Kidung Petaka

Kidung Petaka
158. Teman Baik


__ADS_3

Rex dan Gama bisa melihat dokter cantik itu berjabat tangan dengan dokter Hari. Kemudian kedua dokter itu melangkah bersama menuju ke suatu tempat.


" Cantik ya Rex...," kata Gama saat melihat tatapan Rex tak lepas dari sang dokter.


" Iya, tapi galak...," sahut Rex cepat.


" Kok Lo tau. Emangnya Lo kenal sama dia...?" tanya Gama.


" Pernah kenal...," sahut Rex santai hingga membuat Gama mengerutkan keningnya.


" Pernah kenal, maksudnya gimana sih Rex...?" tanya Gama tak mengerti.


" Gue sama dokter itu ketemu pertama kali saat tugas ke Madura dulu...," sahut Rex.


" Terus...?" tanya Gama penasaran.


" Ya gitu aja, ga ada terusannya. Emang Lo maunya gimana...?" tanya Rex sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap Gama.


" Ck, payah Lo Rex. Kalo Gue jadi Lo, udah Gue kejar dia...," sahut Gama kesal.


" Ga perlu. Tunangan orang tuh...," kata Rex sambil tersenyum.


" Baru tunangan mah masih bisa diusahain Rex...," kata Gama memberi semangat.


Rex hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum karena enggan meladeni ucapan Gama. Rex sengaja merahasiakan pertemanannya dengan dokter Aksara karena tak ingin Gama mengumbar sesuatu yang belum ada kepastian.


Tak lama kemudian Ramon tiba dengan mobilnya. Gama pun membantu Rex naik ke atas mobil dan sesaat kemudian mobil pun melaju meninggalkan Rumah Sakit.


Sementara itu dokter Hari mengajak dokter Aksara menemui rekannya di sebuah kafe yang ada di lingkungan Rumah Sakit.


Tepat saat dokter Aksara bersalaman dengan pria teman dokter Hari, di saat itu mobil Ramon melintas dan Rex tak sengaja melihat semuanya.


Rex memalingkan wajahnya kearah lain sambil tersenyum. Entah mengapa Rex berharap jika pria yang dikenalkan oleh dokter Hari itu adalah pria yang baik.


Tak ingin terganggu dengan pikiran lain yang bukan haknya, Rex memilih memejamkan matanya. Rex tertidur hingga mobil tiba di halaman rumah.


" Kita sampe Rex...," kata Gama sambil menepuk lengan Rex dengan lembut.


Rex membuka matanya lalu menggeliat sebentar. Ia tersenyum saat melihat ibu dan kakaknya berdiri menyambut kedatangannya.


Gama membantu Rex turun dari mobil lalu memapahnya hingga masuk ke dalam rumah. Saat Rex duduk Lilian langsung menghambur memeluknya sambil menangis.


" Alhamdulillah Kamu sembuh Rex...," kata Lilian sambil menangis.

__ADS_1


" Alhamdulillah. Ini juga berkat doa Kakak...," sahut Rex sambil mengusap punggung sang kakak dengan lembut.


Lilian mengurai pelukannya lalu tersenyum. Rex pun tersenyum lalu mengusap perut sang kakak dengan lembut.


" Apa keponakanku baik-baik aja Kak...?" tanya Rex.


" Sempet kaget juga pas denger Kamu dirawat di Rumah Sakit Rex, perut Kakak sampe sakit lho waktu itu. Untung ada Ayah sama Ibu yang nemenin jadi Aku bisa lebih tenang...," sahut Lilian sambil tersenyum.


" Maaf ya udah bikin semua repot...," kata Rex sambil menatap keluarganya bergantian.


" Gapapa Om, yang penting Om udah pulang ke lumah. Cepet sehat ya Oomm bial bisa main sama Aku...," sahut Lilian sambil mngusap perutnya.


Suara Lilian yang menyerupai suara anak kecil itu membuat semua orang tertawa. Semua tahu jika saat itu Lilian mewakili anak dalam rahimnya bicara menyampaikan perasaannya.


" Sekarang sebaiknya Kamu istirahat di kamar Rex...," kata Lanni sambil mengusap kepala sang anak dengan Sayang.


" Aku udah tidur di mobil tadi Bu. Itu juga kan namanya istirahat. Sekarang Aku mau ngobrol sama semuanya, kangen udah lama ga ngumpul kaya gini...," sahut Rex sambil menatap sang ibu.


" Gapapa Bu, lagian udah hampir Maghrib. Ga baik kalo dipake tidur...," kata Ramon menengahi.


