Kidung Petaka

Kidung Petaka
89. Guling Bau ?


__ADS_3

Setelah menunaikan sholat Isya berjamaah, Bahar menepati janjinya untuk mentraktir Rex, Gama, Rohim, dua security dan beberapa mandor yang bersamanya saat itu.


Mereka makan malam di rumah makan yang terletak tak jauh dari proyek perumahan itu.


" Jadi Mas Gama membeli salah satu rumah juga di sini...," kata Bahar dengan wajah berbinar.


" Betul Pak Bahar. Saya lagi mau ngukur ruangan karena berniat membeli perabotan yang sesuai biar ruangan ga keliatan penuh sesak karena kegedean perabot...," sahut Gama.


" Bagus, Saya suka itu. Kalo Mas Rex gimana ?. Apa ga berminat membeli rumah juga...?" tanya Bahar sambil menoleh kearah Rex yang duduk di sampingnya.


" Belum kepikiran Pak...," sahut Rex asal.


" Bukan ga kepikiran, tapi Rex santai karena udah dapat rumah dinas khusus perwira Pak. Jadi kalo dia married nanti ya tinggal nempatin dan beli perabotan aja...," sela Gama.


" Oh iya. Saya lupa kalo perwira dapat rumah dinas...," sahut Bahar sambil tersenyum.


" Rumah dinas kan hanya salah satu fasilitas yang disediakan negara, bisa diambil bisa juga ga diambil Gam...," kata Rex santai.


" Iya deh, terserah apa kata Lo...," sahut Gama mengalah.


" Itu artinya bisa aja Mas Rex membeli rumah lain selain menerima fasilitas yang diberikan. Iya kan Mas Rex...?" tanya Bahar dengan wajah berbinar.


" Betul Pak...," sahut Rex sambil mengangguk.


" Wah, kalo gitu bisa mulai liat-liat rumah di proyek Kami lho Mas Rex. Jangan khawatir, rumah berbagai type dengan harga terjangkau tersedia di sini. Khusus untuk Mas Rex Saya kasih bonus deh...," kata Bahar berpromosi.


" Rex aja nih Pak, Saya ga...?" protes Gama sambil cemberut.


" Kalo Mas Gama Saya kasih bonus taman aja ya. Kan data Mas Gama udah masuk ke kantor jadi ga bisa diotak-atik lagi...," sahut Bahar hingga membuat semua orang tertawa.


" Bonus taman gimana maksudnya Pak...?" tanya Gama.


" Begini Mas Gama, taman yang ada di depan dan di samping rumah Mas Gama kan taman standart yang juga dimiliki penghuni lain. Maksud Pak Bahar, beliau bakal bikin taman baru yang lebih bagus untuk Mas Gama dan yang pasti beda sama penghuni lainnya...," kata salah satu mandor menjelaskan.


" Oh gitu. Saya setuju banget Pak. Terserah Bapak aja gimana material dan modelnya. Saya percaya hasilnya pasti istimewa...," sahut Gama antusias.


" Ok, Kita deal ya Mas Gama...," kata Bahar sambil mengulurkan tangannya.


" Siap Pak. Rumah Saya nomor 11K ya Pak, jangan salah...," kata Gama mengingatkan sambil balas menjabat tangan Bahar.

__ADS_1


Semua tertawa dan kembali melanjutkan makan malam mereka. Tawa sesekali terdengar menggema saat salah seorang mandor menceritakan pengalamannya mengawasi pekerjaan para tukang.


\=\=\=\=\=


Rex membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah usai membersihkan diri. Rex memejamkan matanya sambil tersenyum puas saat teringat pengalamannya hari ini.


" Alhamdulillah semua bisa teratasi dengan baik...," gumam Rex.


Saat Rex mulai masuk ke alam mimpi, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar.


tok tok tok...!


" Hmmm..., siapa...?" tanya Rex dengan mata yang setengah terpejam.


Tak ada sahutan dan itu membuat Rex memiringkan tubuhnya untuk kembali tidur. Tapi mendadak Rex membuka matanya karena ingat jika saat itu dia sendirian di rumah. Kedua orangtuanya sedang mengunjungi kerabat yang sakit, sedangkan Lilian sedang dinas malam di Rumah Sakit Sentosa.


Rex bangkit lalu mengusap wajahnya. Ia merasa sangat lelah dan ingin istirahat. Tapi suara ketukan yang kembali terdengar di balik pintu kamarnya sangat mengganggu dan membuat Rex tak bisa tidur.


Dengan enggan Rex turun dari tempat tidur lalu membuka pintu kamarnya. Ia sengaja bersandar di kusen pintu seolah menunggu sesuatu yang mengganggunya tadi menampakkan diri.


" Buruan ke sini, mau ngomong apa sih...?" tanya Rex sambil menguap.


