Kidung Petaka

Kidung Petaka
86. Anterin Gue Gam...


__ADS_3

Jeritan Tio mengundang perhatian rekan-rekannya. Andi dan dua rekannya masuk ke dalam karena khawatir dengan Tio dan Rex tentunya.


" Ada apa Kapten...?" tanya Andi.


" Gapapa Sersan. Dia hanya shock. Sebentar lagi dia siuman kok...," sahut Rex.


" Apa Kami bisa membantu di sini atau tetap menunggu di luar...?" tanya Andi.


" Tunggu di luar dan jangan masuk sebelum Saya panggil...," sahut Rex.


" Siap Kapten...," sahut Andi dan kedua rekannya sambil membalikkan tubuh bersiap keluar ruangan.


" Sebentar Sersan...," panggil Rex sebelum Andi dan kedua rekannya berlalu.


" Iya Kapten...?" sahut Andi.


" Terima kasih...," kata Rex sambil tersenyum hingga membuat Andi dan dua rekannya ikut tersenyum.


" Siap, sama-sama Kapten...," sahut Andi dan kedua rekannya bersamaan.


Setelah Andi dan kedua rekannya keluar dari ruangan, Rex menyentuh kening Tio. Sesaat kemudian Tio membuka matanya lalu menatap Rex dengan tatapan yang terluka.


" Apa Kamu masih di sana Angko...?" tanya Rex.


Angko yang masih meminjam raga Tio pun menganggukkan kepalanya.


" Bisa Kita lanjutkan sekarang agar Kamu tak terlalu lama meminjam raganya. Kasian dia. Selain itu Aku bisa segera membantu Tsania agar tak lagi menunggumu dalam ketidak pastian...," kata Rex hati-hati.


Angko memejamkan matanya lalu mengatakan apa keinginannya.


" Tolong pertemukan Aku dengan Tsania. Aku ingin menyampaikan semuanya sendiri...," pinta Angko.


" Itu sulit. Aku tak punya kemampuan semacam itu. Mungkin saat ini belum, itu tepatnya. Andai Kamu tau caranya, beri tau Aku...," sahut Rex.


Angko dalam raga Tio nampak gelisah. Ia terlihat sangat menderita dan itu membuat Rex iba.


" Begini saja. Kamu keluar dari raganya sekarang supaya dia ga makin menderita. Nanti Kamu ikut Aku ke suatu tempat. Akan Aku antarkan Kamu menemui Tsania, ke tempat dimana dia selalu menunggumu. Gimana...?" tanya Rex mencoba memberi penawaran.


" Aku setuju...," sahut Angko dengan wajah berbinar.


" Bagus sekarang pergi lah...," pinta Rex sungguh-sungguh.

__ADS_1


" Baik, terima kasih Kapten Rex Aldan...," kata Angko sambil tersenyum.


" Sama-sama..., " sahut Rex terharu karena Angko bisa menyebut nama lengkapnya.


Kemudian tubuh Tio menegang sesaat lalu terkulai lemah. Perlahan Tio membuka matanya dan melihat Rex di sampingnya tengah menatap lekat kearahnya.


" Kap... Kapten. Maaf, Saya ga tau kalo...," kata Tio gugup sambil berusaha menegakkan tubuhnya.


" Gapapa Sersan Tio, santai saja...," sahut Rex sambil menahan tubuh Tio agar tetap berbaring.


" Tapi kenapa Kapten ada di sini...?" tanya Tio sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.


" Saya dan rekan-rekan menjenguk Kamu Tio. Kami dengar Kamu sakit dan dibawa ke klinik ini. Sekarang yang lain sedang menunggu di luar. Biar Saya panggilkan supaya Kamu bisa merasa lebih baik...," kata Rex sambil beranjak mendekati pintu.


Kemudian Rex membuka pintu lalu memanggil Andi dan rekan-rekannya. Dalam sekejap sebelas orang tentara dan seorang dokter telah memenuhi ruangan tempat Tio dirawat. Tio menatap mereka satu per satu sambil tersenyum.


" Makasih Satria. Pasti Kamu yang udah ngajak rekan-rekan Kita ke sini...," kata Tio terharu.


" Sebenarnya masih banyak rekan Kita yang ingin menjenguk Kamu Tio. Tapi karena waktu mepet, jadi baru sebagian yang berkunjung. Kapten Rex adalah pengecualian. Karena Beliau dengan senang hati menjenguk Kamu tanpa diajak...," gurau Satria sambil melirik Rex disambut tawa semua orang.


" Mungkin nanti sore rekan yang lain bakal datang menjenguk Kamu Tio...," kata Andi yang diangguki semua rekannya.


" Iya, makasih sebelumnya. Terima kasih Kapten, terima kasih semua...," kata Tio dengan tulus sambil menatap semua rekannya satu per satu.


