
Rupanya kecurigaan tak hanya melanda Mira. Hal yang sama pun terjadi pada Lanni. Ia heran kenapa akhir-akhir ini Lilian dan Gama terlihat akur dan tak lagi bertengkar seperti biasanya saat mereka bertemu.
" Pagi-pagi gini ngelamunin apa sih Bu, serius banget keliatannya...?" tanya Ramon sambil mengecup kepala sang istri dengan sayang.
" Eh Ayah. Ga ngelamun Yah, cuma lagi mikir...," sahut Lanni sambil tersenyum.
" Mikir apa...?" tanya Ramon sambil duduk di samping Lanni lalu meneguk kopi di cangkirnya.
" Apa Ayah ga curiga sama Lian dan Gama Yah...?" tanya Lanni.
" Kenapa harus curiga...?" tanya Ramon.
" Mmm..., Kita tau kalo mereka itu kan kaya Tom and Jerry. Tapi kenapa sekarang mereka terlihat akur dan adem ayem aja ya Yah...," sahut Lanni sambil menoleh kearah sang suami.
" Oh itu. Bukannya bagus ya Bu. Mungkin mereka lelah dan akhirnya membuat kesepakatan untuk gencatan senjata...," gurau Ramon.
" Ayah nih. Ibu lagi serius Yah...," kata Lanni kesal namun membuat Ramon tertawa.
" Anak-anak itu udah dewasa Bu, mereka pasti tau kalo yang mereka lakukan selama ini salah dan bod*h. Makanya mereka mulai berusaha ngerem saat bertemu. Tapi sayangnya usaha mereka justru berbuah sesuatu yang manis...," kata Ramon sambil tersenyum penuh makna.
" Berbuah sesuatu yang manis. Maksudnya apa Yah...?" tanya Lanni tak mengerti.
" Coba Ibu pikirkan apa yang terjadi saat dua orang yang sering bertengkar saat bertemu mendadak harus terpisah jauh dan ga bicara sama sekali...," kata Ramon sambil menatap wajah sang istri lebih dekat.
" Mmm..., kangen mungkin..., " sahut Lanni.
" Persis !. Dan itu yang terjadi sama Lian dan Gama. Mereka kangen saat berjauhan dan...," Ramon sengaja menggantung ucapannya.
" Dan akhirnya tumbuh perasaan yang berbeda seperti yang terjadi sama kebanyakan pasangan yang saling membenci...," kata Lanni lirih.
Ramon menganggukkan kepalanya berharap sang istri menyadari satu hal. Dan berhasil. Lanni tersentak kaget lalu menoleh kearah Ramon dengan jeritan tertahan.
" Maksud Ayah Lian sama Gama sekarang pacaran...?!" tanya Lanni sambil membulatkan matanya.
" Iya...," sahut Ramon sambil tersenyum.
" Kok bisa, sejak kapan...?" tanya Lanni tak percaya.
__ADS_1
" Sejak kapannya Ayah ga tau pasti Bu. Tapi Gama emang udah pernah minta ijin sama Ayah buat deketin Lian. Katanya dia sayang banget sama Lian. Gama minta Ayah ngasih kesempatan yang sama kaya yang Ayah kasih ke semua pria yang datang mendekati Lian...," sahut Ramon.
" Terus...?" tanya Lanni tak sabar.
" Ayuh suruh Gama berpikir ulang. Mungkin aja itu cuma perasaan kagum bukan cinta seperti yang dia bilang itu. Tapi Gama keukeuh dan yakin kalo dia mencintai Lian. Dia berani bilang begitu setelah meyakini perasaannya sendiri Bu...," sahut Ramon.
" Apa Rex tau soal ini Yah...?" tanya Lanni cemas.
" Rex tau dan sempet marah. Tapi kemudian dia sadar kalo cinta itu kan emang ajaib. Ga bisa diatur kapan datangnya dan kemana bersandar. Jadi Rex memahami itu dan mensuport mereka...," sahut Ramon.
" Jadi cuma Ibu yang ga tau apa-apa di sini...," gumam Lanni dengan nada kecewa.
" Maaf ya Bu. Bukan maksud Kami menyembunyikan semuanya dari Ibu. Kami justru khawatir Ibu ga setuju sama hubungan Gama dan Lian nanti...," kata Ramon sambil memeluk istrinya.
" Kenapa Ayah mikir gitu sih. Selama ini siapa yang lebih percaya sama Gama ?. Aku lho Yah. Aku yang bilang kalo Gama itu orang yang bertanggung jawab dan bisa dipercaya...," kata Lanni.
" Iya. Tapi itu kan waktu Gama menggantikan tugas Rex untuk antar jemput Lian Bu. Kalo yang ini kan kondisinya beda...," sahut Ramon.
" Iya sih...," kata Lanni sambil tersenyum.
" Jadi Ibu setuju kan kalo suatu saat Gama dan Lian menikah...?" tanya Ramon hingga mengejutkan Lanni.
