Kidung Petaka

Kidung Petaka
97. Namanya Martin


__ADS_3

Rex bergegas keluar kamar lalu berlari cepat menuju ke samping rumah untuk mengejar pocong misterius itu. Beruntung saat Rex tiba di samping rumah pocong itu masih berdiri di sana seolah memang sedang menunggu Rex.


" Katakan apa maumu dan ga usah main kucing-kucingan lagi !. Jangan membuatku kesal dan melakukan sesuatu yang bakal membuatmu kesakitan nanti...!" kata Rex kesal walau ia tak tahu hal macam apa yang bisa menyakiti makhluk halus di depannya itu.


Aneh. Pocong itu menundukkan kepalanya seperti menyesal telah mengganggu Rex. Lalu perlahan pocong itu menghadapkan tubuhnya kearah Rex yang entah mengapa mendadak membuat Rex merasa iba.


Rex menghela nafas panjang lalu mengatakan sesuatu.


" Baik lah. Jika Kamu ga siap atau ga bisa menceritakannya semua sekarang. Tapi tolong jangan terus menampakkan diri di sekitar Kami atau masuk melalui mimpi Kakakku. Kasian dia ketakutan. Itu akan berpengaruh pada kesehatannya nanti. Kamu mengerti kan...?" tanya Rex hati-hati.


Pocong itu mengangguk lalu lenyap, menghilang tanpa bekas. Rex hanya menggelengkan kepala karena gagal mengetahui niat terselubung si pocong misterius itu.


Setelah memastikan pocong itu tak ada lagi di sana, Rex memutuskan kembali ke kamarnya. Setelah berwudhu Rex berbaring lalu memejamkan matanya.


Dalam tidurnya Rex kembali ditemui sosok pocong misterius itu. Kali ini sosok pocong itu menemui Rex dalam wujud yang berubah-ubah. Kadang sebagai pocong kadang sebagai manusia berjenis kelamin laki-laki.


Setelah menampakkan diri dalam bentuk yang berubah-ubah, akhirnya dia mendekati Rex dalam wujud manusianya.


" Terima kasih sudah mau menerima kehadiranku...," kata pria berpakaian lusuh itu setengah berbisik.


" Jangan berterima kasih padaku. Aku tak melakukan apa-apa untukmu...," sahut Rex sambil menatap pria di hadapannya dengan lekat.


" Tapi Aku yakin Kamu pasti akan melakukan sesuatu untuk membantuku...," kata pria itu.


" Oh ya. Melakukan apa misalnya...?" tanya Rex penasaran.


" Kakakmu...," sahut pria itu ambigu.


" Kakakku...?" ulang Rex tak mengerti.


" Iya, Lilian. Aku menyukainya...," sahut pria itu sambil tersenyum.


" Tapi dia takut saat melihatmu. Kau menerrornya dengan kehadiranmu yang tak lazim itu...," kata Rex mengingatkan.


" Aku hanya ingin bicara dengannya. Kenapa harus takut...?" tanya pria itu tak mengerti.

__ADS_1


" Wajar jika dia takut karena Kamu mengejarnya bahkan menghadang langkahnya di ujung jalan...," sahut Rex sambil mencibir hingga membuat pria itu tersenyum.


" Itu karena Kakakmu berjalan terlalu cepat. Karena khawatir tertinggal, makanya Aku memutuskan menunggunya di ujung jalan. Ga nyangka tindakanku malah bikin dia takut...," kata pria itu sedih.


" Jangan menyukai Kak Lian, apa pun alasannya...!" kata Rex tegas hingga membuat pria itu terkejut.


" Kenapa...?" tanya pria itu tak mengerti.


" Kalian, maksudku Kita beda alam. Itu akan sulit dan justru membuat Kak Lian sakit nanti...," sahut Rex cepat.


" Kenapa sulit sekali mencintai seseorang dengan tulus dan tanpa pamrih...," gumam pria itu sedih.


" Mencintai tanpa pamrih artinya tak mengharap imbalan. Kamu bisa tetap mencintainya tapi jangan berharap dia membalas perasaanmu. Kak Lian ga akan bisa dan Aku ga mengijinkan itu terjadi. Kamu paham kan maksudku...?" tanya Rex penuh harap.


