
Usai resepsi, Gama membawa Lilian pergi ke hotel yang telah dibooking sebelumnya.
" Kenapa harus ke hotel sih, di rumah kan bisa...," protes Lilian saat mereka tiba di loby hotel.
" Ini malam pertama Kita Sayang. Aku mau tempat dan suasana yang berbeda supaya berkesan untuk Kita ingat sampe tua nanti. Dan Aku ga mau ada yang mengganggu Kita. Kamu tau kan gimana usilnya Rex ?. Dia pasti cari cara buat mengacau nanti...," sahut Gama sambil memeluk pinggang Lilian dengan posessif.
" Tapi Sayang...," ucapan Lilian terputus karena Gama telah melu**t bibirnya dengan lembut.
Gama menghentikan aksinya saat pintu lift yang membawa mereka ke lantai lima terbuka. Kemudian dengan sigap Gama menggendong Lilian dan membawanya menuju kamar pengantin mereka.
Lilian mematung takjub saat melihat dekorasi kamar pengantinnya. Kedua matanya pun berkaca-kaca.
" Apa Kamu suka Sayang...?" bisik Gama di belakang telinga sang istri.
" Suka. Makasih Sayang...," sahut Lilian sambil mengecup pipi Gama dengan cepat hingga membuat Gama tersenyum lebar.
\=\=\=\=\=
Malam itu Gama dan Lilian saling mengungkapkan rasa cinta dan berbagi peluh. Suara erangan memenuhi kamar pengantin mereka.
" Aku mau hanya Aku yang mendengar suara jeritan pertamamu ini Sayang...," kata Gama di sela percintaan panas mereka.
" Jadi Kamu sengaja karena tau ini bakal sakit dan bikin Aku menjerit...?" tanya Lilian kesal namun membuat Gama tertawa.
" Iya...," sahut Gama sambil terus memacu tubuhnya.
Setelah pertempuran yang melelahkan keduanya berbaring bersisian.
" Terima kasih telah menjaganya untukku Sayang...," kata Gama sambil mengecup kening sang istri.
Lilian mengangguk sambil tersenyum. Kemudian keduanya saling menatap dengan tatapan penuh cinta.
" Aku mencintaimu Lian. Entah sejak kapan, tapi ini adalah rasa terhebat yang Aku miliki untuk seorang wanita. Tolong jangan tinggalkan Aku karena Aku tak tahu bagaimana hidupku tanpamu...," kata Gama sungguh-sungguh.
" Kita sudah menikah, apa masih perlu menggombal terus...?" tanya Lilian dengan mimik wajah lucu.
" Terserah apa katamu. Tapi Aku akan terus mengucapkannya...," sahut Gama sambil mengecup bibir Lilian.
" Kalo gitu Aku juga bakal mengakui sesuatu. Kamu adalah satu-satunya pria yang bikin Aku ga bisa tidur nyenyak. Yang selalu membuat jantungku berdebar dengan rayuan recehmu itu...," kata Lilian sambil tersenyum.
" Meski pun saat mendengarnya Kamu selalu memasang tampang jutek...?" tanya Gama sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Lilian.
__ADS_1
" Maaf Sayang. Aku pikir Kamu melakukannya juga ke wanita lain, makanya Aku kesal tiap kali Kamu merayuku...," sahut Lilian malu-malu.
Pengakuan Lilian membuat Gama tertawa. Ia menarik sang istri ke dalam pelukannya sambil menghujaninya dengan ciuman.
" Harus Aku akui, dekat denganmu membuat perbendaharaan kata-kata yang Aku miliki melimpah ruah. Padahal biasanya Aku ga perlu banyak bicara, para wanita akan mengejarku. Tapi Kamu berbeda Sayang, Aku ga tau kenapa. Dan saat Kamu menjadi istriku, Aku baru paham sesuatu...," kata Gama.
" Paham apa...?" tanya Lilian sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap sang suami.
" Paham jika Kamu lah yang akan menjadi tempat Aku berkeluh kesah, berbagi suka dan duka. Makanya Aku bisa bicara banyak hal tanpa canggung...," sahut Gama sambil menatap Lilian dengan lembut.
Ucapan Gama membuat Lilian terharu. Ia mengalungkan lengannya ke leher sang suami lalu mendaratkan ciuman manis di bibir Gama.
\=\=\=\=\=
Waktu keberangkatan Rex pun tiba setelah tiga hari Gama dan Lilian menggelar resepsi pernikahan.
" Kamu bilang kan masih seminggu atau sepuluh hari lagi Rex...," protes Lilian sambil cemberut.
" Namanya juga tentara, harus siap kapan aja ditugasin Kak. Beruntung Aku berangkat tiga hari setelah pernikahan Kakak. Andai Aku berangkat tiga hari sebelum Kalian menikah, bisa-bisa Aku ga dianggap anak nanti. Iya kan...," sahut Rex sambil mengerucutkan bibirnya.
Ucapan Rex membuat semua yang mendengarnya tertawa.
