
Setelah selesai menunaikan sholat Maghrib berjamaah di masjid, Gama melajukan mobilnya menuju lokasi rumah yang dibelinya. Saat di gerbang perumahan mereka berpapasan dengan Gusur yang juga baru selesai mengantar klien melihat-lihat rumah.
" Mau liat rumah ya Bang...?" sapa Gusur.
" Iya Sur, mau ngukur ruangan biar perabotan yang dibeli ga mubazir...," sahut Gama.
" Oh silakan Bang, masuk aja. Nama Bang Gama udah ada di daftar nama pemilik rumah, jadi Abang bisa kapan aja ke sini. Iya kan Pak...?" tanya Gusur sambil menoleh kearah security proyek.
" Betul Pak. Pak Gama cukup tunjukin KTP atau tanda pengenal lain saat berkunjung...," sahut sang security sambil tersenyum.
" Oh gitu. Alhamdulillah, jadi ga termasuk sebagai orang yang dicurigai dong...," gurau Gama disambut tawa semua orang.
" Mana berani Kami mencurigai Pak Gama. Apalagi sekarang dikawal perwira TNI...," kata sang security sambil melirik kearah Rex yang saat itu masih mengenakan seragam kebanggaannya itu.
" Saya cuma kebetulan mampir buat nemenin sahabat Saya ini Pak...," sahut Rex merendah sambil tersenyum lalu menepuk pundak Gama.
" Siap Pak...," sahut dua security itu bersamaan.
" Kalo gitu silakan Bang, maaf ga bisa nganter...," kata Gusur sambil menjabat tangan Rex dan Gama bergantian.
" Gapapa Sur, Gue masuk dulu ya...," kata Gama lalu melajukan mobilnya perlahan meninggalkan gerbang perumahan.
Perjalanan menuju rumah Gama berjalan lancar karena jalan yang semula berbatu kini telah diaspal.
" Belum sampe seminggu dari sini, pas balik udah cakep aja nih tempat...," gumam Gama sambil tersenyum.
Rex diam tak merespon ucapan Gama. Ia nampak mengamati sekelilingnya seolah mencari sesuatu.
Mobil berhenti tepat di depan rumah milik Gama. Karena deretan rumah di sana sudah siap huni, maka lampu jalan dan lampu teras di masing-masing rumah nampak menyala hingga tempat itu terlihat terang benderang.
" Kita kemana Rex...?" tanya Gama.
" Masuk aja Gam. Kita tunggu di dalam...," sahut Rex.
Gama mengangguk lalu membuka pintu rumahnya dengan anak kunci yang ia miliki. Gama mengucap salam sebelum masuk ke dalam rumah lalu mulai menghidupkan lampu di dalam rumah.
Rex mengamati pergerakan Gama dari luar lalu bersiap melangkah menyusul Gama. Namun langkah Rex terhenti saat melihat kelebatan bayangan wanita berbaju pink melintas di samping rumah Gama.
" Dia di sana Gam...!" kata Rex lantang sambil menunjuk ke samping rumah Gama.
" Dimana Rex...?" tanya Gama sambil bergegas keluar dari rumah.
__ADS_1
" Di sana...," sahut Rex lalu melangkah kearah samping rumah Gama.
Rumah Gama dengan rumah lain yang sejenis memang dibatasi oleh pagar pembatas setinggi satu hingga dua meter di samping kanan dan kirinya. Tujuannya untuk memberi ruang privacy kepada para penghuninya.
Rex berhenti melangkah tepat di dekat jendela samping rumah Gama. Rex berdiri menatap wanita bergaun pink yang ia yakini sebagai Tsania itu dengan perasaan tak menentu.
Saat itu Tsania tampak tengah melangkah pelan menyusuri taman kecil di samping rumah Gama. Sesekali ia berhenti lalu mengedarkan pandangannya seolah sedang mencari sesuatu. Kemudian Tsania kembali melangkah dan bersiap menyebrang ke rumah lain. Saat itu lah Rex memanggil namanya.
" Tsania...," panggil Rex.
Wanita bergaun pink itu menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Rex. Ia terpaku di tempat saat melihat sosok lain yang datang bersama Rex. Wajahnya yang pucat perlahan merona dan senyum pun menghias wajahnya.
Tsania bergegas menghampiri Rex. Bukan. Menghampiri Angko tepatnya. Karena saat itu Angko tengah berdiri di samping Rex.
Dari tempatnya berdiri Rex bisa menyaksikan pertemuan dua sejoli yang saling mencintai itu berlangsung dramatis. Tsania dan Angko saling memeluk dalam diam. Hanya tangisan yang mewarnai pertemuan mereka.
" Kenapa baru datang Mas...?" tanya Tsania lirih.
" Maafkan Aku Sayang. Aku kesulitan menemuimu...," sahut Angko lirih sambil terus mendekap Tsania.
" Kenapa...?" tanya Tsania lagi.
