
Ustadz Akbar meminta Ramon dan Rex menemaninya bicara dengan ibu kandung Elvira. Ia tak ingin terjadi fitnah jika bicara berdua saja dengan wanita itu. Selain statusnya yang juga tak lagi beristri, isi pembicaraan yang akan dibahas juga bersifat rahasia dan hanya diketahui oleh Rex.
" Kenapa Mas ngajak orang lain, ini urusan keluarga Kita...," kata ibu Elvira.
" Bukan keluarga Kita tapi tentang Elvira. Kamu ga lupa kan kalo Kamu bukan lagi keluargaku sejak Kamu bercerai dengan Ashar...?" tanya ustadz Akbar sinis.
" Ck, Iya Aku tau. Tapi bagaimana pun Elvira kan keponakan Mas juga...," sahut ibu Elvira sambil berdecak sebal.
" Elvira keponakanku. Betul. Elvira adalah keponakanku yang malang...," kata ustadz Akbar sambil tersenyum sinis.
" Kenapa Mas Akbar bilang begitu...?" tanya ibu Elvira tak suka.
" Apa Aku salah menyebutnya begitu ?. Elvira punya orangtua yang lengkap. Meski pun Kalian berpisah, harusnya kan bisa memberi dia kasih sayang yang layak. Elvira itu sudah dewasa dan ga banyak menuntut. Dia tau seberapa besar porsi kasih sayang yang bisa dia dapatkan dari Kalian. Elvira ga salah, orangtuanya yang membuat keputusan tapi kenapa dia yang harus menanggungnya...?!" kata ustadz Akbar marah.
" Kenapa Mas marahin Aku ?. Ashar juga harus bertanggung jawab kan...?!" kata ibu Elvira tak kalah lantang.
" Aku juga sudah menegur Ashar. Jadi Kau ga perlu merasa iri...," sahut ustadz Akbar.
" Pasti dia ga merespon Mas makanya Mas menekan Aku sekarang...," kata ibu Elvira.
" Kamu...!" ucapan ustadz Akbar terputus saat Ramon menepuk bahunya.
" Sabar Ustadz..., " kata Ramon.
" Astaghfirullah aladziim..., Astaghfirullah aladziim. Makasih udah diingetin Pak...," sahut ustadz Akbar sambil mengusap dadanya.
" Sama-sama Ustadz. Dan untuk Ibu, sebaiknya pelankan suara Ibu. Di luar sana masih banyak orang lho. Ibu ga mau kan kalo aib Ibu diketahui oleh orang lain...?" tanya Ramon sambil menatap ibu Elvira.
" Aib apa, Saya ga punya aib. Jadi Saya ga takut kalo orang-orang mendengar apa yang ga seharusnya...," sahut ibu Elvira ketus.
" Apa Ibu yakin...?" sela Rex tak sabar.
" Yakin lah. Memangnya apa salah Saya sama Elvira ?. Saya hanya ga bisa memberinya kasih sayang karena Saya sibuk kerja mencari nafkah. Status Saya kan ga menikah, jadi ga ada yang bertanggung jawab menafkahi Saya. Beda sama Papinya Elvira yang langsung cari pendamping setelah Kami bercerai...," sahut ibu Elvira santai.
__ADS_1
" Lalu bagaimana dengan perjodohan yang ibu atur untuk Elvira ?. Bukannya Ibu menjodohkan Elvira dengan pria tua kaya raya yang lebih layak jadi ayahnya...?" sindir Rex hingga mengejutkan wanita itu.
" Saya hanya ingin yang terbaik untuk anak Saya...!" sahut ibu Elvira cepat.
" Tapi Ibu ga tau kan karena Elvira menolak lamarannya, laki-laki itu menerror Elvira dan mengirim sejenis guna-guna yang bikin hidup Elvira ga normal lagi...?" tanya Rex sambil menatap ibu Elvira lekat.
" Menerror gimana maksud Kamu...?" tanya ibu Elvira.
" Laki-laki pilihan Ibu udah ngirim sejenis santet supaya Elvira sulit mendapatkan pasangan atau jodoh. Sayangnya makhluk dalam santet yang dia kirim justru berbalik arah. Alih-alih ngerjain Elvira supaya sulit dapat jodoh, dia justru jatuh cinta sama Elvira dan mengikuti Elvira kemana pun. Elvira ketakutan, dia stress, sampe akhirnya ga sanggup bertahan. Dia meninggal setelah lelah menghadapi terror makhluk yang dikirim laki-laki pilihan Ibu itu...," kata Rex.
" Apa...?!" sahut ibu Elvira terkejut.
Melihat reaksi ibu Elvira membuat ustadz Akbar melengos kesal. Ia mencibir melihat ekspresi mantan adik iparnya itu. Ramon dan Rex pun saling menatap sejenak kemudian mengangguk.
