Dan setelah hari itu Lilian terus menghindari Bobi. Meski pun tahu Lilian menghindarinya, namun Bobi tak patah arang. Ia terus datang untuk bertemu Lilian. Hanya sesekali Bobi berhalangan hadir karena harus menyelesaikan tugasnya.
Sekarang Lilian merasa menyesal karena terlalu lama mengabaikan Bobi. Namun gengsinya yang tinggi membuat Lilian enggan mengakuinya.
" Kenapa sih Gue ini. Kalo dia ada, dicuekin. Pas dia ga ada, eh malah nyariin...," gumam Lilian kesal.
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah motor menghimpit Taxi yang ditumpangi Lilian hingga membuat supir Taxi panik dan Taxi pun sedikit oleng.
" Ada apa Pak, kok jalannya belok-belok gini. Apa ada ban yang bocor ya...?!" tanya Lilian.
" Bukan Mbak. Itu di samping ada motor yang mau nyalip. Dikasih jalan ga mau, tapi mepet terus daritadi...," sahut supir Taxi.
Lilian pun menoleh ke samping dan melihat seorang pengendara motor melaju di samping Taxi. Sang pengendara motor juga mengetuk kaca mobil hingga membuat Lilian sedikit gentar.
" Kayanya dia manggil nama Mbak tuh. Mbak kenal ga sama dia...?" tanya supir Taxi sambil terus melajukan kendaraannya.
" Ga kenal Pak...," sahut Lilian cepat.
" Yakin Mbak ?. Kayanya bukan orang jahat kok...," kata supir Taxi.
" Darimana Bapak tau kalo dia bukan orang jahat...?" tanya Lilian.
" Tentara itu kan pelindung negara Mbak. Mana mungkin dia mau melukai rakyat biasa kaya Kita...," sahut sang supir Taxi.
Jawaban supir Taxi mengejutkan Lilian. Ia mengamati pakaian sang pengendara motor dan tersenyum saat mengenali pria itu adalah Bobi.
" Berhenti Pak, dia memang teman Saya...!" pinta Lilian.
" Siap Mbak...," sahut supir Taxi lalu segera menepikan mobilnya di pinggir jalan.
Setelah Taxi berhenti, sang pengendara motor yang tak lain adalah Bobi itu pun turun mendekati pintu belakang Taxi. Lilian bergegas memperlihatkan wajahnya tanpa membuka pintu Taxi.
" Ada apa Bob...?" tanya Lilian dengan jantung berdetak cepat.
" Bisa Kita bicara sebentar Li...?" tanya Bobi penuh harap.
" Sekarang...?" tanya Lilian.
" Iya...," sahut Bobi cepat.
" Mmm..., boleh. Kamu tunjukin aja tempatnya dimana. Biar Aku nyusul pake Taxi...," kata Lilian hingga membuat Bobi tersenyum.
" Ok, di kafe depan ya...," kata Bobi yang diangguki Lilian.
Bobi pun kembali melajukan motornya. Kali ini dengan kecepatan sedang sambil memimpin arah. Dan tak lama kemudian Bobi berhenti di depan sebuah kafe.
\=\=\=\=\=
__ADS_1