Berkali-kali Angko menggeram marah sambil meninju angin saat Tsania menceritakan pengalaman pahitnya. Angko bahkan menangis karena merasa gagal melindungi wanita yang dicintainya itu. Tsania pun memeluk Angko dengan erat untuk menghiburnya.
Kemudian giliran Angko menceritakan pengalamannya. Tsania nampak mendengarkan dengan wajah yang basah oleh air mata.
" Aku disiksa setiap hari dan akhirnya dibunuh karena tak mau menggauli dia. Lalu mayatku dibuang ke hutan dan menjadi santapan anjing liar...," kata Angko lirih.
Mendengar ucapan suaminya membuat Tsania kembali menangis. Di satu sisi Tsania bangga karena suaminya tetap menjaga diri untuknya dan lebih memilih mati daripada harus melayani hasrat kakak tirinya itu.
" Maaf kalo mengganggu...," kata Rex tiba-tiba.
Angko dan Tsania menoleh lalu tersenyum kearah Rex. Mereka sadar jika waktu mereka hampir tiba. Dan mereka bisa pergi bersama dengan bantuan Rex.
" Kami tau waktu Kami telah tiba. Terima kasih karena telah menbantu mempertemukan Kami Kapten Rex Aldan. Semoga Allah membalas budi baikmu suatu saat nanti...," kata Angko dengan suara bergetar.
" Aamiin..., Aku bahagia bisa membantu Kalian...," sahut Rex sambil tersenyum.
" Sampaikan terima kasih Kami kepada Gama. Kalian orang baik, semoga keberuntungan selalu menyertai Kalian...," kata Tsania dengan tulus.
" Aamiin, makasih doanya Tsania. Sekarang apa yang harus Kulakukan...?" tanya Rex.
__ADS_1
" Tolong iringi kepergian Kami dengan doa...," sahut Angko sambil merengkuh Tsania ke dalam pelukannya.
Rex mengangguk lalu memanggil Gama, memintanya mendekat agar mereka bisa mendoakan Angko dan Tsania bersama-sama. Kemudian Rex mulai memimpin doa.
" Alfatihah...," kata Rex disusul pembacaan surah Al Fatihah yang dilakukan bersama Gama.
Angko dan Tsania nampak saling menatap sambil tersenyum. Perlahan tubuh keduanya yang saling memeluk itu diselimuti cahaya terang benderang hingga tubuh keduanya tak terlihat sama sekali. Kemudian cahaya itu membelah diri menjadi dua bagian lalu berputar sejenak di atas kepala Rex dan Gama. Setelahnya dua cahaya itu berkelebat cepat ke langit dan hilang di kegelapan malam.
Bersamaan dengan perginya kedua cahaya itu, udara sejuk menyapa Rex dan Gama. Keduanya juga merasakan perasaan yang sangat nyaman hingga membuat keduanya menoleh dan saling menatap.
" Alhamdulillah mereka kembali bersama dan pergi ke tempat seharusnya..., " kata Rex.
" Alhamdulillah. Apa itu artinya mereka ga bakal ngikutin Gue lagi Rex...?" tanya Gama penuh harap.
" Insya Allah ga. Oh iya, mereka juga titip salam terima kasih buat Lo Gam...," kata Rex sambil membalikkan tubuhnya lalu melangkah ke teras rumah.
" Titip salam terima kasih ?. Wah, ga nyangka ternyata hantu bisa bilang terima kasih...," sahut Gama antusias sambil mengikuti Rex dari belakang.
" Sekarang udah selesai, Kita balik yuk...," ajak Rex.
" Sebentar Rex, Gue mau fotoin ruangan dulu biar tau ukuran perabot yang mau Gue beli...," kata Gama sambil mengeluarkan ponsel dari saku bajunya.
Rex mengangguk lalu menemani Gama mengambil beberapa gambar. Setelahnya Rex dan Gama bersiap meninggalkan rumah itu.
" Jangan lupa matiin lampu Gam...!" kata Rex mengingatkan.
" Siap...!" sahut Gama dari dalam rumah.
Lalu Rex dan Gama melangkah menuju mobil Gama yang terparkir di halaman rumah. Saat hendak masuk ke dalam mobil, keduanya terkejut karena mendengar senandung aneh di kejauhan.
" Lo denger ga Gam...?!" tanya Rex antusias.
" Iya Rex, Gue denger...!" sahut Gama gusar.
" Pasti ada sesuatu yang ga beres di sekitar sini. Ayo Kita cabut sekarang Gam...!" ajak Rex sambil bergegas masuk ke dalam mobil.
" Ok...!" sahut Gama cepat.
Tak lama kemudian mobil Gama terlihat melaju meninggalkan tempat itu. Gama sengaja melajukan mobilnya perlahan sesuai permintaan Rex yang yakin jika 'sesuatu' yang buruk akan terjadi tak jauh dari lokasi mereka berada saat ini.
bersambung
__ADS_1