
Rex memacu motornya dengan kecepatan sedang menuju apotik tempat Shezi bekerja. Dalam perjalanan Rex kembali teringat pembicaraannya dengan kedua orangtua Aksara tadi.
Tak lama kemudian Rex tiba di depan apotik. Ada yang berbeda kali ini karena suasana di depan apotik terlihat lebih ramai dari biasanya. Anehnya di dalam apotik justru tampak sepi bahkan lampu di dalam ruangan pun padam.
Rex memarkirkan motornya sambil mengamati ke sekelilingnya dan melihat dua teman Shezi yang tampak panik.
" Tolong Pak, Mas. Tolongin temen Saya...," kata Dina menghiba.
" Kami ga berani Mbak. Orang itu kan bawa pistol, buktinya security aja ditembak tadi...," sahut seorang pria.
" Tapi Kita bisa serang dia rame-rame Pak. Jumlah Kita kan lebih banyak...," kata Tia.
" Jumlah Kita emang lebih banyak tapi peluru juga lebih cepat Mbak...," sahut pria itu ketus.
" Emangnya situ mau ikut nyerang cowok gila itu bareng sama Kita. Paling cuma ngomong doang bisanya...," sindir seorang pemuda sambil melengos.
" Saya berani kok...!" kata Tia lantang.
" Udah Ti, jangan bikin ribut bisa ga sih. Sekarang Kita harus fokus cari cara supaya bisa nolongin Shezi dari sekapan cowok psikopat itu...!" bentak Dina hingga membuat semua orang terdiam.
" Ada apa ini...?" tanya Rex hingga membuat semua orang menoleh kearahnya.
" Kapten Rex, untung Kapten datang...," sahut Tia sambil bergegas menghampiri Rex.
" Ada apa Mbak...?" tanya Rex sambil menepis lembut tangan Tia yang menyentuh lengannya.
" Shezi disandera sama orang sakit jiwa di dalam sana Kapten...!" sahut Dina lantang hingga mengejutkan Rex.
" Kalian bisa masuk lewat pintu samping atau belakang kan untuk bantuin Shezi...," kata Rex gusar.
" Ga bisa Kapten. Apotik pernah dibobol maling makanya sejak saat itu pintu samping ditutup. Sekarang ada lemari besar tempat obat-obatan yang menghalangi pintu itu...," sahut Dina.
" Terus kenapa Kalian diem aja di sini...?!" tanya Rex sambil menatap para pria yang berada di depan apotik bergantian.
" Cowok itu bawa pistol Mas...!" sahut salah seorang pria.
" Saya udah telephon Polisi kok, dan Polisi lagi di perjalanan menuju ke sini sekarang...," sahut pria lain.
__ADS_1
Ucapan dua pria itu membuat Rex geram. Ia pun menoleh ke dalam dan melihat seorang pria sedang menodongkan senjata kearah Shezi yang tersudut di balik meja kasir.
Rex pun mencoba mendobrak pintu yang terbuat dari kaca tebal itu tapi gagal. Beberapa pria ikut membantu tapi tetap tak berhasil. Akhirnya Rex mengambil batu besar dan bersiap melemparkannya kearah pintu.
" Mundur semua...!" kata Rex lantang sambil berlari ke bagian samping apotik.
Rex pun melemparkan batu bukan di pintu tapi di dinding kaca tepat dimana pria itu berada. Rupanya karena terlalu fokus menatap Shezi, pria yang tak lain adalah Nato itu pun lengah.
Batu seukuran anak bayi itu mengenai kaca dengan keras dan sebagian serpihannya mengenai tubuh Nato. Pria itu terkejut sekaligus meringis kesakitan saat serpihan kaca melukai kulitnya hingga berdarah.
" Sia*an siapa itu...?!" maki Nato dengan lantang sambil menatap marah kearah kaca yang pecah itu.
Bukan jawaban yang Nato terima tapi justru bogem mentah Rex mendarat di wajah dan perutnya. Nato pun terjengkang jatuh ke lantai dalam kondisi terluka. Tidak hanya luka karena pukulan Rex tapi juga luka akibat terkena serpihan kaca.
Kemudian Rex merangsek maju dan bersiap merebut senjata api di tangan Nato. Tapi sayang ia kalah cepat. Dalam posisi terbaring tiba-tiba Nato melepaskan tembakan kearah Rex yang dengan sigap berhasil menghindar.
Nato terus mengejar Rex dengan pistolnya yang terus menyalak. Namun lagi-lagi Rex berhasil menghindar. Sementara itu di luar apotik warga pun berlarian menjauh karena takut terkena peluru nyasar.
Kesal karena tak menemui sasaran, akhirnya Nato mengarahkan pistolnya kearah Shezi yang nampak berdiri gemetar di balik meja kasir.
