Kidung Petaka

Kidung Petaka
221. Masih Tentang Shezi ?


__ADS_3

Cerita tentang Shezi yang hampir dilecehkan sepupunya itu pun disampaikan Lilian kepada keluarganya. Ramon, Lanni dan Gama nampak kesal usai mendengar cerita itu.


" Kurang ajar !. Kita harus melakukan sesuatu Yah. Kasian kan Shezi...," kata Lanni.


" Iya Bu. Tapi saat ini Kita ga bisa bertindak gegabah. Bagaimana pun Kita harus menghormati privacy Shezi. Dia pasti punya pertimbangan tersendiri kenapa ga melaporkan usaha pelecehan itu ke Polisi...," sahut Ramon bijak.


" Iya sih. Cuma kok Ibu jadi gemes aja sama tindakan Shezi yang lamban itu Yah. Ibu khawatir cowok itu keburu beraksi. Kalo udah kaya gitu kan artinya Shezi udah kehilangan semuanya dan Kita terlambat menyelamatkannya...," kata Lanni cemas.


" Tapi keliatannya cowok itu baru nemuin apotik tempat kerja Shezi aja Bu. Dia belum sampe datang ke kost-an Shezi. Itu artinya untuk sementara ini Shezi aman. Apalagi temen-temennya Shezi sepakat buat melindungi Shezi andai cowok itu datang ke apotik lagi nanti...," kata Lilian.


" Tapi sementaranya itu sampe kapan Kak. Ibu tetep aja ga tenang...," sahut Lanni gusar.


Di saat pembicaraan tengah serius, Rex pun datang.


" Assalamualaikum..., " sapa Rex dari ambang pintu.


" Wa alaikumsalam..., " sahut semua orang sambil menoleh kearah Rex.


Kemudian Rex menghampiri kedua orangtuanya lalu mencium punggung tangan mereka bergantian. Rex juga memeluk Lilian dan Gama bergantian.


" Kok tumben baru pulang Rex...?" tanya Lilian sambil menggeser duduknya.


" Iya Kak. Ada sedikit tugas tambahan tadi. Ada apa nih kok mukanya pada tegang gitu...?" tanya Rex sambil duduk di samping sang kakak.


" Ada kabar buruk tentang Shezi...," sahut Lilian.


" Masih tentang Shezi ?. Kenapa sih ngebahas Shezi terus. Aku curiga Kalian ini lagi berusaha ngejodohin Aku sama Shezi, iya kan...?" tanya Rex sambil menatap semua orang bergantian.


" Ga usah ge-er Kamu ya. Kita emang suka sama Shezi. Tapi ga bermaksud maksa Kamu untuk menyukai dia juga apalagi sampe jodohin Kamu sama Shezi...," sahut Lanni ketus.


" Terus kalo bukan itu apa dong...?" tanya Rex sambil melangkah ke ruang makan untuk mengambil air minum.


" Shezi itu lagi dikejar sepupu cowoknya yang katanya pernah berniat melecehkan dia dulu...," kata Lilian hingga mengejutkan Rex.

__ADS_1


" Kakak tau darimana...?" tanya Rex.


" Kakak denger sendiri tadi pas lagi benerin perbannya Shezi. Shezi dan temennya yang cerita langsung makanya Kakak percaya..., " sahut Lilian cepat.


" Oh gitu...," sahut Rex dengan santai.


" Kok cuma bilang Oh gitu doang sih Rex...," protes Lilian.


" Terus Aku harus bereaksi gimana Kak ?. Shezi itu udah dewasa, pinter juga. Dia pasti tau gimana harus ngadepin cowok breng*ek itu. Dia juga tau gimana melindungi diri, lapor Polisi mungkin atau diajak berantem sekalian...," sahut Rex.


" Sayangnya Shezi ga ngelakuin itu Rex. Dia justru milih kabur dari rumah dan nyari tempat kost untuk dia tinggal sekarang. Nah yang jadi masalah adalah karena sepupu resenya itu udah nemuin apotik tempat kerjanya Shezi. Itu yang bikin Kami cemas daritadi Rex...," kata Lilian gusar.


" Nah itu yang Aku maksud tadi Kak. Shezi tau gimana cara menghadapi sepupunya itu. Dengan dia keluar dari rumah dan cari tempat lain itu adalah bentuk pertahanan diri Shezi. Harusnya Kita hargai itu dan bukan malah sok ikut campur sama hidupnya dia. Emangnya Shezi itu siapa Kita sampe Kita harus mikirin dengan detail apa yang baik dan ga baik buat dia...," kata Rex sambil berlalu.


Ucapan Rex memancing kemarahan Lilian. Beruntung Gama berhasil menenangkan istrinya hingga pertengkaran pun tak terjadi.


" Rex tuh keterlaluan banget Sayang...," kata Lilian gemas.


