Kidung Petaka

Kidung Petaka
233. Dimana Shezi ?


__ADS_3

Di sebuah taman kota saat senja hari, Rex tampak duduk menunggu kedatangan Shezi. Ia tersenyum saat melihat Shezi melangkah cepat kearahnya.


" Kenapa masih sore udah ngajak ketemuan sih Kapten. Ini kan masih jam kerja. Untung Bos ngijinin Aku pulang lebih awal tadi...," kata Shezi sambil duduk di samping Rex.


Ucapan Shezi membuat Rex tersenyum simpul. Sadar jika Rex tak merespon ucapannya, Shezi pun menoleh kearah Rex yang tengah menatapnya.


" Kenapa ngeliatin kaya gitu...?" tanya Shezi ketus.


" Kamu masih marah Zi. Aku minta maaf ya...," kata Rex dengan tulus yang ditanggapi dingin oleh Shezi.


Untuk sejenak Rex dan Shezi Sama-sama terdiam. Angin sore dan sinar matahari senja pun menyapa keduanya hingga membuat suasana menghangat.


" Jadi ada apa Kapten...? " tanya Shezi tanpa menoleh kearah Rex.


" Aku dengar Kamu memutuskan berdamai sama Nato dan Ibunya...," sahut Rex hingga membuat Shezi menoleh cepat kearah pria di sampingnya itu.


Bukan hanya kalimat Rex yang membuat Shezi menoleh, tapi juga kata Aku yang Rex gunakan membuat Shezi tersadar jika mereka telah semakin dekat entah sejak kapan.


" Ziii...," panggil Rex sambil mendekatkan wajahnya kearah Shezi.


" I... iya. Daripada bermusuhan, bukan kah lebih baik berdamai...," kata Shezi sambil membuang pandangannya kearah lain dengan wajah merona.


" Semoga keputusan Kamu ga jadi bumerang buat Kamu kelak ya Zi...," kata Rex lirih.


" Apa maksud Kapten...?" tanya Shezi tak mengerti.


" Nato itu punya rasa cinta yang besar buat Kamu Zi. Dia cemburu dan ga mau Kamu dimiliki oleh orang lain, makanya dia berusaha menyingkirkan Kamu waktu itu...," sahut Rex sambil menatap Shezi lekat.


" Kenapa ngebahas itu sekarang, jangan bilang Kamu juga cemburu Kapten...," kata Shezi sambil tersenyum kecut.


" Wajar kalo Aku cemburu. Kan Kamu calon Istriku...," sahut Rex santai namun mengejutkan Shezi.


" Sejak kapan ada status kaya gitu...?" tanya Shezi bingung.


" Sejak Kita ribut sama Bude Kamu di halte itu Zi. Aku pikir Kamu ga keberatan karena Kamu ga menyangkal saat itu...," sahut Rex cepat.


" Tapi Aku ga pernah bilang iya Kapten...," kata Shezi gusar.


" Gapapa. Yang penting Bude Kamu udah tau kalo Kamu calon Istriku...," sahut Rex santai hingga membuat Shezi kesal dan pergi meninggalkannya begitu saja.


Rex sigap mengejar gadis itu dan berhasil menangkap tangannya. Shezi menoleh dan bersiap meledakkan kemarahannya namun Rex bertindak cepat dengan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


" Jangan marah lagi ya Zi, please...," bisik Rex di telinga Shezi.


Ucapan Rex membuat Shezi membeku. Ia tak menyangka jika Rex mengucapkan kalimat yang entah mengapa mampu membuat jantungnya berdebar.

__ADS_1


Tak ingin larut dalam perasaan yang tak ia pahami, Shezi mendorong tubuh Rex perlahan hingga pelukannya terlepas.


" Ok. Tapi jangan kaya gini Kapten. Malu diliatin orang...," kata Shezi.


Rex mengurai pelukannya lalu tersenyum sedangkan Shezi nampak membuang pandangannya kearah lain.


" Kita ngobrol di sana yuk..., " ajak Rex yang diangguki Shezi.


Kemudian keduanya melangkah kembali menuju kursi taman tempat mereka duduk tadi. Walau tak nyaman saat Rex terus menatapnya, namun Shezi tak peduli. Ia mulai menyampaikan sesuatu yang membuatnya penasaran.


" Boleh Aku tanya sesuatu...?" tanya Shezi.


" Boleh...," sahut Rex cepat.


" Siapa Nyai Hadini ?. Aku beberapa kali ngeliat dia ada di sekitar Kamu...," kata Shezi.


" Sebelum Aku jawab, Aku juga mau tau sejak kapan Kamu bisa ngeliat dia...?" tanya Rex.


" Sejak arwah Tante Luna berdiri di depan pintu apotik. Waktu itu Aku sempet liat Nyai berdiri di taman sambil ngeliatin Kamu dan arwah Tante Luna...," sahut Shezi cepat hingga membuat Rex terkejut.


" Kamu ga takut ngeliat dua penampakan sekaligus Zi...?" tanya Rex.


