
Keesokan paginya Rex dan ustadz Akbar pun menemui Elvira. Rex sangat terkejut melihat kondisi Elvira yang nampak memprihatinkan padahal mereka belum lama bersua. Sadar dirinya diamati, Elvira nampak menghindari tatapan Rex dengan berdiri menyamping saat mereka bicara.
" Bu Elvira sakit...?" tanya Rex sambil mengamati wajah Elvira.
" Ga Kapten. Saya cuma capek aja, kurang tidur karena harus menjaga anak-anak..., " sahut Elvira sambil tersenyum.
Tiba-tiba Anton, Halim dan Irma menghampiri Elvira.
" Bu Elvira udah siap belum...?" tanya Irma.
" Sudah. Apa Kita berangkat sekarang...?" tanya Elvira.
" Sebentar lagi. Siapa Bu, sodara ya...?" tanya Irma sambil melirik kearah Rex.
" Oh iya. Kenalin ini Pakde Saya Ustadz Akbar dan Kapten Rex...," kata Elvira sambil tersenyum.
Mereka pun saling berjabat tangan. Anton dan Halim juga menyebut nama mereka masing-masing saat berjabat tangan dengan ustadz Akbar dan Rex.
Setelah berbincang sejenak Elvira dan teman-temannya pun bergegas menuju bus yang parkir di halaman hotel.
" Kenapa Mas Rex, apa ada yang aneh...?" tanya ustadz Akbar saat melihat Rex menatap Elvira dan teman-temannya dengan tatapan yang berbeda.
" Iya...," sahut Rex cepat.
" Kalo boleh tau apa Mas Rex...?" tanya ustadz Akbar penasaran.
" Saya ga bisa cerita sekarang Ustadz. Saya khawatir ini hanya salah paham. Sekarang Kita ikutin Bu Elvira untuk mengawasi pergerakannya...," sahut Rex yang diangguki Ustadz Akbar.
Kemudian Rex dan ustadz Akbar mengikuti rombongan Elvira. Karena hari itu adalah hari terakhir rombongan berada di Bandung, maka para guru membawa rombongan ke tempat wisata untuk melepas penat.
Dari jauh Rex dan ustadz Akbar mengamati Elvira dengan intens. Namun saat mereka pergi untuk sholat Dzuhur berjamaah di musholla, saat itu lah mereka kehilangan Elvira.
" Maaf Bu Irma, dimana Bu Elvira...?" tanya ustadz Akbar.
" Tadi sih pamit ke toilet Pak Ustadz. Maklum lah, jumlah toilet kan terbatas jadi harus ngantri...," sahut Irma santai.
Ustadz Akbar dan Rex bergegas mencari Elvira namun nihil. Bahkan hingga jam tiga sore, saat rombongan harus kembali ke hotel Elvira tak juga terlihat.
" Saya mau cari Bu Elvira, Kalian kawal anak-anak ke hotel ya...," kata Halim yang diangguki Anton dan Irma.
__ADS_1
Kemudian Rex, ustadz Akbar dan Halim berpencar mencari Elvira di tempat wisata itu.
Sambil mencari Elvira, ingatan Rex kembali berputar ke saat dimana Elvira diculik di Afrika dulu. Ia mendengus kesal karena harus kembali merasakan perasaan yang sama. Jika dulu ia merasa bertanggung jawab karena Elvira adalah anggota teamnya, namun sekarang Rex merasa bertanggung jawab karena ia sudah terlanjur berjanji pada ustadz Akbar untuk membantu Elvira.
" Satu cewek tapi segudang masalah...," gumam Rex sambil menggelengkan kepala.
Saat itu Rex berada jauh di luar tempat wisata. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru dan terkejut saat melihat sosok wanita tengah berdiri di atas tebing. Dari kostum yang dikenakan wanita itu Rex tahu jika itu adalah Elvira.
" Ya Allah, itu dia. Kok bisa sampe di sana sih, gimana caranya...?" tanya Rex dalam hati.
Kemudian Rex menghubungi ustadz Akbar sebelum naik ke atas tebing untuk menyusul Elvira. Tak lama kemudian dia tiba di belakang Elvira yang saat itu tengah berdiri melamun sambil menatap jauh ke lembah dengan tatapan kosong.
Rex berdiri mengamati Elvira tanpa melakukan apa pun karena ia yakin Elvira tak akan melakukan sesuatu yang membahayakan.
Tak lama kemudian ustadz Akbar tiba di tempat itu. Ia tampak cemas saat melihat kondisi Elvira yang mematung sambil menatap ke satu titik.
" Ada apa Mas Rex, ngapain Elvira di situ...?" tanya ustadz Akbar setengah berbisik.
" Bu Elvira sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang berusaha membujuk agar ikut dengannya. Dan keliatannya Bu Elvira mulai terpengaruh Ustadz..., " sahut Rex gusar.
" Jadi Kita harus melakukan apa Mas...?" tanya ustadz Akbar cemas.
" Kita tunggu sebentar lagi Ustadz. Ayo ikut Saya...," kata Rex sambil menarik sang ustadz agar sembunyi di balik batu besar sambil mengamati Elvira.
" Kenapa Kita harus ngumpet Mas...?" tanya ustadz Akbar.
