Kidung Petaka

Kidung Petaka
181. Bertemu Lagi


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Elvira berangsur tenang. Rex pun melepaskan pelukannya lalu membantu Elvira duduk di tanah. Ia bergeser menjauh untuk memberi kesempatan kepada ustadz Akbar memeluk Elvira.


" Kamu gapapa kan Nak...?" tanya ustadz Akbar sambil mengusap punggung Elvira dengan lembut.


Bukannya menjawab, Elvira justru menangis kencang. Ustadz Akbar pun memeluknya untuk meredakan tangis sang keponakan.


" Menangis lah Nak. Menangis lah Sayang. Keluarkan semua beban di hatimu. Setelah ini Pakde harap Kamu ga lagi menangisi sesuatu yang ga penting ini...," bisik ustadz Akbar.


Elvira terisak dalam pelukan sang pakde. Entah mengapa saat itu ia teringat kalimat yang diucapkan pria jelmaan siluman biawak itu.


Seolah mengerti apa yang ada di dalam benak Elvira, Rex pun mendekat untuk menghiburnya.


" Lupakan semua yang pernah Bu Elvira dengar dari mulutnya karena semua yang dia bilang itu bohong. Bu Elvira ga sendirian, banyak orang yang menyayangi dan membutuhkan Bu Elvira. Ada Bu Tarsih, anak-anak panti, Ustadz Akbar, teman-teman dan murid-murid Bu Elvira. Semua peduli sama Bu Elvira. Jika saat ini kedua orangtua Bu Elvira ga terlihat, anggap aja mereka lagi berhalangan hadir layaknya murid Bu Elvira yang alpa di kelas...," kata Rex sambil berjongkok di samping Elvira.


Elvira memejamkan matanya untuk meresapi kalimat yang Rex ucapkan. Sesaat kemudian dia mengangguk lalu perlahan tangisnya pun mereda.


Ustadz Akbar pun mengurai pelukannya lalu membantu mengusap air mata di wajah Elvira.


" Ada Pakde di sini. Pakde siap menggantikan tugas Papimu Elvira. Maafkan Papimu karena ga bisa memberi kasih sayang seperti seharusnya...," kata ustadz Akbar dengan suara serak.


" Makasih Pakde, makasih Kapten. Aku baik-baik aja kok...," sahut Elvira sambil tersenyum.


Ucapan Elvira membuat Ustadz Akbar dan Rex tersenyum. Kemudian keduanya membantu Elvira berdiri.


" Sekarang Kita ga usah balik ke hotel tapi langsung pulang ke Jakarta ya...," kata ustadz Akbar.


" Tapi barang-barangku masih ada di hotel Pakde...," sahut Elvira.


" Minta tolong aja sama temanmu untuk mengurusnya. Kalo dia keberatan, titipkan saja sama pihak hotel biar Pakde menjemputnya nanti...," kata ustadz Akbar.


" Ustadz Akbar betul. Sebaiknya Kita pulang ke Jakarta sscepatnya Bu Elvira...," sela Rex.


Elvira nampak menimbang sejenak kemudian menganggukkan kepalanya.


" Ok, terserah Kalian. Keliatannya Aku lagi ga punya hak bicara sekarang...," sahut Elvira pasrah hingga membuat ustadz Akbar dan Rex tersenyum.


Tak lama kemudian mereka tampak melangkah menuruni tebing. Setelahnya mereka pergi meninggalkan Bandung bersamaan dengan matahari terbenam.

__ADS_1


Perjalanan Bandung - Jakarta berjalan lancar. Mobil hanya sekali menepi untuk memberi kesempatan pada para penumpang menunaikan sholat Maghrib di masjid.


Saat memasuki Jakarta terjadi sesuatu yang membuat ustadz Akbar cemas.


Saat itu ia duduk di samping Elvira dan terus mengamati sang keponakan yang nampak memejamkan mata. Tiba-tiba Elvira tampak gelisah, berkali-kali ia menggeliat dan itu membuat ustadz Akbar khawatir.


" Vira bangun, Kamu kenapa Nak...?" tanya ustadz Akbar sambil menepuk lengan Elvira.


Elvira tak menjawab dan sesaat kemudian tubuhnya nampak bergetar hebat. Penumpang lain pun nampak membantu dengan mengoleskan minyak kayu putih di kening dan hidung Elvira.


Rex yang memang duduk di belakang tak mengetahui apa yang terjadi. Namun saat para penumpang mulai gaduh, Rex pun bergegas bangkit untuk mendekat. Dan Rex terkejut saat melihat kondisi Elvira.


" Bu Elvira kenapa Ustadz...?" tanya Rex.


" Saya ga tau Mas. Keliatannya makhluk itu mencoba mempengaruhi Elvira lewat mimpinya...," sahut ustadz Akbar setengah berbisik.


Rex mengangguk lalu segera bertindak. Ia meminta supir mobil untuk membawa mereka ke Rumah Sakit terdekat.