" Sempet takut, tapi cuma sebentar. Kan Nyai Hadini menghilang setelah itu. Tinggal arwah Tante Luna aja yang terus ngikutin Aku sampe rumah...," sahut Shezi.


" Aku pikir dia adalah korban pembunuhan yang Kamu lakukan. Dan dia menampakkan diri ya memang mau ngingetin Aku supaya hati-hati sama Kamu. Jadi mana mungkin Aku ngasih tau sama Kamu kalo Aku tau rahasia Kamu. Yang ada Aku bakal celaka juga dong...," sahut Shezi hingga membuat Rex tertawa.


Kemudian Rex menceritakan siapa Nyai Hadini dan masa lalunya. Shezi nampak menyimak cerita Rex sambil menatap wajah pria itu dengan seksama.


" Terus kenapa Aku bisa ngeliat dia juga...?" tanya Shezi.


" Karena dia ingin memperlihatkan diri di depanmu. Atau mungkin Kamu ga sadar kalo sebenernya Kamu juga punya bakat yang sama kaya Aku...," sahut Rex.


" Kayanya ga mungkin deh. Karena makhluk halus yang bisa Aku liat ya cuma arwah Tante Luna sama Nyai Hadini aja...," sahut Shezi sambil menggelengkan kepala.


" Mungkin ini petunjuk untuk Kita...," kata Rex sambil meraih jemari Shezi dan menggenggamnya erat.


" Petunjuk apa...?" tanya Shezi sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Rex.


" Petunjuk kalo Kita berjodoh...," sahut Rex.


" Ck, ga usah mulai lagi deh Kapten...," kata Shezi sambil berdecak sebal.


" Gimana kalo Kita benar-benar berjodoh dan menikah Zi...?" tanya Rex dengan mimik wajah serius.


" Aku ga mau bahas itu sekarang Kapten...," sahut Shezi sambil bangkit dari duduknya.

__ADS_1


" Kenapa...?" tanya Rex ikut berdiri.


" Gapapa. Aku pulang ya, udah hampir Maghrib nih...," kata Shezi sambil menatap ke langit.


" Ok. Mau Aku anterin ga...?" tanya Rex.


" Ga perlu, Aku kan bawa motor. Aku duluan ya Kapten. Assalamualaikum..., " kata Shezi sambil melangkah.


" Wa alaikumsalam, hati-hati ya calon Istri...!" kata Rex lantang sambil melambaikan tangannya.


Ucapan Rex membuat Shezi berhenti melangkah lalu menoleh kearah Rex sambil melotot. Sikap gadis itu membuat Rex tertawa keras.


\=\=\=\=\=


Hari Minggu yang cerah digunakan Shezi dan ketiga temannya untuk berlibur melepas penat. Mereka memutuskan pergi ke salah satu wahana permainan terbesar di Jakarta.


Shezi dan ketiga temannya tampak tertawa gembira. Tapi karena padatnya pengunjung menyebabkan keempatnya terpisah. Dina bersama Tia sedangkan Shezi bersama Aris.


" Gimana Zi, dimana mereka...?" tanya Aris sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Dina dan Tia.


" Sebentar lagi mereka ke sini Ris. Gue udah kasih tau kalo Kita nunggu di sini...," sahut Shezi sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Di saat yang sama Rex juga tengah melintas di dekat lokasi itu dengan motornya. Rex berhenti saat mendengar suara senandung wanita yang ia kenali sebagai suara Nyai Hadini di telinganya.


" Ada apa lagi ini...," gumam Rex sambil membuka helmnya.


Kemudian Rex mengamati sekelilingnya dan terkejut melihat banyak orang berlarian keluar dari sebuah gedung. Rupanya para pengunjung panik karena bagian kiri gedung terbakar. Dan diantara mereka Rex melihat Dina dan Tia. Rex pun bergegas menghampiri mereka untuk menanyakan keberadaan Shezi.


" Kalian di sini, mana Shezi...?!" tanya Rex lantang.


Bukan tanpa alasan Rex menanyakan keberadaan Shezi. Itu karena ia dan Shezi sempat saling memberi kabar sebelumnya. Shezi memang tak mengatakan kemana tujuan kepergiannya, tapi Rex tahu dengan siapa Shezi pergi.


" Eh, Kapten. Kok tau kalo Kita lagi di sini, Kapten lagi ngikutin Kita ya...?" tanya Tia dengan kenesnya.


" Itu ga penting. Sekarang dimana Shezi...?" ulang Rex tak sabar.


" Kami ga sengaja terpisah Kapten. Tadi Shezi sama Aris. Nah itu Aris...!" kata Dina sambil menunjuk kearah Aris yang terlihat lari keluar gedung bersama pengunjung lain.


Rex makin gusar saat tak mendapati Shezi diantara para pengunjung yang berlarian keluar gedung itu.


Tiba-tiba terdengar suara bangunan runtuh di bagian samping gedung hingga membuat semua orang terkejut. Rex pun lari ke sumber suara dan bersiap merangsek maju untuk mencari Shezi diantara reruntuhan bangunan.


" Jangan ke sana Kapten...!" jerit sebuah suara hingga membuat Rex menoleh dan mengurungkan niatnya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2