" Ok deh. Sebenernya Ibu juga kangen dan pengen ngobrol sama Kamu Nak...," sahut Lanni sambil memeluk Rex dengan erat.


Rex tersenyum lalu membalas pelukan sang ibu. Lilian pun tak mau kalah, ia ikut memeluk Ibu dan adiknya hingga membuat Ramon dan Gama tertawa keras.


\=\=\=\=\=


" Masya Allah, ini luar biasa banget. Mas Rex udah sembuh seratus persen..., " kata dokter Hari sambil tersenyum lebar.


" Alhamdulillah, makasih dok..., " sahut Rex bahagia.


" Sama-sama. Tapi bukan berarti setelah sembuh Mas Rex lupain Saya dan ga mau temenan sama Saya ya...," kata dokter Hari.


" Insya Allah Saya ga lupa kok dan Kita bakal jadi temen selamanya...," sahut Rex sambil tersenyum.


" Aamiin..., syukur lah, Saya senang dengernya...," kata dokter Hari sambil menghela nafas lega.


Tiba-tiba seorang perawat masuk dan memberitahu jika ada tamu untuk dokter Hari.


" Suruh masuk aja Sus...," kata dokter Hari.


" Baik dok...," sahut sang perawat.


" Kalo gitu Saya pulang deh. Ga enak kalo ganggu dokter Hari sama tamunya...," kata Rex sambil bergegas turun dari tempat tidur.

__ADS_1


" Ga perlu. Ini temen baik Saya, orangnya seru. Saya yakin dia ga keberatan kalo Kita ngobrol bareng. Apalagi jam dinas Saya juga udah selesai...," kata dokter Hari sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


Rex mengangguk lalu menoleh kearah pintu. Ia tersenyum saat mengenali teman baik yang dikatakan dokter Hari tadi.


" Apa kabar dokter Aksara...," sapa Rex dengan ramah.


" Lho ada Kapten Rex juga rupanya. Alhamdulillah kabar Saya baik, sehat. Gimana kabar Kapten...?" tanya dokter Aksara sambil melangkah mendekati Rex.


Kemudian keduanya saling berjabat tangan dengan hangat. Dokter Hari ikut tersenyum senang melihat keakraban dua orang di hadapannya.


" Alhamdulillah sekarang udah jauh lebih baik...," sahut Rex sambil tersenyum.


" Jadi Kamu yang menderita luka bakar itu Kapten. Tapi, kemana lukanya ?, kok ga ada bekasnya...?" tanya dokter Aksara sambil mengamati Rex dari atas kepala hingga ujung kaki.


Belum sempat Rex menjawab, dokter Hari memotong cepat dengan mengucapkan sesuatu.


" Kaget kan Sa. Kita semua kaget dan bingung. Mau diselidiki tapi pasien Gue ini nolak. Dia malah nyuruh Gue nulis ganti kulit di jurnal laporan medisnya. Ga masuk akal banget kan kalo manusia bisa ganti kulit kaya ular...," kata dokter Hari sambil mencibir.


Ucapan dokter Hari membuat dokter Aksara dan Rex tertawa.


" Kok ketawa sih...?" tanya dokter Hari bingung.


" Cara Lo ngomong tadi kaya Emak-emak rempong yang lagi ngegosip tau ga...?" kata dokter Aksara di sela tawanya.


" Sia*an Lo Sa...," sahut dokter Hari sambil tersenyum malu.


Selanjutnya obrolan hangat pun terjadi diantara Rex, dokter Aksara dan dokter Hari. Dari obrolan ringan itu lah Rex tahu hubungan dokter Aksara dengan dokter Hari.


" Jadi Kalian calon ipar dong...," kata Rex.


" Iya. Beruntung Saya ketemu Mia. Karena kalo ga, kayanya Saya bakal jomblo seumur hidup...," kata dokter Hari sambil meraba dadanya.


" Lho kok gitu...?" tanya Rex tak mengerti.


" Iya. Ini gara-gara cewek sok cantik ini yang terus nolak perasaan Gue...," sahut dokter Hari pura-pura marah.


" Eh, kok gara-gara Gue. Lo kan tau prinsip hidup Gue...," kata dokter Aksara tak mau kalah.


" Iya iya, Gue tau. Lo ga bakal mau punya status lebih sama cowok yang emang udah Lo anggap temen baik...," kata dokter Hari sambil melengos sebal.


Ucapan dokter Hari membuat dokter Aksara tertawa namun justru membuat Rex sadar akan sesuatu.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2