
Gama nampak duduk tenang sambil mengawasi pergerakan Lilian. Beberapa polisi berseragam juga nampak berlalu lalang dan itu membuat suasana Rumah Sakit yang semula tegang sedikit mencair.
Gama tersentak saat mendengar dering ponselnya. Ia meraih ponsel dan tersenyum saat melihat nama T-Rex di layar ponselnya itu.
" Iya Rex...," sapa Gama.
" Lo masih di sana kan Gam, gimana situasinya...?" tanya Rex.
" Iya Rex, Lo tenang aja. Di sini aman kok, kan banyak Polisi yang datang buat ngamanin tempat ini...," sahut Gama.
" Bagus deh. Lo belum kasih kabar ke Ayah kalo mau nginep ya Gam...?" tanya Rex.
" Astaghfirullah, Gue lupa Rex. Duh pasti Om sama Tante bingung nih nyariin Gue...," kata Gama panik.
" Eh, dodol. Orangtua ga bakal panik ya nyariin Lo. Secara Lo kan bukan anak kecil atau perawan yang harus dikhawatirin...!" kata Rex lantang dari seberang telephon.
" Oh iya ya. Gue lupa...," sahut Gama sambil nyengir.
" Tapi ga ada salahnya Lo ngasih kabar ke rumah biar orangtua Gue ga begadang gara-gara nungguin Lo...!" hardik Rex.
" Iya iya. Galak amat sih Lo kaya perawan patah hati...," gurau Gama sambil tertawa.
" Sia*an. Udah buruan telephon ke rumah...!" kata Rex di akhir kalimatnya.
Gama pun menghentikan tawanya lalu menghubungi Ramon dan menceritakan apa yang terjadi di Rumah Sakit.
" Terus Lian gapapa kan Gam...?" tanya Ramon.
" Gapapa kok Om. Kak Lian malah keliatan santai dan kerja kaya biasa...," sahut Gama.
" Lian emang kaya gitu. Dia ga bakal memperlihatkan perasaannya yang sesungguhnya di depan orang lain kecuali dia merasa nyaman sama orang itu...," kata Ramon sambil tersenyum.
" Maaf Om, Saya tutup dulu ya. Saya mau ngikutin Kak Lian nih. Keliatannya dia sendirian mau nganterin obat atau apa gitu. Padahal tadi dia yang bilang sama temen-temennya kalo semua harus saling menjaga dan pergi berdua atau bertiga ke ruang pasien. Tapi sekarang justru dia yang nekad pergi sendiri...," kata Gama.
" Ok Gam, tolong jaga Lian ya...," sahut Ramon.
Gama pun mengangguk walau tahu Ramon tak bisa melihat anggukan kepalanya. Setelahnya Gama mengikuti Lilian yang berjalan melintasi koridor Rumah Sakit seorang diri.
Dari kejauhan Gama melihat Lilian melangkah sambil mendorong troli berisi obat-obatan. Dalam hati Gama kagum dengan keberanian Lilian dan sikap profesional gadis itu dalam menjalankan tugas meski pun kondisi saat itu tengah genting dan tak aman untuk wanita.
__ADS_1
Lilian terus melangkah sambil berdzikir dalam hati. Lilian juga memasang sikap waspada saat ia melintas di dekat rimbunan pohon di taman Rumah Sakit. Berkali-kali ia mengusap peluh yang menitik di dahi dengan punggung tangannya untuk menetralisir rasa takutnya.
" Padahal biasanya tempat ini friendly banget. Tapi sejak kasus pelecehan se**al itu merebak bikin suasana jadi terasa serem...," batin Lilian sambil mempercepat langkahnya.
Lilian terus melangkah cepat bahkan setengah berlari saat melintas di samping gudang obat yang terlihat temaram karena pencahayaan yang minim. Langkah cepat Lilian menyebabkan suara detak sepatunya dan roda troli yang berputar terdengar menggema di malam yang gelap itu. Dan itu membuat bulu kuduk Lilian meremang karena teringat dengan film horror yang sering ditontonnya.
" Kenapa pake mati lampu segala sih, biasanya kan terang benderang kaya show room mobil...," gerutu Lilian sambil mencengkram erat besi pegangan troli.
Tiba-tiba sebuah bayangan melintas di kegelapan dan itu membuat Lilian takut lalu menghentikan langkahnya.
" Siapa di sana ?!. Pak Ujang, Mas Kunto...!" panggil Lilian.
Tak ada sahutan dan itu membuat Lilian makin panik. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan jika dia tak sendiri di sana. Lilian bernafas lega saat melihat Gama melangkah cepat kearahnya.
