Kidung Petaka

Kidung Petaka
244. Panggil Gaza


__ADS_3

Malam itu Rex dan Shezi berangkat ke Aceh melalui bandara Soekarno-Hatta. Hanya Ramon dan Lanni yang mengantar kepergian mereka karena Lilian dan Gama harus mempersiapkan persalinan Lilian.


Rupanya Lilian mengalami kontraksi beberapa kali hingga harus dibawa ke Rumah Sakit. Gondo dan Mira pun tak ikut mengantar karena sibuk membantu persiapan kelahiran cucu mereka.


" Semoga Kak Lian bisa melahirkan dengan selamat ya Bu...," kata Shezi.


" Aamiin. Iya Zi, Ibu juga berharap begitu...," sahut Lanni sambil tersenyum.


" Harusnya Ibu sama Ayah ga usah nganterin Kami. Kak Lian kan lebih butuh Ibu sama Ayah saat ini...," kata Rex dari belakang kemudi.


" Jangan bilang begitu Rex. Kamu dan Shezi kan juga anak Kami. Kami ingin membagi kasih sayang dengan adil biar ga ada kesan pilih kasih. Lagipula Lian kan ga sendiri di sana. Ada Gama, Mama dan Papanya. Kita udah bagi tugas supaya bisa kehandle semuanya...," sahut Lanni sambil mengusap punggung tangan Shezi dengan lembut.


" Makasih ya Bu...," kata Shezi dengan tulus.


" Sama-sama Nak. Jadi Kalian udah jenguk Aksara tadi...?" tanya Lanni sambil menatap Rex dan Shezi bergantian.


" Iya Bu. Sempet ada sedikit drama juga tadi yang bikin Suamiku hampir meledak...," sahut Shezi sambil tersenyum lalu melirik kearah Rex.


" Oh ya. Ada kejadian apa yang bikin Anak Ibu hampir meledak...?" tanya Lanni penasaran.


Shezi pun menceritakan kejadian di kamar rawat inap Aksara tadi secara lengkap. Ramon dan Lanni nampak menggelengkan kepala sedangkan Rex nampak tak terusik dengan cerita sang istri. Ia menatap ke jalan raya di depannya sambil mengendarai mobil dengan santai.


" Alhamdulillah Ibu senang karena akhirnya Rex bisa lolos dari hubungan yang ga sehat itu. Dan lebih senang lagi karena Rex mendapatkan Istri yang bijak seperti Kamu...," kata Lanni sambil memeluk Shezi erat.


" Ayah bangga sama Kamu karena bisa membuat keputusan terbaik untuk hidupmu Nak...," kata Ramon sambil mengusap kepala Rex dengan lembut.


" Aku harus realistis Yah. Masa depanku Shezi dan bukan Aksara. Buat apa Aku kembali merepotkan diriku dengan Aksara yang jelas-jelas udah ga ada di hatiku lagi...," sahut Rex sambil melirik kearah Shezi melalui kaca spion.


Shezi nampak tersenyum mendengar jawaban Rex, sedangkan Lanni dan Ramon tertawa puas.


" Bagus Nak. Fokus dengan keluarga kecil Kalian. Jangan lupa berkabar secara rutin biar Ibu ga kehilangan Kalian...," pesan Lanni sambil kembali memeluk Shezi.


" Insya Allah siap Bu...!" sahut Rex dan Shezi bersamaan.


\=\=\=\=\=


Setelah melepas kepergian Rex dan Shezi, Ramon dan Lanni pun bergegas pergi ke Rumah Sakit Sentosa.

__ADS_1


Di sana mereka diarahkan ke ruang bersalin dimana Lilian sedang berjuang melahirkan anaknya.


" Gimana Mir, apa Lian udah melahirkan...? " tanya Lanni.


" Belum Mbak. Daritadi masih kontraksi aja...," sahut Mira sambil mengusap peluh di wajahnya.


" Kenapa Kamu di sini, siapa yang nemenin Lian...?" tanya Lanni panik.


" Ada Gama Mbak. Maaf Aku ga nemenin karena ga kuat ngeliat Lian merintih terus daritadi. Aku jadi inget saat melahirkan Gama dulu...," sahut Mira tak enak hati.


" Gapapa, biar Aku liat ke dalam dulu ya Mir. Siapa tau Aku boleh masuk untuk ngasih semangat biar Lian bisa melahirkan lebih cepat...," kata Lanni sambil bergegas masuk ke dalam ruangan bersalin.