" Sekarang Kami harus kembali supaya Kamu bisa istirahat. Jangan lupa berdzikir biar Kamu ga gampang ketempelan makhluk halus...," kata Rex sambil menepuk pundak Tio.


" Siap Kapten...," sahut Tio hingga membuat semua rekannya tersenyum karena itu pertanda kondisi Tio membaik.


Kemudian Rex dan rekan-rekannya meninggalkan ruangan tempat Tio dirawat. Sebelumnya mereka juga menjabat tangan dokter Rian sambil mengucapkan terima kasih.


\=\=\=\=\=


Sore setelah pulang dari kesatuannya Rex langsung mendatangi Gama dan menceritakan semuanya.


" Jadi sekarang mau Lo gimana Rex...?" tanya Gama.


" Bisa ga Kita balik ke area perumahan itu ?. Gue janji mau mempertemukan Angko sama Tsania di sana. Sebenernya bisa aja Gue pergi sendiri ke sana, tapi itu ga mungkin karena Gue bukan pemilik rumah itu. Gimana Gam, bisa kan Lo anterin Gue ke sana...?" tanya Rex.


" Boleh. Kapan Lo mau ke sana...?" tanya Gama.


" Secepatnya. Kalo bisa sekarang itu lebih baik. Soalnya sekarang Angko ngikutin Gue Gam...," kata Rex mengejutkan Gama.

__ADS_1


" Ngikut ke sini ?, ke bengkel ini...?!" tanya Gama panik.


" Iya. Kenapa panik gitu sih...?" tanya Rex tak mengerti.


" Gimana ga panik. Satu aja udah bikin Gue ga bisa tidur, apalagi dua...," sahut Gama sambil menggaruk kepalanya.


" Makanya Kita bantuin dia secepatnya biar ga ngikutin Kita lagi...," kata Rex sambil tersenyum.


" Ini semua gara-gara Lo T-reeexxx...," kata Gama gemas.


" Kok gara-gara Gue sih. Emang yang minta ngeliat makhluk halus tuh siapa, Gue ?. Ga lah. Mereka yang nongol sendiri di depan Gue...," sahut Rex tak terima.


" Tapi mereka kan jadi ngikutin Gue juga...," kata Gama tak mau kalah.


" Itu karena lokasi dia meninggal ya ada di deket rumah yang Lo beli, kayanya di rumah yang sebelumnya Kita masukin itu deh Gam. Di sana kan tempat Gue ngeliat penampakannya si Tsania untuk pertama kali. Wajar juga kalo dia ngikutin Lo karena Lo kan pemilik salah satu rumah di sana...," sahut Rex cepat.


" Iya iya, paham. Lo emang selalu bener. Jadi gimana nih ?, mau berangkat sekarang atau ga...?" tanya Gama sambil meraih kunci mobil di atas meja kerjanya.


" Sekarang dong, makasih ya Gam...," sahut Rex sambil tersenyum lebar.


" Simpen aja ucapan terima kasih Lo itu. Gue belum bisa tenang kalo belum nuntasin urusan ini...," kata Gama dengan raut wajah jutek hingga membuat Rex tertawa.


\=\=\=\=\=


Rex dan Gama tiba di area perumahan itu saat adzan Maghrib berkumandang. Gama sengaja membawa mobilnya menepi di pelataran masjid untuk sholat Maghrib berjamaah. Sebelumnya Rex memang meminta Gama mengambil jalur alternatif agar bisa tiba di tempat tujuan lebih cepat.


" Ternyata emang lebih cepet ya Rex...," kata Gama sambil turun dari mobil.


" Iya...," sahut Rex.


" Lo tau darimana jalur itu Rex...?" tanya Gama.


" Ngamatin jalan aja waktu Kita ke sini pertama kali...," sahut Rex dengan santai.


" Wah, salut Gue sama Lo Rex. Cuma dengan mengamati jalan Lo bisa tau kalo ada jalan tikus yang bisa dilewati biar cepet sampe di sini...," puji Gama sambil menggelengkan kepala.


" Itu udah jadi makanan tentara sehari-hari Gam. Saat tugas di hutan atau area tak bertuan, Gue dan pasukan kan juga harus mencari jalan keluar yang aman dengan sedikit resiko karena biasanya banyak jebakan di sana sini...," sahut Rex merendah.


" Iya iya, apa pun itu ternyata bermanfaat juga di kehidupan sehari-hari ya Rex...," kata Gama sambil menepuk punggung Rex dengan bangga.


" Alhamdulillah. Yuk buruan wudhu, ntar keburu masbuk nih...," ajak Rex sambil melangkah cepat menuju ruang berwudhu.

__ADS_1


Gama mengangguk lalu mengikuti Rex sambil menatapnya dari belakang. Dalam hati ia memang bangga memiliki sahabat sehebat Rex.


\=\=\=\=\=


__ADS_2