
Hari itu Rex dan Gama sedang menunggu kedatangan Gusur. Ternyata mereka sepakat untuk melihat rumah idaman Gama itu.
Gusur datang dengan mobil dinasnya dan nampak tersenyum lebar saat melihat Rex dan Gama telah duduk menunggunya di depan bengkel.
" Assalamualaikum, maaf telat ya Bang. Macet di jalan tadi...," kata Gusur sambil menyalami Rex dan Gama bergantian.
" Wa alaikumsalam, gapapa Sur. Kami juga baru sampe. Iya kan Gam...?" tanya Rex sambil menoleh kearah Gama.
" Iya. Jadi Kita berangkat sekarang atau masih harus nunggu yang lain...?" tanya Gama.
" Berangkat sekarang dong Bang...," sahut Gusur sambil membukakan pintu mobil utuk Rex dan Gama.
" Ish, ga usah lebay gitu Sur. Gue bisa buka pintu sendiri, ngapain pake dibukain segala sih. Bikin jijay aja Lo...," kata Rex sambil mengerucutkan bibirnya hingga membuat Gama dan Gusur tertawa.
" Ok Bang, sorry ya...," sahut Gusur sambil mulai melajukan mobilnya perlahan.
Tiba-tiba Gama membuka kaca pintu mobil lalu berteriak memanggil ketiga karyawannya.
" Wooiii...! Anak-anak !. Papa jalan dulu yaaa...!" gurau Gama sambil melambaikan tangannya kearah tiga karyawannya.
" Iya Papa. Hati-hati yaaa...!" sahut Edi, Ipung dan Riki sambil tertawa.
" Dasar sableng. Norak Lo...!" kata Rex sambil melengos.
" Biarin...," sahut Gama cuek.
Lagi-lagi tingkah Gama dan Rex membuat Gusur tertawa geli.
" Jangan ketawa mulu Sur, ntar nabrak Lo...!" kata Gama mengingatkan.
" Siap Bang...," sahut Gusur sambil berusaha meredakan tawanya.
Perjalanan menuju perumahan yang dimaksud Gusur lumayan menyita waktu dan melelahkan. Apalagi Rex dan Gama harus rela terguncang di dalam mobil dalam waktu cukup lama.
" Ini karena kondisi jalanannya masih jelek Bang, belum diaspal. Tapi kalo udah diaspal mah bagus dan nyaman dilewati. Bisa cepet sampe juga...," kata Gusur berpromosi.
" Iya iya, dagang mulu Lo Sur...," sahut Gama sambil mencibir.
Gusur hanya tertawa kecil. Entah mengapa ucapan Rex dan Gama yang ketus itu tak membuat Gusur tersinggung. Gusur malah merasa dekat layaknya teman lama. Ia juga merasa kliennya kali ini berbeda dengan klien lain yang pernah ia tangani.
" Nah Kita sampe Bang. Tapi karena lagi ada pengerjaan pengaspalan jalan, mobil ga bisa masuk dan harus parkir di luar. Terpaksa Kita jalan kaki menuju lokasi rumah Abang. Gapapa ya Bang...," kata Gusur.
__ADS_1
" Siipp lah, ga masalah itu...," sahut Gama sambil bergegas turun dari mobil.
Kemudian Gusur membawa Rex dan Gama melihat-lihat lokasi proyek pembangunan perumahan itu termasuk beberapa rumah yang telah selesai dibangun dan siap dihuni.
" Ini cluster Happy Bang, udah selesai dan siap huni. Sisa dua lagi yang belum sold out...," kata Gusur.
" Bagus juga nih Gam...," kata Rex sambil mengamati bangunan rumah bergaya minimalis modern itu dengan tatapan kagum.
" Iya sih. Tapi Gue masih penasaran sama rumah yang Gue pilih itu Rex...," sahut Gama ragu.
" Gapapa Bang, liat-liat aja dulu...," kata Gusur menengahi.
" Terus dimana lokasi rumah itu Sur...?" tanya Gama tak sabar.
" Di sebelah sana Bang, yuk ikut Saya...," ajak Gusur.
Rex dan Gama mengangguk lalu mengikuti langkah Gusur. Tak lama kemudian Gusur menunjuk 'rumah pesanan' Gama yang terlihat di kejauhan.
" Nah itu dia Bang...!" kata Gusur.
" Lumayan jauh ya Sur, letaknya di tengah komplek ya...?" tanya Gama sambil mengamati sekeliling rumah yang dimaksud.
" Hampir ke tengah tepatnya. Sengaja Bang, kan biasanya pengantin baru butuh privacy. Makanya dibuat ditengah biar ga jadi bahan perhatian orang...," gurau Gusur.
