
Rex tiba di rumah saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, lebih larut dari biasanya. Kedatangannya langsung disambut dengan beberapa pertanyaan. Rupanya kedua orangtua Rex terkejut dengan penampilan Rex yang tak biasa. Saat itu celana panjang Rex memang dipenuhi noda darah. Hal itu membuat kedua orangtuanya panik.
" Assalamualaikum Bu, Yah...," sapa Rex sambil mendekat kearah Lanni dan Ramon.
" Wa alaikumsalam...," sahut Lanni dan Ramon bersamaan.
" Kamu kenapa Rex, kok celanamu penuh darah gini. Kamu jatuh ya, apa lukanya parah...?" tanya Lanni sambil menyentuh kaki Rex.
" Oh ga Bu. Ini bukan darahku. Aku abis bantuin korban kecelakaan di jalan tadi...," sahut Rex.
" Kecelakaan dimana Rex...?" tanya Ramon.
" Di depan rukonya Gama Yah...," sahut Rex.
" Beneran bantuin korban kecelakaan atau justru Kamu yang ngalamin kecelakaan Rex...?!" tanya Lanni panik.
" Beneran kok, bukan Aku yang kecelakaan Ibuku Sayang...," sahut Rex sambil memeluk sang ibu untuk menenangkannya.
Lanni dan Ramon menghela nafas lega mendengar pengakuan Rex. Lanni pun balas memeluk Rex sambil mengusap titik air di ujung matanya.
" Ibu nangis ?. Kan Aku udah bilang kalo Aku gapapa. Kalo ga percaya, Aku bakal lepas pakaianku di depan Ibu sekarang...," kata Rex sambil bersiap membuka celana panjangnya di hadapan sang ibu.
Pletakk !!
" Aawww..., sakit Yah...!" kata Rex lantang.
Kemudian Rex menoleh kearah Ramon yang nampak berkacak pinggang di samping Lanni. Rupanya Ramon baru saja menjitak kepala Rex dengan keras karena anaknya itu hampir melakukan tindakan yang tak patut di depan istrinya.
" Rasain. Mau ga sopan ya sama Ibumu...?!" tanya Ramon sambil membulatkan matanya.
" Apaan sih Ayah. Aku ga maksud gitu kok...," sahut Rex cepat.
" Ga makaud begitu tapi siap-siap telan**ng di depan Ibu. Apa Kamu ga malu Rex ?!. Kamu kan udah dewasa. Bukan bayi atau balita lagi yang bisa seenaknya memperlihatkan auratmu di depan Ibu...!" kata Ramon sambil menatap galak.
" Aku kan cuma mau buktiin sama Ibu kalo Aku baik-baik aja. Sekalian ngeyakinin kalo darah itu bukan darahku tapi darah orang yang Aku tolongin tadi Yah...," sahut Rex sambil meringis.
__ADS_1
" Tapi ga perlu telan**ng di depan Ibu juga dong...!" kata Ramon kesal.
" Iya iya. Maaf ya Bu...," kata Rex sambil melangkah cepat menuju ke kamar.
Lanni yang semula cemas pun tak kuasa menahan tawa melihat perdebatan anak dan suaminya tadi.
" Kok Kamu ketawa sih Bu. Aku nih lagi melindungi Kamu lho Bu...?!" kata Ramon dengan mimik wajah tak suka.
" Makasih ya Yah. Aku cuma ga bisa nahan ketawa ngeliat Kamu sama Rex ngobrol tadi. Lucu banget...!" kata Lanni sambil tertawa.
" Itu bukan ngobrol tapi lagi marah Bu. Kok malah dibilang lucu sih...?" protes Ramon sambil menekuk wajahnya.
Lagi-lagi Lanni tertawa melihat sikap Ramon. Tawa Lanni terdengar hingga ke telinga Rex yang sedang berada di kamar. Rex pun ikut tersenyum lega mengetahui kedua orangtuanya baik-baik saja.
Setelah melepaskan pakaian kotornya, Rex pun bergegas membersihkan diri.
Rex keluar dari kamar dengan penampilan yang fresh dan wangi. Ia berpapasan dengan sang ibu di ruang makan saat hendak ke belakang. Lanni pun tersenyum melihat penampilan Rex.
