Kidung Petaka

Kidung Petaka
36. Ruwet


__ADS_3

Setelah Deri bertobat dan menikah, Sentosa menyerahkan sebagian besar hartanya untuk dikelola oleh Deri. Meski pun begitu Deri tak serakah. Ia tetap memikirkan kebahagiaan ketiga ibu dan semua kakak tirinya. Bahkan Deri mempercayakan beberapa perusahaan milik Sentosa untuk dikelola oleh kakak tirinya.


Deri juga mendirikan Rumah Sakit untuk mengungkapkan kasih sayangnya pada sang ayah. Sentosa sangat bahagia saat namanya disematkan sebagai nama Rumah Sakit yang didirikan Deri.


Seiring waktu kesehatan Sentosa pun mulai mengalami gangguan. Kesehatan Sentosa yang memburuk membuat Deri khawatir. Dengan berbagai upaya Deri berusaha menyembuhkan ayahnya termasuk berobat keluar negeri.


" Kita punya Rumah Sakit, tapi kenapa Papi harus dibawa berobat keluar negeri segala sih Der...?" protes Sentosa kala itu.


" Gapapa Pi. Selain peralatan yang kurang lengkap, Aku juga mau Papi berlibur di sana. Jauh dari Indonesia bikin Papi relaks dan ga perlu mikirin semua urusan di sini. Dan itu adalah salah satu hal penting untuk kesembuhan Papi...," sahut Deri.


" Papi udah tua dan Papi mati bisa mati kapan aja. Tapi Papi mau mati di Indonesia, di tengah keluarga besar Papi...," rengek Sentosa.


" Papi ga akan mati dalam waktu dekat. Kan Papi masih harus menyaksikan cucu-cucu Papi sukses dan jadi orang termasuk Dipo...," kata Deri dengan suara tercekat.


Menyadari Deri yang sedih karena kondisi anaknya yang memiliki kekurangan membuat Sentosa trenyuh. Sentosa tahu betul jika Deri cemas dengan kehidupan Dipo saat dirinya tiada nanti. Sentosa pun mengalah. Ia mengikuti saran Deri dan pergi keluar negeri untuk berobat didampingi salah seorang anak perempuannya.


Dipo adalah salah satu cucu laki-laki Sentosa karena ia juga memiliki dua cucu laki-laki dari anaknya yang lain. Sentosa sangat menyayangi Dipo karena Dipo adalah anak Deri yang lahir prematur.


Dipo lahir dengan keterbelakangan mental. Walau fisiknya sempurna namun ada kekurangan dalam diri Dipo. Sayangnya hal itu baru diketahui setelah Dipo berusia sepuluh tahun.


Semula keluarga mengira Dipo adalah anak yang manja dan keras kepala karena terlalu dimanja oleh sang kakek. Dipo sering mengamuk dan melempar benda di sekitarnya jika keinginannya tak dipenuhi. Namun kadang kala Dipo bisa bertingkah sangat manis hingga membuat semua orang terkecoh.


Kepribadian Dipo yang labil membuat semua orang mulai 'gerah' dan perlahan menjauhinya. Hal itu membuat berkurangnya pengawasan dan keamanan Dipo pun terabaikan. Hingga suatu hari Dipo diculik oleh orang suruhan saingan bisnis Deri.


Selama dalam masa penyekapan, Dipo kerap mendapat pukulan dan tendangan yang membuat sekujur tubuh dan kepalanya terbentur dinding. Dan benturan itu berakibat fatal untuk Dipo. Gangguan mental yang diidapnya makin parah. Dan sejak Dipo berhasil diselamatkan dari tangan para penculik, Dipo makin sulit dikendalikan.

__ADS_1


Meski pun sering kali mengamuk, namun ada satu hal yang bisa mengalihkan emosi Dipo. Dipo senang sekali berkunjung ke Rumah Sakit Sentosa. Alasannya karena di sana ramai dan banyak orang. Mungkin akibat trauma saat penyekapan dulu membuat Dipo tak suka berada di tempat yang sedikit orang termasuk di rumah.


Kehadiran Dipo di Rumah Sakit Sentosa memang tak memancing perhatian. Itu dikarenakan kondisi fisik Dipo sama seperti orang kebanyakan. Jika tak mengenal Dipo dengan baik, orang awam akan menganggap Dipo sebagai pria normal yang sehat.


Dipo tampil bak pria dewasa yang keren dan mapan. Hal itu berbanding terbalik dengan karakter Dipo. Meski pun usianya memang sudah dewasa, tapi mental Dipo seperti anak umur sepuluh tahun.


