Kidung Petaka

Kidung Petaka
190. Mengejar Bayangan


__ADS_3

Kehilangan yang dialami Lilian dan Gama membuat keluarga bersedih. Bahkan Gondo dan Mira yang sedang mempersiapkan kepindahan mereka ke Jakarta pun bergegas datang ke Jakarta untuk mensuport anak dan menantunya itu.


" Mama panik makanya langsung terbang ke sini. Padahal dua Minggu lagi udah punya rencana pindah ke Jakarta...," kata Mira sambil memeluk Gama dengan erat.


" Makasih Ma, maaf ngerepotin...," kata Gama sendu.


" Jangan bilang gitu Nak. Kamu dan Lian itu jauh lebih penting dari semua yang ada di sana. Sekarang gimana keadaan Lian...?" tanya Mira.


" Masih shock Ma. Ibu lagi berusaha ngebujuk dia supaya bisa terima kenyataan...," sahut Gama gusar.


" Kenapa bukan Kamu yang nemenin...?" tanya Mira.


" Aku ga tega liat Lian nangis terus Ma...," sahut Gama sambil mengusap ujung matanya yang basah.


Mira tahu jika itu hanya alasana Gama karena nampaknya dia pun terpukul dengan kepergian calon bayinya itu.


Gondo datang lalu memeluk Gama erat. Di pelukan sang ayah Gama pun menangis terisak. Gondo menepuk punggung Gama dengan lembut sambil membisikkan sesuatu.


" Yang kuat ya. Kalo Kamu lemah, gimana sama Lian ?. Belajar menerima takdir ini maka Kamu akan temukan maknanya...," bisik Gondo.


" Makna apa Pa...?" tanya Gama tak mengerti.


" Kita bicarakan itu nanti. Sekarang boleh kan Papa sama Mama jenguk Lian...?" tanya Gondo dengan mimik wajah lucu hingga membuat Gama tersenyum.


" Boleh dong...," sahut Gama cepat.


Kemudian Gama membawa kedua orangtuanya masuk ke kamar rawat inap Lilian. Saat mencapai pintu Gama berhenti. Ia nampak menghela nafas panjang lalu memperbaiki mimik wajahnya yang semula sedih jadi tersenyum. Setelahnya Gama membuka pintu dan menyapa Lilian juga Lanni yang setia menemani sang anak.


" Sayang, Mama Papa datang nih...," kata Gama.


" Iya...," sahut Lilian sambil berusaha bangkit dari posisi berbaringnya dibantu Lanni.


Di balik pintu Gondo dan Mira nampak saling menatap sambil tersenyum. Mereka bangga melihat usaha sang anak untuk tetap terlihat tegar di hadapan istrinya.


\=\=\=\=\=


Sementara itu Rex tengah berada di ruangannya. Ia nampak duduk bersandar sambil memejamkan matanya.


Rex kembali mengingat peristiwa dini hari tadi saat sang kakak menjerit karena sesuatu telah merenggut bayinya.


Rex refleks melompat dari tempat tidurnya lalu berlari keluar kamar saat mendengar jeritan Lilian. Bahkan Rex langsung mendobrak pintu kamar sang kakak seolah lupa jika saat itu Lilian telah bersuami.


" Kakak...!" panggil Rex lantang.

__ADS_1


Langkah Rex terhenti saat melihat Gama tengah memeluk sang kakak dengan erat. Saat itu lah Rex sadar telah bersikap kurang sopan karena masuk kamar sang kakak tanpa ijin. Karena itu Rex berniat meminta maaf.


" Gue...,"


Namun ucapan Rex terputus saat melihat darah membasahi sprei di sekitar Lilian. Kedua matanya pun menatap nanar kearah sprei dan Gama bergantian. Saat Gama menganggukkan kepalanya pertanda mengiyakan apa yang akan ia ucapkan, saat itu lah Rex tahu jika ia telah kehilangan calon keponakannya.


" Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun...," gumam Rex lirih.


" Siapa yang meninggal Rex...?" tanya Lanni yang tiba-tiba berdiri di belakang Rex.


Rex tak kuasa menjawab. Ia hanya menunjuk kearah Lilian yang menangis dalam pelukan Gama. Saat itu lah Lanni terkejut lalu menghambur memeluk Lilian.


" Ya Allah, Liaaann...!" panggil Lanni dengan suara tertahan.


" Ibuuuu...," sahut Lilian lirih.


Rex membalikkan tubuhnya dan melihat sang ayah tengah berdiri di ambang pintu kamar sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Rex tahu jika sang ayah juga terpukul dengan kehilangan calon cucunya itu.


" Ayah gapapa kan...?" tanya Rex hati-hati.


" Ayah gapapa Nak...," sahut Ramon sambil tersenyum kecut.