" Udah Gapapa Sayang. Jangan bebani Rex sama pikiran yang negatif biar bisa lancar jalanin tugasnya nanti. Kamu ga usah khawatir, kan ada Aku di sini sekarang...," kata Gama sambil memeluk Lilian dari belakang.
" Ehm..., bisa dikondisikan ga pelukannya. Masih ada orang lho di sini...," sindir Rex sebal.
" Tau nih Gama. Ga kasian ya sama si Rex. Masih jomblo tapi dikasih liat pemandangan yang manis terus. Bikin sepet mata aja. Iya kan Rex...?" tanya Mira sambil melengos.
Rex mengerjapkan mata karena bingung merespon ucapan Mira tadi. Sesaat ia sempat merasa jika Mira mendukungnya tapi detik berikutnya Rex merasa jika Mira justru sedang mengolok-olok dirinya.
" Maksudnya Mama tuh gimana sih. Lagi ngbully Rex atau justru lagi marahin Gama...?" tanya Gondo sambil tertawa.
" Eh, iya Pa. Aku juga bingung. Maksudku mau mendukung Rex tapi kok malah terkesan membully ya...," sahut Mira sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
Ucapan Mira sontak membuat tawa kembali menggema di rumah Gondo.
Setelah selesai berkemas Rex memeluk semua orang satu per satu. Diantara mereka hanya Lanni yang paling tampak berat melepas kepergian Rex. Namun usapan Ramon di punggung sang istri menyadarkannya.
" Pergi lah Nak. Kami bangga sama Kamu...," bisik Lanni sambil menitikkan air mata.
" Iya Bu, makasih...," sahut Rex sambil menciumi sang ibu dengan sayang.
__ADS_1
Setelahnya Rex berangkat menggunakan Taxi menuju kesatuannya dimana pasukannya menunggu. Seperti biasa, Rex tak ingin diantar siapa pun karena Rex tak suka dilepas dengan tangisan di bandara seperti yang dialami rekan-rekannya.
" Air mata itu bikin Aku gagal fokus...," kata Rex tiap kali ditanya alasannya menolak diantar ke bandara.
\=\=\=\=\=
Rex dan rekan-rekannya tiba di bandara Soekarno-Hatta saat jam menunjukkan pukul delapan malam. Mereka berangkat ke Afrika menggunakan pesawat milik TNI AU. Bersama mereka ikut pula beberapa tenaga medis dan guru yang akan membantu pemulihan warga nanti.
Tanpa sepengetahuan Rex, sepasang mata tengah mengamati pergerakannya dengan intens. Pemilik mata indah itu adalah dokter Aksara. Ia berada diantara rombongan pengantar yang mengantar rekan seprofesinya berangkat ke Afrika.
" Kamu pergi juga Kapten. Semoga Kamu dan semuanya selamat sampai di sana dan kembali dalam keadaan sehat wal Afiat dan tak kurang apa pun. Aamiin...," batin dokter Aksara sambil menggigit bibirnya.
Entah mengapa, ada setitik air mata yang jatuh di pipinya saat akan melepas kepergian Rex. Tak seorang pun yang mengetahui tangis dokter Aksara karena saat itu ia dan teamnya mengenakan masker di wajahnya.
Di saat bersamaan Rex menoleh karena merasa ada sesuatu yang memaksanya melihat kearah lain. Saat itu lah tatapannya bertemu dengan tatapan dokter Aksara. Meski pun jarak mereka sangat jauh, namun Rex bisa memastikan jika wanita yang mengenakan masker dan jas snelli putih itu adalah dokter Aksara.
Rex tahu jika dokter Aksara tak termasuk dalam rombongan karena semua anggota rombongan mengenakan atribut khusus.
Rex melangkah mendekati team kesehatan yang akan berangkat lalu menyapa dokter Aksara.
" Kamu di sini juga dok...?" sapa Rex dengan ramah.
" Iya. Saya mengantar rekan yang akan berangkat tugas...," sahut dokter Aksara.
" Siapa...?" tanya Rex hingga membuat dokter Aksara mengerutkan keningnya bingung.
" Maksudnya gimana Kapten...?" tanya dokter Aksara.
" Ada beberapa dokter dan perawat pria yang akan berangkat dok. Kamu mengantar siapa...?" tanya Rex.
" Semuanya...," sahut dokter Aksara cepat hingga membuat Rex tersenyum tipis.
Tiba-tiba terdengar suara peluit berbunyi dan Rex bergegas berlari untuk bergabung bersama rekan-rekannya. Sebelumnya ia menoleh kearah dokter Aksara sambil tersenyum.
" Saya pergi dulu ya dok...," pamit Rex sambil berlari.
" Iya, hati-hati..., " sahut dokter Aksara lirih namun masih terdengar oleh Rex dan membuatnya tersenyum lebar.
Sepuluh menit kemudian pesawat lepas landas meninggalkan bandara.
Di dalam pesawat Rex tampak menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Setelah berdoa Rex membuka matanya lalu menatap keluar jendela.
__ADS_1
" Udah berusaha menghindar, toh akhirnya Gue ngalamin juga. Kayanya kali ini Gue bakal gagal fokus gara-gara dia...," batin Rex sambil menggelengkan kepalanya.
bersambung