
Saat semua orang melihat tangan Shezi bergetar, rupanya saat itu Shezi tengah berhadapan langsung dengan arwah Luna. Shezi juga diperlihatkan awal mula arwah Luna terjebak dalam lilitan kain itu.
Shezi menahan nafas melihat bagaimana ayah Luna menyiksa gadis itu. Air mata Shezi pun mengalir seolah ikut merasakan rasa sakit yang dirasakan Luna. Berkali-kali Shezi menggelengkan kepala sambil mengusap wajahnya yang basah dengan air mata itu.
Seolah mengerti jika Shezi juga merasakan penderitaannya, arwah Luna menoleh kearah Shezi. Sesaat kemudian arwah Luna melayang mendekati Shezi.
" Aku sakit. Tolong bantu Aku lepas dari kejaran mereka. Aku capek terus berlari menghindari mereka. Kamu bisa kan membantuku...?" tanya arwah Luna dengan suara parau.
" Insya Allah...," sahut Shezi dalam hati sambil mengangguk mengiyakan permintaan arwah Luna.
Melihat Shezi tak mau bicara dengannya membuat arwah Luna kecewa. Arwah Luna pun bersiap menjauh namun Rex menahannya. Rex memberi isyarat agar arwah Luna mau menceritakan siapa sosok dalam keranda yang selalu mengejarnya itu.
" Jangan pergi dulu. Kamu bisa ceritakan siapa sosok yang ada di dalam keranda itu kan...?" tanya Rex.
" Dia..., Aku juga ga tau siapa dia...," sahut arwah Luna sambil membuang tatapannya kearah lain.
Rex tahu jika arwah Luna sedang berbohong. Namun dengan sabar Rex membujuknya. Dan di luar dugaan, Shezi pun ikut membujuk arwah Luna agar mau menceritakan semuanya. Dan yang membuat Rex kagum adalah Shezi melakukannya dengan cara bicara dalam hati sesuai dengan pesannya tadi.
" Kalo Kamu ga mau cerita, terus gimana cara Kami membantu Kamu. Padahal Aku liat Kamu ketakutan dikejar pasukan pengusung keranda itu. Aku juga ketakutan kok. Kamu liat kan gimana mereka bisa bikin Aku kecelakaan di jalan tadi. Kalo Aku jadi Kamu sih Aku cerita biar mereka ga ngejar lagi dan Aku bisa pergi ke tempat seharusnya. Emangnya Kamu ga mau ya pergi dengan tenang. Atau justru Kamu lagi nunggu sesuatu...?" tanya Shezi hati-hati.
Ucapan Shezi membuat arwah Luna tertegun. Sesaat kemudian arwah Luna tersenyum. Ia menghampiri Rex lalu mengajaknya pergi untuk melintas waktu dan meninggalkan Shezi begitu saja.
Perlahan Rex melepaskan genggaman tangannya dan saat itu terjadi Shezi membuka matanya. Ia menoleh kearah Rex dan melihat pria itu masih duduk sambil memejamkan matanya. Entah mengapa melihat kondisi Rex seperti itu membuat Shezi kagum.
Lilian pun menghampiri Shezi dan menyapanya.
" Kamu Gapapa Zi...?" tanya Lilian setengah berbisik.
" Alhamdulillah Saya gapapa Suster Lian...," sahut Shezi sambil tersenyum.
" Terus kenapa Rex...," ucapan Lilian terputus saat Shezi memotong cepat.
__ADS_1
" Kapten Rex diajak pergi sama arwah Luna, Saya ga tau mereka kemana...," kata Shezi.
" Gapapa Sayang, itu artinya Rex dan Shezi udah berhasil membujuk arwah Tante Luna. Mungkin sekarang dia mengajak Rex pergi untuk menunjukkan siapa sebenernya para pengusung keranda itu...," kata Gama.
" Kalo segampang itu kenapa Rex masih perlu bantuan Ibu tadi...?" tanya Lanni tiba-tiba.
" Itu bukan kerjaan yang gampang Bu. Rex pasti udah nyoba ngorek keterangan dari Luna tapi selalu gagal. Mungkin ada sesuatu dalam diri Shezi yang bikin Luna percaya dan mau menuruti sarannya...," kata Ramon menengahi hingga membuat Lanni mengerti.
Sementara itu Rex sedang mengikuti arwah Luna ke suatu tempat. Rex menggelengkan kepala saat melihat tempat yang sulit terjangkau itu. Suasana malam hari yang gelap makin mempersulit Rex untuk mengenali sekelilingnya.
" Kita mau kemana...?" tanya Rex.
" Ke tempat dimana Bapak melakukan sesuatu yang ga masuk akal...," sahut arwah Luna.
" Ga masuk akal tuh apa...?" tanya Rex penasaran.
" Liat di sana...," kata Luna sambil menunjuk ke suatu tempat.
