Kidung Petaka

Kidung Petaka
211. Bukan Temen Gue


__ADS_3

Dengan sejuta tanya di benaknya, Shezi pun melangkah ke jendela. Ia menyibak tirai jendela agar bisa melihat ke teras rumah. Shezi terkejut karena melihat sosok gadis cantik dengan rambut sebahu nampak berdiri membelakangi pintu. Gadis itu mengenakan setelan celana jeans dan kaos longgar berwarna putih yang terlihat agak kotor.


Perlahan Shezi membuka pintu. Ia bermaksud menyapa gadis itu. Entah mengapa melihat sosok gadis itu membuat bulu kuduk Shezi meremang.


" Ehm, Assalamualaikum. Maaf, Kamu siapa ya. Mau apa ke sini dan cari siapa...?" tanya Shezi takut-takut.


Tak ada jawaban. Gadis cantik berambut sebahu itu hanya membisu sambil menatap jauh ke depan.


" Sebenernya Aku tau siapa Kamu. Kapten Rex udah ngingetin Aku tadi. Tapi kalo Kamu ga mau jelasin apa maksud Kamu ngikutin Aku ke sini, Aku juga ga bisa bantu. Maaf, sebaiknya Kamu pergi sekarang dan jangan ganggu Aku lagi...," kata Shezi sambil menutup pintu.


Bersamaan dengan saat Shezi menutup pintu, gadis cantik itu menoleh lalu tersenyum kearah Shezi.


Shezi sempat membalas senyum gadis itu namun sesaat kemudian Shezi terkejut melihat wajah gadis itu memucat. Senyum di wajahnya memudar berganti dengan nafas yang tersengal-sengal. Satu tangan gadis itu memegangi lehernya, sedangkan satu tangan lainnya terulur seolah ingin menggapai Shezi.


" Shezi...!" panggil Amira dan Agnes bersamaan hingga mengejutkan Shezi.


" I... iya. Apaan sih manggil kok kenceng banget. Bikin kaget aja...," kata Shezi sambil menoleh kearah Agnes dan Amira.


" Lo yang kenapa ?. Kok malah bengong di depan pintu. Di panggilin daritadi ga nengok juga...," sahut Agnes.


" Gue lagi ngeliatin kucing...," sahut Shezi asal sambil menutup pintu.


" Kucing yang mana, yang hitam ya...?" tanya Amira panik.


" Iya, emangnya kenapa...?" tanya Shezi.


" Suruh pergi aja Zi, jangan sampe masuk ke dalam rumah ya...," sahut Amira.


" Emangnya kenapa...?" ulang Shezi.


" Kucing hitam itu kan simbol mistis alias ilmu hitam. Gue ngerasa ga nyaman aja ngeliat dia masuk ke dalam rumah. Apalagi kalo tuh kucing ngeliatin Gue tanpa berkedip. Hiiiyy..., sereeemm...," sahut Amira sambil menggedikkan bahunya.


" Takut...?" tanya Shezi.


" Iya. Emangnya Lo ga takut...?" tanya Amira.


" Ga lah. Kucing itu kan hewan lucu dan menyenangkan...," sahut Shezi sambil melangkah masuk ke dalam kamar.


" Tapi ga semua kucing itu lucu Ziii...!" kata Amira lantang namun tak direspon oleh Shezi.


" Eh, emangnya kucing hitam itu suka ngeliatin Lo Mir...?" tanya Agnes sambil menatap Amira.


" Iya. Lo ga percaya sama Gue...?" tanya Amira.

__ADS_1


" Mmm..., percaya deh...," sahut Agnes santai.


" Kok kaya ga ikhlas gitu ngomongnya...," kata Amira sewot.


" Ikhlas kok. Cuma bingung aja, kenapa tuh kucing ngeliatin Lo. Gue aja ga pernah diliatin sama kucing. Soalnya Gue pernah denger kalo diliatin kucing, artinya tuh kucing ngeliat sesuatu di diri Kita. Jangan-jangan...," Agnes sengaja menggantung ucapannya.


" Jangan-jangan apa Nes...?!" tanya Amira penasaran.


" Jangan-jangan kucing itu suka sama Lo...," sahut Agnes sambil tersenyum penuh makna.


" Suka gimana sih maksud Lo...?" tanya Amira tak mengerti.


" Amira itu kan cewek cantik. Hampir semua cowok di komplek ini suka sama Lo. Saking cantiknya kucing aja juga ikutan naksir. Gimana, masuk akal ga...?" tanya Agnes sambil mengedipkan matanya.


" Ya ga gitu juga dong Agneeess...!" kata Amira sambil melempar bantalan sofa kearah Agnes.


Agnes pun tertawa lalu lari ke kamar untuk menghindari amukan Amira.


Saat tiba di kamar, Agnes melihat Shezi sedang duduk di depan meja sambil mengusak rambutnya.


" Kok Lo malah di sini Zi...?" tanya Agnes sambil merebahkan diri di atas tempat tidur.


