Kidung Petaka

Kidung Petaka
170. Media Santet


__ADS_3

Kemudian situasi berpindah ke saat pria itu menyuruh seseorang untuk meletakkan sesuatu di dalam area panti.


Dengan bujuk rayunya ia berhasil meminta salah satu anak penghuni panti asuhan Pelita Ibu meletakkan media santet itu di dekat kamar Elvira.


" Tapi Aku takut dimarahin sama Ibu Om...," kata sang anak yang kemudian diketahui bernama Ari.


" Ya jangan sampe ketauan biar ga dimarahin dong...," kata Drajat dengan sabar.


" Emangnya ini apaan sih Om...?" tanya Ari.


" Itu benda yang bisa membantu menjaga Kakak Kamu. Kan banyak orang yang berniat jahat sama Kak Elvira, makanya Om beli ini buat jagain dia. Kamu sayang ga sama Kak Elvira...?" tanya Drajat.


" Sayang lah Om...," sahut Ari cepat.


" Makanya taro ini di sana biar orang yang mau niat jahat sama Kak Elvira takut dan ga berani macam-macam..., " bujuk Drajat.


" Emangnya benda ini bisa ngelawan penjahat Om...?" tanya Ari lagi sambil membolak-balik benda di tangannya itu.


Drajat nampak mengepalkan tangannya karena kesal. Namun ia berusaha sabar agar bisa membujuk Ari.


" Bisa dong...," sahut Drajat.


" Caranya gimana Om...?" tanya Ari penasaran.


" Caranya..., sesuatu yang ada di benda ini bakal keluar buat melindungi Kak Elvira saat ada orang jahat mau menyakiti dia...," sahut Drajat sambil menoleh ke kanan dan ke kiri karena khawatir aksinya terlihat orang lain.


" Oh, kaya sulap gitu ya Om...," kata Ari takjub.


" Iya betul. Kalo Kamu bantu Om naro ini di dekat kamar Kak Elvira artinya Kamu juga udah bantu jagain Kakak lho...," kata Drajat.


Ucapan Drajat itu berhasil membuat Ari tersentuh. Ari yang sejatinya memang menyayangi sang kakak angkat itu pun akhirnya setuju untuk membantu.


" Kalo gitu Aku mau deh naro ini di dekat kamar Kakak...," sahut Ari hingga membuat Drajat tersenyum penuh kemenangan.


" Tapi kalo udah naro itu, ga usah cerita sama siapa-siapa ya. Ini rahasia Kita aja...," kata Drajat.


" Kok gitu Om...?" tanya Ari bingung.


" Kan Kita jagain Kak Viranya diem-diem. Kalo ada yang tau ga seru dong...," kata Drajat sambil menatap Ari lekat.

__ADS_1


" Iya juga. Ok deh, Aku bakal naro ini diam-diam dan rahasiain semuanya...!" sahut Ari lantang.


" Bagus. Karena Kamu pinter dan udah bantuin Om sama Kakak, ini buat Kamu...," kata Drajat sambil menyodorkan selembar uang lima puluh ribu.


" Ini buat Aku Om...?" tanya Ari dengan wajah berbinar.


" Iya...," sahut Drajat sambil memasukkan uang itu ke saku baju Ari.


" Makasih ya Om...," kata Ari sambil tertawa.


" Sama-sama. Sekarang Kamu masuk dan taro benda itu di dekat kamar Kak Elvira ya...," kata Drajat sambil mengusap kepala Ari dengan lembut.


" Iya Om...!" sahut Ari lalu bergegas masuk ke dalam panti.


Drajat nampak tersenyum lebar saat melihat Ari berlari masuk ke dalam area panti. Setelah yakin Ari menjalankan tugasnya dengan baik, Drajat pun pergi meninggalkan tempat itu.


Dalam penglihatan Rex terlihat Ari meletakkan media santet itu di bawah jendela kamar Elvira. Tak seorang pun yang melihat aksi Ari karena situasi saat itu sedang sepi.


Setelah meletakkan media santet itu di bawah jendela kamar Elvira, Ari pun bergegas masuk ke dalam panti untuk bergabung dengan teman lainnya yang sedang ada di ruang makan untuk makan siang.


Rex menghela nafas panjang lalu membuka matanya. Saat menoleh ke samping ia melihat sang ustadz tengah menatap lekat kearahnya.


" Kenapa Ustadz...?" tanya Rex.


" Ada hal kecil yang lucu aja menurut Saya...," sahut Rex sambil tersenyum.


