
Dokter Aksara tiba di ruangannya. Ia nampak menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Setelahnya ia mengeringkan tangannya lalu duduk di kursi.
Tak lama kemudian seorang perawat datang dan menyerahkan beberapa dokumen milik pasien kepada dokter Elvira.
" Ini data beberapa pasien yang dokter minta tadi...," kata sang perawat dengan santun.
" Ok, makasih ya Sus...," sahut dokter Aksara sambil tersenyum.
" Sama-sama dok. Apa ada lagi yang dokter perlukan...?" tanya sang perawat.
" Mmm..., kayanya ga ada. Suster bisa istirahat sekarang. Nanti kalo Saya ada perlu, Suster Saya panggil ya...," sahut dokter Aksara.
" Baik dok...," kata sang perawat sambil tersenyum.
" Jangan lupa makan ya Sus. Saya ga mau asam lambung Kamu naik lagi kaya kemarin...!" kata dokter Aksara mengingatkan.
" Iya dok...," sahut sang perawat dengan wajah merona.
Dokter Aksara pun mulai mempelajari dokumen para pasiennya. Saat sedang melihat data pribadi pasien, seorang perawat mengetuk pintu.
" Kenapa lagi Sus...?" tanya dokter Aksara.
" Maaf ada yang ketinggalan dok...," sahut sang perawat sambil meletakkan map di atas meja dokter Aksara.
" Ada yang ketinggalan lagi ga...?" tanya dokter Aksara sambil melirik dokumen yang baru saja diletakkan sang perawat.
" Ga ada dok...," sahut sang perawat dengan cepat.
" Yakin...?" tanya dokter Aksara.
" Yakin dok...," sahut sang perawat dengan mantap.
" Ok...," kata dokter Aksara sambil mengangguk.
Kemudian sang perawat bergegas keluar dari ruangan dokter Aksara karena tak ingin mengganggu konsentrasi sang dokter.
Saat membuka map berisi data pribadi pasien terakhir, dokter Aksara nampak termangu sesaat.
" Jadi dia beneran seorang guru. Cantik, pinter dan menarik...," gumam dokter Aksara sambil mengetukkan ujung jarinya ke meja.
Entah mengapa membaca data pribadi Elvira membuat dokter Aksara gusar.
__ADS_1
" Ngomong-ngomong apa ya hubungan Kapten Rex sama Bu Elvira itu. Kok bisa-bisanya Kapten Rex nganterin dia ke sini...," batin dokter Aksara gusar.
Kemudian dokter Aksara pun melangkah ke sofa dan duduk di sana sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Rupanya pertemuannya dengan Rex yang mengantar wanita lain untuk berobat membuat perasaan dokter Aksara tak nyaman.
Tanpa sadar dokter Aksara kembali mengingat kebersamaannya dengan Rex dulu. Mulai awal perkenalan mereka hingga saat Elvira meminta bantuan sang Kapten untuk menyingkirkan mantan tunangannya itu. Walau kebersamaan mereka terbilang singkat, namun berhasil membuat jantung sang dokter berdetak lebih cepat saat mengingatnya.
Setelah membiarkan pikirannya berkelana entah kemana, akhirnya dokter Aksara tersadar jika ia telah membuang banyak waktu dengan melakukan sesuatu yang sia-sia.
" Cukup Aksara !. Berhenti memikirkan sesuatu yang bukan urusanmu apalagi dia bukan kekasihmu. Sekarang sebaiknya Kamu fokus dengan pasienmu karena mereka menunggu uluran tanganmu...," gumam dokter Aksara seolah sedang menyemangati dirinya sendiri.
Setelah berhasil menetralisir perasaannya, dokter Aksara pun bangkit lalu berjalan ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti tadi.
\=\=\=\=\=
Keesokan harinya Rex kembali mengunjungi Elvira di Rumah Sakit. Rex datang dengan seragam kebanggaannya itu karena ia memang baru pulang dari kesatuannya. Di loby Rex berpapasan dengan ustadz Akbar yang sedang mengurus keperluan Elvira.
" Assalamualaikum Ustadz...," sapa Rex sambil mencium punggung tangan sang ustadz.
" Wa alaikumsalam Mas Rex...," sahut ustadz Akbar sambil tersenyum.
" Gimana sama Bu Elvira, apa ada kemajuan Ustadz...?" tanya Rex.
" Mudah-mudahan begitu Mas Rex. Sekarang Vira lagi diperiksa sama dokter Aksara...," sahut ustadz Akbar sambil melangkah menyusuri koridor Rumah Sakit.
" Oh iya Saya lupa ngasih tau. Elvira udah dipindahin ke kamar rawat inap Mas. Nah ruangannya ada di sebelah sini...," sahut ustadz Akbar.