Dan saat Dipo digelandang polisi, Deri dan istrinya sedang berada di luar negeri untuk menjenguk ayahnya.


Mendengar kabar penangkapan Dipo membuat Deri dan istrinya terkejut. Mereka memutuskan segera kembali ke Indonesia secepatnya. Meski pun sudah berusaha menutupi kabar buruk itu dari ayahnya, toh Sentosa tahu juga. Ia merengek pulang karena tak bisa membiarkan Dipo terluka lagi.


Kehadiran Deri dan istrinya di kantor polisi membuat awak media yang memang berkumpul untuk meliput berita pun heboh. Mereka menunggu pernyataan Deri tentang penangkapan anaknya itu. Namun pengawalan ketat para bodyguard membuat awak media kesulitan mendekati Deri.


Taufan pun menoleh saat anak buahnya membawa Deri padanya.


" Oh ya. Tinggalkan Kami dan tolong tutup pintunya...," kata Taufan sambil melirik kearah Deri dan pengacaranya itu.


" Selamat sore Pak. Saya Deri, ayahnya Dipo. Dan ini pengacara keluarga Saya...," kata Deri sambil mengulurkan tangannya.


" Saya Taufan. Mari silakan duduk...," sahut Taufan sambil balas menjabat tangan Deri.


" Perkenalkan, nama Saya Hendra. Jadi kedatangan Kami ke sini untuk membicarakan perihal penangkapan Mas Dipo Pak. Bisa tolong dijelaskan mengapa Mas Dipo ditangkap...?" tanya pengacara keluarga Deri itu.


" Begini Pak Hendra, Dipo terbukti jelas dan meyakinkan telah melakukan pelecehan pada pasien Rumah Sakit Sentosa yang bernama Aura...," sahut Taufan dengan tenang.


" Maaf Pak. Apa Bapak ga salah tangkap ya. Mas Dipo ga mungkin melakukan pelecehan se**al karena dia... memiliki sedikit kekurangan...," kata Hendra ragu.

__ADS_1


" Oh ya ?. Kekurangan apa maksud Pak Hendra...?" tanya Taufan tak mengerti.


Hendra nampak menelan saliva dengan sulit. Ia melirik kearah Deri berharap Deri lah yang akan menceritakan kekurangan Dipo. Tapi nampaknya Deri terlalu lelah hingga hanya diam mengamati pembicaraan Hendra dan Taufan.


" Mas Dipo memang sudah dewasa, tapi sayang mentalnya lebih menyerupai anak usia sepuluh tahun...," kata Hendra hati-hati.


Ucapan Hendra mengejutkan Taufan. Karena dilihat dari rekaman CCTV dan bukti visum menyatakan jika Dipo sehat dan normal. Apalagi luka lebam yang diderita Aura membuktikan jika Dipo sangat berpengalaman melakukan itu.


" Tolong jangan melindungi tersangka dengan alibi yang tak masuk akal Pak Hendra. Anda tau apa konsekwensinya kan...?!" tanya Taufan tak suka.


" Saya paham Pak dan Saya ga asal bicara. Kami datang ke sini dengan surat pernyataan dari Rumah Sakit Jiwa tentang kondisi mental Mas Dipo...," sahut Hendra sambil menyodorkan map berisi berkas kesehatan Dipo.


Taufan menyambar map yang disodorkan Hendra lalu membaca lembaran berkas berisi pernyataan Rumah Sakit Jiwa tentang kesehatan mental Dipo. Di sana tertulis jika Dipo masih harus melakukan cek kesehatan secara berkala dan mengonsumsi obat.


" Kalo Dipo masih sakit kenapa Kalian membiarkan dia berkeliaran di tempat umum tanpa pengawasan...?!" tanya Taufan gusar.


" Itu kesalahan Kami Pak Taufan. Tapi itu ga sengaja Kami lakukan. Karena biasanya selalu ada orang yang mendampingi Mas Dipo saat dia keluar dari rumah. Saat peristiwa naas itu terjadi, Pak Deri dan istri sedang tak berada di rumah karena harus keluar negeri menjenguk Ayahnya. Kelalaian orang rumah menyebabkan Mas Dipo lepas dari pengawasan...," sahut Hendra menjelaskan.


Taufan nampak memijit keningnya karena tak menyangka jika kasus yang ditanganinya kali ini akan lebih ruwet dari yang ia bayangkan.


" Bolehkan Kami bertemu Dipo sekarang...?" tanya Deri tak sabar.


Taufan mengangguk lalu meminta seorang anak buahnya mengantar Deri dan Hendra untuk bertemu Dipo.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2