Rex pun memeluk sang ayah sejenak. Ia mengurai pelukannya saat merasakan Gama berdiri di belakangnya. Kemudian Rex beralih memeluk Gama erat sambil menepuk punggungnya beberapa kali. Gama balas memeluk sahabat sekaligus adik iparnya itu sambil membenamkan wajahnya di pelukan Rex.


" Iya Rex, makasih...," sahut Gama lirih.


Kemudian Ramon melakukan hal yang sama. Ia juga mengusak rambut Gama dengan lembut seolah meyakinkan sang menantu bahwa mereka akan selalu ada untuk mendukungnya.


Rex menyudahi ingatannya sambil menghela nafas panjang.


Rex menoleh saat ponselnya berdering. Ia tersenyum melihat nama dokter hati di layar ponselnya. Kemudian Rex meraih ponselnya dan bicara beberapa saat dengan sang kekasih.


" Terus sekarang Kak Lian dirawat dimana...?" tanya dokter Aksara dari seberang telephon.


" Di Rumah Sakit Sentosa, itu Rumah Sakit tempat Kak Lian kerja...," sahut Rex cepat.


" Apa Aku boleh datang untuk menjenguk...?" tanya dokter Aksara hati-hati.


" Boleh. Kapan Kamu mau ke sana...?" tanya Rex antusias.


" Insya Allah sore ini...," sahut dokter Aksara.


" Ok, Aku jemput ya...," kata Rex.

__ADS_1


" Ga usah Sayang. Kita ketemu di sana aja ya, gapapa kan...?" tanya dokter Aksara.


" Iya gapapa, makasih Sayang...," sahut Rex sambil tersenyum.


" Sama-sama. Kalo gitu Aku lanjut kerja dulu. Ntar kalo mau berangkat Aku kabarin Kamu. Sekarang Aku tutup dulu ya, Assalamualaikum...," kata dokter Aksara di akhir kalimatnya.


" Wa alaikumsalam...," sahut Rex sambil tersenyum.


Rex pun bangkit dari duduknya dengan wajah ceria. Rupanya perasaan Kapten Rex berangsur membaik setelah bicara dengan dokter Aksara. Bahkan kini ia bisa kembali tertawa walau tak selepas biasanya.


\=\=\=\=\=


Rex tiba lebih dulu di Rumah Sakit Sentosa. Ia memarkirkan motornya lalu bergegas masuk ke dalam Rumah Sakit.


Saat menyusuri koridor Rumah Sakit tak sengaja Rex melihat bayangan hitam melayang cepat mendahului langkahnya. Namun Rex terkejut saat mengenali bayangan hitam itu.


" Itu kan bayangan hitam yang semalam ditabrak Gama. Kok dia ada di sini ?. Mau apa dia di sini...?" batin Rex gusar.


Karena khawatir dengan keselamatan sang kakak, Rex pun mempercepat langkahnya. Namun Rex tak mau gegabah, apalagi ia kehilangan jejak bayangan hitam itu yang melayang cepat entah kemana.


Rex tiba di depan kamar rawat inap Lilian. Saat itu ia berpapasan dengan Devi yang juga berprofesi sebagai perawat di Rumah Sakit Sentosa.


" Hai Rex...," sapa suster Devi dengan ramah.


" Hai Kak. Gimana keadaan Kak Lian...?" tanya Rex sambil menjabat tangan suster Devi.


" Alhamdulillah fisiknya sih jauh lebih baik, mungkin besok udah boleh pulang. Cuma mentalnya yang masih keliatan sakit Rex...," sahut suster Devi jujur.


" Gitu ya...," kata Rex bingung.


" Buat wanita seperti Kami kehilangan anak dalam kandungan itu sangat menyakitkan Rex. Banyak faktor yang mengiringi. Diantaranya ketakutan bakal sulit hamil lagi atau bahkan takut ga bisa punya anak. Walau Kami ini tenaga medis dan percaya semuanya bisa diatasi dengan jalan medis, tapi omongan kaya gitu sering Kami denger dan mau ga mau mempengaruhi Kami juga...," kata suster Devi gusar.


" Iya, makasih infonya Kak...," sahut Rex dengan tulus.


" Sama-sama. Tapi Lian beruntung karena punya keluarga dan Suami yang sayang banget sama dia. Jadi Kakak yakin kesedihannya bakal kabur sebentar lagi...," kata suster Devi sambil tersenyum.


" Aamiin...," sahut Rex cepat.


" Kalo gitu Kakak lanjut kerja dulu ya Rex...," kata suster Devi sambil berlalu.


" Iya Kak...," sahut Rex lalu membuka pintu kamar.


Saat pintu kamar terbuka, Rex melihat Lilian ditemani Lanni, Mira dan Gama. Semua tersenyum menyambut kedatangannya. Rex pun ikut tersenyum. Namun sedetik kemudian senyum Rex memudar karena melihat bayangan hitam yang dikejarnya tadi sedang bercokol di sudut kamar.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2