" Hal kecil apa...?" desak ustadz Akbar.


" Apa harus Saya ceritain secara detail Ustadz...?" tanya Rex.


" Harus, karena Elvira itu keponakan Saya Mas Rex...," sahut Ustadz Akbar mengingatkan.


Rex tersenyum kemudian dengan senang hati menceritakan apa yang diucapkan Drajat tentang penolakan Elvira. Ustadz Akbar pun tertawa mendengar bagaimana cara Elvira menolak Drajat. Kemudian Rex juga menceritakan dimana Ari meletakkan media santet itu.


" Kalo Ustadz udah dapat apa...?" tanya Rex.


" Saya belum dapat apa-apa karena konsentrasi Saya buyar saat denger Kamu ketawa tadi Mas. Saya pikir analisa Saya tentang santet itu salah, makanya Saya nunggu Mas Rex selesai aja daripada malah jadi bahan tertawaan Mas Rex nanti...," sahut ustadz Akbar sambil menggaruk tengkuknya.


" Saya ga mungkin kaya gitu Ustadz...," kata Rex tak enak hati.

__ADS_1


" Iya Mas, Saya tau Mas Rex ga bakal lakuin itu. Saya memang shock aja sama kejadian yang menimpa keponakan Saya itu Mas. Makanya Saya jadi sulit konsentrasi...," sahut ustadz Akbar menjelaskan hingga membuat Rex mengerti.


" Kalo gitu Kita bisa ngambil media santet itu sekarang Ustadz. Mudah-mudahan belum hancur dan masih bisa dihilangkan pengaruhnya...," kata Rex sambil bangkit dari duduknya.


" Setuju Mas Rex...," sahut ustadz Akbar ikut bangkit.


" Kalo menurut Saya sebaiknya Ari ga usah dilibatkan karena bisa membuat mentalnya down nanti. Bagaimana menurut Ustadz...?" tanya Rex.


" Betul Mas Rex. Ari kan cuma anak kecil yang ga tau apa-apa. Drajat yang jahat karena telah memanfaatkan Ari dan melibatkan dia dalam masalah ini. Jadi Drajat lah yang harus bertanggung jawab..., " sahut ustadz Akbar sambil mengepalkan tangannya.


Kemudian Rex dan ustadz Akbar melangkah untuk mencari tempat yang dilihat Rex. Agak sulit karena mereka tak tahu banyak tentang bangunan panti. Akhirnya ustadz Akbar memanggil Elvira dan memintanya menunjukkan tempat yang dimaksud Rex.


" Dimana kamar Kamu Nak...?" tanya ustadz Akbar.


" Ada apa di kamar Aku Pakde...?" tanya Elvira sambil mengerutkan keningnya.


" Ada sesuatu yang ditaro di sekitar kamarmu. Kami harus mengambilnya untuk menetralisir pengaruhnya...," sahut ustadz Akbar cepat.


Elvira mengerti lalu menunjukkan kamarnya. Saat mereka tiba di depan kamar Elvira, hawa mistis yang pekat telah menyambut mereka.


" Jangan ke sana Bu Elvira...," kata Rex sambil mencekal tangan Elvira agar menghentikan langkahnya.


" Kenapa Kapten...?" tanya Elvira.


" Hawa mistis di sana terlalu pekat...," sahut Rex.


" Betul Mas. Auranya juga gelap dan membuat ga nyaman...," kata ustad Akbar menambahkan.


Mendengar ucapan Rex dan ustadz Akbar membuat bulu kuduk Elvira meremang.


" Apa Bu Elvira sering merasa ga nyaman saat berada di sini...?" tanya Rex sambil menatap gadis itu dengan lekat.


" Iya Kapten...," sahut Elvira sambil berusaha menarik lembut tangannya yang sedang dicekal oleh Rex.


Tersadar dengan sikapnya, Rex pun bergeser menjauh hingga membuat ustadz Akbar tersenyum melihatnya.


" Kita ga usah masuk ke kamar, tapi tolong tunjukkan jalan ke samping kamar Bu Elvira aja...," pinta Rex yang diangguki Elvira.


" Ok, lewat sini Kapten...," ajak Elvira.

__ADS_1


Rex dan ustadz Akbar mengikuti langkah Elvira. Saat tiba di samping kamar Elvira, Rex dan ustadz Akbar saling menatap karena melihat sesuatu yang mengejutkan di sana.


\=\=\=\=\=


__ADS_2