" Kenapa Ibu keliatan kaget banget...?" tanya Rex sambil mengamati wanita itu dari atas kepala hingga ujung kaki.
" Mmm..., Saya..., Saya cuma ga nyangka aja kalo guna-guna yang dikirim bisa bikin Elvira meninggal...," sahut ibu Elvira takut.
" Maksud Ibu, Ibu tau kalo Elvira diguna-guna oleh laki-laki itu...?! " tanya Rex tak percaya.
" Plakkk...," suara tamparan terdengar keras.
Rupanya jawaban ibu Elvira membuat ustadz Akbar terkejut. Ia bangkit dari duduknya lalu menampar ibu Elvira hingga wanita itu terjatuh dari kursi. Tindakan ustadz Akbar mengejutkan ibu Elvira, Ramon dan Rex.
" Ini tamparanku yang pertama dan terakhir kalinya. Aku ga menyangka ada ibu berhati iblis seperti Kamu. Kok bisa-bisanya Kamu mengijinkan bahkan membantu orang lain untuk menyakiti Elvira. Dia itu anakmu, anak kandungmu. Sebenci itu kah Kamu sama Elvira hingga tega menyakiti anakmu sendiri...?!" kata ustadz Akbar marah.
" Aku ga benci Elvira Mas. Aku sayang sama dia dan ingin yang terbaik untuknya..., " sahut ibu Elvira mulai menangis.
" Kamu yang serakah dan maruk harta mana mungkin punya kasih sayang yang tulus...," kata ustadz Akbar sambil melengos.
" Maafin Aku Mas. Harusnya Mas Akbar kasian sama Aku karena Aku yang paling sakit di sini. Aku juga ditipu sama dukun itu Mas...," kata ibu Elvira sambil berusaha bersimpuh di depan ustadz Akbar.
Ustadz Akbar nampak menggelengkan kepalanya sambil terus menjauh dari jangkauan ibu Elvira.
__ADS_1
" Keluar dari rumahku sekarang. Keluar...!" kata ustadz Akbar lantang sambil menunjuk pintu rumahnya.
" Ampuni Aku Mas...," pinta ibu Elvira sambil bangkit dari posisi bersimpuhnya lalu berjalan keluar dengan terhuyung-huyung.
Warga terdiam melihat Ibu Elvira keluar dari rumah ustadz Akbar dengan bersimbah air mata. Satu pipinya bengkak akibat tamparan ustadz Akbar. Diiringi tatapan warga, ibu Elvira pun menghentikan Taxi yang melintas lalu pergi meninggalkan rumah itu tanpa pernah menoleh lagi.
" Miris banget nasib Elvira...," kata warga saling bersahutan.
" Dasar wanita jahat...," maki beberapa ibu.
" Sssttt..., udah ga usah dibahas lagi. Kasian Mbak Elvira dan Ustadz Akbar. Lebih baik sekarang Kita ke dapur nyiapin suguhan untuk tahlilan nanti malam...," ajak seorang wanita yang datang dengan kantong belanjaan.
" Iya Bu...," sahut warga lalu membubarkan diri dari teras rumah ustadz Akbar.
Sementara itu ustadz Akbar nampak menundukkan kepalanya. Meski ia berusaha tak menangis, namun air mata jatuh juga di wajah tuanya itu.
" Apa Ustadz baik-baik aja...?" tanya Ramon hati-hati.
" Iya Pak. Insya Allah Saya baik-baik aja. Saya cuma ga abis pikir kalo Elvira jadi korban keserakahan Ibunya sendiri. Saya pikir setelah tinggal sama Saya Elvira bakal bahagia, tapi ternyata Saya salah...," sahut ustadz Akbar dengan suara parau.
" Elvira udah pergi Ustadz. Bukannya sebaiknya didoain ya biar tenang...?" kata Ramon hingga membuat ustadz Akbar tersenyum.
" Pak Ramon benar. Saat Saya kehilangan Istri, Saya masih bisa tegar. Tapi kehilangan Elvira bikin Saya rapuh dan ga bisa berpikir jernih...," sahut ustadz Akbar.
" Saya maklum Ustad. Cara kepergian Elvira yang ga wajar lah yang bikin Ustadz seperti ini...," kata Ramon bijak.
" Makasih suportnya Pak Ramon, Mas Rex...," kata ustadz Akbar dengan tulus.
" Sama-sama Ustadz...," sahut Ramon dan Rex bersamaan.
" Sekarang Kita gelar tikar aja buat tahlilan nanti ya Ustadz...," kata Rex mengalihkan pembicaraan.
" Iya Mas...," sahut ustadz Akbar cepat sambil bangkit berdiri.
__ADS_1
Kemudian Rex, Ramon dan ustadz Akbar mulai menyiapkan ruangan untuk acara kirim doa nanti malam.
\=\=\=\=\=