" Terus Gue harus dimana ?. Capek kerja, mau nonton juga males. Ya mendingan istirahat lah di kamar...," sahut Shezi santai.


Pertanyaan Agnes membuat Shezi tersentak lalu membalikkan tubuhnya untuk menghadap kearah Agnes.


" Menurut Lo temen Gue itu gimana Nes...?" tanya Shezi.


" Keliatannya sih baik, cantik, rambutnya sebahu, cuma bajunya sedikit lusuh ya atau emang warnanya yang pudar...," sahut Agnes ragu.


" Pudar gimana maksud Lo...?" tanya Shezi.


" Mmm..., kayanya sedikit kotor atau emang warnanya kuning gading ya...," sahut Agnes.


Mendengar jawaban Agnes membuat Shezi terkejut. Ia tak menyangka jika Agnes melihat jelas wujud wanita yang mengikutinya itu.


" Kalo Gue bilang Gue pulang sendirian dan ngajak siapa-siapa, Lo percaya Nes...?" tanya Shezi.


" Percaya lah. Itu artinya cewek itu bukan temen Lo. Eh, tapi kalo bukan temen Lo terus siapa doang, kan dia datang bareng Lo tadi...," kata Agnes.


" Lo yakin dia dateng bareng sama Gue...?" tanya Shezi.


" Iya...," sahut Agnes cepat.

__ADS_1


" Kalo gitu Gue harus jujur sama Lo. Yang Lo liat ngikutin Gue itu bukan temen Gue. Dia bukan manusia kaya Kita tapi hantu Nes...," kata Shezi hati-hati.


" Apa...?!" Agnes pun terlonjak kaget hingga bangkit dari posisi berbaringnya.


" Sssttt..., ga usah teriak Nes. Dan tolong jangan kasih tau yang lain ya, kasian mereka ntar malah ketakutan...," kata Shezi dengan mimik wajah serius.


" Sorry, abis Gue kaget banget Zi. Tapi yang Lo bilang tadi serius Zi...?" tanya Agnes.


" Iya...," sahut Shezi.


" Darimana Lo tau kalo itu hantu. Bukannya Lo tadi ke depan buat ngobrol sama dia...?" tanya Agnes.


" Gue ke depan karena penasaran. Kan Lo sama Amira bilang ada Temen Gue di luar, makanya Gue buru-buru liat. Eh, ga taunya emang bener hantu...," sahut Shezi sambil tersenyum kecut.


" Kok Lo bisa senyantai ini sih Zi. Lo ga takut atau emang udah biasa ngeliat hantu...? " tanya Agnes.


" Gue udah liat hantu cewek itu di apotik tadi. Malah penampilannya lebih aneh daripada yang Gue liat barusan. Sekarang sih lebih soft, ya walau sedikit lusuh. Namanya juga hantu...," sahut Shezi.


Ucapan Shezi membuat Agnes terkejut. Ia menatap Shezi lekat seolah ingin memastikan jika gadis yang bicara hantu dengan santai itu adalah Shezi yang dikenalnya selama ini.


" Jangan bengong gitu, kesambet baru tau rasa Lo...," kata Shezi sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Agnes hingga gadis itu tergagap.


" Terus waktu Lo temuin, hantu itu ngomong sesuatu ga tadi...?" tanya Agnes.


" Ga. Tapi dia kaya kesulitan bernafas gitu. Satu tangannya megangin leher dan satunya terulur seolah minta bantuan...," sahut Shezi sambil menggigit bibirnya.


" Jangan-jangan hantu itu emang mau minta tolong sama Lo Zi...," kata Agnes.


" Kayanya sih gitu. Tapi mau minta tolong apaan, Gue juga ga kenal sama dia kok...," sahut Shezi.


" Itu yang harus Lo cari tau Zi. Duh, sayangnya Gue ga ngerti hal ghaib kaya gini jadi Gue ga bisa bantuin Lo Zi...," kata Agnes sambil menepuk dahinya.


Shezi dan Agnes pun terdiam sejenak hingga Agnes mengatakan sesuatu yang mengejutkan Shezi.


" Lo harus minta tolong sama orang yang ngerti hal ghaib Zi. Secepatnya. Gue khawatir kalo Lo ga cepat bertindak, hantu itu bisa mempengaruhi hidup Lo nanti...," kata Agnes.


" Mempengaruhi gimana maksud Lo...?" tanya Shezi cemas.


" Ya bikin aura Lo jelek aja. Kalo aura Lo jelek udah pasti hidup Lo bakal ga bahagia karena semua yang jelek bakal ngikutin Lo terus. Emangnya Lo mau kaya gitu ?. Kalo Gue sih ogah...," kata Agnes.


Ucapan Agnes membuat Shezi terkejut. Entah mengapa Shezi teringat dengan Rex dan sedetik kemudian ia meraih ponselnya untuk menghubungi sang kapten.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2