" Wah, Anak Ibu kalo seger gini keliatan tambah ganteng deh...," puji Lanni.
" Kamu mau ngapain Rex...?" tanya Lanni.
" Nyuci seragam yang tadi kena darah Bu...," sahut Rex.
" Harus direndam sebentar pake detergen Nak. Kan darahnya udah kering, jadi agak susah kalo langsung dicuci...," kata Lanni.
" Iya Bu...," sahut Rex sambil melangkah ke tempat mencuci.
Lanni berdiri mengamati Rex yang sedang menuang detergen ke dalam bak.
" Kak Lian mana Bu, udah tidur ya...?" tanya Rex.
" Belum pulang. Kak Lian dapat shift dua, biasanya jam sebelasan baru keluar. Tapi tadi telephon katanya pulang agak telat karena harus gantiin temennya sebentar...," sahut Lanni.
" Jangan Ayah yang jemput Kak Lian Bu. Biar Aku aja...," kata Rex.
__ADS_1
" Ga usah Rex. Barusan Gama telephon dan bilang lagi di jalan deket Rumah Sakit Sentosa. Terus Ayah minta tolong Gama buat sekalian jemput Kak Lian...," sahut Lanni.
" Syukur deh kalo gitu...," kata Rex sambil menghela nafas lega.
" Apa Gama masih pulang larut tiap hari Rex...?" tanya Lanni.
" Iya Bu. Dia lagi sibuk nyiapin bengkelnya biar bisa cepet beroperasi dan menghasilkan uang katanya...," sahut Rex sambil tersenyum.
" Tapi ga perlu sampe malam juga kan, apalagi tiap hari. Kamu sama Gama itu kebiasaan. Kalo kerja terlalu ngoyo sampe ga inget kondisi badan. Ntar umur tiga puluhan aja udah encok deh...," kata Lanni sambil cemberut.
Ucapan Lani membuat Rex tertawa geli.
" Ga bakal Bu. Kami kan emang harus kerja keras untuk mempersiapkan masa depan. Lagian ini belum apa-apa Bu. Nantinya Gama bisa pulang lebih larut lagi. Kan rencananya bengkel itu buka 24 jam...," sahut Rex di sela tawanya.
" Mempersiapkan masa depan ?. Emangnya Kalian udah punya calon buat diajak nikah...?" tanya Lanni curiga.
" Kalo Aku sih belum Bu. Mungkin Gama atau Kak Lian tuh...," sahut Rex sambil menjauh dari sang ibu dan bergegas masuk ke kamar.
" Ibu belum selesai ngomong Rex !. Kebiasaan deh ni anak, kalo diajak ngomong serius soal pasangan pasti langsung kabur...," gerutu Lanni sambil menggelengkan kepala.
Rex tersenyum mendengar omelan sang ibu. Kemudian Rex melangkah ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya. Rex pun kembali teringat sosok wanita yang dilihatnya tadi.
" Mungkin cewek itu abis pementasan di suatu tempat. Karena jalanan macet dia berhenti terus turun pas ngeliat banyak orang berkerumun tadi. Tapi kok ngilangnya cepet banget. Atau jangan-jangan dia emang hantu seperti yang Gama bilang...," gumam Rex sambil menatap langit-langit kamar.
Perlahan kedua mata Rex terpejam. Rex pun tertidur dengan posisi kedua kaki menggantung di samping tempat tidur.
Dalam tidurnya Rex bermimpi berada di sebuah tempat yang asing. Tempat itu dipenuhi kabut berwarna putih. Rex berjalan sambil terus mengamati sekelilingnya yang sunyi dan dingin itu.
Langkah Rex terhenti saat melihat seseorang menghadang langkahnya di depan sana. Rex menajamkan penglihatannya karena pandangannya saat itu terhalang kabut. Rex mematung di tempat saat ia mengenali sosok yang menghadangnya itu adalah wanita aneh yang sedang ia pikirkan. Walau wajahnya tak terlihat jelas, tapi Rex yakin jika wanita itu berparas sangat cantik.
" Selamat datang kembali Rex...," sapa wanita itu sambil tersenyum.
Suaranya yang lembut membuat Rex tersentuh. Namun Rex bingung karena di saat bersamaan suara itu seolah berasal dari tempat yang jauh, padahal Rex melihat wanita itu berdiri tak jauh darinya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1