Kidung Petaka

Kidung Petaka
93. Dilema


__ADS_3

Lilian tiba di rumah dan langsung membuka pintu rumah. Nafasnya tersengal-sengal seolah usai lari marathon ribuan kilo meter.


Lilian duduk di sofa ruang tamu sambil meluruskan kedua kakinya yang terasa kram karena berjalan dari rumah Gama tadi. Padahal jarak dari rumah Gama ke rumah orangtuanya tidak terlalu jauh.


" Kenapa sih, seneng banget bikin jantungan. Kayanya emang ada yang ga beres sama si Gama. Masa dia mau nyium Gue lagi. Eh, benerkan ?. Gue ga salah kan kalo ngerasa Gama hampir nyium Gue tadi...?" gumam Lilian sambil menggelengkan kepala.


Lilian meraba dadanya untuk menetralisir detak jantungnya yang berpacu cepat.


" Ya Allah, kenapa nih jantung jadi ga normal gini detaknya. Ada apa ya. Atau jangan-jangan ...," gumaman Lilian terhenti saat mendengar suara gaduh dari tengah rumah.


Lilian menoleh ke dalam ruangan melalui ambang pintu tengah dan tak melihat apa pun di sana. Lilian kembali menegakkan tubuhnya dan kembali ke posisi duduknya semula. Namun ia terkejut saat ekor matanya menangkap sosok putih besar tengah berdiri di depan kamar Rex.


Lilian kembali menoleh sambil menajamkan penglihatannya namun lagi-lagi ia tak melihat apa pun di sana.


Karena merasa tak nyaman, Lilian pun bergegas menghubungi Rex dan memintanya pulang. Kemudian Lilian memutuskan menunggu Rex di teras rumah.


Tak lama kemudian Rex tiba dan itu membuat perasaan Lilian membaik.


" Kenapa di luar Kak...?" tanya Rex.


" Aku ga nyaman di dalam sendirian. Soalnya Aku ngeliat poci tadi di depan kamar Kamu. Mungkin ada sesuatu yang mau dia sampein sama Kamu. Coba Kamu cek aja sendiri...," sahut Lilian.


Rex bergegas masuk ke dalam usai mendengar 'laporan' sang kakak. Saat tiba di dalam Rex memang melihat sosok pocong menghilang menembus dinding kamarnya.


Melihat kondisi pocong yang lusuh itu, membuat Rex mengerti darimana bau tak sedap yang mengganggunya itu berasal.


" Jadi dia rupanya...," gumam Rex.


Kemudian Rex melangkah mendekati kamarnya sambil berdzikir dalam hati. Saat membuka pintu kamar Rex melihat jika pocong lusuh itu berdiri menghadap jendela.


" Kamu yang menggangguku sejak semalam kan. Katakan apa maumu atau pergi lah dan jangan mengacau di sini...," tegur Rex sambil berdiri siaga di ambang pintu.


Pocong itu perlahan memutar kepalanya lalu tersenyum walau pun bisa disebut menyeringai lebih tepatnya. Saat itu Rex melihat wajah yang hancur tergerus tanah, coklat berlendir dan bau. Namun kedua mata pocong itu menyorot sendu seolah tak berdaya. Sesaat kemudian pocong itu menghilang entah kemana.


" Ya Allah, apalagi ini...," batin Rex sambil meraih sapu lidi pembersih tempat tidur.


Kemudian Rex mengibaskan sapu lidi itu ke seluruh penjuru ruangan sambil membaca taawudz, Al Fatihah, ayat Kursi dan sholawat. Rex juga menyempotkan pengharum ruangan untuk menetralisir bau tak sedap yang ditinggalkan pocong itu.

__ADS_1


Setelahnya Rex menutup pintu kamar dan berjalan mendekati Lilian yang masih duduk menunggu di teras rumah.


" Alhamdulillah udah pergi Kak. Kayanya itu cuma poci nyasar aja kok...," kata Rex sambil duduk di samping Lilian.


" Alhamdulillah. Tapi tetep aja nakutin Rex...," sahut Lilian.


" Iya sih. Untung Kakak yang ngeliat, kalo cewek lain mah dijamin udah teriak plus kabur tadi...," kata Rex sambil tertawa kecil.


" Pekerjaanku kan memang secara ga langsung berhubungan dengan hal ghaib Rex. Udah jadi rahasia umum kalo Rumah Sakit itu serem saat malam hari. Ngeliat penampakan poci kaya gitu mah udah wajar buat perawat kaya Kakak. Jangan ditanya apa aja yang bisa Kami temui saat dinas malam hari...," sahut Lilian santai sambil melihat-lihat pesan yang masuk ke ponselnya.


Dalam hati Rex bangga dengan keberanian dan ketenangan Lilian menghadapi situasi yang menakutkan itu. Harus Rex akui jika sang kakak memang berbeda dengan wanita lainnya.


" Sebentar, Kamu bilang itu pocong nyasar Rex ?. Menurut Kamu ada hubungannya ga sama mimpi Kakak tadi...?" tanya Lilian tiba-tiba.