Dari tempatnya berdiri Rex coba mengukur jarak antara dirinya dengan Shezi dan Nato. Rex juga menimbang resiko dari tindakan yang akan dia ambil nanti. Dan nampaknya Rex telah memutuskan kemana ia harus bergerak.
Setelah mengucapkan kalimat itu Nato menarik pelatuk lalu mengarahkannya kepada Shezi.
Namun gerakan Nato terhenti karena sebuah tendangan menyapu telapak tangannya. Akibat tendangan itu membuat genggaman Nato pada pistol pun terlepas. Nato menjerit keras saat merasakan persendian telapak tangannya patah akibat kerasnya tendangan Rex.
Setelahnya Rex menangkap tangan Nato dan memuntirnya ke belakang lalu menelungkupkan tubuh Nato ke lantai. Nato hanya bisa memaki tanpa kuasa melawan karena rasa sakit yang mendera.
" Ambil tali Zi, cepaatt...!" perintah Rex lantang.
" I..., iya...," sahut Shezi gugup.
Kemudian Shezi meraih gulungan tali rafia dari bawah laci dan melemparkannya kearah Rex. Karena gugup, lemparan Shezi justru mengenai kepala Rex dan itu membuat Rex menoleh kearahnya.
" Maaf...," kata Shezi lirih sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajah.
Melihat wajah Shezi yang pucat membuat amarah Rex yang sempat memuncak tadi pun mereda. Ia menghela nafas panjang lalu meraih gulungan tali rafia itu. Kemudian Rex mengikat kedua lengan Nato hingga pria itu tak bisa bergerak.
__ADS_1
Bersamaan dengan selesainya Rex mengikat kedua lengan Nato, tiga orang polisi menerobos masuk melalui dinding kaca yang pecah tadi. Mereka mengangguk hormat saat mengenali siapa pria yang telah meringkus perusuh itu.
Dua polisi membawa Nato sedangkan seorang lagi nampak menjabat tangan Rex dengan erat.
" Makasih Kapten Rex...," kata salah satu polisi yang merupakan anak buah AKP Taufan.
" Sama-sama. Tolong urus dia dengan baik dan jangan biarkan dia bebas dengan mudah...," pinta Rex.
" Siap Kapten !. Kalo gitu Kami ijin mendata kerusakan dan menanyai korban yang disandera tadi Kapten...," kata sang polisi.
" Silakan. Tapi sebaiknya menghubungi pemilik apotik biar para karyawannya ga disalahin. Kasian kalo mereka kehilangan pekerjaan gara-gara masalah ini...," sahut Rex.
" Baik Kapten...," sahut sang polisi lalu bergegas melangkah menemui rekannya yang sedang memasang police line di sekitar kaca yang pecah.
Kemudian Rex menoleh kearah Shezi yang masih bersandar di meja kasir. Ia mengerutkan keningnya saat melihat posisi berdiri Shezi yang hanya bertumpu pada satu kaki.
" Apa Kamu terluka Zi...?" tanya Rex.
" Saya Gapapa Kapten, cuma kaget aja...," sahut Shezi dengan suara bergetar.
" Kaki Kamu sakit lagi...?" tanya Rex sambil mengamati kaki kiri Shezi.
" Sedikit. Tadi Saya emang sempet lari waktu ngeliat dia datang. Padahal dokter ngelarang Saya jalan cepat apalagi lari untuk sementara ini...," sahut Shezi sambil tersenyum kecut.
Perbincangan Rex dan Shezi terhenti saat Dina dan Tia menghambur masuk lalu memeluk Shezi. Rex menghela nafas lega lalu berjalan keluar menemui warga yang masih berkerumun di depan apotik.
" Lo gapapa kan Zi. Lo ga terluka kan...?" tanya Dina sambil memeluk Shezi.
" Alhamdulillah Gue gapapa Na...," sahut Shezi.
" Maaf Kita ga nolongin Lo tadi. Kita takut Zi, dia kan bawa pistol beneran...," kata Tia dengan nada menyesal.
" Iya Ti, Gue paham kok. Bukan cuma Lo yang takut, Gue juga. Apalagi dia ngarahin pistolnya ke kepala Gue...," sahut Shezi sambil memejamkan mata karena tak sanggup mengingat kejadian buruk tadi.
" Duduk dulu Zi, minum ya biar Lo bisa sedikit tenang...," kata Tia sambil menyodorkan botol berisi air mineral.
Shezi mengangguk lalu duduk di kursi dibantu Dina. Shezi sempat melirik keluar dimana Rex sedang bicara dengan warga. Dalam hati Shezi bersyukur bisa lepas dari bahaya karena bantuan Rex.
__ADS_1
\=\=\=\=\=