Kidung Petaka

Kidung Petaka
98. Pria Yang Sama ?


__ADS_3

Kemudian Martin berusaha bangkit dengan susah payah lalu mengulurkan kedua tangannya ke leher Clara. Melihat kekasihnya akan dicekik, Dion pun dengan sigap menarik tubuh Clara lalu menendang Martin sekuat tenaga hingga pria itu terjengkang jatuh.


Rupanya tendangan Dion berhasil mengantar Martin pergi ke alam baka. Clara menjerit melihat pria yang berstatus suaminya itu meregang nyawa di hadapannya.


Clara berbalik lalu memukuli Dion yang tengah memeluknya. Dion mencoba bertahan namun akhirnya ia tak kuasa menahan sakit dan balas menampar Clara untuk menghentikan aksi wanita itu.


Clara mematung setelah mendapat tamparan keras di wajahnya. Ia menatap Dion dengan tatapan tak percaya.


" Kau... Kau memukulku Dion ?. Setelah Martin tiada Kau berani memukulku...?!" tanya Clara tak percaya.


" Maaf Sayang. Itu karena Kamu mengamuk dan Aku ga bisa menghentikanmu tadi. Hanya cara itu yang Kuingat, dan ternyata berhasil bukan...?" kata Dion dengan entengnya.


" Tapi Kamu ga pernah memukulku selama ini Dion. Sekarang Kamu melakukannya bahkan di depan jasad Suamiku yang masih hangat...," kata Clara kecewa.


" Berhenti menyebutnya Suamiku Suamiku !. Aku muak mendengarnya Clara...!" kata Dion marah.


" Tapi Martin memang Suamiku Dion, Kami menikah sah di hadapan negara dan Tuhan...!" sahut Clara tak kalah lantang sambil memegangi pipinya yang berdenyut nyeri.


" Tapi Aku yang menjalankan peran sebagai Suamimu Clara, apa Kau lupa itu...?" tanya Dion sambil tersenyum sinis.


Ucapan Dion melukai hati Clara. Entah mengapa saat ini Clara tersadar jika Dion bukan lah pria yang baik. Dia ambisius dan licik. Clara menyesal telah terbuai dengan rayuannya hingga ia berani mengkhianati Martin.


Clara menjerit sekali lagi sambil memanggil nama Martin.


" Maafkan Aku Martiiinnn...!" jerit Clara sambil mendongakkan kepalanya.


Dion terkejut melihat Clara menangis sambil memanggil nama Martin. Dion tahu jika saat itu Clara sangat terpukul dengan kematian suaminya. Namun jeritan Clara bisa berakibat buruk untuknya karena bisa memancing perhatian warga.


Tak ingin menjadi bulan-bulanan warga karena ketahuan menabrak Martin, Dion pun menarik Clara masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi meninggalkan jasad Martin yang mulai membeku itu seorang diri.


Rex mengerjapkan mata saat melihat arwah Martin bangkit meninggalkan jasadnya. Kemudian arwah Martin menoleh dan tersenyum kearahnya.


Setelahnya Rex melihat jasad Martin dilarikan ke Rumah Sakit Sentosa. Dan si sana ia melihat sang kakak tengah berusaha membangunkan Martin.


" Dia udah meninggal Li...," kata seorang perawat saat melihat Lilian menekan lembut dada Martin untuk membantunya bernafas.

__ADS_1


" Ga Dev. Gue liat dia bergerak tadi. Dia masih bernafas tapi nafasnya terlalu lemah...," sahut Lilian yakin.


" Tapi kalo udah dibawa ke sini artinya dia udah meninggal kan Li...?" tanya Devi mencoba mengingatkan Lilian jika saat itu mereka sedang berada di ruang jenasah.


Lilian mengangguk tanda mengerti namun tetap melakukan upaya menyelamatkan pasien tak dikenal itu. Disebut seperti itu karena saat ditemukan warga, Martin tak mengantongi tanda pengenal apa pun.


Setelah melakukan upaya yang berakhir sia-sia, Lilian pun menyerah. Ia menatap jasad Martin dengan perasaan iba.


" Maafkan Aku karena ga bisa menyelamatkanmu. Pergi lah dengan tenang, semoga Allah mengampuni segala dosamu. Mudah-mudahan keluargamu bisa dihubungi supaya jasadmu bisa dikubur dengan layak. Al Fatihah...," kata Lilian lirih lalu membaca Al Fatihah untuk jasad Martin.


Devi mengerutkan keningnya saat melihat Lilian melakukan itu.


" Kenapa Lo bacain Al Fatihah Li. Kita ga tau pasti identitasnya apalagi agamanya. Gimana kalo dia non muslim...?" tanya Devi.