" Iya lah Bang. Emang ada yang mau ya acara begituannya ditonton orang. Orang ga waras itu namanya...," sahut Gusur sambil tertawa.
Gama pun ikut tertawa hingga membuat Rex jengah.
" Lo berdua stress ya. Ngomong begituan-begituan terus daritadi. Sakit nih kuping Gue...!" hardik Rex sambil menatap kesal kearah Gama dan Gusur.
" Sakit berobat lah Rex, gitu aja kok bingung...," kata Gama santai sambil melangkah masuk ke dalam rumah siap huni itu.
Rex mendengus kesal lalu mengikuti Gama dan Gusur yang telah lebih dulu masuk ke dalam rumah idaman Gama itu.
Saat sedang asyik mengamati bagian dalam rumah, tiba-tiba Rex melihat sekelebat bayangan melintas di balik jendela. Rex mengerutkan keningnya lalu perlahan mendekat ke jendela untuk melihat siapa yang baru saja melintas itu.
Kemudian Rex membuka jendela yang tertutup itu dan membulatkan matanya saat melihat hamparan sawah luas yang membentang di balik jendela.
" Sawah, terus cewek baju pink itu kemana dong...," gumam Rex sambil melongokkan kepalanya keluar jendela.
" Kenapa Bang Rex...?" tanya Gusur.
__ADS_1
" Gapapa, cuma mau mastiin kalo di halaman belakang emang cuma ada sawah dan ga ada pohon sama sekali...," sahut Rex.
" Oh iya, Saya lupa bilang. Persawahan di belakang rumah memang sengaja dibiarkan Bang. Itu milik warga asli di sekitar sini. Sengaja dijadikan daya tarik sekaligus tempat warga mencari nafkah. Jadi meski pun ada perumahan baru di sini, warga ga akan kehilangan mata pencahariannya Bang. Diharapkan ke depannya mereka bisa bersinergi dengan penghuni perumahan ini, misalnya dengan membuka usaha bersama. Kan lumayan kalo bisa menghasilkan uang...," kata Gusur.
" Setuju. Viewnya juga bagus ya Sur. Jadi betah deh tinggal di sini...," sahut Rex sambil tersenyum.
" Kalo gitu Abang berdua tunggu di sini sebentar ya. Saya cari minuman dulu. Aus juga ngomong mulu daritadi...," kata Gusur sambil meraba lehernya.
" Salah Lo sendiri. Kerjaan pake mulut kok ga bawa minum...," sahut Rex sambil tertawa.
" He he..., iya Bang. Saya keluar sebentar ya Bang...," pamit Gusur sambil bergegas melangkah keluar rumah.
Rex melepas kepergian Gusur sambil menggelengkan kepala. Gama yang baru saja usai melihat kamar dan ruangan lain pun datang mendekati Rex.
" Kemana si Gusur...?" tanya Gama sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari Gusur.
" Keluar sebentar cari minum katanya...," sahut Rex cepat.
" Oh gitu...," kata Gama lalu duduk sambil meluruskan kakinya di lantai.
" Jadi Lo serius mau ambil rumah ini Gam...?" tanya Rex.
" Mmm..., setelah ngecek ke dalam tadi kayanya Gue ragu Rex...," sahut Gama.
" Ragu kenapa...?" tanya Rex sambil duduk di ambang jendela.
" Gue ngerasa ga nyaman aja di ruang tengah. Hawanya ga enak, pengap gitu...," sahut Gama sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.
" Itu pasti karena dia...," kata Rex lirih namun masih bisa didengar oleh Gama.
" Dia siapa Rex...?" tanya Gama.
" Gue tadi ngeliat penampakan cewek pake baju pink lewat di balik jendela Gam. Pas Gue kejar, eh ga ada. Ga tau deh ilang kemana, padahal cuma ada sawah yang luas dari ujung sana sampe ke sana. Itu artinya cewek itu ngilang, kan ga ada tempat sembunyi di sawah. Kalo cewek bisa ngilang, artinya dia makhluk halus. Iya kan Gam...?" tanya Rex.
" Duh, kenapa harus ketemu gituan sih. Ntar kalo Istri Gue takut gimana...?" tanya Gama cemas.
" Kan tempat ini udah lama ga dihuni, jadi wajar kalo ada makhluk halus yang menempati. Mungkin dia jagain tempat ini sekaligus menunggu pemilik sesungguhnya datang nanti...," kata Rex bijak.
" Iya sih. Tapi Gue kok merinding denger cerita Lo Rex...," sahut Gama sambil meraba tengkuknya yang menebal.
Entah mengapa udara di dalam rumah mendadak terasa dingin. Padahal di luar matahari bersinar terik dan AC di rumah itu belum terpasang.
__ADS_1
\=\=\=\=\=