
Ternyata bukan hanya Gama yang terkejut dengan kabar yang dibawa Rex. Semua orang terkejut terutama Lanni. Ia tak menyangka jika putra bungsunya ikut misi kemanusiaan ke Afrika.
" Bukan soal misinya Nak, tapi jauhnya itu lho...," kata Lanni gusar sambil memijit keningnya.
" Iya. Kenapa mendadak banget sih Rex...?" tanya Ramon.
" Sebenernya ga mendadak Yah. Sejak pulang dari Madura Aku udah dapat kabar ini kok. Cuma waktu itu Aku belum kepikiran mendaftar karena masih mikirin Kak Lian...," sahut Rex sambil melirik kearah sang kakak.
" Kok Aku. Apa hubungannya kepergian Kamu sama Aku Rex...?" tanya Lilian tak mengerti.
" Aku ga bisa berangkat karena mikirin keselamatan Kakak. Selama ini berapa kali Kakak diganggu orang ?. Itu salah satu sebab yang bikin Aku ga tenang untuk pergi. Tapi setelah Gama menyatakan keseriusannya menikahi Kakak, Aku jadi lega dan bisa tenang berangkat karena udah ada Gama yang bakal jagain Kak Lian...," sahut Rex sambil tersenyum.
" Jadi selama ini Aku menjadi beban dan menghambat karirmu Rex...?" tanya Lilian sedih.
" Bukan menghambat Kak. Aku yang ga mau pergi. Tapi sekarang Aku mau manfaatkan masa mudaku untuk melakukan banyak hal positif. Apa Ayah, Ibu dan Kak Lian ga mau mendukung Aku...?" tanya Rex sambil menatap tiga orang di hadapannya satu per satu.
" Tapi Afrika itu jauh Nak...," sela Lanni.
" Justru itu Bu. Aku ingin pergi dan membantu warga di sana. Banyak hal yang membuatku ingin berangkat dan salah satunya ya karena itu. Ibu ga usah khawatir. Di sana bukan medan perang Bu. Aku berangkat sebagai relawan kemanusiaan dan bukan relawan perang...," kata Rex dengan sabar.
Lanni menatap Rex lekat kemudian menghela nafas panjang. Sesaat kemudian Lanni mengangguk karena tahu tak akan mudah menghalangi kepergian Rex.
" Makasih Bu...," kata Rex sambil memeluk sang ibu dengan erat.
\=\=\=\=\=
Setelah Rex mengatakan niatnya berangkat ke Afrika, persiapan pernikahan Lilian dan Gama pun dikebut.
" Ga usah buru-buru Kak. Aku cuma minta ijab kabulnya aja yang dipercepat biar Kalian sah dan Aku ga kepikiran terus. Soal resepsi kan bisa menyusul...," kata Rex.
" Aku sama Gama juga maunya gitu Rex. Tapi semua malah ga setuju. Ribet katanya...," sahut Lilian.
" Maaf ya Kak, malah bikin acara impian Kakak berantakan...," kata Rex dengan nada menyesal.
__ADS_1
" Gapapa Rex. Aku ga repot kok. Ternyata Gama dan orangtuanya udah nyiapin semuanya. Karena Gama anak tunggal, jadi mereka ga mau setengah-setengah. Makanya mereka pake jasa WO aja biar praktis. Buktinya Aku juga ga capek dan masih bisa kerja kaya biasa...," sahut Lilian sambil tersenyum.
Rex mengangguk sambil ikut tersenyum lega mendengar ucapan Lilian.
Meski pun telah menggunakan jasa WO, Mira dan Lanni tetap saja 'ingin repot'. Beruntung pihak WO maklum dan juga profesional. Jadi apa pun permintaan kedua ibu itu mereka berusaha mewujudkannya.
\=\=\=\=\=
Hari H pernikahan Gama dan Lilian.
Sesuai rencana, akad nikah dan resepsi digelar di tempat yang sama yaitu di sebuah gedung yang terletak di salah satu bilangan Jakarta Timur.
Sejak pagi dua keluarga telah terlihat di lokasi acara. Sang calon pengantin sedang berada di ruangan berbeda untuk dirias. Lanni yang telah selesai dirias tampak tak kuasa membendung air mata melihat putri tercintanya sedang dibantu mengenakan pakaian pengantin.
