Kidung Petaka

Kidung Petaka
66. Sedih Atau Senang ?


__ADS_3

Suasana di sekitar kios mie ayam mendadak gempar. Jeritan minta tolong dan tangis kesakitan pun melebur jadi satu.


Lilian yang terpanggil untuk membantu pun bergegas turun dari mobil. Gama yang melihatnya pun terkejut dan bergegas turun dari mobil untuk menghadang Lilian.


" Lo mau kemana...?!" tanya Gama sambil merentangkan kedua tangannya.


" Lo ga liat apa yang terjadi barusan?. Gue mau ke sana bantu mereka, minggir Lo...!" kata Lilian lantang.


" Ga bisa, Lo tetep di sini...!" kata Gama tak kalah lantang.


" Jangan egois Gam. Ada orang terluka dan butuh bantuan tapi Lo diem aja itu sih urusan Lo. Tapi Gue ga bisa Gam, Gue perawat dan Gue terpanggil untuk bantuin mereka. Kalo Lo ga mau bantu jangan halangin Gue...!" sahut Lilian sambil berusaha mendorong tubuh Gama agar menyingkir dari jalannya.


Namun Gama tak bergeser satu jengkal pun dari tempatnya. Ia bahkan memeluk Lilian dengan erat hingga membuat gadis itu marah.


" Gama, lepasin !. Jangan modus Lo ya...!" jerit Lilian sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Gama.


Lagi-lagi Gama tak peduli. Ia mempererat pelukannya meski pun Lilian memukuli tubuhnya. Terakhir Lilian menggigit pundak Gama hingga berdarah saking kesalnya.


" Ssshhh..., sakiitt Liaann...!" jerit Gama lantang tanpa melepaskan pelukannya.


Jeritan Gama mengejutkan Lilian karena ia mendengar pria itu menyebut namanya tanpa embel-embel 'kak' seperti biasanya. Untuk sejenak keduanya saling menatap dengan tatapan yang sulit dilukiskan. Namun sesaat kemudian terdengar ledakan dari kios mie ayam yang terbakar itu hingga membuat semua orang menjerit panik.


Saat ledakan kedua terjadi, Lilian refleks membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Gama yang saat itu masih memeluknya.


" Ini yang Gue khawatirin dari tadi. Maaf kalo bikin Lo salah paham...," kata Gama sambil mengeratkan pelukannya.


Nafas Gama memburu dan jantungnya berdetak cepat. Di satu sisi ia bahagia karena bisa menyelamatkan Lilian dari bahaya. Namun di sisi lainnya rasa perikemanusiaan Gama terusik karena tak bisa menyelamatkan para korban yang terperangkap di dalam kios mie ayam itu.


Di saat yang sama Lilian juga terdiam karena tak tahu harus bicara apa. Saat itu Lilian merasa bingung, harus sedih atau senang. Di depan matanya ia menyaksikan korban di dalam kios mie yang semula masih bisa diselamatkan, kini justru terpanggang dan dipastikan meninggal dunia tanpa sempat ditolong. Lilian pun menangis diam-diam dalam pelukan Gama.


Tak lama kemudian sirine mobil polisi dan Ambulans terdengar di kejauhan. Rupanya sudah ada orang lain yang menghubungi pihak berwajib sesaat setelah ledakan pertama terjadi.


Dalam sekejap jalan di sekitar kios yang terbakar menjadi sibuk. Semua orang yang ada di dalam kios lain yang berdekatan dengan kios mie ayam itu pun nampak berhamburan keluar. Sebagian menjauh dan langsung pergi meninggalkan tempat itu karena tak ingin mengalami nasib yang sama dengan para korban. Sebagian lain memilih tetap bertahan karena ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana.


Kesibukan yang terjadi di sekitarnya tak membuat Gama dan Lilian terusik. Entah mengapa dunia seolah berhenti berputar untuk Gama dan Lilian yang masih berdiri sambil saling memeluk itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Lilian tiba di rumah disambut Rex dan kedua orangtua mereka. Lilian langsung menghambur memeluk sang ibu dan menangis. Gama yang mengantar Lilian hingga ke rumah nampak salah tingkah karena khawatir Rex dan kedua orangtuanya salah paham padanya.


" Alhamdulillah Kalian gapapa...," kata Lanni dengan suara bergetar.


" Thanks udah bawa Kak Lian pulang dengan selamat ya Bro...," kata Rex sambil menepuk pundak Gama.


" Sebentar deh. Ini Gue yang lemot atau emang udah terjadi sesuatu. Sebenernya ada apaan sih Rex...?" tanya Gama sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Kita duduk dulu biar enak ngobrolnya. Ayo anak-anak...," kata Ramon menengahi.