Tak ada sahutan. Ruangan tetap hening tanpa suara dan membuat Rex bersiap kembali menutup pintu.


Kemudian Rex menyeret langkahnya kembali ke tempat tidur. Saking mengantuknya Rex berjalan sambil terpejam. Kemudian Rex membaringkan tubuhnya. Ia menarik guling yang ada di samping tubuhnya lalu memeluknya dengan erat.


Tanpa Rex sadari, guling yang berada dalam pelukannya itu tersenyum menyeringai menampakkan giginya yang menghitam di balik bibirnya yang pucat seperti mayat.


\=\=\=\=\=


Rex terbangun saat mendengar suara orang mengaji di masjid. Ia menjauhkan wajahnya dari guling yang sedang dipeluknya itu.


" Ish, bau banget sih kaya bangk*. Pasti karena udah lama ga dicuci. Tapi masa iya ga dicuci, Ibu kan paling rajin ngecek dan pasti ngomel kalo tau sarung bantal guling kotor...," gumam Rex diantara kesadarannya yang baru setengah.


Kemudian Rex mengusap hidungnya yang terganggu dengan aroma tak sedap yang berada di dekatnya itu. Rex juga menendang keras guling yang dipeluknya tadi ke lantai sambil tetap memejamkan matanya.


Guling yang jatuh berdebum di lantai itu nampak meringis kesakitan. Dan sesaat kemudian guling itu hilang lenyap tanpa bekas.


Saat adzan Subuh berkumandang, Rex bergegas bangkit lalu melangkah cepat ke kamar mandi. Setelah berwudhu, Rex meraih baju koko dan sarung dari lemari lalu mengenakannya dengan cepat.

__ADS_1


Sebelum meninggalkan kamar, Rex sempat melirik ke atas tempat tidur dan mendapati gulingnya di sana. Rex mengerutkan keningnya seolah mengingat sesuatu. Rupanya Rex ingat jika tadi telah menendang gulingnya ke lantai dan belum sempat mengambilnya.


" Kok sulap. Perasaan belum diambil tapi malah udah ada di atas tempat tidur duluan. Siapa yang ngambilin dong...?" gumam Rex sambil menutup pintu kamar.


Namun Rex mengabaikan rasa penasarannya itu sejenak karena harus segera menunaikan sholat Subuh berjamaah di masjid.


\=\=\=\=\=


Pagi itu Gama berinisiatif menjemput Lilian yang baru saja selesai dinas malam. Hal itu dilakukan karena melihat Rex yang tengah sibuk membereskan kamar dan hampir lupa menjemput Lilian.


" Kok sepi Rex...?" tanya Gama saat Rex membukakan pintu untuknya.


" Iya. Ayah sama Ibu lagi ke rumah kerabat, Kak Lian masih dinas...," sahut Rex sambil bergegas melangkah ke kamar.


" Lo sendiri lagi ngapain...?" tanya Gama.


" Beresin kamar...," sahut Rex cepat.


" Tumben, biasanya harus diomelin dulu baru bergerak...," sindir Gama hingga membuat Rex tersenyum kecut.


" Abisnya ada bau bangk* di kamar Gue. Makanya Gue mau nyari asal bau itu sekalian beres-beres kamar...," sahut Rex sambil melongok ke kolong tempat tidur.


" Gue boleh nanya sesuatu ga Rex...?" tanya Gama tiba-tiba.


" Nanya apaan...?" tanya Rex sambil menoleh kearah Gama.


" Orang-orang yang jahatin Tsania sama Angko gimana nasibnya Rex. Apa mereka juga dapat karma dari perbuatan buruk mereka...?" tanya Gama penasaran.


" Itu kan terjadi di masa lampau Gam. Sekitar era tahun 60an. Makanya Gue ga tau gimana nasib mereka. Tugas Gue cuma bantu Tsania dan Angko menemukan jalan pulang. Sisanya biar lah Kita serahkan kepada Allah Yang Maha Adil...," sahut Rex bijak hingga membuat Gama mengangguk.


" Terus Kakak Lo gimana ?. Pulang pake mobil jemputan atau Lo jemput...?" tanya Gama sambil berdiri di ambang pintu kamar Rex.


" Astaghfirullah aladziim, Gue lupa Gam. Udah jam berapa nih, wah bisa ngomel deh Tuan putri...," kata Rex panik.


" Biar Gue aja yang jemput, Lo lanjutin beresin kamar. Tapi janji, pas Gue balik harus udah selesai ya...," kata Gama sambil berjalan keluar.


" Siaaapp...!, thanks ya Bro...!" kata Rex lantang.


" Iya...!" sahut Gama sambil menutup pintu rumah.

__ADS_1


Kemudian Gama melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Sentosa untuk menjemput Lilian.


\=\=\=\=\=


__ADS_2