" Gapapa Dev. Gue cuma mau mendoakan dia aja. Dan yang Gue bisa ya cuma bacain Al Fatihah karena itu adalah surah utama yang menjadi induk Al Qur'an. Insya Allah kalo ada pahalanya, pasti berbalik ke Gue juga. Iya kan...," sahut Lilian santai sambil tersenyum.


" Iya juga sih...," kata Devi sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Kemudian Lilian dan Devi beranjak meninggalkan jasad Martin di ruang jenasah saat petugas kamar jenasah memasukkan jasad Martin ke ruang pendingin.


" Jadi Kamu mengganggu Kak Lian dalam mimpi karena ingin berterima kasih...?" tanya Rex.


" Iya. Sekaligus mau mengatakan bahwa Aku adalah non muslim karena Aku menikah di gereja. Jadi Aku ingin dikuburkan sesuai aturan agamaku...," sahut Martin hingga membuat Rex mengangguk paham.


Saat itu Rex kembali diperlihatkan situasi pemakaman Martin yang dilakukan secara islami. Rupanya selain identitasnya tak diketahui, tak ada keluarga yang melaporkan kehilangan dengan ciri-ciri yang dimiliki Martin.


Pihak Rumah Sakit Sentosa menguburkan jasad Martin secara islami karena Polisi juga kesulitan melacak identitas Martin. Sidik jari yang biasanya dijadikan pedoman untuk menemukan identitas jasad tak dikenal pun telah rusak seperti sengaja dihancurkan oleh seseorang.


" Dion kembali ke lokasi kecelakaan untuk menyayat jari tanganku hingga sidik jari tanganku sulit dilacak...," kata arwah Martin dengan sedih.


" Kenapa dia jahat sekali. Kamu kan Kakaknya...?" tanya Rex tak mengerti.


" Dia iri dengan semua pencapaianku. Saat Aku memperkenalkan Clara padanya, Dion keliatan kaget. Aku pikir Dion hanya ga bisa terima karena Aku akan menikah lebih dulu dibanding dia. Tapi Aku salah. Ternyata Clara adalah mantan pacarnya. Mereka putus karena Dion selingkuh...," sahut arwah Martin sambil menatap kejauhan dengan mata berkaca-kaca.


" Tapi saat itu Clara mencintaimu kan...?" tanya Rex.

__ADS_1


" Iya. Aku yakin Kami saling mencintai saat itu. Makanya Kami menikah. Kami hidup bahagia. Sayangnya Aku baru tau hubungan terlarang mereka di akhir hayatku...," sahut Martin dengan suara tercekat.


Rex nampak kesulitan menghibur Martin karena ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Kemudian Rex teringat dengan dokter Aksara dan Faisal.


" Lalu apa maksudmu datang dan mengikuti dokter Aksara...?" tanya Rex.


" Aku mengamati gadis itu. Dia baik, cantik, pintar dan menyenangkan. Aku ga rela jika gadis sehebat itu jatuh ke tangan yang salah...," sahut arwah Martin hingga membuat Rex bingung.


" Kau juga menyukai dokter Aksara...?" tanya Rex hati-hati.


" Siapa yang tak suka dengan gadis sehebat dia Rex. Bukan kah Kamu juga menyukainya...?" tanya arwah Martin sambil menoleh kearah Rex.


" Iya, Aku memang menyukainya. Eh..., tapi sekarang bukan waktunya membahas perasaanku sama dia. Kita sedang bicara soal Kamu Martin...," kata Rex mengingatkan dengan wajah merona karena kelepasan bicara.


" Ups, sorry...," sahut arwah Martin sambil tertawa kecil.


" Jadi kenapa Kamu mengikuti dokter Aksara...?" ulang Rex.


" Aku ga mengikuti dia. Aku sedang mengawasi pria gemuk yang mengaku sebagai tunangan dokter cantik itu Rex...," sahut arwah Martin.


" Namanya Faisal, memangnya kenapa Kamu mengawasi dia...?" tanya Rex penasaran.


" Faisal itu Dion, pria jahat yang sialnya juga adik kandungku Rex...!" sahut arwah Martin cepat.


" Maksudmu Faisal punya niat ga baik sama dokter Aksara...?" tanya Rex.


" Iya. Dion alias Faisal telah mengirim Clara ke Rumah Sakit Jiwa setelah dia mengambil harta peninggalanku untuk Clara dan Celia. Aku yakin dia juga akan melakukan hal yang sama pada dokter Aksara nanti...!" sahut arwah Martin gusar.


" Astaghfirullah aladziim...," kata Rex sambil menggelengkan kepalanya.


" Lakukan sesuatu atau Kau akan menyesal Rex...!" kata arwah Martin sebelum menghilang.


Rex terbangun saat jam menunjukkan pukul empat pagi. Ia bangkit dari posisi tidurnya lalu duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil mengingat mimpi panjangnya tadi.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2