Ramon pun duduk di sofa ruang tamu diikuti keluarganya juga Gama. Lalu Ramon, Lanni dan Rex pun menjelaskan apa yang terjadi hingga membuat Gama mengerti.


" Kami baru aja liat berita di tivi tentang kios mie ayam yang terbakar itu. Kami tau kalo itu kios pedagang mie ayam langganan Lian. Kami jadi cemas karena Lian ga pulang-pulang padahal harusnya kan udah sampe di rumah. Kami mencoba menghubungi Lian tapi ponselnya ga aktif. Kami juga telephon ke Rumah Sakit dan temannya bilang Lian udah pulang daritadi. Makanya Kami jadi panik...," kata Ramon.


" Kami khawatir Lian mampir ke toko mie ayam itu dan ikut jadi korban...," sela Lanni sambil mengusap punggung Lilian yang masih memeluknya.


" Sebelumnya Gue sempet telephon Edi dan nanyain Lo. Edi justru bilang kalo Lo nganterin Kak Lian pulang dua jam yang lalu. Kalo pulang dua jam yang lalu harusnya kan udah sampe, tapi ini kok belum. Makanya Gue sama Ayah siap-siap mau nyari Kak Lian tadi...," kata Rex menambahkan.


" Maksud Lo, Lo sama Kak Lian makan mie ayam di kios itu tadi...?" tanya Rex tak percaya.


" Iya...," sahut Gama sambil menganggukkan kepalanya.


" Ya Allah..., untung Kalian ga terluka. Tapi gimana bisa Kalian selamat dari ledakan itu tanpa luka sedikit pun...?" tanya Lanni sambil mengamati Lilian dan Gama bergantian.


" Gama ngajak pergi sebelum kios itu meledak Bu...," sahut Lilian sambil mengurai pelukannya.


" Iya, tapi Lo sempet ngamuk juga tadi...," sela Gama kesal.


" Itu kan karena Gue ga tau kalo tempat itu bakal meledak Gam...!" kata Lilian membela diri.


" Gue juga ga tau kalo kios itu mau meledak. Gue cuma ngikutin petunjuk yang pernah Rex kasih ke Gue...," sahut Gama.


" Petunjuk apa...?" tanya Ramon sambil menatap Rex dan Gama bergantian.

__ADS_1


" Petunjuk suara senandung ghaib Yah...," sahut Gama cepat.


" Lo denger suara itu lagi Gam...?" tanya Rex tak percaya.


" Iya. Awalnya Gue kira itu suara pengamen lagi nyanyi, tapi ga taunya bukan. Apalagi saat itu semua orang keliatan ga ngeh atau emang ga denger suara itu termasuk Kakak Lo ini...," sahut Gama sambil melirik Lilian.


Ramon, Lanni dan Rex pun menoleh kearah Lilian yang saat itu terlihat sangat kusut.


" Terus...?" tanya Rex tak sabar.


" Gue langsung maksa Kakak Lo untuk cabut lah. Karena buru-buru, hampir aja Gue nabrak pembatas jalan tadi...," sahut Gama.


" Udah nabrak Gam, bukan hampir...," sela Lilian.


" Iya iya. Abis Gue panik, jadi wajar dong...," sahut Gama.


" Teruusss...?" tanya Rex sambil menatap tajam kearah Gama dan Lilian.


" Terus pas jarak sekitar lima puluh meter dari kios, Aku kaget karena mendadak terdengar ledakan yang keras banget. Pas noleh ke belakang Aku liat kios mie ayam itu terbakar...," sahut Lilian sambil menautkan jemari tangannya dengan gelisah.


" Dan Kakak Lo ini hampir jadi korban juga karena mau menolong korban yang terperangkap di dalam kios yang terbakar itu...," kata Gama hingga mengejutkan semua orang.


Ramon, Lanni dan Rex kembali menatap Lilian yang nampak terpukul itu.


" Itu karena Aku merasa terpanggil untuk menolong mereka. Aku kan perawat, jadi jangan heran kalo Aku bersikap begitu tadi...," kata Lilian membela diri.


Ramon dan Lanni saling menatap sambil menganggukkan kepala karena paham dengan perasaan Lilian saat itu.


" Tapi Gama halangin Aku. Sampe akhirnya terjadi ledakan kedua yang langsung membuat dinding kios hancur. Saat itu Aku baru sadar kalo kios itu dan semua orang di dalamnya emang ga bisa diselamatkan...," kata Lilian sendu.


" Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun..., " kata Ramon, Lanni dan Rex bersamaan.


Untuk sesaat suasana di ruang tamu rumah Ramon menjadi hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Lanni kembali memeluk Lilian dengan erat karena tak sanggup membayangkan putri tercintanya menjadi korban dalam ledakan itu.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2