" Mimpi Kakak yang dikejar cowok ga dikenal berpakaian lusuh itu...?" tanya Rex.


" Iya...," sahut Lilian cemas.


" Aku ga tau Kak. Poci itu pergi gitu aja. Mungkin dia masih butuh waktu buat ceritain maksud kedatangannya...," kata Rex.


Lilian pun mengangguk walau sedikit kecewa dengan jawaban Rex. Tiba-tiba Rex teringat dengan pengakuan Gama tadi dan berniat mencari jawaban dari pertanyaan yang ada di benaknya.


" Hmmm...," sahut Lilian sambil menoleh kearah Rex.


" Apa Kakak merasa ada yang janggal sama sikap Gama ke Kakak selama ini...?" tanya Rex hati-hati.


Pertanyaan Rex mengejutkan Lilian. Namun gadis itu berusaha tenang dan tak terpancing dengan pertanyaan sang adik.


" Biasa aja tuh. Kenapa emangnya...?" tanya Lilian.


" Seandainya Gama suka sama Kakak gimana ?. Maksudku suka sebagai pria normal yang naksir cewek ya Kak. Gimana Kak...?" tanya Rex.


" Ya gapapa, itu kan hak dia. Kakak ga bisa ngelarang orang buat suka sama Kakak kan Rex...?" kata Lilian bijak.


" Iya sih. Apa Kakak juga suka sama Gama...?" tanya Rex penasaran.


" Kenapa Kamu tanya gitu Rex...?" tanya Lilian sambil menatap Rex lekat.

__ADS_1


" Aku ga sengaja liat apa yang Kakak dan Gama lakukan tadi...," sahut Rex sambil membuang pandangannya kearah lain.


" Emangnya apa yang Kamu liat...?" tanya Lilian cemas.


" Kakak sama Gama hampir ciuman tadi...," sahut Rex cepat.


" Kami ga ciuman Rex. Gama yang hampir nyium Kakak...," protes Lilian.


" Iya iya. Itu maksudku. Gama udah ngakuin semuanya, sekarang tinggal Kakak...," kata Gama.


" Gama ngakuin apa Rex...?" tanya Lilian penasaran.


" Ngakuin kalo dia suka sama Kakak layaknya pria suka sama wanita Kak. Dengan kata lain Gama mencintai Kakak...!" sahut Rex hingga membuat Lilian terkejut.


" Gama bilang gitu Rex...?" tanya Lilian tak percaya.


" Iya Kak...," sahut Rex mantap.


Lilian menghela nafas panjang sambil bersandar ke sandaran kursi. Tatapannya menerawang jauh seolah sedang mencari jawaban dari rasa gundahnya selama ini.


" Kak Lian...," panggil Rex.


" Iya Rex. Makasih atas infonya. Tolong jangan paksa Kakak untuk menjawab pertanyaan Kamu ya. Kakak masih harus memikirkan semuanya baik-baik supaya ga salah langkah. Kakak ga mau hubungan baik keluarga Kita dan keluarga Gama jadi rusak gara-gara perasaan tak wajar ini. Sekarang Kakak mau istirahat dulu ya Rex...," kata Lilian sambil tersenyum.


Kemudian Lilian bangkit dari duduknya. Ia mengusap kepala Rex dengan sayang sebelum masuk ke dalam rumah.


" Ya Allah, tolong jaga hubungan keluarga Kami dengan keluarga Gama apa pun yang terjadi nanti. Semoga Kami bisa tetap dekat meski pun mereka ga berjodoh. Aamiin...," doa Rex dalam hati.


Saat ini Rex memang tengah dilema karena berada diantara Lilian dan Gama. Ia menyayangi kakak dan sahabatnya itu dan ingin yang terbaik untuk mereka.


Sedangkan di kamar Lilian, gadis itu nampak membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Ada desiran aneh menyelinap di hatinya saat mengetahui Gama mencintainya.


" Jadi yang dia bilang supaya ga nikah sama orang lain itu adalah ungkapan hatinya ?. Dan ciuman itu. Pasti dia sengaja melakukannya karena memang ingin dan bukan karena khilaf...," gumam Lilian sambil mengepalkan tangannya.


Tiba-tiba setetes air mata jatuh di wajah Lilian. Dan sesaat kemudian Lilian pun mulai menangis. Lilian tak mengerti mengapa ia menangis. Yang Lilian tahu saat ini hatinya sedang kacau mencari pegangan.


Lilian menghentikan tangisnya saat adzan Ashar berkumandang. Ia bangkit dari posisi berbaringnya sambil mengusap wajahnya yang basah itu dengan punggung tangannya.

__ADS_1


Setelahnya Lilian melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu. Lilian merasa harus mengadukan semua keluh kesahnya kepada Allah Yang Maha Hidup. Dan Lilian berharap bisa segera mendapat petunjuk bagaimana cara menghadapi Gama setelah sholat Ashar nanti.


bersambung


__ADS_2