Kidung Petaka

Kidung Petaka
59. Kapok


__ADS_3

Suasana dalam ruangan menjadi gelap saat semua lilin di ruangan itu padam. Fadlan dan teman-temannya nampak menahan nafas karena tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Semua orang mengeraskan dzikir mereka begitu pula dengan Rex dan Gama.


Tiba-tiba terdengar suara benda berat yang jatuh, Rex ingat jika ciri-ciri itu adalah pertanda kedatangan arwah korban pembunuhan yang dilihat Fadlan dalam mimpinya.


" Dia datang Bang...," kata Fadlan dengan suara bergetar.


" Gapapa Fad, terusin dzikirmu. Kamu tenang aja, ada Kami di sini..., " sahut Rex sambil mengusap punggung Fadlan dengan lembut hingga membuat remaja itu merasa jauh lebih tenang.


" Ok Bang...," sahut Fadlan sambil menganggukkan kepala.


Sesaat setelah suara berdebum itu menghilang, tiba-tiba terdengar suara benda ringan terseret di lantai. Semula terdengar jauh, namun perlahan mendekat kearah mereka. Suara yang lembut dengan jeda yang teratur itu membuat Fadlan dan teman-temannya menggigil ketakutan.


Lagi-lagi Rex tahu jika itu adalah suara gaun dari arwah wanita yang telah mengganggu Emir.


" Semua fokus dan tetap waspada. Di hitungan ketiga nyalakan senter ya...," kata ustadz Akbar.


" Siap Ustadz...!" sahut ustadz Mahdi, Rex, Gama dan Komar bersamaan.


" Satu... dua... tiga...!" kata ustadz Akbar memberi aba-aba.


Dalam sekejap ruangan yang semula gelap gulita itu pun menjadi terang benderang. Senter diarahkan ke Fadlan dan teman-temannya hingga membuat para remaja itu bisa sedikit bernafas lega.


Namun sayangnya kelegaan itu hanya sesaat. Detik berikutnya tubuh Fadlan tertarik ke belakang lalu menggelepar di lantai seperti ayam disembelih.


Semua terkejut terutama Komar. Ia memanggil nama sang anak lalu menghambur memeluk Fadlan. Dalam kepanikannya ia terus memegangi tubuh Fadlan yang mengejang sambil meracau itu.


" Fadlan !. Kamu gapapa kan Nak. Fadlan !. Gimana nih Pak Ustadz...?!" kata Komar lantang sambil menatap ustadz Akbar dan ustadz Mahdi bergantian.


" Lepasin dia Pak...!" kata ustadz Akbar.


" Tapi kalo dia kenapa-kenapa gimana Pak Ustadz...?" tanya Komar gusar.


" Insya Allah Fadlan gapapa. Arwah yang dia panggil kemarin ingin berkomunikasi dengan Kita melalui tubuh Fadlan. Lepaskan sekarang biar Kita bisa segera tau apa maunya. Jadi Kita bisa secepatnya mengantar dia pulang supaya ga mengganggu Fadlan lagi...," sahut ustadz Akbar.


Komar pun melepaskan pelukannya setelah mendengar penjelasan ustadz Akbar. Kemudian dia menyingkir untuk memberi kesempatan pada ustadz Akbar membantu Fadlan.

__ADS_1


Ustadz Akbar menyentuh kepala dan leher Fadlan. Ajaib, setelahnya tubuh Fadlan yang semula bergetar hebat itu perlahan berhenti bergerak dan diam.


Fadlan membuka mata lalu membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun sayangnya tak ada suara yang keluar selain hanya suara 'mengorok' seperti kerbau disembelih. Kedua mata Fadlan pun mendelik ke atas dengan wajah membiru disertai urat yang menyembul di seluruh permukaan kulit wajah dan lehernya.


" Pelan-pelan aja, ga usah buru-buru...," kata ustadz Akbar.


Fadlan terus mengorok disertai gerakan tangan yang menggambar sesuatu di udara. Sesuatu yang digambar Fadlan memiliki bentuk atau pola tertentu. Ustadz Akbar nampak menganggukkan kepalanya seolah mengerti.


" Aku mengerti. Terima kasih telah merahasiakan semuanya. Tapi sekarang jaman telah berganti dan perang telah usai. Kami semua telah bebas dan bahagia hidup di alam kemerdekaan...," kata ustadz Akbar.


Tampak senyum mengembang di wajah Fadlan. Dan senyuman itu perlahan memudar seiring doa yang dilantunkan ustadz Akbar.


" Pergi lah dengan tenang. Jasadmu dan ruhmu abadi di pangkuan ilahi...," kata ustadz Akbar sambil mengusap wajah Fadlan.


Tubuh Fadlan mengejang sebentar lalu terkulai lemah. Rupanya arwah pria korban pembunuhan yang merasuki tubuh Fadlan telah pergi.


Sesaat kemudian Fadlan membuka matanya dan menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mwncari sesuatu. Tatapannya berhenti pada sosok sang bapak yang sedang duduk sambil menatapnya lekat.


" Bapak...," panggil Fadlan lirih hingga mengejutkan Komar.


" Kamu siuman Nak. Kamu inget sama Bapak...?" tanya Komar yang diangguki Fadlan.