" Sssttt..., liat ke sana Ustadz...," sahut Rex sambil menunjuk kearah Elvira.
Dari belakang Elvira muncul sosok pria yang tak lain adalah Halim. Ia nampak tersenyum penuh makna melihat Elvira yang mematung di sana.
" Apa Kamu siap Elvira...?" tanya Halim.
Elvira menoleh dan terkejut saat melihat Halim ada di sana bersamanya.
" Jadi Kamu...," ucapan Elvira terputus.
" Iya ini Aku. Apa Kamu baru tau Elvira ?. Apa kehadiranku tak membuatmu sadar kalo Aku sudah sangat dekat denganmu...?" tanya Halim sambil menyentuh ujung rambut Elvira yang berkibar tertiup angin sore.
Elvira mengerjapkan matanya. Ingatan Elvira kembali ke beberapa bulan lalu. Setelah ia menolak Drajat, Halim hadir sebagai guru olah raga baru menggantikan guru olah raga lama yang pensiun.
__ADS_1
Saat pertama kali berjabat tangan Elvira merasa ada sesuatu yang Halim sembunyikan. Namun Elvira mengabaikannya karena beranggapan Halim hanya penasaran padanya sama seperti pria lain yang ingin mendekatinya.
Hari-hari berikutnya Elvira dan Halim kerap berbincang banyak hal. Meski pun mereka menjadi dekat, namun jauh di lubuk hatinya Elvira menolak kehadiran Halim.
Seolah tahu jika Elvira tak menginginkannya, Halim pun mulai menjaga jarak. Namun rupanya Halim justru mengambil jalan belakang dengan masuk ke dalam mimpi Elvira dan menjelma menjadi pria bermahkota biawak itu.
Di tempatnya berdiri ustadz Akbar nampak diliputi amarah. Sedangkan Rex terlihat lebih siap karena tahu musuh dalam selimut yang dimaksud Nyai Hadini adalah Halim.
Disaksikan Rex, ustadz Akbar dan Elvira, wujud Halim pun perlahan berubah. Kini Halim menjelma menjadi sosok pria yang kerap hadir mengganggu Elvira yaitu pria bermahkota biawak.
Tubuh pria itu nampak kekar berotot, terlihat jelas karena pria itu bertelan*ang dada. Mahkota biawak menghias kepalanya dan sebagian permukaan kulitnya berwarna kehitaman dihiasi bercak kuning. Di belakang tubuhnya tampak sebuah ekor panjang menjuntai.
Melihat wujud Halim berubah, Elvira nampak ketakutan. Tanpa sadar ia mundur beberapa langkah ke belakang dan itu membuatnya hampir terjatuh ke bawah tebing. Beruntung Halim berhasil meraih pinggang Elvira hingga gadis itu selamat.
" Sekarang tepati janjimu Elvira. Kamu akan ikut denganku kemana pun Aku pergi...," kata Halim sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Elvira seolah ingin menciumnya.
Elvira nampak meronta dan kesulitan lepas dari dekapan Halim. Saat itu lah Rex dan ustadz Akbar keluar dari persembunyiannya sambil berteriak lantang.
" Lepaskan dia...!" kata Rex lantang hingga mengejutkan Elvira dan Halim.
Tanpa sadar Halim mengendurkan pelukannya. Elvira memanfaatkan moment itu dengan mendorong tubuh Halim hingga ia bisa lepas dari pelukan pria itu. Kemudian Elvira berlari kearah ustadz Akbar yang menyambutnya dengan pelukan.
" Rupanya Kalian di sini juga. Huh, mengganggu sekali...," kata Halim sambil mendengus kesal.
" Pergi lah atau mati...," ancam Rex sambil mendekat.
Halim nampak mengibaskan ekornya sambil menyeringai marah dan tanpa aba-aba ia menyerang Rex dengan beringas. Pertempuran antara manusia dengan siluman biawak pun tak terelakkan.
Ustadz Akbar membawa Elvira menjauh agar gadis itu tak lagi dipengaruhi oleh Halim. Setelahnya ia menempelkan telapak tangannya di puncak kepala Elvira sambil membaca beberapa ayat Al Qur'an.
Suara ayat Al Qur'an yang dibaca ustadz Akbar ditambah serangan Rex yang bertenaga itu membuat Halim kewalahan. Ia nampak limbung dengan beberapa luka di sekujur tubuhnya. Dan detik berikutnya tendangan Rex berhasil mengenai perut Halim hingga membuat pria jelmaan siluman biawak itu terhempas jatuh ke bawah tebing.
" Jangaann...!" jerit Elvira saat melihat tubuh Halim menghilang ke bawah tebing.
Ustadz Akbar terkejut saat Elvira lari untuk menyusul Halim yang terjatuh itu. Beruntung Rex sigap menghalangi. Saat gadis itu melintas di depannya, Rex menangkapnya lalu memeluknya dengan erat.
" Istighfar Bu Elvira, istighfar...!" kata Rex mengingatkan.
Elvira tersentak lalu mengucap istighfar dengan suara bergetar. Air mata deras mengalir membasahi wajahnya yang pucat. Dan saat itu terjadi, ustadz Akbar dan Rex pun bernafas lega sambil mengucap hamdalah.
__ADS_1
bersambung