" Gama memang berniat menikahi Lilian Kita sejak awal Bu. Bahkan dia udah beli rumah untuk persiapan menikah...," kata Ramon.
" Jadi rumah yang dibeli itu untuk Lian...?" tanya Lanni.
" Bukan untuk Lian Bu. Untuk ditempati bersama saat mereka menikah nanti...," ralat Ramon.
" Iya iya. Sama aja kan Yah. Artinya Gama beli rumah ya karena mau menikahi anak Kita. Gitu kan...?" tanya Lanni dengan wajah berbinar.
" Iya Bu...," sahut Ramon.
" Kalo gitu Ibu setuju Yah. Ibu justru lega kalo Lian menikah sama Gama. Itu artinya udah ada yang menjaga Lian saat Kita tua dan ga sanggup lagi menjaganya...," kata Lanni sambil tersenyum lebar.
Ramon pun menghela nafas lega saat melihat reaksi istrinya. Ia tersenyum saat mengingat telephon Gondo tadi.
Sebelumnya Gondo telah memberitahu perihal kedatangannya ke Jakarta. Bahkan Gondo minta Ramon untuk menemaninya saat melamar gadis impian Gama nanti.
__ADS_1
" Gama minta Aku dan Mamanya datang ke Jakarta untuk melamar pacarnya Ram. Jujur Aku kaget, apalagi Mira. Tapi Aku ga mungkin menolak niat baik Anakku itu kan...?" kata Gondo dari seberang telephon.
" Melamar...?!" tanya Ramon tak percaya.
" Tuh kaget kan. Aku juga gitu Ram. Apalagi Aku dan Istriku belum mengenal gadis itu. Tapi Aku percaya dengan pilihan Gama kali ini. Gadis itu pasti istimewa sampe bisa bikin Gama ga sabar untuk menikahinya. Makanya Aku minta tolong temani Aku dan Mira saat melamar gadis itu ya Ram...," pinta Gondo penuh harap.
" Kapan...?" tanya Ramon dengan suara tercekat.
" Insya Allah hari Minggu besok...," sahut Gondo.
" Oh gitu...," kata Ramon sambil mengusap peluh di keningnya.
" Jangan lupa ajak Lanni dan anak-anak ya Ram...," kata Gondo mengingatkan.
" Iya...," sahut Ramon sambil tersenyum.
" Kalo gitu makasih, sampe ketemu lagi Ram. Assalamualaikum..., " kata Gondo mengakhiri percakapan mereka.
" Wa alaikumsalam..., " sahut Ramon sambil menghela nafas panjang.
Kemudian Ramon bersandar ke sandaran kursi untuk menetralisir detak jantungnya yang berpacu cepat usai mendengar berita mengejutkan tadi.
Sesaat kemudian ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menemui Lanni yang sedang melamun itu.
\=\=\=\=\=
Di ruang kerjanya Rex terlihat sibuk dengan kertas-kertas yang harus ia tanda tangani. Rex memang berniat mendaftarkan diri dalam misi kemanusiaan ke Afrika. Dan setelah mempelajari persyaratan yang harus dipenuhi, Rex nampak tersenyum tipis.
Kemudian Rex bangkit dari duduknya dan melangkah ke jendela. Dari sana ia bisa melihat lapangan yang dipenuhi rekan-rekannya yang sedang berlatih mengevakuasi korban bencana. Ia melihat seorang dokter ada bersama pasukan dan ikut berlatih bersama.
Melihat sang dokter mengingatkan Rex pada dokter Aksara. Gadis cantik nan galak yang telah membuatnya jatuh hati. Sayangnya Rex merasa jika gadis itu tak menyukainya hingga perlu menjaga jarak sejauh mungkin darinya.
" Jadi begini ya rasanya dicuekin sama cewek yang Kita taksir...," gumam Rex sambil menggelengkan kepalanya.
Lagi-lagi Rex teringat seseorang, Gama tepatnya. Ia menyaksikan betapa galaunya Gama saat Lilian tak menggubris perasaaannya dulu. Rex mengira jika Gama hanya sedang bermain-main. Tapi saat ingat Gama membeli rumah yang katanya untuk calon istrinya, akhirnya Rex bisa menerima perasaan Gama itu.
Terasa aneh awalnya, tapi semua mengalir seperti air. Hingga akhirnya Rex tahu jika Gama dan Lilian 'jadian'. Bahkan Gama juga tengah menyiapkan lamaran untuk Lilian. Ternyata Gama memang serius dengan perasaannya dan berniat menikahi Lilian. Rex pun mendukung upaya Gama.
__ADS_1
Selama ini keselamatan sang kakak adalah salah satu tugas terberat Rex. Dan saat tugas itu dipegang Gama nanti, artinya Rex bebas dan bisa mewujudkan keinginannya untuk bergabung dalam misi kemanusiaan itu.
\=\=\=\=\=