Kidung Petaka

Kidung Petaka
28. Suara Yang Sama


__ADS_3

Pagi itu Rex sedang sibuk menyiapkan perlengkapan dinasnya di kamar. Lilian pun menghampiri Rex dengan mengetuk pintu kamar sebelum masuk.


" Boleh Aku masuk...?" tanya Lilian.


" Boleh. Ada apa Kak, pagi-pagi udah bete aja mukanya...?" tanya Rex sambil melirik sekilas kearah sang kakak.


" Kamu piket ya hari ini Rex...?" tanya Lilian.


" Iya. Kenapa Kak...?" tanya Rex.


" Kalo Kamu piket yang antar jemput Aku siapa dong Rex. Bukan apa-apa. Sejak kasus pemerk*saan di toilet Rumah Sakit marak lagi Aku jadi agak takut nih. Aku ngerasa aman kalo Kamu yang antar jemput karena Kamu kan anggota TNI. Penjahat itu pasti mikir seribu kali kalo mau nyentuh Aku. Masa Aku minta Ayah yang antar jemput, kasian kan Ayah...," sahut Lilian gusar.


" Kakak tenang aja. Gama yang bakal gantiin Aku ngantar jemput Kakak nanti...," kata Rex sambil tersenyum.


" Kok Gama sih...?!" kata Lilian tak suka.


" Iya, abis siapa lagi. Kan Kakak ga mau diantar jemput sama Ayah. Lagian Gama itu jago berantem lho Kak, yah walau pun kemampuannya masih di bawah Aku tapi lumayan lah. Jadi Kakak ga perlu khawatir bakal ada yang berani gangguin Kakak nanti...," kata Rex berpromosi.


" Aku ga percaya sama dia Rex...," kata Lilian.


" Untuk saat ini Kakak harus percaya sama Gama karena cuma dia yang bisa Aku andalkan untuk menjaga Kakak. Kalo Kakak ga mau diantar jemput sama Gama, lebih baik Kakak ijin cuti aja hari ini...," kata Rex tegas.


" Ck, ya udah lah. Daripada ga masuk kerja lebih baik Aku diantar sama Gama. Tapi tolong bilang sama Gama supaya ga macam-macam di Rumah Sakit nanti ya Rex...," pinta Lilian sambil berlalu.


Rex tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


\=\=\=\=\=


" Jadi Gama yang nganter jemput Kamu ya Kak...?" tanya Ramon saat Lilian pamit hendak berangkat bekerja.


" Iya Yah...," sahut Lilian dengan enggan.


" Kenapa mukanya ditekuk gitu sih Kak. Ga suka ya diantar Gama...?" tanya Lanni.


" Bukan gitu Bu. Aku sebel sama Gama karena dia itu kan play boy. Aku khawatir dia gangguin temen-temen Aku nanti...," sahut Lilian hingga membuat Lanni tertawa.


" Abis mau gimana lagi, Gama kan emang kaya gitu Kak. Tapi dia bertanggung jawab lho Kak. Makanya Ayah sama Ibu setuju dia gantiin Rex buat antar jemput Kamu malam ini...," kata Lanni.

__ADS_1


Mendengar ucapan sang ibu membuat Lilian menghela nafas pasrah. Sesaat kemudian terdengar suara klakson mobil berulang-ulang diiringi suara Gama memanggil nama Lilian. Ramon dan Lanni pun tertawa sedangkan Lilian nampak kesal.


" Kak Lian, jadi berangkat ga sih ?. Udah malam nih, ntar keburu ujan lho...!" kata Gama lantang dari balik kemudi.


" Berisik banget sih...!" kata Lilian sambil duduk di samping Gama.


Ucapan Lilian tak membuat Gama tersinggung. Ia tampak santai lalu mulai melajukan mobil milik Ramon itu perlahan.


Di dalam perjalanan Lilian nampak sibuk mengecek isi tasnya. Setelahnya ia menyandarkan tubuh sambil memejamkan mata. Lilian memang biasa tidur di mobil agar tak mengantuk saat bekerja nanti. Diam-diam Gama tersenyum sambil mengamati Lilian yang saat itu tampil cantik dengan cardigan rajut berwarna biru laut.


" Jadi abis nganter Gue langsung pulang atau nunggu nih Kak...?" tanya Gama sambil terus menatap ke depan.


" Pulang aja Gam. Ntar kelamaan nunggu Lo malah bete dan bikin ulah...," sahut Lilian hingga membuat Gama tersenyum.


" Ok. Kita sampe Kak...," kata Gama.


Lilian pun bersiap turun dari mobil namun tiba-tiba hujan turun hingga membuat Lilian urung keluar.


