Kidung Petaka

Kidung Petaka
76. Dua Bukti


__ADS_3

Setelah beberapa saat terdiam, Taufan pun kembali menatap Gama dan memintanya untuk melanjutkan bacaannya.


" Masih shock Gue setelah tau ada bubuk pembuat petasan dijadiin bahan untuk menghancurka tempat usaha orang...," kata Gama sambil meraba dadanya yang berdebar itu.


" Cuma orang sakit jiwa yang punya pikiran jahat dan ngelakuin itu semua. Orang sakit jiwa itu udah pasti Hamidah sama Codot. Karena ga mau menanggung resiko, mereka melibatkan Reni...," kata Rex sambil mengepalkan tangannya.


" Jadi Reni juga korban karena dia melakukan itu di bawah ancaman. Tapi Kita belum tau apa yang terjadi selanjutnya. Coba tolong terusin Gam...," pinta Taufan yang diangguki Gama.


Sehari setelah ledakan, kios baso tempat Reni dan Hamidah bekerja memang ramai dikunjungi pembeli. Mereka datang bukan untuk makan tapi untuk melihat langsung lokasi ledakan yang viral di semua media tanah air itu.


Reni, Hamidah dan teman-teman sesama karyawan di kios baso itu dibuat sibuk hingga tak sempat ngobrol. Hal itu menguntungkan Reni karena ia tak harus berkomunikasi dengan Hamidah.


Reni nampak tertekan tiap kali ada pengunjung kios yang menanyakan kronologi ledakan di kios mie ayam itu. Mereka adalah wartawan, polisi dan para penggiat media sosial. Reni pun makin kesal karena mereka menanyakan hal yang sama berulang kali.


Selain itu Reni juga dihinggapi rasa bersalah saat harus mengingat dia lah penyebab terjadinya ledakan di kios itu.


Kios baso yang biasa tutup jam lima sore kini tutup lebih larut, sekitar pukul sembilan atau sepuluh malam. Dan itu membuat Reni sangat kelelahan. Karenanya Reni menjadi tak fokus dan beberapa kali memecahkan mangkuk atau gelas saat bekerja.


Hamidah tampil menunjukkan taringnya. Ia tak sungkan membentak Reni dan memakinya layaknya seorang bos jika Reni melakukan kesalahan. Sudah tentu hal itu membuat Reni makin tertekan dan malu. Namun Reni hanya bisa menangis diam-diam mendapat perlakuan tak manyenangkan dari Hamidah.


Reni ingin berontak dan melawan, tapi ia teringat ancaman Hamidah. Reni takut jika Codot melukainya sama seperti yang ia lakukan pada karyawan pria yang mencoba mengingatkan Hamidah. Karena mendapat dukungan dari sang kekasih membuat Hamidah bertindak sewenang-wenang kepada teman-temannya.


Sebelumnya beberapa kali Reni menyaksikan aksi mesum Hamidah dan Codot. Mereka melakukan hubungan int*m di toilet karyawan dan itu sangat menjijikkan. Lagi-lagi Hamidah tak berani menegur atau melapor pada pemilik usaha baso itu karena takut.


Saat keg*laan Hamidah melampaui batas, saat itu lah Reni tak sengaja menemukan data keuangan milik kios itu. Dari lembaran laporan yang terjatuh di lantai itu Reni tahu jika Hamidah melakukan penggelapan.


" Pantesan Aku dan teman-teman ga pernah dapat bonus dari Bos. Rupanya Hamidah memalsukan data pemasukan kios ini dan mengambilnya untuk dinikmati sendiri. Ini ga bisa dibiarin dan harus dilaporin...," gumam Reni sambil memasukkan lembaran kertas itu ke balik pakaiannya.


" Apaan yang Lo masukin ke dalam baju itu Ren...?!" tiba-tiba suara Hamidah terdengar menggelegar di belakang Reni.


" Bukan apa-apa. Gue lagi benerin pakaian dal*m Gue aja kok...," sahut Reni sambil menatap Hamidah dengan berani.


" Bohong...!" kata Hamidah tak percaya.

__ADS_1


" Terserah mau percaya atau ga...," sahut Reni sambil melintas di samping Hamidah.


Tiba-tiba Hamidah menghadang langkah Reni dan memaksanya membuka pakaian.


" Gue baru percaya kalo Lo buka baju Lo sekarang...," kata Hamidah.


" Jangan g*la Hamidah !. Gue ga bakal ijinin Lo buka baju Gue...!" kata Reni lantang hingga menarik perhatian sesama karyawan kios baso itu.


Hamidah pun melepaskan cengkramannya pada blouse yang dipakai Reni saat semua orang mendekati mereka. Kemudian Hamidah menghentakkan kakinya lalu melangkah meninggalkan Reni dan teman-temannya.


Setelah mengantongi bukti kejahatan Hamidah, Reni pun berniat memberitahu bos mereka. Namun sayangnya niat Reni diketahui Hamidah. Hamidah memanggil Codot untuk menghabisi Reni. Codot pun menyetujui permintaan Hamidah tanpa syarat.