" Apa yang Rex bilang masuk akal kok. Kita kan cuma orang luar buat Shezi. Jadi Kita hanya bisa menonton dari jauh. Lain cerita kalo Shezi mengeluh sama Kita atau minta bantuan Kita. Nah, kalo saat itu datang baru Kita bergerak Sayang. Ngerti kan maksud Aku...," kata Gama sambil menarik Lilian ke dalam pelukannya.


\=\=\=\=\=


Rex terpaksa memenuhi keinginan orangtuanya yang memintanya menjemput Shezi saat gadis itu diijinkan pulang oleh dokter.


Saat itu Rex sudah berada di loby Rumah Sakit Sentosa dan tengah menunggu Shezi yang dijemput Lilian di ruangannya. Rex pun duduk sambil kembali mengingat percakapannya dengan sang ibu beberapa jam yang lalu.


" Kenapa harus dijemput segala sih Bu. Shezi kan bukan siapa-siapa Aku. Lagian dia juga bisa pulang sendiri kok pake Taxi...," kata Rex.


" Walau dia bukan siapa-siapa Kamu tapi apa Kamu ga bisa menghargai hubungan Ibu dan Ayah sama Tante Luna sedikit aja Rex...?" tanya Lanni sambil menatap Rex lekat.


" Kita lagi ngomongin Shezi bukan Tante Luna Bu. Lagian apa hubungannya Shezi sama Tante Luna...," sahut Rex berusaha sabar.


" Kamu ga lupa kan kalo Shezi yang ditemuin sama arwahnya Tante Luna. Shezi juga yang berhasil membujuk Tante Luna supaya mau nyeritain semuanya. Dan berkat bantuannya Kamu bisa dengan mudah mengetahui apa yang Tante Luna inginkan sekaligus menghentikan terror hantu pengusung keranda itu. Apa sampe sini Kamu ga paham juga Rex...?" tanya Lanni dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Melihat sang ibu hampir menangis saat mengingat jasa Shezi membuat Rex iba. Ia nampak menghela nafas panjang sebelum akhirnya setuju dengan permintaan sang ibu.


" Luna itu seperti saudara buat Ibu. Ibu menyesal karena ga peka sama keadaan dan mengira Luna udah hidup bahagia bersama pasangannya. Andai Ibu tau lebih awal kalo dia meninggal gara-gara ulah Bapaknya, pasti Ibu udah penjarain Bapaknya itu Rex. Melihat Shezi itu mengingatkan Ibu sama Luna. Ibu ingin menebus kesalahan Ibu dengan bersikap baik sama Shezi. Apa Ibu ga boleh berbuat baik sama orang yang udah membantu Luna menemukan ketenangan Rex...?" tanya Lanni dengan suara bergetar.


" Iya Bu, maafin Rex ya karena udah bikin Ibu sedih. Ok, Aku bakal jemput Shezi nanti...," sahut Rex sambil memeluk sang ibu dengan erat.


" Makasih ya Rex. Kamu emang anak Ibu yang paling baik...," kata Lanni sambil tersenyum.


" Jangan bilang gitu Bu. Ntar kalo Kak Lian denger pasti marah deh...," sahut Rex mengingatkan sang ibu.


Ucapan Rex justru membuat Lanni tertawa karena ia ingat bagaimana sikap Lian jika dibandingkan dengan adiknya itu.


Lamunan Rex buyar saat Lilian memanggil namanya. Ia melihat Lilian sedang mendorong kursi roda Shezi.


" Jadi Kapten Rex yang nganterin Aku pulang Kak...?" tanya Shezi sambil mendongakkan wajahnya menatap Lilian.


" Iya. Gapapa kan...?" tanya Lilian sambil bergeser dan membiarkan Rex menggantikan tugasnya mendorong kursi roda.


" Ya udah gapapa, abis mau nolak juga ga bisa...," sahut Shezi dengan enggan.


" Ok. Kalo gitu Kakak harus balik kerja. Maaf ga bisa nganterin Kamu sampe rumah ya Zi...," kata Lilian.


" Iya. Makasih ya Kak...," sahut Shezi.


Setelah saling memeluk Lilian pun berbalik untuk melanjutkan tugasnya sedangkan Rex mendorong kursi roda Shezi menuju parkiran.


Tak ada pembicaraan apa pun diantara Rex dan Shezi. Tak lama kemudian Rex berhenti mendorong kursi roda hingga membuat Shezi bertanya.


" Kok berhenti Kapten, ada apa...?" tanya Shezi sambil menoleh ke belakang.


Rex tak menjawab pertanyaan Shezi. Namun tatap matanya tertuju ke satu arah. Saat Shezi mengikuti arah tatapan Rex ia pun tersenyum maklum.


Rupanya saat itu Rex tengah menatap kearah seseorang yang terlihat melangkah cepat memasuki loby Rumah Sakit Sentosa.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2