" Maafkan Kami ya Bapak-bapak Ibu-ibu. Gara-gara Kami, perjalanan Anda terganggu...," kata Rex dengan nada menyesal.


" Gapapa Mas. Kami ngerti kok. Keadaan darurat kaya gini kan ga direncanain...," sahut seorang penumpang bijak.


" Sama-sama Mas...," sahut para penumpang bersamaan.


Mobil travel itu melaju dengan kecepatan tinggi lalu memasuki sebuah Rumah Sakit Swasta pertama yang mereka temui.


Dibantu dua penumpang lainnya Rex menurunkan Elvira dari mobil. Di luar mobil dua perawat nampak bersiap dengan sebuah brankar. Setelahnya Elvira dibawa masuk ke ruang IGD.


Sekali lagi Rex mengucapkan terima kasih kepada supir dan para penumpang. Setelah mobil traveĺ melaju meninggalkan area Rumah Sakit, Rex pun bergegas menyusul ustadz Akbar yang lebih dulu menemani Elvira.


" Gimana Ustadz...?" tanya Rex.


" Lagi dibawa ke IGD Mas, langsung ditangani sama dokter tadi. Ini Saya baru selesai ngurus administrasinya. Untung Elvira selalu membawa KTP kemana-mana, jadi Saya ga terlalu repot...," sahut ustadz Akbar.


" Kalo udah ditangani dokter insya Allah aman Ustadz...," kata Rex.


" Betul Mas...," sahut ustadz Akbar sambil mengusap wajahnya.

__ADS_1


" Kalo gitu Saya beli kopi dulu deh. Keliatannya Kita butuh kopi dan sedikit cemilan biar ga terlalu tegang...," kata Rex sambil bangkit dari duduknya.


" Mas Rex emang paling tau apa yang Saya perluin. Kalo gitu Saya titip kopi hitam tanpa gula ya Mas...," kata ustadz Akbar.


" Siap Ustadz...," sahut Rex sambil melangkah menuju kantin.


Setelah membeli dua gelas kopi dan sedikit makanan ringan, Rex pun kembali menemui ustadz Akbar.


Dari jauh Rex melihat ustadz Akbar sedang bicara dengan seorang dokter. Rex pun mempercepat langkahnya karena ia ingin mendengar langsung diagnosa dokter terhadap penyakit Elvira.


Ustadz Akbar menoleh sambil tersenyum kearah Rex begitu pun sang dokter.


" Lho dokter Aksara...?" sapa Rex.


" Apa kabar Kapten Rex. Dunia sempit banget ya, bisa-bisanya Kita ketemu lagi...," kata dokter Aksara sambil tersenyum lebar.


" Betul dok. Jadi dokter yang menangani Bu Elvira, gimana keadaannya sekarang dok...?" tanya Rex.


" Bu Elvira mengalami dehidrasi Kapten. Dan keliatannya kurang istirahat juga karena terlihat dari kondisi tubuhnya yang lemah. Saran Saya sebaiknya Bu Elvira dirawat beberapa hari di sini untuk memulihkan kondisinya...," sahut dokter Aksara.


" Hanya itu dok...?" tanya Rex penasaran.


" Iya, hanya itu. Memangnya Kapten pikir Bu Elvira sakit apa...?" tanya dokter Aksara sambil menatap Rex lekat.


Untuk sesaat tatapan dokter Aksara dan Rex bertemu. Namun dokter Aksara yang memutuskan tatapan itu lebih dulu hingga membuat Rex sedikit kecewa.


" Saya ga tau, kan dokter Aksara yang dokter bukan Saya...," sahut Rex cepat hingga membuat dokter Aksara mengerutkan keningnya.


Menyadari ada sesuatu diantara Rex dengan sang dokter, ustadz Akbar pun menengahi.


" Maksud Mas Rex bukan begitu dok. Elvira baru aja pulang dari Bandung usai mengawal murid-muridnya study tour. Dia memang keliatan ga sehat karena kurang tidur. Kami khawatir ada penyakit lain yang Elvira idap karena kondisi kesehatannya terus memburuk belakangan ini...," kata ustadz Akbar.


" Begitu rupanya. Biar Kami cek lagi nanti ya Pak. Untuk sementara biarkan Bu Elvira istirahat dan tolong jangan diganggu dulu...," kata dokter Aksara.


" Baik dok, terima kasih...," kata ustadz Akbar.


" Sama-sama. Saya permisi dulu ya Pak...," pamit dokter Aksara lalu bergegas pergi tanpa menoleh kearah Rex.

__ADS_1


Rex hanya menatap kepergian sang dokter sambil tersenyum tipis. Meski pun sang dokter terlihat mengabaikannya, Rex tahu jika dokter Aksara juga senang dengan pertemuan mereka kali ini.


\=\=\=\=\=


__ADS_2