" Aku ga ngerti mereka mau apa. Nah itu Aku, sembunyi di sana sambil mengawasi apa yang Bapak lakukan...," kata arwah Luna sambil menunjuk ke balik semak-semak dimana dirinya sembunyi.
Rex mengangguk sambil tersenyum melihat bagaimana Luna harus menahan dingin dan serangan nyamuk hutan yang ganas hanya untuk mengikuti bapaknya.
" Apa yang ada di pikiranmu saat itu...?" tanya Rex.
" Aku bukan perempuan bod*h, meski pun Bapak selalu menuduhku begitu. Jadi Aku tau apa yang sedang Bapak lakukan. Bapak sedang melakukan ritual sesat supaya cepat kaya. Yah, semacam pesugihan gitu lah...," sahut arwah Luna gusar.
" Kalo Kamu tau kenapa Kamu ga langsung pergi jauh dari rumah. Kamu tau kan kalo melakukan pesugihan artinya akan ada tumbal...?" tanya Rex.
" Aku tau...," sahut arwah Luna cepat.
" Terus kenapa masih bertahan dan ga pergi jauh...?" tanya Rex.
__ADS_1
" Karena Aku ga mau Lanni atau Ramon yang dijadiin tumbal. Aku tau karena Bapak pernah menyebut nama mereka. Dan itu membuatku ga bisa pergi. Aku khawatir Bapak menyakiti mereka...," sahut arwah Luna sendu.
Ucapan arwah Luna menyentuh hati Rex. Ia terharu dengan kasih sayang Luna untuk kedua orangtuanya hingga rela mengorbankan diri sendiri menggantikan mereka.
" Jangan tanya kenapa Aku rela menyerahkan diriku sendiri. Lanni dan Ramon adalah orang yang baik. Bersama mereka Aku merasa dihargai, disayangi, dibutuhkan layaknya manusia. Mereka akan jadi orang terdepan yang akan berdiri menghadang semua orang yang ingin menyakitiku. Aku menyayangi mereka lebih dari apa pun. Mereka seperti saudaraku sendiri. Aku ga rela jika ada yang berusaha menyakiti mereka termasuk Bapakku...," kata arwah Luna dengan mata berkaca-kaca.
" Masya Allah. Mulia sekali hatimu. Terima kasih telah membantu menjauhkan mereka dari bahaya. Andai Kamu ga menolong mereka, mungkin Ayah dan Ibu ga akan menikah. Dan itu artinya Aku ga bakal ada di dunia ini...," gurau Rex sekedar ingin mencairkan suasana.
Arwah Luna nampak tersenyum mendengar gurauan Rex. Kemudian arwah Luna kembali melanjutkan kalimatnya.
" Melihat Lanni dan Ramon saling mencintai membuat Aku sadar jika di dunia ini ada cinta yang tulus. Karena Aku tak pernah melihat cinta seperti yang mereka tunjukkan termasuk dari orangtuaku. Aku bahagia melihat Lanni dan Ramon bahagia. Aku tak ingin ada yang mengusik kebahagiaan mereka. Karena Aku tak punya apa-apa untuk membalas kebaikan Lanni dan Ramon, jadi Aku pasrah saja waktu Bapak menjadikan Aku tumbal...," sahut arwah Luna.
Rex membisu karena tak bisa berkata apa-apa. Di depan sana Ayah Luna rupanya telah selesai menggali makam tua itu. Ayah Luna nampak keluar dari dalam liang makam sambil menggigit sesuatu.
" Bagus. Benda ini bakal bikin Kamu kaya. Bawa terus kemana pun Kamu pergi, maka keberuntungan akan selalu mengikutimu...," kata sang dukun sambil tertawa.
" Baik Kek...," sahut ayah Luna sambil tersenyum membayangkan kekayaan akan datang padanya tanpa ia melakukan sesuatu.
" Jangan lupa tumbal yang harus Kau serahkan tiap hari Selasa Kliwon...," kata sang dukun mengingatkan namun mengejutkan ayah Luna.
" Tumbal...?" tanya ayah Luna.
" Iya. Kau pikir ini semua gratis ?. Ada harga yang harus Kau bayar supaya makhluk dalam benda itu mau bekerja maksimal...!" kata sang dukun kesal.
" Tapi Kakek ga pernah bilang tentang tumbal sebelumnya...," kata ayah Luna.
" Aku kira Kau sudah tau makanya Aku ga memberi tau. Ingat jangan lupa tumbal pertama harus gadis peraw*n...," kata sang dukun sambil berlalu.
Ayah Luna nampak membisu. Tapi sesaat kemudian sebuah senyum tersungging di bibirnya.
" Aku tau siapa calon tumbal pertamaku...," gumam ayah Luna yang didengar jelas oleh Luna, Rex dan arwah Luna.
__ADS_1
\=\=\=\=\=