
Di sebuah kamar terlihat seorang gadis berpakaian merah sedang menangis. Tissu yang basah dengan air mata tampak bertebaran di sekitarnya. Saat ia mendongakkan wajahnya terlihat kedua matanya yang bengkak karena terlalu banyak menangis.
Gadis itu adalah Aksara, mantan kekasih Rex yang juga berprofesi sebagai dokter.
" Kenapa Rex. Kenapa Kamu ga mau ngasih Aku kesempatan. Aku kira Kamu memaafkan Aku dan mau menerima Aku kembali. Tapi ternyata...," tangis Aksara kembali pecah.
Aksara kembali mengingat penolakan Rex di acara pembukaan kliniknya tadi.
Beruntung saat Rex menyatakan penolakan, hanya ada keluarga mereka di sana. Aksara tak bisa membayangkan jika saat itu ada orang lain yang ikut mendengarkan kalimat penolakan yang diucapkan Rex. Mungkin ia akan menanggung malu seumur hidup karena ditolak oleh seorang pria di acara besarnya.
Aksara mengusap air matanya saat teringat kartu undangan yang diserahkan Rex tadi.
Aksara meraih tas tangannya lalu membukanya dengan segera. Aksara bernafas lega karena menemukan kedua kartu undangan Rex di sana.
" Siapa sih cewek yang udah berhasil bikin Rex move on dari Aku...," gumam Aksara sambil membuka kartu undangan hijau lumut dengan motif keemasan itu.
" Shezi...?!" kata Aksara dengan suara tertahan.
Aksara pun memejamkan matanya sambil menggenggam erat kartu undangan itu. Ia kembali teringat dengan sosok gadis bernama Shezi itu. Aksara tak menyangka jika Shezi adalah gadis yang dipilih Rex untuk mendampinginya.
" Jadi Aku dikalahkan oleh seorang gadis yang tak berpendidikan dan urakan seperti Shezi ?. Apa kelebihan yang Shezi miliki sampe Rex rela menghabiskan sisa hidupnya untuk menikah dan hidup sama dia selamanya...?!" gumam Aksara sambil menyobek kartu undangan itu.
Setelah puas membuat kedua kartu undangan itu menjadi serpihan kecil, Aksara pun tertawa keras. Tawa yang terdengar sumbang, karena Aksara tak hanya tertawa tapi juga menangis.
\=\=\=\=\=
Shezi nampak bersimpuh di samping sepasang makam yang merupakan makam kedua orangtuanya. Saat itu Shezi tak sendiri. Ia datang bersama Rex yang akan ia perkenalkan sebagai calon suaminya.
" Ayah, Mama. Aku datang...," sapa Shezi dengan suara bergetar.
Kemudian Shezi menaburkan bunga di atas kedua makam itu. Shezi juga meletakkan sekuntum mawar putih di masing-masing nisan.
Rex pun memimpin doa untuk almarhum orangtua Shezi. Dilakukan dengan khusu hingga membuat Shezi terharu. Rex menoleh saat suara Shezi mengaminkan doanya terdengar lirih.
Setelah selesai memanjatkan doa untuk kedua orangtua Shezi. Rex pun meraih jemari Shezi dan menggenggamnya dengan erat.
" Ayah, Mama. Kenalkan namaku Rex Aldan, anggota TNI Angkatan Darat berpangkat Kapten. Insya Allah bakal naik pangkat sebentar lagi. Kedatanganku ke sini ingin...," ucapan Rex terputus karena Shezi memotong cepat.
__ADS_1
" Serius dikit dong Kapten...," protes Shezi sambil menyenggol lengan Rex.
" Iya iya. Abisnya Kamu tegang banget sih. Aku ngomong gitu kan biar Kamu lebih relaks Zi....," sahut Rex membela diri.
" Ck, udah biar Aku aja yang ngomong sama Ayah dan Mamaku...," kata Shezi sambil cemberut.
Kemudian Rex memberi kesempatan untuk Shezi bicara pada kedua orangtuanya. Namun ternyata Shezi tak bicara apa pun hingga membuat Rex bingung. Gadis itu hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Apalagi tak lama kemudian Shezi pun bangkit dan meminta Rex mengantarnya pulang.
" Lho kok pulang sih. Emang udahan ziarahnya...?" tanya Rex tak mengerti.
" Udah...," sahut Shezi santai.
" Tapi Aku ga denger Kamu ngomong apa-apa sama kedua orangtua Kamu Zi...," kata Rex.
Ucapan Rex membuat Shezi tertawa geli. Rex yang tak mengerti pun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sang calon istri.