Ternyata kedatangan Lanni memang membawa pengaruh positif untuk Lilian. Lima menit kemudian Lilian bisa melahirkan bayinya dengan selamat berkat suport dari Lanni dan Gama.


Jerit tangis bayi terdengar melengking saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Di ruang tunggu tampak tiga orang dewasa tengah tertawa bahagia sambil mengucap hamdalah berkali-kali.


" Alhamdulillah...!" seru Ramon, Gondo dan Mira bersamaan.


Setengah jam kemudian Lanni keluar dari ruang bersalin sambil menggendong bayi laki-laki yang sehat dan lucu. Ramon, Gondo dan Mira pun tertawa bahagia menyambut cucu kedua mereka itu.


" Unik banget sih Cucu Kita ini. Jenis kelaminnya laki-laki tapi wajahnya justru mirip sama Lian...," kata Mira.


" Sabar dulu. Sekarang bayi ini harus ikut Ibunya ke ruang rawat inap. Kita ketemu di sana nanti ya...," kata Lanni sambil membawa bayi itu kembali ke dalam ruang bersalin.


\=\=\=\=\=


Gama tak henti menatap bayinya yang terlelap di box bayi. Di sampingnya Lilian pun nampak memejamkan mata sambil tersenyum.


" Apa masih terasa sakit Sayang...?" tanya Gama sambil mengecup kening Lilian dengan sayang.


" Masih, tapi langsung hilang pas ngeliat si kecil...," sahut Lilian sambil tersenyum.


" Alhamdulillah. Makasih udah ngelahirin dia ke dunia ini ya...," bisik Gama sambil menitikkan air mata.


" Sama-sama. Jangan nangis dong, malu kan sama si kecil...," kata Lilian sambil mengusap mata Gama yang basah itu dengan jarinya.


Gama pun tersenyum lalu memeluk Lilian dengan erat.

__ADS_1


" Jadi udah nyiapin nama yang bagus belum Gam...?" tanya Gondo sambil mendekati box bayi.


" Udah Pa...," sahut Gama.


" Oh ya, siapa namanya ?. Jangan yang aneh-aneh ya Gam...," kata Gondo.


" Ga aneh kok Pa. Yang penting bermakna karena ada doa Kami di dalam namanya...," sahut Gama sambil melirik Lilian yang nampak menganggukkan kepala.


" Gama betul Pa...," sela Lilian sambil menggenggam jemari Gama.


" Jadi namanya Gaza Muhammad Aziel. Yang artinya Laki-laki yang berjuang demi kemuliaan Tuhannya...," kata Gama sambil menatap bayinya dengan tatapan penuh cinta.


" Masya Allah, nama yang bagus Gam. Mama suka dengernya. Iya kan Mbak...," kata Mira antusias.


" Iya Mir, Kami juga suka nama itu...," sahut Lanni sambil tersenyum.


" Jadi panggilannya Gaza atau Aziel...?" tanya Ramon sambil menyentuh pipi sang bayi dengan lembut.


" Gaza juga boleh Yah. Kan nama Papanya Gama, jadi anaknya Gaza...," sahut Lilian sambil menatap Gama dengan tatapan lembut.


" Ok deal ya. Kita panggil Gaza untuk si kecil yang hebat ini...," kata Ramon disambut tawa semua orang.


Tiba-tiba ponsel Ramon berdering dan mengejutkan semua orang. Rupanya Rex yang menghubungi melalui panggilan video call. Setelah Ramon mengabarkan kelahiran Gaza, Rex pun meminta bicara langsung dengan sang kakak.


" Selamat ya Kak, akhirnya keponakanku lahir juga...," kata Rex.


" Makasih Rex. Kamu dimana sekarang, Shezi kok ga keliatan...?" tanya Lilian.


" Udah sampe Aceh Kak. Ini lagi di masjid mau sholat Subuh. Shezi ada di kamar hotel lagi istirahat...," sahut Rex.


Pembicaraan mereka harus terjeda saat seorang dokter masuk ke dalam ruangan.


" Jangan begadang terus Suster Lian. Kamu juga perlu istirahat. Tidur sebentar sejam atau dua jam itu baik untuk memulihkan stamina usai melahirkan..., " kata sang dokter sambil mengecek kondisi Lilian.


" Siap dok...," sahut Lilian sambil tersenyum.


Lilian pun menuruti saran dokter untuk tidur. Sedangkan keluarganya memilih menunggu di luar kamar agar Lilian bisa istirahat tanpa harus nimbrung saat mereka bicara.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2