Rex pun mengangguk maklum. Tak lama kemudian mereka tiba di depan kamar rawat inap Elvira. Saat ustadz Akbar hendak membuka pintu, di saat yang sama pintu terbuka. Di balik pintu tampak seorang perawat dan seorang dokter berdiri sambil tersenyum hingga membuat ustadz Akbar dan Rex ikut tersenyum.
" Bagaimana keadaan Elvira dok...?" tanya ustadz Akbar.
" Alhamdulillah kondisinya membaik Pak. Dehidrasinya sudah bisa diatasi dan Bu Elvira baru aja siuman...," sahut dokter Aksara..
" Alhamdulillah. Artinya Vira udah sembuh ya dok, jadi kapan bisa pulang...?" tanya ustadz Akbar antusias.
Pertanyaan ustadz Akbar membuat dokter Aksara dan perawat di sampingnya saling menatap sejenak lalu tersenyum.
" Bu Elvira masih terlalu lemah Pak. Biarkan dia istirahat di sini sehari lagi ya. Insya Allah besok sore pasien boleh pulang...," sahut dokter Aksara.
" Oh gitu...," kata ustadz Akbar sambil menoleh kearah Elvira yang sedang mengamati mereka.
" Sekedar mengingatkan, pasien masih lemah dan butuh istirahat jadi jangan diajak bicara banyak dan terlalu lama ya Pak...," kata dokter Aksara.
__ADS_1
" Iya dok...," sahut ustadz Akbar sambil tersenyum.
Selama dokter Aksara dan ustadz Akbar bicara, Rex hanya diam tanpa sekali pun menyela. Saat itu tatapannya fokus kepada dokter Aksara yang sedang menjelaskan semuanya. Rex tersadar saat dokter Aksara pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
" Kalo gitu silakan dijenguk, Kami keluar dulu...," kata Aksara sambil menepi untuk memberi ruang pada ustadz Akbar masuk ke dalam kamar.
" Makasih dok...," kata ustadz Akbar.
" Sama-sama Pak...," sahut dokter Aksara.
Kemudian Aksara menoleh kearah Rex yang masih berdiri mematung di ambang pintu.
" Sampe kapan Kapten mau berdiri di situ...?" tanya dokter Aksara sambil menahan tawa.
" Sampe dokter Aksara mau nemenin Saya ngopi sebentar di kantin Rumah Sakit ini...," sahut Rex penuh harap.
Jawaban Rex membuat wajah dokter Aksara merona. Dokter Aksara melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu tersenyum.
" Saya hanya punya waktu setengah jam untuk nemenin Kapten Rex ngopi. Apa itu cukup...?" tanya dokter Aksara.
" Lebih dari cukup...," sahut Rex antusias.
" Ok. Sepuluh menit lagi Kita ketemu di kantin ya...," kata dokter Aksara sambil melangkah keluar dari kamar rawat inap Elvira.
" Siap dokter...!" sahut Rex mantap sambil menatap punggung dokter Aksara yang menjauh.
Sementara itu perawat yang mendampingi dokter Aksara nampak tersenyum diam-diam saat melihat wajah dokter Aksara yang berbinar bahagia.
" Kenapa Kamu senyum-senyum kaya gitu Suster...?" tanya dokter Aksara saat menyadari tatapan tak biasa sang perawat yang tertuju padanya.
" Gapapa dok. Saya seneng aja ngeliat wajah dokter Aksara berbinar kaya gitu...," sahut sang perawat.
" Apaan sih Sus, jangan mulai lagi deh...," kata dokter Aksara sambil menepuk bahu sang perawat.
" Ga nyangka Pak tentara itu berani ngajakin dokter Aksara ngedate di depan banyak orang...," kata sang perawat.
" Ini bukan ngedate Suster. Pak tentara yang tadi itu teman lama Saya. Sudah lama ga ketemu jadi ngajakin ngobrol. Karena dia tau Saya suka kopi, makanya dia ngajakin Saya ngopi...," sahut dokter Aksara santai.
" Modusnya buat ngedeketin dokter keren ya dok...," kata sang perawat sambil tersenyum penuh makna.
" Udah-udah, jangan bahas lagi. Percuma jelasin apa pun sama Kamu karena Kamu terlanjur punya pikiran kaya gitu. Sekarang Kita selesaikan tugas Kita biar Saya bisa segera ngedate sama Pak tentara itu...," kata dokter Aksara kesal.
__ADS_1
Ucapan dokter Aksara tak membuat sang perawat tersinggung tapi justru membuatnya tertawa. Ia mengangguk lalu membantu membukakan pintu kamar pasien untuk dokter Aksara.
\=\=\=\=\=