Lilian tampak mengenakan satu set kebaya putih, rambut hitamnya disanggul dan dihiasi roncean bunga melati dan mawar merah. Gadis itu menoleh saat mendengar isak tangis haru sang Ibu.
" Wah Ibu cantik banget. Sampe pangling Aku ngeliatnya. Tapi kok nangis sih, ntar make upnya luntur lho Bu...," gurau Lilian.
Lanni tersenyum kemudian menghampiri Lilian dan memeluknya.
" Gama itu udah klepek-klepek biar pun Lian ga dandan cantik kaya gini Mbak. Bucin abis...," kata Mira dari ambang pintu.
Lanni dan Lilian menoleh lalu tersenyum mendengar ucapan Mira yang saat itu juga telah mengenakan kebaya dengan warna dan motif yang sama dengan Lanni.
" Mama bisa aja...," kata Lilian sambil tersipu malu.
" Duh, denger Kamu manggil Mama tuh di sini rasanya nyaman benget lho Li...," kata Mira sambil meraba dadanya dengan mimik lucu hingga membuat seisi ruangan tertawa.
" Udah selesai Mbak Lian. Tinggal nunggu dipanggil keluar aja buat akad nikah...," kata sang perias pengantin sambil tersenyum.
" Iya, makasih Bu...," kata Lilian.
" Sama-sama. Kok udah bilang terima kasih aja, kan Kita belum selesai Mbak. Sore nanti Kita masih ketemu buat persiapan resepsi...," kata sang perias pengantin mengingatkan.
__ADS_1
" Iya, terima kasihnya beda dong Bu. Kan acaranya ada dua. Satu buat yang sekarang, satu lagi buat persiapan resepsi...," sahut Lilian hingga membuat semua tertawa.
Tiba-tiba tawa mereka terhenti karena ketukan di pintu. Mira pun membuka pintu dan bicara dengan Ramon yang berdiri di balik pintu.
" Acara akadnya udah mau mulai Mir. Tolong ajak Lian ke depan ya...," pinta Ramon.
" Iya Mas. Lian juga udah selesai kok. Apa Kamu ga mau ngeliat dulu Mas...?" tanya Mira.
" Emangnya boleh...?" tanya Ramon.
" Boleh dong. Kamu kan Ayah kandungnya dan bukan calon suaminya, jadi boleh ngeliat calon pengantin wanitanya. Ayo masuk...," kata Mira sambil membuka pintu sedikit lebih lebar agar Ramon bisa masuk.
Ramon masuk dan mematung di tempatnya. Melihat Lilian dalam balutan kebaya pengantin membuatnya terharu dan ingin menangis. Anak perempuan yang selalu merengek di gendongannya itu kini telah menjelma menjadi gadis cantik dan dewasa.
" Ayah...," panggil Lilian dengan suara tercekat.
" Iya Nak...," sahut Ramon kemudian bergegas menghampiri Lilian dan memeluknya.
Untuk sejenak suasana haru kembali menyeruak di ruangan itu. Hingga sebuah ketukan lain terdengar di balik pintu.
" Kak Lian, akadnya udah mau mulai. Ditunggu di depan ya...!" kata Rex lantang hingga membuat Ramon mengurai pelukannya.
" Iya Rex...!" sahut Lilian
" Biar Saya rapiin sedikit make upnya ya Mbak. Ga lama kok...," kata sang perias pengantin.
" Maaf ya Bu...," kata Lilian tak enak hati.
" Gapapa Mbak. Situasi kaya gini ga mungkin dihindari. Tapi Mbak tenang aja, produk make up yang Kami pakai adalah yang terbaik. Jadi Mbak ga usah khawatir akan rusak meski pun Mbak menangis nanti...," kata sang perias pengantin berpromosi hingga membuat semua orang tersenyum.
" Ayah tunggu di luar ya...," kata Ramon sambil mengusap kepala Lilian dengan lembut.
" Iya Yah...," sahut Lilian sambil tersenyum.
__ADS_1
Setelahnya Lilian berjalan keluar ruangan diapit Lanni dan Mira. Ketegangan terlihat di wajahnya namun memudar saat ia melihat Gama tengah menatapnya dengan tatapan lembut.
\=\=\=\=\=