" Maaf Kapten, tapi kali ini Kamu emang beneran lucu...," kata Shezi di sela tawanya.
Tanpa basa basi Shezi melangkah lebih dulu meninggalkan makam kedua orangtuanya dan Rex pun terpaksa mengikuti dari belakang.
" Tunggu Zi...," panggil Rex sambil meraih tangan Shezi.
" Kamu belum jawab pertanyaan Aku...," sahut Rex cepat namun membuat Shezi tersenyum.
" Aku bakal jawab pertanyaan Kamu nanti, di tempat yang nyaman sambil minum es pasti seru kan...," kata Shezi.
" Oh gitu. Ok, Kita pergi sekarang...," sahut Rex sambil menstarter motornya.
Shezi pun mengangguk lalu duduk di belakang Rex. Hanya duduk tanpa memeluk pinggang Rex seperti mantan-mantan pacar Rex sebelumnya. Namun Rex yang paham bagaimana tabiat calon istrinya itu hanya tersenyum maklum.
Sesaat kemudian Rex melajukan motornya meninggalkan area pemakaman menuju sebuah tempat seperti yang diinginkan Shezi.
Rex menghentikan motornya saat Shezi menepuk pundaknya. Saat itu mereka berada di depan sebuah warung es cendol yang lumayan ramai pembeli.
" Kamu malu ga kalo Kita mampir ke sana...?" tanya Shezi.
" Ngapain harus malu. Asal halal dan bersih kenapa ga. Lagian Kita di sini mau beli bukan mau ngutang kan...?" tanya Rex sambil tersenyum.
__ADS_1
" Iya dong...," sahut Shezi sambil turun dari motor lalu melangkah ke warung.
Karena warung cendol itu ramai pembeli, Shezi pun mencari tempat duduk lain. Ia memilih duduk sedikit jauh dari warung.
Sambil menikmati es cendol Shezi pun mulai bicara.
" Dulu Aku sama Mama sering ke sini tiap kali selesai ziarah ke makam Ayah...," kata Shezi memulai ceritanya.
" Jadi Ayah Kamu meninggal lebih dulu. Kalo boleh tau apa sebabnya...?" tanya Rex hati-hati.
" Ayahku meninggal karena difitnah...," sahut Shezi dengan suara tercekat.
" Siapa yang udah memfitnah...? " tanya Rex.
" Kakaknya Mama...," sahut Shezi sambil menunduk.
" Mamanya Nato...?" tebak Rex.
" Iya. Awalnya Aku ga tau kenapa Bude benci banget sama Ayah. Tapi belakangan Aku tau kalo Bude sengaja menyingkirkan Ayahku karena Ayah tau rahasia Bude...," kata Shezi.
" Rahasia apa...?" tanya Rex penasaran.
" Bude mengambil jatah warisan Mama dan menjualnya. Ayahku berusaha memperjuangkan hak Mama dan itu bikin Bude marah. Bude memfitnah Ayah dan bilang kalo Ayah punya selingkuhan di luar sana. Mama yang termakan ucapan Bude pun akhirnya minta cerai. Tapi sebelum perceraian terjadi Papa keburu meninggal karena dipukuli orang suruhan Bude. Mama meninggal tiga tahun kemudian. Dan sejak Mama meninggal Aku tinggal sama Bude karena semua harta peninggalan Mama dikuasai Bude. Dan selanjutnya Kamu tau kan gimana ceritanya...," kata Shezi dengan mata berkaca-kaca.
Rex hanya mengangguk tanpa bicara apa pun. Kemudian ia memberanikan diri merengkuh Shezi. Dan Rex tersenyum saat Shezi merebahkan kepala di pundaknya.
Rex menghela nafas panjang karena ikut sedih dengan masa lalu calon istrinya itu. Dalam hati Rex berjanji akan memberikan kebahagiaan yang seharusnya kepada Shezi kelak.
" Jadi apa yang Kamu bilang sama Ayah dan Mama Kamu tentang Aku tadi...?" tanya Rex beberapa saat kemudian.
" Aku cuma bilang kalo Kamu calon Suami Aku. Udah gitu doang...," sahut Shezi sambil mendongakkan wajahnya.
Meski terkejut dengan jawaban Shezi namun Rex senang karena dirinya diakui sebagai calon suami oleh Shezi. Rex pun mengecup kening Shezi dengan cepat hingga membuat wajah gadis itu merona.
" Udah kan minum esnya. Kita pulang sekarang yuk...," ajak Shezi sambil bangkit dari duduknya.
" Ok...," sahut Rex sambil tersenyum karena tahu jika Shezi sedang berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=