Fadlan bangkit lalu mencium punggung tangan sang bapak sambil meminta maaf berulang kali.


" Maafin Fadlan ya Pak. Fadlan janji ga bakal bikin Bapak sama Ibu marah lagi. Fadlan bakal nurutin semua yang Bapak dan Ibu suruh...," kata Fadlan sungguh-sungguh.


" Iya iya Nak. Bapak percaya...," sahut Komar sambil mengusap punggung sang anak dengan lembut.


Untuk sejenak suasana haru memenuhi ruangan itu. Namun tak lama kemudian terdengar suara perempuan tertawa. Semua menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara.


Tiba-tiba Kevin menjerit saat menyadari jika suara tawa perempuan itu berasal dari Emir yang duduk persis di samping kanannya. Rupanya saat itu Emir tengah kerasukan arwah Perempuan yang selalu datang dalam mimpi dan meminta Emir untuk menikahinya.


" Emir kesurupan Bang...!" kata Kevin panik sambil menjauh dari Emir lalu mendekati Rex.


" Iya Abang tau Vin. Jangan panik, badan Emir lagi dipinjem sama arwah itu untuk menyampaikan sesuatu sama seperti Fadlan tadi...," sahut Rex.


" Tapi ini mah lebih serem Bang !. Aku yakin kalo arwah yang masuk ke dalam badannya Emir pasti lagi kegirangan karena ngeliat banyak cowok di sini. Secara dia kan arwah cewek genit yang suka sama cowok-cowok keren kaya Kita...," kata Kevin sambil mencibir.

__ADS_1


Ucapan Kevin mau tak mau membuat Rex tertawa.


" Hush...!. Kenapa Lo malah ketawa sih Rex. Bantuin Ustadz Akbar tuh, kasian kan beliau kerepotan...," tegur Gama.


" Ups, sorry. Iya Gam. Gue ga sengaja. Abisnya si Kevin ngelawak aja nih di situasi kaya gini...," sahut Rex sambil berusaha menghentikan tawanya.


Di depan sana tampak Emir melakukan gerakan seperti sedang mengibaskan rambut panjangnya. Gerakannya yang gemulai dengan sorot mata genit menggoda sungguh jauh dari kepribadian Emir selama ini.


" Assalamualaikum, halo cantik...," sapa ustadz Akbar.


" Wa alaikumsalam..., " sahut Emir lirih sambil tersipu malu hingga membuat semua teman-temannya saling menatap sambil tersenyum.


" Hei, Kalian ke sini aja jangan di situ. Ngeliat cara Kalian tadi, Abang yakin bisa-bisa Kalian yang dirasuki secara bergantian nanti...!" kata Rex sambil melambaikan tangannya kearah para remaja itu.


Serentak para remaja itu menoleh lalu bergeser menjauhi Emir yang tengah kerasukan itu.


Entah mengapa tiba-tiba Emir menangis. Tangis yang sedih dan memilukan hingga membuat semua orang tahu jika arwah wanita itu sangat menderita.


" Apa maumu, kenapa mengganggu anak ini. Dia masih polos tapi Kamu telah menodainya dengan aksimu itu. Sebaiknya Kamu pergi sekarang dan jangan mengganggu lagi...!" kata ustadz Akbar.


Arwah wanita dalam tubuh Emir tetap membisu namun melakukan gerakan aneh seperti sedang membuka pakaiannya sendiri. Namun sebelum Emir menyelesaikan aksinya, ustadz Akbar dan ustadz Mahdi segera menepuk punggung dan dada Emir secara bersamaan sambil bertakbir.


" Allahu akbar...!" seru kedua ustadz itu bersamaan.


Akibat tepukan keras itu membuat Emir muntah darah dengan hebat. Warna darah kehitaman berbau busuk pun nampak membasahi lantai. Semua menutup hidung karena merasa terganggu dengan aroma busuk yang menyeruak itu.


Setelah menjerit keras, Emir pun jatuh terkulai di lantai. Sebelum tubuhnya membentur lantai, Rex dan Gama sigap menangkap tubuh Emir kemudian membawanya menjauh dari tempat semula.


Tubuh Emir dibaringkan di lantai dalam posisi terpejam. Ustadz Akbar nampak menyentuh kening Emir sambil membacakan beberapa doa. Tiba-tiba Emir membuka mata lalu duduk. Gerakan Emir yang tiba-tiba mengejutkan Rex dan Gama. Namun sesaat kemudian ketiganya tersenyum menandakan Emir telah siuman dan mengenali sekelilingnya.


" Alhamdulillah selesai juga...," kata ustadz Akbar.


" Alhamdulillah..., ". sahut semua orang sambil menghela nafas lega.


" Sebaiknya Kita tinggalkan tempat ini sekarang...!" ajak ustadz Mahdi yang diangguki ustadz Akbar.


Tanpa banyak cakap semua orang bergegas meninggalkan rumah kosong itu. Emir yang masih lemah pun terpaksa dipapah oleh Rex dan Gama agar bisa segera keluar dari sana.

__ADS_1


Dalam hati para remaja itu bertekad untuk tak mau lagi berinteraksi dengan makhluk ghaib. Nampaknya mereka benar-benar kapok dan itu membuat Rex tersenyum.


bersambung


__ADS_2