Reni yang tahu dirinya akan dicelakai oleh Hamidah dan Codot pun tak gentar. Ia berpesan pada adiknya jika sesuatu terjadi padanya, maka sang adik harus menyerahkan bukti yang ia kumpulkan kepada polisi.


" Bukti itu ada di tas besar. Ada di locker di kios, nanti Kakak bawa dan titip sama Kamu ya...," kata Reni.


Namun sayangnya Reni gagal. Malam itu Hamidah dan Codot berhasil mengejar dan merampas tas berisi semua bukti kejahatan Hamidah.


" Udah abis...," kata Gama sambil membolak balik lembaran buku milik Lilian.


" Iya. Ini kosong ga ada apa-apa lagi...," sahut Gama.


" Kan ada rekaman suara Reni sebelum dia meninggal Fan. Lo belum buka rekamannya tadi...," kata Rex mengingatkan.


" Astaghfirullah aladziim, sampe lupa Gue...," kata Taufan sambil menepuk dahinya hingga membuat Rex dan Gama saling menatap sambil tersenyum kecut.


Kemudian Taufan mulai memutar rekaman suara Reni itu. Namun sayang, suara Reni yang lirih itu tak terdengar jelas hingga menyulitkan pihak kepolisian termasuk Rex dan Gama.


Namun saat suara rekaman distel dengan alat khusus, terdengar jelas kalimat apa saja yang diucapkan Reni menjelang akhir hayatnya.


" Hamidah adalah simpanan si bos pemilik usaha mie ayam. Bos mie ayam itu janji akan menikahi Hamidah sebagai istri kedua atas persetujuan istri pertamanya. Hamidah sengaja melamar pekerjaan di kios baso agar bisa bertemu dan menagih janji si Bos mie ayam itu...," kata Reni lirih.


" Ga usah banyak bicara dulu Mbak Reni. Bernafas yang baik, pelan-pelan aja tapi teratur ya...,"

__ADS_1


Suara Lilian terdengar lembut dan menyejukkan. Mungkin saat itu Lilian mendengar deru nafas Reni yang cepat dan tak beraturan.


Ada suara bergemerisik. Mungkin saat itu Reni menggelengkan kepalanya dan meminta Lilian tak memotong ucapannya.


" Hamidah marah karena Bos mie ayam ingkar janji dan menikahi wanita lain untuk jadi istri keduanya. Hamidah membuat siasat untuk menghancurkan kios mie ayam itu karena dendam sama bosnya...," kata Reni makin lirih dan nyaris tak terdengar.


" Tambah volume suaranya...!" perintah Taufan.


" Siap Ndan...!" sahut anak buah Taufan sambil menaikkan volume suara rekaman suara Reni.


" Hamidah juga pernah ngirim santet ke Bos mie ayam itu, tapi keliatannya gagal. Daaan...," suara Reni pun lenyap berganti dengan suara nafas yang tersendat-sendat.


Tiba-tiba suara Lilian yang bergetar terdengar jelas. Rupanya saat itu Lilian berusaha menuntun Reni mengucap kalimat tahlil sambil berusaha menahan tangis.


" Ikuti Saya ya Mbak Reni. Laa ilaha ilallah...," bisik Lilian dengan hati-hati.


" Ma... ka...sih sus... terrr Li... lii. Laa... ila... ha... ilallah...," kata Reni dengan susah payah.


Setelahnya hening tak ada suara. Hanya suara bergemerisik yang terdengar dan sesaat kemudian rekaman itu berakhir.


" G*la banget. Cuma gara-gara cemburu buta Hamidah tega menghabisi orang yang ga tau apa-apa..., " kata Gama sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


" Kita cari tau siapa wanita yang dinikahi si Bos mie ayam itu dan kenapa dia ingkar janji sama si Hamidah. Kalo dia terbukti terlibat, dia juga harus nanggung resikonya...," kata Taufan diangguki anak buahnya.


" Setuju...!" sahut Rex dan Gama bersamaan.


" Ga nyangka Lilian bisa punya ide secemerlang ini. Dua bukti yang dikumpulin Lilian menjadi bukti penting kejahatan Hamidah. Tanpa bukti ini rasanya akan sulit dan butuh waktu lebih lama buat kepolisian mengungkap kasus ini...," kata Taufan kagum.


" Alhamdulillah, Kakak Gue emang hebat...," sahut Rex bangga.


"Tolong sampaikan terima kasih Kami untuk Lilian ya Rex...," kata Taufan sambil tersenyum tulus.


" Insya Allah...," sahut Rex cepat.

__ADS_1


Kemudian Taufan membawa anak buahnya untuk menjemput sang Bos mie ayam yang memiliki hubungan gelap dengan Hamidah. Taufan ingin malam itu juga semua orang yang terlibat dalam ledakan kios mie ayam yang memakan belasan korban jiwa itu bisa segera tertangkap.


\=\=\=\=\=


__ADS_2