" Jadi maksudmu Aku hanya bisa mencintai dia dalam diam dan dari kegelapan ?. Keliatannya bukan hal yang buruk. Baik lah, Aku akan mencintai Lilian dari jauh dengan cara mengawasi pergerakannya dan menjaganya...," sahut pria itu sambil tersenyum penuh makna.


" Kamu ga perlu menjaganya. Sudah ada yang mengawasi dan menjaga Kakakku yaitu Allah Subhanahu wata'ala...," kata Rex tegas.


" Hmmm..., ternyata Kamu memang ga percaya sama Aku...," kata pria itu dengan nada kecewa.


Rex sengaja mengatakan itu karena ingin tahu lebih jauh siapa sesungguhnya pria itu. Kenapa selalu berada di sekitarnya dan kakaknya.


" Itu karena laki-laki berbadan gemuk itu...," kata pria itu dengan enggan.


" Memangnya kenapa dia...?" tanya Rex penasaran.


" Cari tau aja sendiri...," sahut pria itu sambil melengos.


" Ok. Biar nanti Aku cari tau. Sekarang pergi lah, jangan di sini apalagi mengganggu Kakakku...," usir Rex.


Pria itu tersenyum lalu berjalan. Makin lama makin jauh hingga membuat Rex menggelengkan kepalanya. Kemudian Rex memutar badannya untuk berjalan kearah lain saat sebuah suara gaduh disertai klakson mobil terdengar memekakkan telinga. Rex pun refleks menoleh dan terkejut saat melihat pria yang tadi bicara dengannya tengah terkapar bersimbah darah.


Rex bergegas berlari menghampiri pria itu. Namun langkahnya terhenti saat ia merasa ada tirai tipis transparan yang menghalanginya untuk mendekati pria itu. Rex berusaha menembus tirai penghalang itu tapi tak bisa, sedangkan pria itu nampak mengerang kesakitan dengan darah yang mulai menggenangi tubuhnya. Dari tempatnya berdiri Rex bisa melihat sepasang pria dan wanita keluar dari dalam mobil.


" G*la !. Kau menabraknya...!" jerit wanita itu panik.

__ADS_1


" Jangan ribut !. Aku hanya ingin membantunya pergi secepat mungkin...!" kata pria itu dengan santai.


" Tapi haruskah seperti ini. Bagaimana pun dia Suamiku, Kakak kandungmu Dion...!" kata wanita itu histeris.


" Kau itu kekasihku, bagaimana bisa Kau meratapi laki-laki lain di depanku Clara...?!" bentak Dion marah.


" Dia Suamiku Dion, Suamiku...!" jerit wanita itu lalu berlari mendekati pria yang terkapar itu.


Dion mendengus kesal melihat wanita yang diklaim sebagai kekasihnya itu menangisi pria yang adalah kakak kandungnya, Martin.


" Cla... Clara. Ke... na... pa...?" tanya Martin terbata-bata.


" Maafkan Aku Martin, maaf...," sahut Clara mulai menangis.


" Kau dan Di... on...?" tanya Martin sambil meneteskan air mata.


" Iya Martin. Aku dan Dion memang kembali bersama. Kami saling mencintai Martin, maaf...," sahut Clara sambil terisak.


" Bagaimana bisa Kamu mengkhianati Aku setelah banyak hal yang Kulakukan untukmu Clara...," kata Martin lirih.


" Aku tau, maaf...," sahut Clara.


" Bagaimana dengan Celia. Dia pasti kecewa jika tau Ibu yang dibanggakannya tak lebih dari seorang pela*ur...," kata Martin sambil tersenyum sinis.


" Celia anak yang pintar, dia pasti memaafkan Kami Martin. Lagi pula dia Anakku bukan Anakmu...," kata Dion tak sabar hingga membuat Martin terkejut bukan kepalang.


" Apa itu be... nar Clara...?" tanya Martin.


" Iya Martin...," sahut Clara cepat.


" Aku tak percaya Kau sejahat ini Clara...," kata Martin sambil menangis tanpa suara.


" Kau harus percaya Martin. Bagaimana Clara bisa hamil dan melahirkan jika Kau hampir tak pernah menyentuhnya. Kau pikir siapa yang menemaninya dan menghangatkan ranjang Kalian saat Kau sibuk di luar sana. Itu Aku Martin, Aku...!" kata Dion lantang.


Ucapan Dion membuat Martin menjerit marah. Ia merasa bodoh karena telah merawat dua ular berbisa di rumahnya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2