" Gama...!" panggil Lilian dengan suara bergetar.
" Iya Kak. Kenapa sendirian sih, Kakak mau kemana...?" tanya Gama.
" Mau ambil obat...," sahut Lilian.
" Ck, bukannya tadi Lo yang ngatur supaya semua perawat bekerja sama dan saling menjaga ya. Tapi kenapa malah Lo yang sekarang sendirian...," sindir Gama.
Melihat kondisi Lilian yang tampak ketakutan membuat Gama iba. Ia menghela nafas panjang lalu membantu mendorong troli.
" Ayo Gue temenin biar Lo ga sendirian...," kata Gama.
" Ok, makasih ya Gam...," kata Lilian sambil tersenyum.
" Hmmm...," sahut Gama cuek.
Kemudian Lilian melangkah di samping Gama. Sesekali ia mengamati sekelilingnya karena khawatir ada orang yang akan berniat jahat.
" Tenang aja Kak, ada Gue di sini. Kalo dia berani macem-macem Gue ga akan segan kirim dia ke neraka...!" kata Gama dengan lantang sambil melakukan gerakan meninju dan menendang.
Lilian tahu Gama sengaja melakukan itu karena ingin menggertak orang yang tadi mencoba menakutinya.
" Iya Gam. Tapi Lo ga bisa masuk ke dalam karena tempat ini bukan untuk umum. Cuma petugas yang boleh masuk ke dalam. Gapapa kan kalo Lo nunggu di luar...?" tanya Lilian cemas.
" Iya iya Gue tau. Udah buruan masuk, Gue tunggu di sini. Kalo ada apa-apa panggil Gue ya...," kata Gama.
__ADS_1
" Iya...," sahut Lilian sambil membuka pintu.
" Sebentar Kak...!" panggil Gama tiba-tiba.
" Ada apaan lagi Gam...?" tanya Lilian sambil mengerutkan keningnya.
" Biasanya Lo berapa lama di dalam ruangan ?. Bukan apa-apa, Gue cuma mastiin aja kalo Lo aman di dalam...," kata Gama.
" Oh gitu. Biasanya sih lima belas atau dua puluh menitan, tergantung jenis obat yang harus Gue ambil. Kalo obatnya gampang nyarinya Gue malah bisa lebih cepet keluar...," sahut Lilian.
" Ok deh...," kata Gama sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
Lilian tersenyum lalu masuk ke dalam ruangan. Lilian juga menutup pintu ruangan karena begitu lah peraturannya.
Gama pun melangkah mondar mandir di depan ruangan yang Lilian masuki tadi. Sesekali ia menyoroti sekelilingnya dengan senter kecil yang dibawanya.
Tiba-tiba Gama melihat seseorang melompati dinding pagar yang berdiri memanjang di belakang ruangan yang dimasuki Lilian tadi. Gama pun gusar lalu memanggil Lilian.
" Kak Lian, Lo gapapa kan ?!. Kak Liaaann...!" panggil Gama sambil mengetuk pintu berulang kali.
Pintu pun terbuka dan memperlihatkan Lilian yang berdiri sambil memeluk kardus berisi obat-obatan.
" Gue gapapa Gam. Kenapa Lo gedor pintu kenceng banget kaya gitu. Lo ga lupa kalo ini Rumah Sakit kan Gam...? " tanya Lilian.
" Ga usah diingetin Gue juga tau !. Gue kira Lo terluka karena baru aja Gue ngeliat orang melompati pagar itu...!" kata Gama menjelaskan.
" Orang, cewek atau cowok Gam...?" tanya Lilian cemas.
" Mana Gue tau, tempatnya kan gelap. Lo masih lama ga di sini...?" tanya Gama.
" Gue udah selesai...," sahut Lilian cepat.
" Kalo gitu Kita cabut sekarang. Ayo buruan...!" kata Gama sambil meraih kardus berisi obat-obatan dari pelukan Lilian.
Lilian mengangguk lalu bergegas menutup pintu. Setelahnya ia dan Gama melangkah cepat meninggalkan ruangan itu.
" Kalo ga mikirin keselamatan Lo pengen rasanya Gue kejar aja tuh orang. Tapi Gue ga mau saat Gue sibuk menghajar orang itu, justru pelaku sesungguhnya muncul dan nyelakain Lo...," kata Gama sambil mendorong troli.
Lilian terdiam karena tak menyangka jika Gama peduli akan keselamatannya. Dalam hati Lilian sedikit menyesal karena telah suudzon terhadap Gama.
__ADS_1
\=\=\=\=\=