" Ada payung di jok belakang, biar Gue ambil dulu...," kata Gama sambil beringsut ke belakang untuk mengambil payung.


" Ayo Kak...," kata Gama sambil mengulurkan tangannya.


Lilian pun menyambut uluran tangan Gama lalu merapat kearah Gama yang membawa payung besar itu. Kemudian keduanya melangkah menuju loby. Gama nampak merengkuh bahu Lilian agar gadis itu tak terkena hujan yang lumayan deras. Lilian pun tampak tak terusik dengan sikap protektif Gama padanya.


Sebelum langkah mereka mencapai loby, Gama mendengar suara senandung aneh yang membuat bulu kuduknya meremang. Ia pun berhenti melangkah lalu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.


" Kenapa Gam...?" tanya Lilian.


" Ada suara orang nyanyi sedih banget, denger ga Kak...?" tanya Gama.


" Suara apaan sih, ga ngerti Gue. Di sini Gue yang budeg atau Lo sama Rex yang lagi ngerjain Gue ?. Soalnya Rex juga bilang begitu kalo lagi jemput Gue...," kata Lilian gusar.


" Masa sih Kak...?" tanya Gama.


" Iya...," sahut Lilian cepat.


Kemudian Gama dan Lilian kembali melangkah menuju loby Rumah Sakit. Setelah memastikan Lilian tiba dengan selamat Gama pun berniat pulang. Namun langkahnya terhenti saat ia mendengar keributan di dekat meja receptionist dimana Lilian berada.

__ADS_1


Gama pun mencoba mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Lilian dan rekan-rekannya itu.


" Ada pasien yang dilecehkan lagi...!" kata seorang perawat.


" Kapan...?" tanya Lilian dan temannya bersamaan.


" Sejam yang lalu...," sahut sang perawat sambil mengusap peluh di keningnya.


" Duh, gimana nih. Kok Gue jadi ngeri ya, Gue khawatir ikut jadi korban. Apalagi shift malam kaya gini biasanya kan sepi dan peluang orang itu melakukan kejahatan makin besar...," kata rekan Lilian panik.


" Tapi Kita harus tetep jalanin tugas walau pun keselamatan Kita terancam...," kata seorang perawat dengan pasrah.


" Kita bisa saling menjaga kok. Salah satu caranya jangan jalan sendirian ke ruangan pasien atau ke toilet. Berdua atau bertiga kalo perlu. Gimana...?" tanya Lilian.


" Masuk akal, Gue setuju...!" sahut rekan Lilian.


" Terus gimana kalo ada pasien kritis atau harus operasi. Kan Kita harus mondar mandir buat nyiapin berkas dan semuanya..., " kata seorang perawat.


" Sama aja, intinya jangan sendirian. Paham kan maksud Gue...?" tanya Lilian.


" Iya...!" sahut rekan Lilian bersamaan hingga membuat Lilian tersenyum.


Gama pun ikut tersenyum melihat cara Lilian menenangkan teman-temannya, padahal ia yakin gadis itu juga sama takutnya dengan mereka. Buktinya dia harus mengantar Lilian atas permintaan Rex dan kedua orangtuanya.


Gama pun meraih ponselnya lalu menghubungi Rex. Ia menceritakan apa yang terjadi dan itu membuat Rex cemas.


" Jangan pulang Gam, tetep stay di sana dan awasi sekitarnya. Gue yakin penjahat kelamin itu masih berkeliaran di sana...," kata Rex.


" Iya Rex, Gue juga berubah pikiran. Apalagi tadi Gue denger suara orang nyanyi sedih banget. Sayup-sayup tapi lumayan bikin merinding Rex. Anehnya Kak Lian ga denger apa-apa. Dia malah bilang kalo Lo juga pernah denger suara yang sama...," kata Gama.


" Lo denger juga Gam ?. Artinya Gue ga halu dong. Just info nih Gam, tiap kali Gue denger suara itu, ga lama kemudian ada kejadian menggemparkan di Rumah Sakit. Kayanya suara nyanyian itu semacam sinyal yang dikirim seseorang untuk ngasih tau kalo ada kejadian besar di sekitar Kita...," kata Rex mencoba menganalisa.


" Mungkin juga Rex. Eh, Gue tutup dulu ya. Gue liat banyak Polisi yang datang. Ntar Gue sambung lagi Rex...," kata Gama mengakhiri pembicaraan.


Rex pun hanya bisa menatap layar ponselnya dengan perasaan cemas yang berkecamuk. Namun saat teringat keberadaan Gama di samping sang kakak, Rex tampak lebih tenang.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2